Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tekad Baru dan Ambisi yang Berkembang
Pertemuan tak terduga di taman kota itu meninggalkan jejak mendalam bagi Theo dan Cristal. Setelah berpisah dengan janji untuk bertemu lagi tanpa perpisahan, keduanya kembali ke kehidupan masing-masing dengan semangat yang baru. Pertemuan itu telah menyalakan kembali api persahabatan yang sempat meredup, sekaligus menanamkan benih tekad yang lebih kuat untuk masa depan.
Bagi Theo, pertemuannya dengan Cristal menjadi pengingat akan betapa berharganya hubungan yang ia miliki. Ia menyadari bahwa meskipun Elsa adalah teman yang baik dan membantunya dalam banyak hal, ada tempat spesial di hatinya untuk Cristal. Janji yang terucap di taman kota memberinya motivasi ekstra. Ia semakin giat belajar di Glory School, tidak hanya untuk meraih peringkat pertama seperti yang ia janjikan pada dirinya sendiri, tetapi juga untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sukses, seseorang yang pantas untuk diperjuangkan. Ia ingin membuktikan pada Cristal, dan juga pada dirinya sendiri, bahwa ia mampu mencapai impiannya.
Di sisi lain, Cristal juga merasakan perubahan besar dalam dirinya. Larangan ayahnya untuk bertemu Theo dulu sempat membuatnya merasa terpuruk dan kehilangan arah. Namun, pertemuan kembali itu memberinya harapan baru. Ia melihat Theo yang kini begitu bersemangat dan penuh tekad. Hal itu menginspirasinya. Ia bertekad untuk tidak lagi membiarkan larangan ayahnya menghalangi impiannya. Ia akan membuktikan pada ayahnya, dan pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa mandiri dan sukses.
Di International School, Cristal menjadi lebih fokus pada pelajarannya. Ia tidak lagi hanya sekadar bersekolah, tetapi ia belajar dengan tujuan yang jelas. Ia mulai mempelajari lebih dalam tentang dunia bisnis, terinspirasi oleh kesuksesan ayahnya dan juga oleh cerita tentang Ratna yang ia dengar sekilas dari percakapan ayahnya. Ia mulai memikirkan masa depan, tentang bagaimana ia bisa berkontribusi dan membangun sesuatu yang berarti.
Baik Theo maupun Cristal kini memiliki tujuan yang lebih jelas. Mereka saling mengirimkan pesan singkat sesekali, saling memberi semangat,
...****************...
Kehidupan Theo di Glory School berjalan lancar, diwarnai dengan semangat belajar yang baru dan harapan untuk masa depan. Ia semakin giat dalam studinya, berusaha keras untuk tidak hanya mempertahankan posisinya di puncak kelas, tetapi juga untuk terus berkembang.
Suatu sore, saat Theo sedang asyik belajar di kamarnya, ia membolak-balik buku catatan lama milik ayahnya. Buku-buku itu adalah warisan berharga yang diberikan oleh Pak Wijaya saat ia masih kecil dulu, berisi catatan-catatan bisnis dan strategi yang pernah digunakan ayahnya. Theo sering membacanya, mencoba memahami pemikiran ayahnya dan mencari inspirasi.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu depan. "Iya, sebentar," sahut Ratna dari ruang tengah.
Tak lama kemudian, terdengar suara Ratna menyapa seseorang. "Eh, Nak Jhonatan, tumben sekali ke sini?"
Theo mengerutkan kening. Jhonatan? Putra Pak Wijaya? Biasanya Jhonatan akan langsung menelepon jika ada masalah pemasaran di perusahaan atau jika ia membutuhkan saran darinya. Jarang sekali Jhonatan datang langsung ke rumah tanpa pemberitahuan. Ada apa gerangan? Theo bertanya-tanya dalam hati.
"Anu, Bu Ratna, boleh saya bertemu dengan Theo?" tanya Jhonatan.
"Tentu saja, Nak. Dia sedang di kamarnya," jawab Ratna ramah.
Theo sedikit terkejut mendengar namanya disebut. Ia segera merapikan buku catatannya dan bersiap untuk menemui tamunya. Ia penasaran ada urusan apa Jhonatan datang menemuinya secara langsung. Mungkinkah ada masalah yang cukup mendesak sehingga ia harus datang ke rumah? Theo segera beranjak dari kursinya, melangkah keluar kamar untuk menemui Jhonatan.
...****************...
Theo membuka pintu kamarnya. Jhonatan berdiri di sana, tersenyum ramah seperti biasa, namun Theo menangkap ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada sorot serius yang jarang ia lihat.
"Hei,kak Jhon," sapa Theo. "Ada apa nih, tumben main ke sini?"
"Hei, Theo. Tidak apa-apa, hanya ingin bertemu saja," jawab Jhonatan, namun nada suaranya terdengar sedikit terburu-buru. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Sekalian aku ingin mengajakmu melihat-lihat sesuatu."
Theo sedikit curiga. Jhonatan jarang sekali mengajaknya jalan-jalan tanpa alasan yang jelas. Biasanya, jika ada urusan bisnis, Jhonatan akan langsung ke intinya. Namun, ia memutuskan untuk mengikuti saja. Mungkin memang ada sesuatu yang ingin Jhonatan tunjukkan padanya. "Boleh saja," kata Theo. "Ada apa memangnya?"
