Berlatar di sebuah dunia yang dihantui ramalan Invasi Volgath. Sebuah perang dahsyat ketiga dunia yakni melawan dunia atas, tengah, dan bawah ditakdirkan melawan makhluk asing dari luar dunia. Di tengah bayang-bayang kehancuran, muncul harapan dimana datangnya seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mencabut pedang legendaris dan menyatukan semua ras sebagai harapan terakhir dunia.
Di Benua Gradecya, benua sihir tempat mayoritas penduduknya adalah penyihir, hiduplah Ardius. Terlahir di keluarga penyihir Leonheart yang ternama. Kehadirannya dianggap sebagai aib dan produk gagal karena tak mampu menggunakan tongkat sihir.
Tak goyah oleh takdir yang melanda hidupnya, Ardius berjuang balik melawan takdir itu sambil diam-diam menyimpan rahasia bahwa ia adalah reinkarnasi dari dunia lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Voltigern, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : Keganasan Lantai Malam Abadi
Suasana lantai empat dungeon masih terasa seperti biasanya. Setiap malam, terdengar satu bunyi konsisten yang memecah keheningan kota yang mati tersebut yang berasal dari satu rumah yang cukup besar.
Tepat di belakang rumah tersebut, jendelanya sengaja dibuka untuk membiarkan udara masuk ke dalam. Ardius mengerahkan tenaganya yang besar saat menempa logam panas yang dicampur dengan material-material monster. Badannya yang gagah dibanjiri oleh keringat, memperlihatkan kulitnya yang mengkilap akibat keringat.
Palu diangkat tinggi-tinggi lalu menghantam dengan keras logam panas itu hingga menciptakan bunyi nyaring yang memenuhi ruangan.
Sebuah pintu kayu tua terbuka perlahan. Profesor Gilbert masuk dengan langkah berat. Begitu membuka pintu, ia langsung disambut suara logam yang dipukul keras—ritmis, konstan, dan penuh tenaga.
Tatapannya mengarah ke ruang pandai besi di belakang rumah. Dia menyandarkan tubuhnya di dekat pintu sambil melipat kedua tangannya.
"Kau belum tidur?" tanya Profesor Gilbert di sela-sela dentungan logam.
Ardius tetap fokus. Tanpa menoleh ke belakang, dia menjawab, "Saya rasa mulai dari hari ini saya harus lebih keras dalam menempa Izanagi versi sempurna. Tenggat waktunya harus diselesaikan sebelum turnamen."
Sesaat suasana kembali hening. Dentungan logam kembali mendominasi suasana. Langkah Profesor kembali terdengar, dia mengarah ke salah satu batu besar di dalam sana kemudian duduk di atasnya dengan nyaman.
Profesor Gilbert kembali membuka perbincangan dengan berkata, "Akhir-akhir ini saat sebelum tidur, aku selalu berpikir jika menempa logam dan kehidupan seperti memiliki kesamaan."
"Ya... saya juga selalu memikirkan hal itu dari dulu. Saat menginginkan hasil yang maksimal saat menempa senjata, pengrajin harus mengeluarkan tenaga yang tepat, mengukur momentum dan irama... bahkan harus dipukul berkali-kali. Begitu juga dengan hidup."
Profesor tersenyum. "Dan jika pengrajin menempa dengan terlalu keras dan cepat, senjata akan retak sebelum menjadi apapun. Jika terlalu lemah atau lambat maka senjata tidak akan pernah terbentuk."
Ardius berhenti menempa. Dia mencelupkan bilah panas yang dia buat ke dalam ember besi berisi air. Tangan kanannya meraih sebuah kain yang dia gunakan untuk menghapus keringat dari wajah dan lehernya.
"Aku memiliki banyak teman penempa senjata di benua Gladius. Tapi hanya kau saja penempa senjata yang masih menempa di tengah malam," ucap Profesor kepadanya.
Pemuda itu tak bergeming. Bukan karena tak mau menjawab namun bingung apa yang harus dia jawab.
