Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI SAAT SEMUANYA DIRAMPAS Bagian 3
"Pengantinnya cantik ya."
"Iya."
"Tapi perutnya kok sudah kelihatan?"
"Syuuut... pelan-pelan."
"Lha memang kenyataannya begitu."
Bisikan itu terdengar dari sudut tenda.
Lalu menyebar ke meja sebelah.
Lalu berpindah lagi ke kelompok ibu-ibu yang sedang menikmati hidangan.
Dan sebelum siang tiba, hampir seluruh kampung sudah membicarakan hal yang sama.
Pernikahan Wisnu dan Seline.
Rumah Bu Sri pagi itu berubah seperti gedung pesta.
Tenda besar berdiri memenuhi halaman.
Lampu-lampu gantung menghiasi setiap sudut.
Bunga-bunga segar dipasang di sepanjang jalan masuk.
Musik dangdut pelan terdengar dari pengeras suara.
Para tamu berdatangan sejak pagi.
Ada yang benar-benar ingin memberikan selamat.
Ada yang sekadar memenuhi undangan.
Ada juga yang datang karena penasaran.
Dan kelompok terakhir itulah yang jumlahnya paling banyak.
Karena kisah Wisnu dan Seline sudah menjadi bahan pembicaraan berbulan-bulan.
Orang-orang tahu Nandin baru saja diceraikan.
Orang-orang tahu Nandin kini berada di pondok rehabilitasi.
Dan orang-orang juga tahu Seline sedang mengandung.
Kombinasi yang sempurna untuk melahirkan gosip.
Di dalam kamar pengantin.
Seline sedang dirias.
Wajahnya cantik.
Kulitnya terlihat bersih.
Gaun putih yang dikenakannya tampak mewah.
Namun ada satu hal yang tidak bisa disembunyikan.
Perutnya.
Meski gaun telah dirancang sedemikian rupa, bentuk kehamilan itu tetap terlihat.
Tidak mencolok.
Tetapi cukup jelas.
Seline menatap bayangannya di cermin.
Entah kenapa ia tidak merasa tenang.
Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.
Hari yang selama ini diimpikannya.
Hari ketika ia akhirnya menjadi istri sah Wisnu.
Namun semakin dekat ke waktu akad.
Semakin banyak kegelisahan yang muncul.
"Kenapa murung begitu?"
tanya perias.
"Gak apa-apa."
Seline memaksa tersenyum.
Padahal dalam hatinya ada rasa takut yang sulit dijelaskan.
Karena jauh di lubuk hati terdalam.
Ia tahu.
Kebahagiaan yang sedang dirayakannya hari ini lahir dari penderitaan perempuan lain.
Sementara itu.
Di luar rumah.
Shella dan Sherly duduk di tangga.
Mengenakan gaun kecil berwarna merah muda.
Keduanya terlihat lucu.
Namun wajah mereka tidak seceria anak-anak lain.
Sejak pagi mereka hanya duduk memperhatikan orang-orang yang hilir mudik.
"Nek."
panggil Sherly.
Bu Sri menoleh.
"Iya?"
"Mama kapan pulang?"
Bu Sri langsung menghela napas.
Pertanyaan itu lagi.
Sudah berhari-hari.
Bahkan berminggu-minggu.
Pertanyaan yang sama.
"Mama lagi jauh."
"Jauh terus."
kata Shella pelan.
"Nanti juga pulang."
"Kapan?"
Bu Sri tidak menjawab.
Karena ia tidak tahu.
Atau mungkin tidak ingin menjawab.
Di pondok rehabilitasi.
Pagi itu Nandin sedang duduk di bawah pohon mangga.
Matanya kosong.
Tangannya memegang beberapa daun kering.
Sudah hampir satu jam ia duduk di sana.
Tanpa bergerak.
Tanpa bicara.
Tanpa melakukan apa pun.
Pak Kiai memperhatikannya dari kejauhan.
"Kambuh lagi?"
tanya salah satu pengurus.
Pak Kiai mengangguk pelan.
"Hatinya masih terlalu penuh luka."
Pengurus itu menatap Nandin.
"Apa bisa sembuh?"
Pak Kiai tersenyum tipis.
"Semua luka bisa sembuh."
"Kalau diberi waktu."
"Tapi tidak semua orang sanggup melewati prosesnya."
Menjelang siang.
Akad nikah dimulai.
Wisnu duduk di depan penghulu.
Mengenakan jas hitam.
Wajahnya terlihat tegang.
Tetapi juga bahagia.
Setidaknya begitulah yang terlihat dari luar.
Para tamu mulai diam.
Semua mata tertuju pada prosesi akad.
Ijab kabul berlangsung lancar.
Sekali tarikan napas.
Sah.
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
"Alhamdulillah."
"Sah!"
"Selamat!"
Semua orang bersorak.
Semua orang tersenyum.
Kecuali beberapa orang yang masih menyimpan rasa kasihan pada Nandin.
Bu Rini termasuk salah satunya.
