Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keponakan Jahiliyah
Begitu memasuki rumah, telinganya langsung dijewer sang mami yang sudah menunggu di balik pintu.
"Begitu ya, Mami sama Papi ngga di rumah, kamu ngga ingat pulang," omel wanita paruh baya yang masih cantik ini.
"Bukan begitu Mi. Tadi Vandra abis latihan drama di sekolah," belanya sambil meringis.
CLIIKK
Kaget Vandra ada sinar blizt mengenai wajahnya. Matanya langsung melotot melihat seorang anak laki laki tampan berusia lima tahun yang sedang meleletkan lidah padanya. Tangannya menunjukkan hasil foto yamg ada di hpnya dengan senyum nakal.
"Abhi! Om ganteng marah ni," kesalnya ingin mengejar keponakan jahiliyahnya. Tapi jeweran mami yamg semakin keras membuat Vandra tambah meringis.
Abhi kembali menjulurkan lidahnya membuat Vandra tambah panas.
"Mi.... Vandra ngga bohong. Tadi Vandra latihan dramanya sama Doni," kata Vandra lagi sambil memandang kesal keponakannya. Awas nanti!
Mama langsung melepaskan jewerannya sambil tersenyum sayang.
"Kasih tau dong dari tadi," kata Mami tanpa rasa bersalah.
"Mami maen jewer aja. Gimana mau kasih taunya," omel Vanda sambil mengelus telinganya yang terasa sakit.
Udah sma masih aja dijewer, omelnya dalam hati.
Mami tertawa melihat wajah kesal anak bungsunya.
"Tuh, Papa nungguin kamu dari tadi di ruang TV," kata Mami sanbil menggandeng tangannya.
"Mi, Vandra belum mandi," kata Vandra menghentikan langkah Mami.
"Ya udah, mandi dulu. Sana," usir Mami sambil mendorong bujang bontotnya.
"Iya Mi," kata Vandra sambil matanya mencari bocah jahiliyah tadi.
"Abhi ngga usah dicari," sebuah suara tegas membuat dia menoleh.
Dasar, Abhi kecil muncul dibelakang pawangnya.
"Sini hpnya!" Sentak Vandra hendak meraih tangan bocah kecil nakal yang kini berlindung di balik kaki papanya yang super tinggi besar.
"Vandra, kamu seperti anak kecil," sentak balik sang pawang.
"Bang Valen, anak lo tu perlu disunat sekarang?" marah Vandra sambil menatap abang tertuanya yang wajahnya foto copian banget sama anaknya. Juga kelakuannya.
"Dady bilang kalo umurku sepuluh tahun baru boleh sunat. Weeiiiii.....," jawab Abhi berani sambil mengejek omnya lagi.
"Sini gak hp nya," kata Valen sambil berusaha meraih lagi tangan keponakannya yang memegang hp. Tapi dady nya dengan cepat menepisnya.
"Vandra, kamu apa apaan, sih, mandi sana," seru mami mangkel melihat kelakuannya.
"Mi, si Jahiliyah itu tadi moto aku. Harus dihapus dulu," balas Vandra ngga peduli, tetap aja berusaha meraih Abhi yang tentu saja selalu selamat berkat dadynya.
"Foto itu bakal viral kalo diupload, Van. Cewe cewe di luar pasti ingin koleksi wajah imut Lo," kekeh Valen yang terus saja menepis serangan tangan dan kaki Vandra.
Sialan, maki Vandra kesal. Abangnya dulu juga pernah jadi juara atlet nasional. Benar benar merepotkannya.
Akhirnya teriakan maminya yang menggelegar memutuskan adu tanding tersebut.
"Valen! Vandra! Ngga malu dilihat Abhi!"
"Yaaa Eyang. Lagi seru seru nya," kata Abhi kecewa.
"Aauu... Mami apa apaan sih, sakiiit....," teriak Abhi spontan saat merasakan telinganya dijewer maminya yang baru keluar dari kamar karena ribut ribut. Dan Vandra ngga membuang kesempatan emas ini. Diapun balas menjepret keponakan jahiliyahnya.
"Om apaan, sih," Abhi berusaha menutup wajahnya dengan tangan akibat sinar blizt yang berkali kali menerpa wajahnya.
Vandra tersenyum jahil, pembalasan lebih kejam, bocah.
"Vandra! Ngapain kamu! Mandi sana!" Mama udah seperti singa yang akan menerkamnya membuat Vandra lari ke kamarnya, sambil tertawa puas akan penderitaan abang dan anak fotocopinya itu. Dan benar, terdengar suara Mama dan kak Sarah sedang mengomeli keduanya.
"Bang, kamu jangan ajari Abhi yang nggak bener, dong." Sarah, wanita cantik yang masih menjewer buah hatinya menatap Valen kesal.
"Iya Sarah, udah. Kasian Abhi," katanya mengalah.
"Kamu selalu aja ganggu Vandra. Abhi kecil Eyang ngga boleh niru kelakuan dady ya," kesal Mami juga pada Valen yang hanya cengengesan.
"Terus, Abhi ngikutin siapa Eyang?" tanya Abhi sambil meringis. "Om Vandra? Nggak banget. Mending Dady," bela Abhi yang langsung mendapat dua jempol dari Dadynya.
Mami hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata kata cucunya.
"Abhi ngga boleh ngomong gitu sama Eyang. Maaf, ya, Mi," kata Sarah sambil melepaskan jewerannya. Baru aja mereka datang sudah membuat heboh. Padahal mereka akan menginap cukup lama.
Abhi meringis memegang telinganya yang abis dijewer. Sakit ya om, malah dia teringat akan ringisisan omnya yang dikira hanya pura pura.
"Untung Valen nikahnya sama kamu Sarah. Pikiran mami jadi berkurang pusingnya," kata Mami membuat Sarah tersenyum geli. Dia aja ngurus Abhi seorang sampai bikin hipertensi, apalagi maminya ngurus empat, dengan Valen dan Vandra yang ngga pernah akur.
"Abhi, minta maaf sama eyang," kata Valen setelah mendapat kode merah dari istrinya. Bisa ngga diijinkan reuni sama teman temannya kalo ngga nurut. Teman teman dekat smanya yang tau kedatangannya sudah mengontaknya mengajak kumpul kumpul ala bujang. Padahal udah pada nikah dan punya anak.
"Eyang, maaf ya. Abhi sayang sama eyang. Soalnya eyang cantik dan baik," katanya merayu membuat Valen, Sarah dan Mami terkikik.
Nurun siapa coba, kerling Valen pada istrinya bangga.
Maminya pun langsung memeluk cucu satu satunya itu dengan penuh sayang.
"Abhi kecil Eyang." Begitu selalu yang diucapkan Eyangnya.
Sementara Papi tersenyum melihatnya.