Squel novel lanjutan dari BUDAK CINTA.
Bagi yang belum membaca di karya ku sebelumnya silahkan mampir dulu ya !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MICHELLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
POV KHERY
Hampir semalaman, Khery tidak bisa tidur dengan tenang dan nyenyak. Senyuman Fanny dan sikap Fanny ketika bersama Irgy, begitupun tatapan matanya membuat Khery merasa kesal.
Aaaaaaarght brengsek !!! Kenapa, kenapa Fanny? kenapa kau mendekati Irgy, sepupuku. Apa kau sengaja ingin balas dendam padaku?
Aku tidak biss biarkan ini, Irgy terlalu polos dan lugu jika kau jadikan alasan untuk balas dendam pada ku Fanny.
Pagi ini, dengan terburu-buru Khery menuju ruangan Irgy. Kemudian masuk tanpa permisi dan mengetuk pintu dahulu.
" Irgy, mas Khery mau bicara dengan mu. Ini penting, " Ucap nya dengan penuh kekesalan menerobos pintu ruangan Irgy. Irgy yang tengah sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja nya tampak terkejut melihat kedatangan Khery.
" Ada apa mas? bisakah kau ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ku? Untung saja aku sedang tidak bersama Fanny disini. Kalau saja, kami sedang berduaan di ruangan ini kau akan malu sendiri nantinya. "
" Irgy, stop. Apa kau tau siapa Fanny itu? apa kau sungguh yakin akan menikahinya? pikirkan dulu baik-baik Irgy. Mas cuma takut kau akan menyesalinya, "
" Memangnya Fanny wanita yang seperti apa mas? Dan siapa Fanny itu? mantan kekasihmu kah? atau mantan wanita yang selalu Mas Khery sakiti dulu? "
" Irgy, tidak ada cerita begitu. Mana mungkin mas tega melakukan itu pada sorang wanita, lagipula Fanny yang selalu mengejar mas Khery dari masa SMP dulu dia sudah menyukai mas. Tapi mas menolaknya karena kita lebih baik berteman saja agar kami tetap bisa saling memberikan suport. "
Mendengar ucapan Khery, Irgy memberikan tatapan sengit dan menyeringai pada Khery. Sehingga membuat Khery kembali emosi nya meluap-luap.
" Irgy, kau sudah di perdaya oleh wanita seperti Fanny. Jangan tertipu dengan keluguannya, dan jika benar dia adalah mantan kekasih mas. Apa kau masih akan tetap menikahinya? Ayo lah jangan bodoh, jangan bikin malu keluargamu. "
" Mas, hentikan ucapan mu itu. Perlu aku tegaskan, apapun yang akan kau katakan tentang Fanny pada ku. Aku tidak peduli dengan ceritamu itu, kalau pun Fanny memang lah mantan kekasih mu memangnya kenapa? hanya mantan kekasih kan? Aku akan tetap menikahinya, itupun jika memang benar Fanny mantan kekasihmu dulu mas. " Jawab Irgy dengan santai namun terdengar tegas di telinga Khery. Rupanya jawaban ini cukup membuat Khery tidak lagi mampu menahan emosinya, dia berniat memberikan satu pukulan pada Irgy.
" Kenapa? mau pukul Irgy? Ayo, silahkan. Tapi ingat, kita sedang dimana mas. Dan posisi mu masih di bawah ku, "
" Kau akan menyesal Irgy. Jangan sombong dengan kekuasaan mu saat ini, kau masih anak kecil. Kau hanya lebih dulu terjun pada perusahaan ini, sehingga kau berhasil ikut andil mengelola toko perhiasan ini, Ingat itu !!! "
" Mas, aku CEO disini. Ayo lah, jangan mengataiku anak kecil lagi. Kau tau aku sebentar lagi akan menyandang status suami, jadi. . . mohon bimbingannya ya, selaku saudara sepupu tertua. " Dengan santai Irgy mengedipkan matanya pada Khery. Membuat Khery semakin bersungut-sungut dengan mengepalkan kedua tangannya, dia berusaha sekuat mungkin menahan amarahnya mengingat dimana mereka saat ini beradu argumen.
Kemudian dengan penuh amarah Khery keluar dari ruangan Irgy. Sumpah serapahnya mulai mencaci maki Fanny dalam hatinya. Ada rasa benci di dalam hatinya tertuju pada Fanny.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Menjalani hari-hari menjelang pernikahan. Ku akui, bibir ini selalu tersenyum dengan sendiri nya. Ya, aku sedang berbunga-bunga dan sangat bahagia tentunya. Kau tau, aku mulai mengurangi porsi makan ku. Anggap saja sedang diet, hanya untuk tampil sangat cantik nan seksi ketika mengenakan gaun pengantin nantinya.
