NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Menginap Di Rumah Mertua

"Eh, kenapa lo? Kok, senyum-senyum sendiri? Gila, ni kayaknya atau ...."

Sinta menggoda Aira yang kini sedang menatap layar ponselnya. Ia baru saja membalas pesan yang masuk dari Baskara.

"Atau apa?"

"Atau, jangan-jangan lo udah mulai jatuh cinta sama suami lo sendiri?" goda Sinta.

Aira tersenyum, wajahnya memerah malu-malu.

"Ngawur."

"Lho, nggak masalah, dong. Kan, sama suami sendiri."

Aira tersenyum.

"Gue lega aja, akhirnya masalah Baskara selesai. Ya, walaupun belum sepenuhnya, tapi paling nggak ada buktinya kalau Baskara nggak salah. Gue mikirnya aja capek. Apalagi dia yang menghadapi masalah ini. Gue cuma agak kaget aja, waktu Jelita minta maaf kemarin. Baskara ternyata selama ini mikirin gue," ucap Aira.

Sinta menatap sahabatnya itu sebelum akhirnya tersenyum. "Ngaku aja,deh, sekarang udah mulai jatuh cinta, kan, sama Mas Babas," goda Sinta seraya tertawa terbahak. Puas rasanya membungkam Aira hingga tidak berkutik. Wajah Aira bahkan sudah sangat merah sekarang.

"Ih, lo apa-apaan, sih," ucap Aira seraya mencubit Sinta beberapa kali membuat Sinta memekik.

Tiba-tiba mereka berhenti bergurau. Segera berdiri dari tempatnya saat melihat Genta keluar dari ruangannya. Genta tampak sedikit bingung, menatap ke kanan dan ke kiri sebelum pandangannya tertuju pada Aira dan Sinta.

"Dokter Aira dan Dokter Sinta, bersiap menerima pasien gawat darurat! Luka tembak, saturnasi oksigen rendah, dan kehilangan banyak darah!" ucap Genta tegas.

Aira dan Sinta saling menatap sejenak sebelum akhirnya berlari menuju lobi IGD. Tak butuh waktu lama, sebuah ambulance melaju dengan kecepatan tinggi. Jantung Aira bertalu. Petugas turun bersama dua orang laki-laki berpakaian biasa yang menjaga pasien di dalam ambulance itu.

"Saturnasi oksigen turun. Pasien mengalami kesulitan bernapas. Pendarahan hebat!"

Satu informasi yang sangat dibutuhkan oleh Aira dan Sinta. Kedua orang itu segers mendorong brangkar menuju ruangan yang telah di siapkan. Aira mengecek denyut nadi, napas, dan kesadaran pasien. Sementara itu, Sinta memastikan identitas pasien.

"Laki-laki, umur sekitar tiga puluh tahunan. Luka tembak dada kiri, tekanan darah turun!"ucap Sinta.

"Identitas?" tanya Aira.

"Negatif!"

"Napasnya bermasalah. Bersiap lakukan prosedur intubasi!" ucap Aira.

Sinta mengangguk tegas. Ia mengambil beberapa alat yang diperlukan. Sementara Aira memposisikan kepala pasien sedikit mendongak. Ia memasukkan sebuah alat ke dalam mulut pasien agar saluran napas sedikit terbuka sebelum memasukkan selang dan memasang kantong ambu, lalu meremas kantong dengan ritme pelan.

Sinta mengambil gunting. Ia menggunting pakaian pasien agar lebih jelas melihat luka di tubuh pasien itu. Saat pakaian terbuka, Aira dan Sinta terkejut melihat beberapa luka lama di tubuh pasien. Ada beberapa luka sayatan, bekas luka tembak lama, dan beberapa luka sayatan baru yang sudah mulai mengering.

Aira menatap Sinta sesaat. Dia bukan pasien biasa, batin Aira usai melihat bekas luka pasien.

"Pendarahannya!" ucap Sinta saat melihat darah terus merembes keluar dari sela-sela luka tembaknya.

"Rontgen?" Tanya Sinta.

Aira menggeleng. "Nggak memungkinkan. Kita pakai USG FAST saja untuk mengetahui luka tembaknya fatal atau tidak."