"Ardius! Sudah lama sekali aku penasaran tentangmu, tapi di lain sisi aku juga tahu kau adalah orang yang sangat tertutup. Izinkan aku untuk menanyakan satu hal... kenapa kau bertindak sejauh sekarang?"
Wajah Ardius menoleh ke arahnya. Dia masih tak bergeming. Wajahnya tetap datar, namun di balik itu dia sedikit terkejut jika gurunya mengetahui bahwa dirinya memang menyimpan rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Ardius kembali memalingkan wajah. Kali ini dia menatap ke bawah, lebih tepatnya menatap ke telapak tangannya.
Dalam penglihatannya, Ardius terbayang-bayang dengan darah segar yang memenuhi kedua tangannya. Sekejap bayang-bayang itu menghilang dan sekejap kembali muncul dalam pandangannya.
"Saya tidak peduli dengan apapun. Saya tidak punya keinginan menjadi pahlawan atau penyihir agung. Cepat atau lambat, invasi para Volgath akan terjadi. Saya tidak ingin sesuatu yang berharga bagi saya direbut... karena itu, saya harus menjadi kuat untuk melindunginya." Ardius menjawab sambil mengepalkan kedua tangannya.
Profesor menatapnya dengan serius. Dia beranjak dari duduknya dan hendak untuk pergi. "Kalau begitu persiapkan dirimu! Besok dan seterusnya akan menjadi hari latihan paling keras."
Dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan tersebut. Sesaat ketika melihat respon muridnya barusan, Profesor Gilbert tidak merasakan adanya kebohongan.
Ketika hendak membuka pintu, tiba-tiba muncul ledakan di belakangnya. Ruangan dipenuhi asap hitam yang tak terlalu pekat. Profesor Gilbert segera berbalik ke belakang dengan perasaan terkejut.
Usai asap hitam mereda, matanya mendapati Ardius yang terhempas ke tembok ruangan. Ardius terlihat kesakitan sambil mengelus bahunya.
"Apa yang terjadi?!" tanya Profesor yang sedikit panik.
"Hanya kegagalan kecil yang ke 20. Material-material monster yang saya campur dengan logam cair saling tolak-menolak satu sama lain karena perbedaan sifat material," jawab Ardius menerangkan dengan nada datar.
Profesor Gilbert masih terkejut atas kejadian sebelumnya. "Apa setiap malam hal ini sering terjadi?"
Ardius kembali bangkit. Tangan kirinya menyapu udara sekitar yang masih ditutupi oleh asap hitam tipis. "Kegagalan hari ini termasuk kegagalan ringan. Tidak seperti kegagalan sebelumnya yang selalu hampir membuat lengan saya meleleh," jawabnya dengan begitu santai.
"Kau bukan lagi orang tak biasa, tapi sudah jadi orang paling aneh."
.
.
.
Hari kedelapan. Ardius dan Profesor Gilbert berjalan di tengah lorong bebatuan yang dipenuhi kristal-kristal aneh dan bijih logam. Lantai tujuh dungeon adalah area pertambangan yang sudah terbengkalai, akan tetapi tujuan mereka bukan untuk mencari logam.
Sekitar dua jam berlalu, mereka akhirnya tiba di penghujung dungeon. Tepat di hadapan mereka, sebuah gerbang besar yang ditutupi papan menjulang tinggi. Apa yang berada di baliknya merupakan tempat tujuan mereka berdua.
Profesor mengentakkan tongkatnya ke tanah, seketika papan-papan yang menutupi gerbang itu langsung menghilang. Entakan kedua menyusul, kali ini membuat gerbang terbuka secara perlahan.
Ardius tidak dapat melihat secara jelas apa yang berada di balik gerbang itu. Matanya hanya melihat cahaya putih yang terang dari balik gerbang tersebut.
Keduanya kembali berjalan, mereka masuk menuju gerbang. Setelah sosok mereka masuk, gerbang secara misterius kembali tertutup dengan sendirinya.
