NovelToon NovelToon
Saat Istriku Setuju Bercerai

Saat Istriku Setuju Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Yunus

Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.

Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.

Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.

Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Renata

Di meja makan rumah Azalia memiliki pandangan yang berbeda dari biasanya. Jika biasanya hanya dia seorang diri yang duduk menikmati makanannya sendiri, maka kini ada Gavin dan Alvin yang duduk mengelilingi meja bundar yang hanya memiliki empat kursi.

Meski sudah duduk bertiga, tetap saja sarapan terasa sunyi. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena masing-masing dari mereka terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Azalia, yang duduk di tengah-tengah mereka, perlahan menyendok makanannya tanpa banyak bicara. Dari caranya makan, dia tampak tidak menikmati sarapan ini. Beberapa kali dia melirik Gavin dan Alvin, seolah masih belum terbiasa dengan kebisuan di antara mereka.

Alvin sendiri lebih banyak menatap meja, tangannya menggenggam sendok tanpa benar-benar menggunakannya. Setelah percakapan dengan Azalia tadi, ada beban yang menggantung di dadanya setiap kali dia menatap Azalia. Alvin sungguh masih belum bisa menghilangkan rasa bersalahnya, tapi juga tidak tahu bagaimana harus bersikap lebih baik tanpa terlihat memaksa.

Di sisi lain ada Gavin, yang terlihat jauh lebih tenang. Dia tetap seperti biasanya, dingin dan sulit ditebak. Hanya saja, sejak tadi, dia terus melirik ke arah Azalia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perhatian di sana, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat sarapan ini lebih canggung dari biasanya.

Dan kemudian, ketegangan itu bertambah ketika ketukan terdengar di pintu.

Abu membuka pintu.

Wajah Renata terlihat dari arah pintu, mendekat dengan langkah tenang dan senyum di wajahnya. Namun, ketika bayangan semakin dekat, ekspresi wanita itu berubah menjadi sulit diartikan. Senyum di wajahnya perlahan menghilang, dan sorot matanya dipenuhi banyak emosi.

Seperti antara terkejut, bingung, dan... Sakit hati.

Gavin dan Alvin terdiam, terjebak dalam satu pandangan bersama, dan Azalia melihat itu. Ia tahu tidak ada dari mereka yang menyukai situasi ini, dan dia tahu betul siapa wanita yang berdiri di pintu rumahnya itu.

Renata telah kembali. Dia menuliskan itu ke dalam buku catatannya mengenai alasan perceraiannya dengan Gavin.

Lalu tatapan Renata jatuh padanya. Senyum kaku dan hampar itu dia paksa semakin lebar. Sekilas, sebelum kembali pada Gavin dan Alvin lagi.

Azalia berdiri mengangkat piring sarapannya. "Sepertinya kalian butuh waktu untuk ngobrol. Dudu lah di sini, kalian makanlah bersama. Kebetulan aku ingin makan sambil nonton."

Ada senyum tulus di wajah Azalia. Setelah dia pergi, Renata benar-benar menempati kursi bekas Azalia duduki, menatap mereka berdua seperti sedang menunggu penjelasan.

"Mmmm... Sepertinya kalian memang butuh ngobrol lebih banyak. Aku tidak akan mengganggu " Alvin juga ikut berdiri, membawa piring sarapannya juga.

Dia lebih memilih duduk bersama Azalia di sofa ruang tengah, menemani wanita itu makan.

"Kau...ngapain disini?"

Alvin melirik Azalia sekilas.

"Kenapa?"

"Renata, bukankah dia teman baikmu? Dia sudah kembali, kau tidak menyambutnya?"

"Dia sudah tiba sejak kemarin lusa. Makanlah! Aku cuma ingin makan disini, apa kau keberatan?"

Padahal Renata sudah menunggu penjelasan Gavin, tapi pria itu seperti mengabaikannya. Dia hanya sibuk dengan apa yang ada di piringnya saat berkata, "Abu, siapkan sarapan untuk Renata juga."

"Gavin, aku tidak kemari untuk sarapan." Suara Renata penuh penekanan.

"Lalu?" Gavin masih menanggapinya sekenanya.

"Lihat aku, Gavin! Apa maksud semua ini? Kau bilang kalian akan bercerai, tapi kau malah tinggal bersamanya? Dan Alvin? Kenapa dia juga ikut sarapan bersama kalian?"

"Aku sudah selesai." Gavin memotongnya dengan cepat. Dia menyeka mulutnya dengan tisu, meneguk minumannya dengan buru-buru seperti tidak ingin mendengar kalimat Renata selanjutnya. "Aku memiliki urusan. Jika kau ingin bicara, kita bisa bicara lagi nanti."

Kakinya melangkah dengan lebar keluar. Saat tangannya mengambil kunci mobil di meja, sekilas dia melihat Azalia yang juga sedang menatapnya.

"Tunggu! Gavin... "

Renata justru menyusulnya.

Seolah sedang menunggunya, Gavin membiarkan Renata masuk ke mobilnya.

Mobil itu meninggalkan halaman.