Sinta mengangguk. Ia mengambil alat usg, lalu menempelkannya di luka tembak. Mengambil fotonya beberapa kali untuk dicetak dan diberikan pada dokter bedah.

"Ruang OK 1 siap!" teriak Ilma.

Ia meminta Sinta untuk naik ke tubuh pasien dan menekan luka pasien dengan kassa. Aira masih memegang kantong ambu saat pasien dilarikan segera ke ruang operasi.

Aira memijat-mijat tangan dan kakinya. Rasanya badannya pegal, tapi semua yang terjadi hari ini membuat Aira lega karena dapat mengantarkan pasien luka tembak tadi tepat waktu. Aira membuang napas kasar. Jam kerjanya baru saja selesai. Ia memilih untuk mandi dan mengganti pakaiannya sebelum pulang.

Aira berjalan ke arah lobi rumah sakit. Ia tersenyum saat melihat Baskara sudah duduk di salah satu kursi lobi. Pria itu mendongak dan segera berdiri saat melihat Aira kian mendekat.

"Sudah selesai?"

Aira mengangguk.

Aira terlihat cantik malam ini. Ia mengenakan pakaian dress dan sedikit berdandan karena hari ini Baskara dan Aira berjanji menghadiri makan malam yang diadakan oleh Gunawan dan Sita di rumahnya.

"Maaf, ya, kemaleman ... tadi ada pasien gawat masuk. Luka tembak."

Baskara mengerutkan dahi. Usai mempersilakan Aira masuk ke mobilnya.

"Luka tembak? Anggota?"

Aira mengangkat kedua bahunya. "Kurang tahu. Yang jelas pasiennya nggak berseragam. Yang mengantar juga nggak pakai seragam. Cuma kemeja biasa. Anehnya, ditubuh pasien itu kayak banyak banget bekas lukanya, nggak ada identitas juga."

Baskara diam. Ia fokus pada kemudinya.

"Dia kira-kira teroris atau ...."

Baskara tersenyum tipis. "Kamu nggak perlu tahu latar belakang pasienmu, Ai. Bukankah dokter ditugaskan hanya untuk menyelamatkan nyawa tanpa peduli latar belakang pasiennya?

Aira mendengus, lalu tersenyum. "Iya. Tapi, aku penasaran aja."

Baskara kembali tersenyum. Ia menatap Aira sejenak sebelum kembali fokus pada kemudianya.

"Siapapun dia, apapun latar belakangnya, tugasmu hanya menyelamatkan nyawanya, Ai. Beda sama aku. Urusanku terkadang justru harus merenggut nyawa seseorang."

"Tapi, itu,kan, demi mempertahankan kedaulatan negara, Bas. Tugasmu memang harus begitu."

Baskara mengangguk. "Di medan perang hanya ada dua pilihan. Tertembak atau menembak. Nggak ada pilihan lain."

Jantung Aira berdesir. Ia menatap Baskara yanh fokus berkendara.

"Doakan aku ya, Ai," ucap Baskara seolah tahu ada rasa khawatir di balik tatapan Aira.

Setengah jam berkendara, akhirnya Baskara dan Aira sampai di rumah pribadi Gunawan. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh Gunawan dan Sita.

"Aduh, maaf, Ayah ... bunda ... tadi mendadak ada pasien gawat darurat jadinya Aira datangnya mundur," ucap Aira usai bersalaman.

"Nggak apa-apa. Santai aja. Ayo masuk!" ajak Sita seraya menggandeng tangan Aira.

"Langsung makan malam saja ya, Nak. Bunda tu kemarin teleponan sama mamamu. Tanya makanan kesukaan kamu. Jadilah, bunda siapkan. Kepiting saos padang."

Aira membulatkan mata saat melihat makanan yang tersedia di meja makan panjang itu.

"Wah, kepiting saos padang! Lama banget Aira nggak makan ini, Bunda. Terima kasih, Bunda," ucap Aira girang.

Ia menarik kursi bersebelahan dengan Baskara dan mulai makan.

"Mau aku bukain cangkangnya?" tanya Baskara saat Aira mengambil satu capit kepitingnya.