Udara dingin menembus pakaian yang dia pakai, hawanya bagaikan jarum-jarum tak terlihat yang menusuk kulit. Tempat yang Ardius lihat bukanlah tempat yang dipenuhi cahaya, namun sebaliknya. Lantai delapan dungeon adalah sebuah padang pasir di malam hari. Tempat itu jauh lebih luas dari lantai-lantai sebelumnya. Ardius mendongak ke langit, matanya tak mampu lagi melihat langit-langit dungeon. Sejauh mata memandang, dia tak mandapati adanya dinding-dinding dungeon.
"Lantai delapan adalah tempat paling luas dari lima belas lantai yang ada di dalam dungeon. Tempat ini seperti lantai yang lain... tidak akan ada siang dan malam." Profesor Gilbert menjelaskan dengan seksama.
Angin menerpa wajah Ardius, membuat rambutnya tersapu dengan pelan. "Jadi... makhluk-makhluk apa yang hidup di tempat dengan malam yang tak berujung ini?"
"Kau akan segera mengetahuinya." Profesor kembali berjalan.
Mereka berdua berjalan semakin jauh. Beberapa saat berlalu, keduanya tiba di hadapan sebuah patung setinggi tiga meter. Patung itu berdiri tegak, kedua tangannya ditumbuhi sepasang bilah yang setajam pisau.
"Ardius!" panggil Profesor, tatapannya memperhatikan patung tersebut dengan seksama. "Apa kau sudah bisa menguasai sihir pertahanan?"
"Saya rasa saya sudah bisa menggunakan sihir pertahanan meski tidak semahir para penyihir biasanya," jawab Ardius yang ikut memperhatikan patung itu.
"Bagus. Selama pelatihan kali ini, makhluk-makhluk di lantai delapan tidak hanya kuat tapi juga agresif. Mereka akan terus menyerang tiap detik tanpa henti, oleh karenanya kau harus terus memasang sihir pertahanan tanpa jeda." Profesor Gilbert menjelaskan mengenai latihannya kali ini. Wajahnya menoleh ke arah Ardius. "Kau siap?" tanya dia dengan tenang yang diiringi oleh angin dungeon.
Ardius mengangguk pelan. Tangan kanannya meraih dan mengeluarkan katana yang dia punya dari dalam sarung pedang. Tanpa menunggu, dia memasang posisi siap bertarung.
Tongkat sihir Profesor diangkat cukup tinggi. Tepat saat tongkat tersebut mengentak ke bawah, sosok Profesor Gilbert seketika menghilang bagai ditelan oleh dunia. Di lain sisi, patung batu tersebut bangun dari tidurnya.
Tak salah lagi, patung itu bukan hanya patung biasa, tetapi sebuah golem. Mata merah terang golem itu tampak mengintimidasi. gerakannya begitu kaku bagaikan mesin yang kekurangan minyak pelumas.
Dalam benak, Ardius berpikir mungkin pasir telah masuk ke dalam tubuhnya yang membuat pergerakan golem batu tersebut terganggu.
Tepat saat berpikir demikian, golem batu melesat ke hadapannya dengan kecepatan yang gila. Ardius seketika terkejut. Tinju besar melesat tepat ke wajahnya. Beberapa senti sebelum tinju mematikan itu mengenainya, sebuah pelindung sihir berbentuk heksagonal muncul di depannya yang menahan serangan sang golem.
Dentuman keras menggelegar di udara saat tinju sang golem menghantam perisai sihir Ardius. Serangan kuat tersebut membuat perisai sihir Ardius retak bahkan membuatnya sedikit tersungkur ke belakang. Serangan kedua menyusul, kekuatan golem yang luar biasa kali ini membuat perisai sihir miliknya benar-benar hancur. Perisai sihir itu pecah seperti kaca dan pecahan-pecahannya menyebar ke berbagai arah
Untungnya sebelum serangan hampir mengenainya, Ardius sudah terlebih dahulu menghindar dan menjaga jarak.
"Medan seperti ini tidak cocok digunakan untuk area pertarungan," gumamnya sedikit kesal.
Golem kembali beraksi. Kedua tangannya berubah menjadi sebuah bor yang sangat tajam. Dia melesat dengan kecepatan luar biasa dan mengarah menuju Ardius dari samping.