Tidak ada reaksi apa-apa dari Azalia. Bahkan wajahnya terlihat acuh tak acuh ketika melihat suaminya pergi dengan wanita lain.

"Baiklah. Karena Gavin sedang tidak ada, aku akan di sini lebih lama." Alvin melenggang masuk santai, melewati Azalia.

"Untuk apa kau di sini?" Kedua alis Azalia naik kedahinya.

"Tentu saja menemanimu."

"Alvin, kau sudah berpakaian rapi. Bukankah kau seharusnya pergi ke perusahaan? Lagi pula, aku tidak akan pergi kemana-mana. Apa kau tidak lihat, berapa banyak orang yang disewa kakakmu untuk menjagaku?"

Azalia berdiri meninggalkannya.

Tapi Alvin kembali menyusul.

Sementara di depan sana, Gavin tidak pernah pergi terlalu jauh. Dia hanya sengaja membawa Renata keluar, setidaknya tidak ada yang mendengar obrolan mereka.

Mobil itu berhenti di bahu jalan dengan mesin yang menyala.

"Katakan yang ingin kau katakan. Tanyakan yang ingin kau tanyakan. Aku di sini akan mendengarmu, dan akan menjawab pertanyaanmu."Gavin berkata rendah, sama sekali tidak ada keakraban yang bisa dirasakan Renata seperti di masa lalu.

Bahkan setelah dia menoleh padanya, Gavin seperti memberi pembatas yang begitu tinggi sampai tidak ingin melihatnya.

"Gavin,... Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi?"

"Jangan berharap dari seorang pria yang sudah beristri."

Renata tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, dan ada tawa samar yang getir dari sana.

"Jadi selama ini, kabar yang katanya kau menungguku kembali itu hanya agar aku bisa menyaksikan hubungan rumah tanggamu dengan wanita lain?"

Tidak ada jawaban. Gavin bungkam, pandangannya juga tak pernah benar-benar melihat Renata..

Renata marah, ia menoleh, menatap Gavin tajam. Matanya berkilat emosi yang hampir meledak.

"Gavin, bukankah seharusnya kalian akan bercerai? Apa yang terjadi?" Suaranya nyaris berbisik, seperti tidak ingin mendengar jawabannya yang mungkin akan membuat hatinya semakin hancur.

Tetapi Gavin tetap bungkam.

Emosi Renata pecah. Dia meraih lengan Gavin, mencengkramnya erat, memaksa pria itu untuk menatapnya. "Gavin, jawab aku!" Jeritnya.

Gavin akhirnya mengalihkan tatapannya. Matanya gelap, kosong, tanpa sedikitpun gelombang perasaan.

"Aku sudah membatalkan perceraian."

Seketika, dunia Renata berhenti berputar. Napas perempuan itu tersangkut di tenggorokan.

Tidak mungkin.

Dia menatap Gavin dalam ketidakpercayaan. "Apa? Kau membatalkan perceraian itu?"

Sebuah tawa yang getir lolos dari bibirnya, nyaris seperti tangisan tertahan. Sakit yang di rasa tembus ke tulang, menghancurkan setiap harapan yang selama ini dia genggam erat.

"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku, Gavin?" Suaranya bergetar. Matanya mulai memanas. "2 tahun lalu, saat kau menikahi Azalia, aku pergi. Aku meninggalkan semuanya demi menyembuhkan perasaanku sendiri."

Renata mencoba mengendalikan dirinya sendiri.

"Tapi setelah itu, kau memberiku harapan." Matanya kembali menatap Gavin. Penuh luka. "Kau mengatakan ribuan kata indah untuk menghiburku, untuk meyakinkanku bahwa aku hanya perlu menunggu sedikit lebih lama."

"Alvin juga...," suaranya melemah. "Dia terus mendukung ku bersamamu. Dia mengatakan bahwa hubunganmu dengan Azalia tidak lebih dari sekedar ikatan kosong. Gavin, aku mempercayai kalian, tapi mengapa kalian memperlakukanku seperti ini?"

Air matanya akhirnya jatuh, tapi dia segera menghapusnya dengan kasar.

"Aku sengaja pulang lebih cepat, tapi mengapa jadi seperti ini?" Dia tertawa miris, perih menusuk dadanya.

Dia menggeleng, menelan tangisnya dengan paksa.

"Aku menghayalkan begitu banyak hal indah tentang kita setelah aku kembali." Sorot matanya berubah dingin. "Dan sekarang, kau menyambutku dengan pertunjukan yang tidak pernah kubayangkan."

Dia menunduk, menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya menoleh lagi ke arah Gavin dengan tatapan terakhir yang penuh penghinaan dan kepedihan.

"Kau tahu, Gavin?" Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Kau pria paling brengsek yang pernah aku kenal."

Tanpa menunggu reaksi Gavin, Renata segera meraih tasnya, lalu keluar dari mobil Gavin tanpa menoleh lagi.

Sementara di rumahnya.

