Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.
Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.
Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Hadiah?
"Ibu!"
Begitu Gabriella kembali, Luceran menyambutnya dengan sangat antusias.
Anak itu berlari kencang dari arah halaman bersama si wanita tua, lalu menghambur ke pelukan Gabriella.
"Ibu! Nenek! Lihat ini!"
Luceran menyodorkan setangkai bunga. Sepertinya ia memetik bunga itu saat sedang asyik bermain sendirian tadi.
"Bunga yang cantik."
"Apa ini untuk Ibu?"
Luceran sempat tertegun saat hendak menyerahkan bunga itu. Ia hanya memetik satu tangkai, sementara ada dua orang yang ingin ia beri.
Melihat tingkahnya yang menggemaskan, Gabriella tersenyum simpul sambil menunjuk ke arah si wanita tua.
"Bagaimana kalau bunga ini diberikan kepada Nenek dulu? Nanti kalau Luceran menemukan lagi, baru berikan pada Ibu."
"Iya, baiklah!"
Sambil memperhatikan Luceran yang menyerahkan bunga itu, Gabriella ingin mencari tahu apa yang ada di pikiran anak itu.
"Luceran."
"Ya!"
"Luceran lebih sayang Nenek, atau paman itu?"
Mendengar itu, Luceran sama sekali tidak butuh waktu untuk berpikir. Jawabannya sudah sangat jelas di kepalanya.
"Lulu pilih...!"
Tepat saat anak itu hendak berseru, Axion melangkah mendekat.
"Tunggu sebentar. Ada yang ingin ku bicarakan," ucapnya memotong pembicaraan.
"Bukankah semuanya sudah selesai tadi?" sahut Gabriella.
Sikap hangat yang baru saja ia tunjukkan pada Luceran hilang seketika. Tatapannya berubah dingin saat beralih pada suaminya.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bahas."
Suasana mendadak menjadi tegang. Axion sadar bahwa kali ini ia tidak akan bisa meluluhkan hati Gabriella dengan cara biasa.
"Aku akan berubah."
Ia langsung mengutarakan intinya tanpa basa-basi.
"Aku mengakui kesalahanku. Semua itu adalah kelalaianku, jadi aku akan menuruti perkataanmu."
Axion menatapnya dengan serius, seolah sedang memberikan janji yang tulus.
"Jadi, berikan aku waktu sebentar untuk berbicara."
Pria itu merendahkan suaranya, ia tak lagi menunjukkan wajah ketus seperti sebelumnya.
Gabriella mengangguk pelan. Ia ingin mendengar alasan di balik perubahan sikapnya yang mendadak ini.
"Ibu mau ke mana?" Luceran menahan ujung gaun Gabriella dengan cemas.
"Ibu hanya ingin bicara sebentar dengan Paman."
Mendengar sebutan 'Paman' untuk pertama kalinya, Axion menunjuk dirinya sendiri dengan jari, seakan tidak percaya bahwa panggilan itu ditujukan kepadanya.
'Kalau memang ingin dipanggil Ayah, seharusnya kau bersikap selayaknya seorang ayah.'
Tanpa memedulikan raut wajah Axion, Gabriella meminta wanita tua itu untuk menjaga Luceran sebentar. Begitu mereka pergi, suasana di antara keduanya kembali sunyi.
-
"Sekarang, bagaimana kau akan berubah?"
Axion mendadak bungkam. Pertanyaan itu seolah menyumpal mulutnya.
Melihat reaksi itu, Gabriella menyipitkan mata.
"Aku ingin meminta maaf lebih dulu karena telah berucap kasar padamu. Ku pikir, mengakui kesalahan adalah langkah awal yang benar."
"Mengakui kesalahan?"
Gabriella menatap datar, seolah sedang menguji kejujuran pria di hadapannya.
"Dari ucapanmu sebelumnya, hal apa saja yang kau anggap sebagai kesalahan?"
Gabriella berniat memastikan segalanya. Jika pria itu memberikan jawaban asal-asalan, ia tidak akan membuang waktu lagi dan langsung kembali pada Luceran.
Melihat tatapan tajam Gabriella, Axion sempat bimbang sejenak sebelum akhirnya membuka suara.
"Saat aku menyebutmu terlalu ikut campur dalam urusanku."
"Lalu... hanya itu?
Axion merasa lidahnya mendadak kelu. Ia mencoba mengingat kembali percakapan mereka sebelumnya dengan tenang, dan tak butuh waktu lama untuk menemukan jawabannya.
"Dan saat aku mengatakan bahwa menghabiskan waktu bersama keluarga adalah hal yang sia-sia dan merepotkan."
"Tepat sekali."
Meski Axion berhasil menyebutkan kesalahannya dengan benar, raut wajah Gabriella tampak semakin kesal.
"Pasti Hans yang menyuruhmu berbicara seperti itu."
Axion tersentak.
"Dia memang sempat menegurku."
"Sudah kuduga."
-
Setelah beberapa saat, Gabriella mulai merasa sedikit lega.
"Aku menerima permintaan maaf itu. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, keputusanku tidak berubah. Jika Luceran ingin menghabiskan waktu bersama wanita tua itu, kau harus mengizinkannya."
Gabriella menatapnya tajam, ia menegaskan pendiriannya.