Aira menggeleng. "Aman. Bisa."

"Pakai pembuka ...."

Baskara tertawa saat Aira bahkan bisa membuka bagian capitnya dengan mudah. Ia menatap Aira dengan sorot mata hangat. Ia tersenyum saat melihat Aira lahap makan.

"Mau coba?" tanya Aira saat ia sudah mengambil isi daging kepitingnya.

Baskara menggeleng. "Alergi."

Aira mengangguk sebelum kembali lanjut makan.

"Ayah sudah lihat vidio klarifikasi anak Kolonel Haryo. Masalahnya sudah beres sekarang, kan, Bas?" tanya Gunawan di sela-sela santap malamnya.

"Kalau dibilang beres seratus persen, belum, sih, Ayah. Ya, namanya juga vidionya viral, nggak bisa serta merta juga setelah klarifikasi semua langsung beres seketika, tapi paling tidak ada bukti nyata kalau Baskara nggak salah. Lama kelamaan pasti juga akan hilang sendiri."

Gunawan mengangguk beberapa kali.

"Kamu ada jadi ambil cuti, Bas?" tanya Gunawan.

"Jadi, Ayah. Rencana minggu depan."

Aira menoleh dan menatap heran.

"Kamu mau cuti?" tanya Aira heran.

Baskara tersenyum, lalu mengangguk.

"Kemarin teleponan sama ayah dan bunda, mereka kasih ide buat kita bulan madu tipis-tipis."

Uhuk!

Gunawan dan Sita tertawa melihat Aira yang seketika tersedak. Aira tersenyum kaku.

"Nggak jadi ke villa ayah dipuncak?" tanya Aira bingung.

Gunawan tertawa.

"Kebetulan, besok ada kunjungan kerja, Aira. Dan setelah dipikir-pikir, kenapa nggak kalian berdua saja yang pergi liburan. Short escape setelah semua kejadian ini, kan? Siapa tahu kalau pergi berdua bisa mempererat dan tambah mesra," goda Sita. "Bunda seneng deh Baskara manggil kamu Ay. Dari kata Ayang kan itu, Bas?"

Uhuk!

"Nggak usah salting gitu, Bas. Ayah sama bunda dulu juga punya panggilan sayang sebelum kamu dan Bian nongol," ujar Gunawan ikut menimpali.

Wajah Aira dan Baskara kini sudah mirip kepiting rebus. Merah padam karena malu.

"Sudah-sudah! Sekarang, langsung istirahat saja. Sudah malam. Besok libur atau dinas, Aira?" tanya Sita.

Aira meneguk air mineralnya, sedikit membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.

"Kebetulan libur, Bunda."

"Wah, asik! Nginepnya bisa agak lama ya, nggak buru-buru harus masuk kerja."

Aira tersenyum seraya mengangguk.

"Bas, ajak Aira ke kamar, gih! Sudah malam, dia pasti capek sekali."

Baskara mengangguk. Ia beranjak dari tempatnya usai membereskan piring-piring kotor ke wastafel. Saat Aira hendak mencuci piring-piring itu, Sita segera melarangnya.

"Aduh, nggak usah dicuci, Nak. Kasihan kamu capek. Ada Mbak Min, kok. Biar dibersihkan Mba Min."

Aira tersenyum. "Nggak apa-apa, Bunda. Aira sudah makan enak masa langsung tidur. Biar makanannya turun dulu, Bunda."

Sita menatap Aira, lalu tersenyum. Ia pun tiba-tiba memeluk Aira dari samping.

"Terima kasih ya, Sayang kamu sudah mau mendampingi Baskara selama ada masalah kemarin. Jujur, Bunda kepikiran. Kalian baru menikah, ada masalah seperti itu, takut kalau pernikahan kalian juga terancam, tapi ternyata kamu bisa percaya sama Baskara."

Aira tersenyum. "Walaupun Aira belum begitu kenal Bas ... ehem Mas Baskara, tapi Aira tahu kalau Mas Baskara bukan tipe laki-laki seperti itu, Bunda."

"Baskara baik, kan, sama kamu?"

Aira mengangguk.

"Nggak galak, kan?"

Aira menggeleng.