"Kanan!" Ardius tersentak kaget. Sesuai prediksinya, perisai sihir muncul di sisi kanan dan tepat waktu menahan serangan golem.
Perisai sihir berwarna hijau tersebut tak dapat bertahan lama. Beberapa detik menahan kedua serangan yang sangat kuat, perisai sihir hijau itu kembali hancur. Ardius segera kembali menjauh. Meski berhasil menghindar untuk kedua kali, tetapi sayangnya serangan barusan berhasil melukai bahu dan lengan kirinya.
Tangan kirinya segera menciptakan lingkaran sihir penyembuhan yang dia arahkan kepada dirinya. Tak butuh waktu lama bagi luka yang dia alami untuk pulih kembali.
Batu biru yang dia bawa di dalam saku bergetar sama, menandakan jika Ardius mulai menyerap mana alam. "Aku harus mengontrol mana eksternal dengan stabil dan tetap mencari celah untuk menyerangnya. Benar-benar menyebalkan."
Golem kembali melesat. Kali ini Ardius tak tinggal diam, alih-alih menghindar atau bertahan, justru dia ikut melesat menujunya. Suara dentingan logam dan batu yang beradu terdengar menggelegar di tengah padang pasir itu.
Dalam hal kelincahan, Ardius menang telak. Dia terus menghindar dan melayangkan serangan. Kedua matanya tak berkedip, fokus mencari celah atau kelemahan golem.
"Izanagi Amaterasu!"
Mana dalam tubuhnya mulai mengalir ke dalam Izanagi. Katana tersebut dilapisi oleh kekuatan api yang membara. Pergerakan Ardius semakin cepat, tetapi serangannya yang dilapisi kekuatan api sekalipun tidak cukup kuat memberikan luka kepada golem.
Pedang yang dia gunakan hanyalah pedang yang terbuat dari logam biasa sehingga tidak memberikan serangan berarti magi makhluk yang memiliki tubuh sekuat golem. Tak hanya senjata yang menjadi masalahnya, kendali mana eksternal yang dia lakukan masih terlalu buruk dalam pertarungan langsung. Tubuhnya harus membagi tugas untuk mengontrol mana eksternal, menghindar dan menyerang, serta terus mencari titik lemah.
Saat dia hendak melayangkan tebasan vertikal, salah satu tangan golem berhasil menangkis dan membuat katana Ardius terhempas dan terlepas dari genggamannya.
Posisinya begitu tidak diuntungkan. Ardius tepat berada dalam jangkauan serangan golem. Tangan kiri sang golem kembali berubah menjadi tinju. Dengan gerakan yang cepat, dia melayangkannya tepat ke arah pemuda di depan.
Hanya menghitung detik sebelum pukulan maut itu menapak ke tubuhnya. Ardius tak memiliki pilihan lain, hanya satu hal yang dapat dia lakukan entah meskipun itu dapat merusak tubuhnya.
Ardius mengalirkan mana dalam tubuhnya ke tangan kiri. Hawa dingin menyelimuti. Tepat saat ia membuat kepalan, tinjunya diselimuti dengan es seolah membentuk sarung tangan.
"Gaaarggh!" teriaknya sambil melayangkan tinju balasan dari tangan kiri yang diselimuti es.
Kedua pukulan saling beradu. Guncangan udara terjadi. Baik Ardius atau golem itu sama-sama terpental cukup jauh. Efek dari serangan Ardius membuat tangan sang golem hancur serta munculnya es yang melahap dan mengurung sebagian tubuh kirinya, terutama bagian lengan kiri. Sementara Ardius tersungkur jauh hingga terjatuh tulang-tulang dan otot lengan kirinya hancur akibat benturan hebat barusan.
"Arghh..." Ardius mengerang kesakitan. Tubuhnya berusaha kembali bangkit dengan sempoyongan. Tangan Kanannya memegang lengan kiri yang telah lemas dan tak bisa digerakkan. "Sial... aku hampir kehilangan kendali. Untung saja aku masih bisa mengendalikan mana alam."
