NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6.

Hari-hari terus berganti membawa musim dan waktu yang tak pernah berhenti melangkah. Kini Zahra sudah berada di ujung perjalanan masa pendidikannya. Semua mata kuliah telah diselesaikannya dengan nilai yang cukup memuaskan, dan yang tersisa hanyalah menyelesaikan penyusunan skripsi serta mengikuti ujian akhir sebagai syarat untuk menyandang gelar sarjana. Meskipun perjuangan ini terasa panjang dan melelahkan, Zahra melangkah dengan semangat, menyadari bahwa impian yang sudah ia rajut sejak lama perlahan mulai terasa semakin dekat di genggamannya.

Namun, seperti halnya perjalanan apa pun, tidak semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Menyusun skripsi ternyata membutuhkan ketekunan dan ketelitian yang jauh lebih besar dibandingkan mengerjakan tugas-tugas biasa. Sering kali Zahra harus menghabiskan malam-malamnya hingga larut hanya untuk membaca buku referensi, mengumpulkan data, dan menyusun kalimat demi kalimat agar tulisannya layak untuk diuji. Matanya sering terasa perih, kepalanya terasa berat karena terlalu banyak berpikir, namun ia tak pernah sekalipun berniat menyerah. Ia ingat perjuangan orang tuanya di desa yang bekerja keras hanya agar ia bisa bersekolah hingga ke jenjang ini, ia tak boleh mengecewakan mereka.

“Tenang saja, Zahra. Pelan-pelan saja, jangan dipaksakan sampai sakit. Kalau butuh bantuan atau sekadar teman bicara, aku selalu ada di sini,” ujar Raka setiap kali melihat kekasihnya itu terlihat lelah dan bingung.

Kehadiran Raka memang menjadi penyemangat terbesar baginya. Setiap akhir pekan, lelaki itu selalu meluangkan waktunya untuk menjemput Zahra, membawakan makanan kesukaannya, atau sekadar menemaninya duduk tenang jika pikirannya sedang penat. Namun di sisi lain, Zahra mulai menyadari bahwa harapan Raka terhadap dirinya terasa semakin besar dan tinggi. Bagi Raka, kelulusan Zahra bukan hanya sekadar pencapaian akademik, melainkan gerbang utama menuju masa depan yang ia rancang untuk mereka berdua.

“Begitu kau selesai ujian dan resmi menjadi sarjana nanti, kira-kira sekitar setahun lagi bukan? kita akan segera mengurus lamaran dan persiapan pernikahan. Aku sudah bicara dengan pimpinan di kantor, mereka membuka lowongan di bagian administrasi, tempat yang cocok untukmu. Nanti setelah menikah, kau bisa langsung bekerja di sana agar waktunya lebih teratur,” ujar Raka suatu hari saat mereka sedang berjalan santai di pinggir pantai dekat kota.

Zahra hanya mendengarkan dan mengangguk perlahan, menyimpan setiap kata itu di dalam hatinya. Dalam benaknya, waktu terasa masih panjang. Ia tahu proses penyelesaian skripsi dan ujian sidang itu tidak bisa terburu-buru, butuh ketelitian, persetujuan dosen pembimbing, dan waktu yang cukup hingga akhirnya gelar itu bisa disandang. Jarak waktu itu masih cukup jauh, dan banyak hal yang bisa terjadi di tengah perjalanan itu.

“Terima kasih, Ka. Aku berusaha sebaik mungkin. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai harapan kita,” jawab Zahra lembut, meski di dalam hatinya terselip sedikit kekhawatiran. Ia merasa seperti berjalan di atas jalan yang sudah ditentukan orang lain, bukan sepenuhnya jalan yang ia pilih sendiri. Namun karena ia mencintai Raka dan melihat kesungguhan lelaki itu, ia memutuskan untuk tetap berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan.

Sementara itu, di negeri seberang lautan, kehidupan Rendra juga terus melaju dengan dinamikanya sendiri. Sudah hampir tiga tahun ia merantau di Malaysia, bekerja giat, dan menjalin hubungan yang semakin erat dengan Siti. Tabungannya kini sudah cukup terkumpul dengan jumlah yang lumayan, bahkan ia sudah bisa mengirimkan lebih banyak bantuan untuk membangunkan sebagian rumah orang tuanya di kampung halaman agar lebih layak huni. Kabar baik itu membuat hatinya terasa sangat ringan dan bahagia. Ayahnya yang dulu terbaring lemah kini sudah bisa berjalan perlahan dan beraktivitas ringan, menjadi anugerah terindah yang tak ternilai harganya.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, Rendra mulai menghadapi tantangan baru dalam hubungannya dengan Siti. Semakin lama bersama, semakin banyak pula perbedaan kebiasaan dan pandangan hidup yang terlihat jelas di antara mereka. Sebagai warga lokal yang lahir dan besar di lingkungan kota kecil di Malaysia, Siti memiliki pola pikir, kebiasaan makan, hingga cara berinteraksi dengan tetangga yang sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh Rendra sebagai orang dari pedalaman Indonesia.