Aku masih menajalani aktifitasku sebagai kasir di tempat ku bekerja seperti biasanya. Aku tidak ingin terlalu fokus dan menyiapkan segalanya untuk pernikahan ku dengan Irgy. Begitu juga dengan Irgy, walau dia sudah di nobatkan sebagai calon suami ku. Namun dia tetap menjalani hubungan kami seperti biasanya, itu yang ku suka darinya.
Justru yang disibukkan untuk persiapan pernikahan kami ialah ibu dan kedua orang tua Irgy, astaga. Mereka memang orang tua yang sama-sama menginginkan pernikahan ini begitu paling antusias. Biarlah, asal mereka bahagia aku ikut bahagia.
Jam menunjukkan waktu makan siang, aku bergegas hendak menuju kantin. Kali ini, Irgy tidak menemaniku seperti biasanya karena dia bilang sedang sangat sibuk entah itu sibuk apa. Emang dasar bocah, sudah lah.
" Fanny, Fanny, tunggu. " Tiba-tiba Khery datang menarik tangan ku dari belakang di depan pintu kantin.
" Khery, lepaskan tangan ku. Bisa sopan dikit gak? " Ku tepis tangannya dengan kasar.
" Apa mau mu sebenarnya hah? " tanya nya dengan nada marah padaku.
" Apa lagi sih maksudmu? " tanyaku menyeringai seolah menantangnya.
" Kenapa harus Irgy hah? kenapa harus dia yang kau pilih untuk menikahimu? kau tau dia siapaku Fanny? "
" Hemm, aku tau. Dia adik sepupu mu, wah gak nyangka ya. Ternyata kita akan jadi satu keluarga, kakak ipar sepupu. " Jawab ku dengan menekan nada bicaraku.
" Aku tidak menyangka kau akan selicik ini pada ku Fanny, apa kau sengaja ingin balas dendam padaku? "
" Maaf ya Khery, kenapa kau selalu mengataiku dengan sebutan balas dendam? Balas dendam apa yang kau maksud? memangnya kita pernah ada suatu hubungan yang serius sebelumnya? Iya? "
Khery terdiam sesaat dengan ekspresi kebingungan, bibirnya begitu gemetaran untuk kembali berkata-kata.
" Kalau gak ada lagi yang akan kau sampaikan aku masuk dulu Khery, aku akan menganggap kedatangan mu hari ini dengan tiba-tiba adalah wujud kepedulianmu sebagai teman ku di masa SMP dulu. Terimakasih, " kemudian aku melangkah melewatinya begitu saja. Namun Khery kembali bersuara memanggilku.
" Fanny, tunggu. " Ucapnya memanggilku dengan lirih.
" Apa lagi Khery? jangan memaksaku untuk bersikap kasar padamu. "
" Maafkan aku, bisakah kita kembali seperti dulu? " Jawabnya dengan wajah pilu menatapku.
" Cih, apa kau sudah tidak waras? Ah, tunggu sebentar. Seperti dulu? Oh, seperti saat kau merayuku untuk menerimamu sebagai pacarku? Ah, atau seperti saat kau merayu ibuku dengan semua janji palsu mu berlagak seolah kau benar akan menikahi ku? "
" Ok ok, aku tau aku salah. Aku telah melakukan kesalahan fatal saat itu, aku telah meninggalkan mu begitu saja. Tapi tolong beri aku kesempatan lagi Fanny, pliss. "
" Sayang sekali Khery, kau salah menilaiku. Kau pikir saat itu aku akan terluka? Aku bahkan diam-diam menertawaimu dengan sikapmu yang sok gentle itu. Kau tau Khery, sedikitpun aku tidak membencimu. Tapi jujur aku kecewa, karena kau melukai perasaan ibu ku dengan janji palsu mu itu. "
" Aku tau Fanny, aku membuat ibu mu kecewa dengan semua janji ku. Tapi saat itu aku, "
" Khery, sudah lah. Aku akan segera menikah, dan calon suamiku itu adalah sepupumu sendiri. Tolong hargai aku, jangan lagi bersikap begini. "
Kembali aku melangkah melewatinya, meski berulang kali dia memanggil namaku dari arah belakang. Aku tetap mengabaikannya.
Maafkan aku Khery, jika sikap ku ini akan merusak pertemanan kita selama ini. Sangat di sayangkan, pertemanan kita sedari SMP dulu harus berakhir seperti ini. Tapi bukan aku yang memulainya, semoga kau juga bahagia nantinya dengan pasanganmu.
Tapi aku salut dengan cinta kalian yang abadi meski hingga akhir tetap tak bisa bersatu.
Aku rindu dengan cerita ini, aku datang lagi.
Masih, sama, aku selalu terbawa suasana.
Sedih, Kevin, Irgi, Amar, aku merindukan kalian.