Pemuda berambut hitam itu mengarahkan tangan kanannya ke depan. Dengan deru napas tak beraturan, dia kembali mengalirkan energi sihir. Api menyelimuti tangannya dan tak butuh waktu lama, sebuah bola api berukuran sedang muncul di depannya.
"Ilmu dan teknik sihirku masih sedikit. Tapi... aku yakin kemampuan sihirku sudah lebih dari cukup untuk menghambat waktu."
Golem kembali datang, tetapi kedatangannya disambut oleh Ardius yang telah siap menembakkan bola api. Pertarungan ronde kedua kembali terjadi. Dalam pertarungan kali ini, Ardius berfokus menjaga jarak sejauhnya dengan sang golem sambil berotasi dari sisi ke sisi lain serta menghujaninya dengan serangan bola api.
Tantangan yang dihadapi kali ini adalah sang golem yang terus datang ke arahnya sengan kecepatan yang hebat. Beberapa menit berlalu, sang golem berhasil mencapai lokasinya. Dengan modal satu lengan yang sama-sama hanya bisa digunakan, golem tersebut hendak memberikan pukulan keras.
Ardius menghindar meskipun hampir terkena serangan. Dia mendongak, mengarahkan tangan kanan ke depan. "Fireball!" bola api muncul dan meledak tepat di wajah golem.
Memanfaatkan momen tersebut, Ardius segera pergi menjauh. Napasnya semakin tak beraturan, jantungnya berdetak kencang, namun matanya tampak percaya diri seolah memiliki rencana. Dia melihat secara jelas golem itu memukul ke sembarang arah saat asap ledakan masih mengepul di sekitar.
Melihat bagaimana tindakan golem tersebut, Ardius menyimpulkan jika golem mengandalkan indera penglihatan. Celah yang dapat Ardius temukan adalah dengan mengacaukan penglihatannya.
Tangan kanan kembali diarahkan ke depan. Kali ini, tangannya dilapisi oleh es. "Frost Shot!"
Proyektil besar menyerupai tombak es sebanyak empat buah muncul di hadapannya. Ardius menembakkan es-es tersebut ke sekitar golem. Dia terus mengulanginya sebanyak sepuluh kali sampai-sampai area sekitar golem dipenuhi dengan tombak-tombak es.
Es yang menyelimuti tangannya pudar, digantikan oleh lapisan api yang berkobar. "Fireball!"
Bola api sedang kembali muncul lalu melesat menuju arah golem dan tombak-tombak es. Ledakan dari serangan tersebut memunculkan asap ledakan yang lebih pekat akubat es dan api yang bertabrakan.
Sang golem tak dapat melihat apapun. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, sayangnya hanya asap yang dapat dilihat.
Dalam pekatnya asap ledakan, Ardius datang dengan tangan berapi. Dia memukul, menghindar, dan kembali memukul. Tidak seperti serangan dari pedang, pukulan yang dia lakukan berhasil membuahkan luka di tubuh golem. Untuk melukai tubuh yang keras, maka harus juga menggunakan sesuatu yang sangat keras.
Ardius berhasil membuat perut kanan golem berlubang serta mengakibatkan serangan lain di sekujur tubuh. Tepat saat dia hendak kembali menyerang, tangan kanan golem yang telah berubah menjadi sebuah bor berhasil mengenai perut Ardius.
Pemuda itu memuntahkan darah segar. Perutnya juga menyemburkan banyak darah. Akan tetapi, dia tidak menyerah. Tinju berapi miliknya menghancurkan lengan kanan golem hingga hancur.
Tubuhnya ambruk ke tanah, namun kembali bangkit meskipun rasa sakit yang hebat menyertai dirinya. Lonjakan energi sihir yang terpusat di tangan kanannya menghasilkan lapisan api yang berkobar semakin hebat dan liar.
"Akan aku akhiri ini...," katanya dengan suara serak. "Inferno Impact!"
Ardius berlali sekuat tenaga yang tersisa. Ia melompat ke udara lalu menghantamkan tinju api ke wajah sang golem. Saat ktu juga, ledakan yang cukup besar terjadi di tengah padang pasir malam abadi.