Awalnya, hal-hal itu dianggap sepele dan bisa diselesaikan dengan saling maklum. Namun seiring dengan rencana mereka untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, masalah-masalah kecil itu mulai terasa membesar. Suatu sore, saat mereka sedang membahas rencana masa depan yang lebih jauh, terjadilah perbincangan yang sedikit menegangkan.

“Rendra, setelah kita menikah nanti, lebih baik kita tetap tinggal di sini saja. Tempat ini aman, penghasilanmu tetap terjamin, dan keluargaku juga ada di sini. Kalau kita pulang ke negerimu, bagaimana nasib kita? Apakah ada pekerjaan yang sebaik ini di sana?” tanya Siti dengan nada hati-hati namun tegas.

Mendengar pertanyaan itu, dahi Rendra langsung mengernyit. Ia memang sudah membayangkan hal ini akan muncul, namun mendengarnya secara langsung tetap membuatnya merasa berat.

“Tapi Siti, tanah kelahiranku adalah tempat yang paling aku rindukan. Orang tuaku sudah tua dan butuh ditemani. Aku ingin membangun rumah dan usaha di sana, agar kita tidak perlu lagi terpisah jauh. Aku yakin, selama kita bekerja keras, kita bisa hidup baik di mana pun juga,” jawab Rendra berusaha menjelaskan dengan sabar.

Namun Siti menggeleng pelan, raut wajahnya terlihat tidak setuju. “Bagiku, tempat yang sudah aku kenal sejak kecil adalah tempat yang paling nyaman. Aku takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan tempat yang asing, dengan adat dan bahasa yang berbeda. Jangan memaksaku pergi ke tempat yang aku tidak mengerti, Rendra.”

Percakapan itu berakhir tanpa keputusan yang jelas, hanya menyisakan keheningan yang terasa canggung di antara mereka. Malam itu, Rendra duduk termenung sendirian di tepi jalan dekat tempat tinggalnya, memandang bintang-bintang yang terlihat samar di langit malam. Ia menyadari bahwa ada pilihan sulit yang harus ia hadapi kelak, antara tetap bertahan di tempat yang memberinya nafkah namun jauh dari akar asalnya, atau pulang kembali ke tanah air namun berisiko kehilangan orang yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Pikirannya sempat melayang ke masa lalu, tanpa sengaja teringat kembali pada masa sekolah. Ia teringat pada keramaian, pada pujian, pada wanita-wanita cantik yang mengelilinginya saat itu. Namun kenangan itu kini terasa sangat jauh dan hampa. Ia justru mulai memikirkan arti kebahagiaan yang sesungguhnya, apakah itu harus selalu datang dengan kemudahan, atau justru dibangun di atas pengorbanan dan kesepahaman bersama?

Tak lama kemudian, bayangan samar muncul di ingatannya, sosok gadis yang pendiam, yang selalu berdiam diri di pojok kelas, yang tak pernah sekalipun mendekatinya atau meminta perhatiannya. Zahra. Nama itu terlintas sekilas begitu saja, lalu menghilang lagi. Ia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apakah ia sudah sukses menyelesaikan pendidikannya? Apakah ia sudah bahagia dengan kehidupannya? Namun ia segera menggelengkan kepala, menepis pikiran itu. Ia tak punya alasan untuk mengingatnya lebih jauh lagi, mereka hanyalah orang asing yang pernah berbagi tempat yang sama, tanpa ada ikatan apa pun.

Di sisi lain, Zahra pun sesekali melamun memikirkan masa depan yang masih panjang di depannya. Ia tahu setelah melalui perjuangan menyelesaikan skripsi, melewati sidang yang mungkin terasa menegangkan, dan memenuhi semua persyaratan kampus, barulah ia bisa menyandang gelar sarjana yang ia impikan itu. Jalan menuju ke sana masih butuh waktu hampir satu tahun lagi, dan di sepanjang jalan itu pasti ada saja rintangan yang akan menghadang.

Kadang-kadang, saat ia merasa lelah dan ragu akan kemampuannya sendiri, ia akan memandang cermin dan melihat dirinya sendiri, masih dengan gaya yang sama, rambut diikat rapi, wajah polos tanpa riasan, pakaian sederhana. Ia teringat kata-kata Raka bahwa suatu hari ia harus berubah sedikit agar bisa diterima di lingkungan kerjanya nanti. Apakah penampilan memang sepenuhnya menentukan segalanya? Apakah hati dan kemampuan tidak cukup untuk membuktikan siapa diri kita? Pertanyaan itu sering terngiang di kepalanya, namun belum pernah menemukan jawaban yang pasti.

Meskipun begitu, ia tetap melangkah maju. Ia sadar bahwa hidup adalah rangkaian proses yang harus dijalani satu per satu, tidak bisa dilompati. Kelulusan yang ditunggu itu baru akan datang nanti, begitu juga dengan segala keputusan besar yang harus diambilnya setelah itu. Untuk saat ini, ia hanya perlu fokus menyelesaikan apa yang sedang dipegangnya, menjaga hubungan baik dengan orang-orang terdekat, dan bersabar menunggu waktu yang tepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!