Perempuan itu tidak datang ke pesta.
Ia memilih duduk di rumah.
Sendirian.
Menatap foto lama Nandin bersama Shella dan Sherly.
Air matanya jatuh perlahan.
"Kasihan kamu, Nandin."
gumamnya.
Ia tidak sanggup membayangkan.
Di saat mantan suaminya merayakan pernikahan baru.
Nandin bahkan mungkin tidak tahu bahwa dirinya sudah diceraikan.
Sore hari.
Pesta semakin ramai.
Antrian tamu mengular.
Makanan terus keluar dari dapur.
Musik semakin keras.
Di atas pelaminan.
Wisnu dan Seline tersenyum menerima ucapan selamat.
Namun tidak semua ucapan terdengar tulus.
"Selamat ya."
"Semoga langgeng."
"Semoga anaknya sehat."
Kalimat terakhir itu sering kali diucapkan sambil melirik perut Seline.
Membuat perempuan itu semakin tidak nyaman.
Di tengah keramaian itu.
Shella tiba-tiba berdiri.
"Ayo."
katanya kepada Sherly.
"Mau ke mana?"
"Cari Mama."
Sherly langsung mengangguk.
Karena baginya itu ide yang masuk akal.
Kalau rumah sedang ramai.
Kalau banyak orang datang.
Mungkin Mama juga datang.
Mungkin Mama sedang bersembunyi.
Mungkin Mama sedang bermain.
Dengan kepolosan anak kecil.
Mereka mulai berjalan menyusuri rumah.
Masuk ke dapur.
Ke ruang tamu.
Ke halaman belakang.
Ke kamar-kamar.
"Mama?"
Tidak ada jawaban.
"Mamaaa?"
Tetap tidak ada jawaban.
Beberapa tamu memperhatikan.
Dan hati mereka langsung terasa perih.
Karena dua anak kecil itu benar-benar sedang mencari ibunya.
"Mamaaa..."
Sherly mulai menangis.
"Mama gak ada."
Shella menggenggam tangan saudara kembarnya.
"Mungkin Mama belum datang."
Kalimat itu membuat beberapa ibu yang melihat ikut berkaca-kaca.
Karena mereka tahu.
Mama yang dicari anak-anak itu berada ratusan kilometer dari sini.
Sendirian.
Dan bahkan mungkin tidak ingat bahwa ia memiliki dua anak perempuan.
Malam hari.
Pesta akhirnya selesai.
Lampu-lampu masih menyala.
Namun tamu mulai pulang.
Rumah kembali sepi.
Seline duduk di kamar pengantin.
Tubuhnya lelah.
Kakinya pegal.
Namun ada satu hal yang terus terngiang di kepalanya.
Mamaaa...
Mamaaa...
Mamaaa...
Suara Shella dan Sherly.
Suara yang sejak siang tadi terus memanggil ibunya.
Entah kenapa.
Untuk pertama kalinya.
Rasa bersalah mulai muncul.
Kecil.
Sangat kecil.
Tetapi ada.
Dan itu cukup membuatnya sulit tidur.
Sementara itu.
Di pondok rehabilitasi.
Malam justru menjadi waktu terburuk bagi Nandin.
Karena saat dunia mulai sunyi.
Kenangan-kenangan buruk datang tanpa diundang.
Sekitar pukul dua belas malam.
Teriakan keras terdengar dari salah satu kamar.
"Ayah!"
"Ayah jangan pergi!"
Para pengurus langsung berlari.
Nandin sedang menangis histeris.
Tubuhnya gemetar.
Keringat membasahi wajahnya.
"Ayah!"
"Ibu!"
"Jangan tinggalin aku!"
Tangisnya pecah.
Begitu pilu.
Begitu menyakitkan.
Sampai salah satu pengurus ikut menangis melihatnya.
Karena mereka tahu.
Perempuan itu sedang terjebak dalam luka yang tidak bisa dilihat mata.
Setelah cukup lama.
Nandin akhirnya tenang.
Namun hanya sebentar.
Beberapa menit kemudian.
Ia kembali menangis.
Kali ini lebih pelan.
Lebih lirih.
"Nak..."
Pak Kiai yang baru datang langsung berhenti melangkah.
"Nak..."
ulang Nandin.
Air mata mengalir dari matanya.
"Aku mau pulang..."
Pak Kiai menatapnya lama.
Karena ini pertama kalinya Nandin menyebut kata itu.
Nak.
Seolah ada bagian ingatan yang mulai bergerak.
Sangat kecil.
Sangat samar.
Namun ada.
Dan bagi seseorang yang hampir kehilangan seluruh ingatannya.
Itu adalah harapan.
Harapan yang suatu hari nanti mungkin akan membawanya kembali kepada dua anak kecil yang sedang tertidur sambil memeluk foto ibunya.
Tanpa tahu.
Bahwa di tempat yang sangat jauh.
Ibunya sedang menangis sambil memanggil mereka dalam tidur.