Sita mengusap gemas pipi Aira sambil tertawa dengan sorot mata yang berkaca-kaca.

"Bunda senang sekali. Bunda doakan, kamu dan Baskara selalu mendapat kebahagiaan."

Piring kotor telah selesai di cuci. Aira meneguk segelas air mineralnya, seraya menatap sekeliling rumah mertuanya. Sepi. Ia mulai celingak-celinguk mencari Baskara.

Kok nggak ada? Batin Aira.

Tiba-tiba, Baskara muncul dari pintu belakang dekat dapur sedikit membuat Aira terkejut.

"Eh, kamu dari mana, Bas?" tanya Aira setengah berbisik.

"Ambil tas. Siapa tahu kamu mau ganti baju."

Aira mengangguk seraya membulatkan bibirnya.

Ia meletakkan gelas dia tas meja, lalu berjalan mengekori Baskara ke lantai dua menuju kamar tidurnya.

"Wah, ini kamarmu?" tanya Aira saat masuk dan melihat kamar dengan aroma maskulin yang segera menguar.

"Iya."

Aira melihat beberapa foto yang terpampang di sana. Foto saat Baskara kecil hingga dewasa. Namun, ada satu foto yang menarik perhatian Aira. Satu foto dengan bingkai kecil yang diletakkan di atas lemari display piala milik Baskara. Foto dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang saling merangkul ditepi kolam renang.

"Lho, ini,kan, aku?" tanya Aira bingung.

Baskara menatap foto itu, lalu tersenyum.

"Memang. Kayaknya karena itu, deh, kita dijodohin," ucap Baskara.

"Eh, tapi aku nggak ingat sama sekali lho momen foto ini. Beneran."

"Banyak momen indah yang sudah kamu lewati. Kayaknya foto itu juga diambil waktu liburan di puncak. Ayah sama Om Hendra masih satu tempat tugas. Setelah itu, ayahku pindah. Kayaknya itu foto pertama sekaligus terakhir. Soalnya setelah itu, kita nggak pernah ketemu lagi."

Aira mengangguk paham. Ia mulai kagum dengan beberapa medali dan piala yang terpajang di kamar Baskara. Lalu, pandangannya tertuju pada Baskara yang sedang sibuk merentangkan karpet dan kasur di lantai.

"Kamu ... ngapain, Bas?"

"Ranjangnya cuma satu. Kamu saja yang tidur di situ. Aku biar di bawah. Nggak lucu, kan, kalau aku tidur di kamar Bian."

Aira kembali diam. Ia menggigit bibir bawahnya dan mencengkeram ujung pakaiannya. Ragu, tapi tak lama ia berkata, "Kalau malam ini kamu mau tidur diranjang, aku izinkan."

Baskara menoleh. Dia diam sejenak dan memperhatikan Aira yang perlahan menaiki ranjang. Ia menepuk bagian ranjang lainnya.

"Ranjangnya cukup, kok."

Baskara ragu.

"Nggak apa-apa?"

"Daripada nanti Bunda ngira kita berantem."

"Oke."

Baskara membereskan kembali karpetnya, lalu perlahan duduk di bibir ranjang. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Aira yang semula membelakangi Baskara, tiba-tiba merubah posisinya menjadi terlentang. Baskara sempat terkejut. Ia menoleh seraya menatap Aira lekat.

"Belum tidur?"

Aira menggeleng.

"Kenapa nggak nyaman ada aku di sini?"

Aira kembali menggeleng.

"Dingin," ucapnya singkat.

Baskara bangkit. Mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Aira. Ia juga menghangatkan suhu AC agar lebih nyaman.

"Makasih."

"Oke. Sekarang tidur, ya."

Baskara mencoba memejamkan mata, tapi rasa gugupnya membuat ia susah tidur. Ia membuka kembali matanya, menatap Aira sepintas, Aira sudah membelakanginya. Jantung Baskara masih berdetak lebih cepat, tapi ia mencoba tenang. Baskara pun merubah posisinya, membelakangi Aira dan coba memejamkan mata.

"Bas ...."

"Hmm ...."

"Makasih."

"Untuk apa?"

"Karena selalu buat aku merasa aman."

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!