Alvin yang seharusnya sudah pergi, namun, hingga detik ini, dia masih duduk di sofa Azalia. Dia sudah mengenakan setelan jas rapi, kemeja yang disetrika sempurna, dan sepatu kulit mengkilap yang siap melangkah menuju perusahaan. Tapi sejak tadi pandangannya tidak pernah beralih dari sosok yang berdiri di halaman belakang rumah.

Azalia.

Gadis itu sedang berjongkok di halaman, jari-jarinya yang ramping dan pucat berlumur tanah saat dia dengan hati-hati memindahkan tanaman ke dalam pot baru. Matahari pagi yang hangat menerpa rambut hitamnya, membuat helaian itu berkilau keemasan di beberapa bagian.

Ada ekspresi damai di wajahnya, sesuatu yang tidak sering Alvin lihat, seakan untuk sesaat, dia melupakan segala hal yang terjadi di hidupnya dan hanya tenggelam dalam pekerjaannya yang sederhana ini.

Alvin akhirnya berdiri di ambang pintu. Lebih memperhatikan Azalia, bagaimana jemari Azalia menyentuh bibit daun ketumbar dengan lembut. Azalia begitu fokus dengan pekerjaannya, tidak peduli dengan kehadiran Alvin.

Tanpa sadar, Alvin menyandarkan satu bahunya ke kusen pintu. Dia seharusnya pergi. Dia seharusnya mengabaikan pemandangan ini.

Namun, matanya tidak bisa lepas dari Azalia.

Alvin melihat bagaimana susahnya Azalia memindahkan tanaman itu ke pot yang lebih besar, tangan pucat itu sedikit bergetar, tapi Azalia terus berusaha. Sesekali, dia menyeka keringat di dahinya, lalu mencoba lagi, dan itu berulang kali, tanpa benar-benar berhasil.

Sebuah helaian napas lolos dari bibir Alvin.

Tanpa berpikir panjang, dia meraih jasnya, menariknya dari tubuhnya, dan menyampirkannya kesandaran kursi terdekat. Kemudian, dia menggulung lengan kemejanya hingga siku, langkahnya tanpa suara saat dia mendekati Azalia.

Azalia yang terlalu sibuk tidak menyadari kehadirannya sampai sebuah tangan terulur mengambil sekop kecil dari tangannya.

1
Vie
ah akhirnya bisa update juga kak... 👍👍👍
Hani Ekawati
Bagus beri pelajaran buat orang orang serakah itu, orang tua yang tidak punya hati nurani terutama Marta. Demi bisa hidup mewah dia sampe menjual putrinya sendiri.
Hani Ekawati
Dasar kamu seorang ibu yang tidak punya hati
Bela Viona
rasakno
Hani Ekawati
Itu si Marta ibu yang tidak punya hati, anaknya sakit tapi tidak peduli sama sekali. Dan Gavin sepertinya sudah ada getar cinta atau hanya sebatas rasa iba.
Setyowati Setyowati
kapokmu kapan mahesa
Vie
yaaa padahal seru ceritanya.... lagi seru2 nya kak... 😭😭😭
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
hadiah yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan.. 🤭🤭🤭
Vie
ya.. ya... ya... dalam mimpi mu kali ya.... 😝😝😝
Vie
ya harusnya kamu lebih berpikir lagi dengan jernih.... walau bagaimanapun dia sudah menikah, dan kalau kamu berada diposisi azalia, apakah kamu akan menerimanya begitu saja. melepaskan suami demi kembali bersama masa lalunya???
Vie
nah gitu dong kamu harus tegas dalam memilih suatu hubungan karena jelas kamu sudah memiliki seorang istri yang sangat mencintaimu, hanya saja kamu yang tidak bersyukur dan malah menyia2kan waktu saat bersamanya....
Vie
sok lah bawa dia berobat sampai sembuh total dan mendapatkan kebahagiaan
Vie
nah kan seperti hati kamu sekarang pada azilia. walau sebenarnya sudah terlambat karena waktu untuknya tidak akan lama lagi. isilah waktu yang tersisa itu dengan semua kebahagiaan untuk azilia....
Vie
bukankah kamu seperti menyindir diri sendiri ya??? 🤭🤭🤭🤭 karena hal itu seperti yang terjadi dalam hidup kamu.... 🤭🤭
Vie
ya siapapun pasti akan sangat hancur bila tau keadaannya seperti ini, terus dia merasa hanya dikasihani setelah apa yang dulu Gavin lakukan padanya.... itu wajar sih.... karena ini menyangkut nyawanya yang mungkin tinggal menunggu waktu akan menjemputnya... 😭😭😭😭
Bela Viona
ntah akan ad keajaiban kesembuhan azalia atau hanya tinggal kenangan tentang Azalia.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..
Bela Viona: aku lagi sedih lho 😭
total 2 replies
Rahma Inayah
mmg ya si Marta GK tau malu
Kar Genjreng
perih ya ketika sedang mengharapkan kedatangan nya selalu di anggap pura pura atau hanya sedang bermain drama,,, padahal sedang menahan lara luar biasa,,, sekarang bagitu terlanjur bsekarat baru lah percaya,,,ya semoga bergerak cepat siapa tau ada keajaiban,,😭😭
Dew666
💎💎💎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!