"Nanti saja kuceritakan sambil jalan," Jhonatan tersenyum misterius.
Mereka pun keluar dari rumah. Jhonatan mengajak Theo berjalan-jalan ke arah pusat kota, melewati beberapa jalan yang ramai. Suasana terasa santai, namun Theo bisa merasakan bahwa Jhonatan memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan.
Setelah beberapa saat berjalan dalam diam, Jhonatan akhirnya membuka suara. Ia menatap Theo dengan pandangan yang lebih serius. "Theo, kau ingat sekitar dua tahun lalu, saat ada berita tentang PT Alta yang hampir bangkrut?"
Theo mengerutkan kening, mencoba mengingat. Ia masih kecil saat itu, namun ia ingat betul bagaimana berita itu menjadi sorotan. "Iya, aku ingat," jawab Theo. "Kenapa memangnya?"
Jhonatan menarik napas dalam. "Nah, saat itu, aku membeli sebagian besar saham PT Alta," katanya. "Dan ya, kau pun tahu, saat itu PT Alta tidak jadi bangkrut karena nilai sahamnya menjadi naik drastis. Aku yang membuat itu terjadi."
...****************...
Theo tertegun. Ia mengingat kembali masa itu, bagaimana berita tentang PT Alta yang tiba-tiba terselamatkan dari kebangkrutan menjadi topik hangat. Ia masih kecil saat itu, namun ia ingat betul bagaimana berita itu menjadi sorotan. "Iya, aku ingat," jawab Theo. "Tapi… apa hubungannya denganmu, Jhon?" Theo bertanya, masih mencoba memahami arah pembicaraan Jhonatan.
Jhonatan tersenyum lebar, kali ini senyumnya terlihat lebih bersemangat, bahkan sedikit berbinar. "Hubungannya adalah, saat itu aku juga bertemu dengan Sofie," kata Jhonatan, matanya berbinar saat menyebut nama itu. "Pemilik sekaligus CEO PT Alta itu sendiri." Ia berhenti sejenak, seolah menikmati momen itu. "Aaakkhh, kau tahu, Theo, dia begitu cantik..." lanjut Jhonatan, nadanya berubah menjadi penuh kekaguman.
Theo hanya bisa tersenyum tipis mendengar antusiasme Jhonatan. Ia tahu bahwa Jhonatan, yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya, memang memiliki selera yang tinggi. Theo yang masih muda, tentu saja tidak terlalu mengerti detail bisnis yang dibicarakan Jhonatan, namun ia bisa merasakan betapa pentingnya pertemuan itu bagi Jhonatan.
"Jadi, kau membeli saham PT Alta dan bertemu dengan CEO-nya yang cantik?" Theo mencoba merangkum. "Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Theo kembali bertanya, karena ia yakin Jhonatan tidak hanya datang untuk menceritakan kisah cintanya. Ada sesuatu yang lebih besar di balik ini.
Jhonatan mengangguk, kembali ke nada bicaranya yang lebih serius, meskipun kilatan kekaguman pada Sofie masih tersisa di matanya. "Tentu saja ada hubungannya denganku, Theo. Dan ini yang ingin kubicarakan denganmu." Jhonatan kemudian mengajak Theo untuk duduk di salah satu kafe di pinggir jalan yang ramai. Aroma kopi yang kuat memenuhi udara, dan suara obrolan pengunjung menciptakan suasana yang riuh namun nyaman.
Setelah memesan minuman, Jhonatan kembali menatap Theo, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius. "Nah, ini masalahnya," Jhonatan memulai, suaranya sedikit direndahkan. "Sekarang PT Alta, perusahaan yang dulu hampir bangkrut itu, sedang ingin membuat proyek taman hijau di salah satu tempat di kota ini."
Theo mendengarkan dengan saksama. Proyek taman hijau terdengar menarik.
"Aku sebagai investor di proyek ini juga sangat tertarik," lanjut Jhonatan. "Potensinya besar, dan akan sangat bermanfaat bagi kota kita. Tapi masalahnya," Jhonatan menghela napas panjang, "Sofie, CEO PT Alta itu, tidak mau menggusur tanah milik warga yang ada di area proyek tersebut."
Theo mengerutkan kening. "Tidak mau menggusur? Kenapa?"
"Dengan alasan kemanusiaan," jawab Jhonatan, sedikit frustrasi. "Dia bilang tidak tega melihat warga harus kehilangan rumah mereka demi proyek ini. Padahal, area tersebut adalah lokasi paling strategis untuk proyek taman hijau kita."
Jhonatan menyesap kopinya, matanya menerawang seolah sedang memikirkan solusi. "Aku sudah mencoba bernegosiasi dengannya, meyakinkannya bahwa ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini, misalnya dengan memberikan kompensasi yang layak kepada warga. Tapi Sofie sangat teguh pada pendiriannya. Dia benar-benar memiliki hati yang lembut, Theo. Dan itu, jujur saja, terkadang membuatku frustrasi sebagai pebisnis."