"Sekalipun kau berjanji akan mengubah sikapmu pada Luceran, aku tidak akan goyah soal ini."
Ada sedikit ketegangan yang menyelimuti Gabriella. Masalah inilah yang menjadi pemicu pertengkaran mereka sebelumnya. Meski Hans telah berhasil membujuk pria ini, tidak ada jaminan Axion sang Duke Argenta akan mengalah sepenuhnya.
Gabriella menahan napas sejenak sambil menunggu jawaban.
"Lakukan saja."
Jawaban setuju itu keluar begitu saja.
"Seminggu cukup?"
"Hah? Ya."
Gabriella yang sempat bingung, segera tersadar kembali.
"Jika setelah seminggu dia masih tidak mau pulang..."
"Tentu kita harus membujuknya bersama. Kau tidak akan mengabaikan masalah Luceran begitu saja, bukan?"
"Tentu."
Sepertinya Axion tidak sedang bersandiwara soal keinginannya untuk berubah. Gabriella pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyampaikan apa yang selama ini tertahan di benaknya.
"Tadi kau bilang akan menuruti perkataanku, kan? Kalau begitu, mulai sekarang kurangi bepergian dalam waktu lama. Luangkan waktu sebanyak mungkin untuk Luceran. Untuk awal, satu jam sehari kurasa cukup."
"Hanya itu?"
"Itu baru permulaan. Setelahnya, waktu itu harus bertambah secara bertahap."
"Akan ku usahakan."
Percakapan mengalir jauh lebih tenang karena masing-masing pihak mulai mau mengalah dan mengakui posisi lawan bicaranya. Namun, sebuah keraguan mendadak melintas di pikiran Gabriella.
"Sebenarnya... mengapa kau begitu bersikeras mengadopsi Luceran? Padahal mengadopsi anak bukan satu-satunya cara untuk menghindari pertunangan."
"Karena garis keturunan Argenta harus tetap berlanjut."
Saat Gabriella hendak bertanya apa gunanya meneruskan takhta melalui anak yang tidak memiliki hubungan darah, tiba-tiba sebuah suara memecah suasana.
"Ibu!"
"Luceran?"
Mendengar panggilan itu, Gabriella menoleh dan tersentak kaget.
Hanya dalam sekejap mata, Luceran sudah berjalan tertatih-tatih sambil memeluk erat sebuah batu yang ukurannya hampir sebesar tubuhnya sendiri.
"Maafkan saya, seharusnya saya melarangnya. Tapi dia bersikeras ingin membawa batu ini..."
Gabriella segera menghampiri Luceran.
"Kenapa kamu membawa batu ini sampai ke sini?"
Luceran tampak gelisah dan melirik ke sana kemari. Melihat itu, Gabriella pun segera melembutkan suaranya.
"Batu ini sebesar tubuhmu, pasti berat sekali membawanya. Kau pasti sempat ingin menjatuhkannya di jalan, kan?"
"Iya."
"Itu sebabnya aku penasaran. Kenapa kamu harus bersusah payah membawanya?
"Hadiah!"
Hadiah?
"Untuk Ibu!"
Luceran menatap Gabriella dengan mata yang berbinar-binar.
"Hadiah untukku? Terima kasih banyak."
Sebenarnya itu hanya sebongkah batu biasa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun selain ukurannya yang besar. Namun, Gabriella tetap menerimanya dengan tulus.
"Dan Luceran paling sayang Ibu!"
"Ibu juga sangat..."
Gabriella hendak membalas, namun ia tertegun sejenak saat menyadari sesuatu.
"Luceran lebih sayang Nenek, atau Paman itu?"
Ternyata, ini adalah jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya.
"Tapi, bukankah kau juga sayang Nenek?"
"Sayang Nenek juga!"
"Sayang semuanya!"
Luceran berseru dengan semangat.
Batu besar yang dibawa Luceran dengan susah payah itu adalah caranya menunjukkan rasa sayang.
Bagi anak seusianya, itulah bentuk cinta paling besar yang bisa ia ungkapkan.
Cinta memang tidak memiliki bentuk. Namun hari ini, Gabriella benar-benar bisa merasakan betapa "besar" dan tulusnya kasih sayang itu.
Batu di tangan Luceran terasa jauh lebih bermakna dari apa pun. Bahkan jika harus mengangkat gunung sekalipun, rasanya tidak akan seberat perjuangan Luceran yang bersikeras membawa batu ini demi dirinya.
"Terima kasih. Ibu juga sangat menyayangi Luceran."
Luceran langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Namun, gerakan itu justru memperlihatkan noda tanah yang mengotori pakaian putihnya.
Sepertinya itu akibat ia memeluk batu besar sepanjang jalan. Bercak cokelat yang menempel tampak jelas, tetapi tak seorang pun berniat menegurnya.
'Sekarang, aku harus memberitahunya kalau dia hanya bisa tinggal seminggu di tempat Nenek.'
Jika dipikir-pikir, itu hanya satu minggu. Namun, karena sudah terlanjur sayang, Gabriella merasa seminggu tanpa Luceran di sisinya akan terasa sangat lama.
Tepat saat Gabriella masih ragu untuk memulai pembicaraan, sebuah suara menyela dengan hati-hati.
"Permisi, Nyonya..."