Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22- Cemburu yang semakin jelas
Cemburu yang Semakin Jelas
Setelah pertemuan canggung dengan Reza di rumah sakit, suasana di antara Mona dan Wira berubah sedikit aneh. Terutama bagi Mona, karena sepanjang perjalanan menuju kantor… Wira lebih diam dari biasanya dan itu membuat Mona mulai curiga.
“Pak…”
“Hm?”
“Bapak marah?”
“Tidak.”
Jawaban cepat, terlalu cepat.
Mona melirik pria di sampingnya pelan. “Kalau tidak marah, kenapa wajahnya begitu?”
“Aku memang begini.”
“Bohong.”
Wira akhirnya menoleh sekilas. “Aku tidak bohong.”
Mona menyilangkan tangan kecil sambil mendelik. “Bapak cemburu ya?”
Mobil langsung hening. Beberapa detik terasa sangat panjang, lalu Wira kembali fokus ke jalan.
“Tidak.”
“Padahal jelas banget.”
“Mona.”
“Nah kan, mulai galak.”
Wira mengembuskan napas pelan dan itu justru membuat Mona makin ingin tersenyum, karena sekarang semakin jelas... CEO dingin itu benar-benar cemburuan.
***
Begitu sampai di kantor, suasana langsung sibuk seperti biasa, namun rumor tentang Mona dan Wira belum juga reda, bahkan kini beberapa staf mulai terang-terangan menggoda Mona.
“Mbak Mona tadi dijemput Pak Wira lagi?”
“Mbak Mona cocok jadi nyonya direktur.”
“Masa depan cerah tuh.”
Mona langsung menutup wajah dengan map. “Tolong kerja kalian…”
Namun di balik rasa malunya… ada sedikit rasa hangat yang sulit dijelaskan.
***
Siang harinya, Mona sedang merapikan dokumen di ruang kerja Wira ketika ponselnya berbunyi.
Nama Reza muncul di layar, Mona langsung sedikit panik, sementara Wira yang duduk di meja kerja melirik tanpa sadar.
“Kamu tidak angkat?”
Mona menatap layar ponselnya ragu. “Takut ada yang penting…” lanjut Wira “Angkat saja.”
Mona akhirnya menerima panggilan itu. “Halo?”
Suara Reza langsung terdengar ceria. “Hai. Maaf tadi suasananya jadi aneh.”
Mona tertawa kecil. “Sedikit.”
“Bos kamu serem juga ternyata.”
Mona refleks melirik Wira. Pria itu pura-pura fokus membaca dokumen.
“Dia memang begitu.”
“Eh, nanti jadi makan bareng nggak?”
Mona langsung salah tingkah. “Reza…”
“Ayolah. Sekadar reuni teman lama.”
Belum sempat Mona menjawab... tangan Wira tiba-tiba terulur mengambil ponsel dari tangan Mona.
“Pak?!”
Wira menempelkan ponsel ke telinganya dengan ekspresi datar. “Dia sibuk.”
Lalu...
Tut
Telepon langsung dimatikan.
Mona langsung membelalak tidak percaya. “PAK WIRA!”
Wira meletakkan ponsel itu santai di meja. “Apa?”
“Itu tidak sopan!”
“Dia mengganggu jam kerja.”
“Bapak sengaja!”
“Aku memang sengaja.”
Jawaban jujur itu membuat Mona kehilangan kata-kata dan yang lebih parah… Wira bahkan tidak terlihat merasa bersalah.
“Pak Wira tuh cemburuan banget sih!”
Wira menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya lurus ke arah Mona.
“Kalau iya?”
Deg
Jantung Mona langsung kacau lagi. Pria ini benar-benar mulai berbahaya.
“Bapak nggak malu ngomong begitu?”
“Aku lebih malu kalau harus pura-pura tidak peduli.”
Mona langsung terdiam. Wajahnya perlahan memanas, karena sekarang… Wira tidak lagi terlalu menyembunyikan perasaannya dan itu justru membuat Mona makin sulit menjaga hati, namun di tengah suasana itu...
Pintu ruangan tiba-tiba diketuk.
“Masuk.”
Salah satu staf masuk dengan wajah gugup. “Pak Wira, ada tamu.”
“Siapa?”
Staf itu terlihat ragu menjawab. “Bu Sandra…”
Senyum kecil di wajah Mona langsung menghilang perlahan, sementara ekspresi Wira kembali datar.
“Suruh masuk.”
Beberapa detik kemudian, Sandra masuk dengan penampilan elegan seperti biasa, namun kali ini tatapannya langsung berhenti pada Mona, lalu ke ponsel yang masih ada di meja Wira dan entah kenapa… ia seperti langsung memahami suasana sebelumnya.
“Aku mengganggu lagi?” Nada suaranya terdengar santai.
Tapi Mona bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Wira berdiri perlahan. “Ada perlu apa?”
Sandra tersenyum kecil. “Aku hanya mau mengajak makan malam.”
“Aku sibuk.”
“Dengan pekerjaan?”
Sandra melirik Mona sebentar. “Atau dengan sekretarismu?”
Ruangan langsung terasa dingin.
Mona buru-buru berdiri. “Saya keluar dulu.”
Namun kali ini Sandra justru menghentikannya. “Tidak usah.”
Mona menoleh bingung.
Sandra tersenyum tipis. “Aku justru ingin bicara denganmu juga.”
Deg
Entah kenapa… jantung Mona langsung terasa tidak nyaman lagi.