NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 22 - Usaha Terakhir

Meski terus berteriak, namun wanita itu terus berjalan memasukki rumah Akbar.

“Om Robby! Om Robby!” panggil Gus Faiz sambil berteriak.

Gus Faiz berharap keluar dan mendengar berita masuknya Akbar ke rumah sakit. Gus Faiz tidak tahu alamat rumah Yuni atau Ibunya Akbar, jadi satu-satunya jalan hanya bertemu dengan Robby, ayah Akbar.

Gus Faiz memandangi gerbang di depannya. Dia memejamkan mata. Gus Faiz sangat sadar meski dia berteriak sampai pita suaranya putus, orang di dalam rumah Akbar tidak akan mendengarnya. Karena jarak gerbang dan rumah cukup jauh karena depan rumah Akbar adalah halaman yang memberikan cukup jarak antar Gerbang dan Rumah.

“Om Robby! Saya mohon keluar, Om, Akbar kecelakaan!” teriak Gus Faiz sekuat tenaga.

Gerbang rumah Akbar sangatlah tinggi. Karena dulu rumah Akbar pernah kemasukan maling jadi untuk berjaga-jaga pagar di ganti dengan pagar tinggi dan runcing diujungnya. Gus Faiz tidak mungkin memanjat gerbang.

“Om Robby!” seru Gus Faiz.

Rumah Akbar berada di dalam kompleks rumah orang elit. Jadi, karena penghuninya rata-rata individualis, dan tidak perduli dengan keadaan sekitar.

“Ya Allah, tolong saya..” kata Gus Faiz.

Kali ini Gus Faiz mengalami kebuntuan. Gus Faiz terus berdoa kepada Allah agar bisa bertemu Robby, ayah Akbar.

“Tokkek! Tokek! Tokkek!” suara tokek.

Gus Faiz mendongak. Kini semua hewan reptile peliharaan Akbar bersuara saling sahut menyahut. Gus Faiz mengucapkan terima kasih dalam hati.

Bunyi hewan-hewan yang berisikpun mau tak mau memancing Robby keluar rumah. Gus Faiz yang mengintip lewat celah gerbang mendapati ada sosok Robby yang keluar rumah menghampiri peliharaan Akbar.

“Om Robby!” teriak Gus Faiz sambil memukul-mukul gerbang.

“Om Robby!!!” teriak Gus Faiz lagi. Gus Faiz kembali memukul-mukul gerbang, agar Robby menengok.

Dan usaha Gus Faiz akhirnya membuahkan hasil. Robby mendengar seseorang menggedor-gedor gerbangnya. Karena penasaran Robby pun berjalan cepat ke arah gerbang. Sesampainya di Gerbang, Robby membukakan pintu gerbang.

“A..” belum sempat Gus Faiz mengucap salam, Robby buru-buru memotong.

“Tidak ada Akbar di sini. Dia tidak tinggal di sini lagi. Pergilah.” kata Robby.

“Saya tahu, Om, Akbar tidak di rumah. Saya hanya ingin memberitahu Om kalau Akbar kecelakaan dan masuk rumah sakit.” kata Gus Faiz.

“Dia sudah memutuskan untuk keluar dari rumah saya. Jadi, saya merasa tidak perlu tahu apa yang terjadi padanya.” kata Robby. Robby berbalik dan mencoba mendorong Pintu.

“Tunggu, Om! Tolonglah, Om. Akbar koma Om, dia kehilangan banyak darah dan perlu pendonor.” kata Gus Faiz.

“A-akbar koma?” tanya Robby.

Gus Faiz mengangguk. Dalam hati Gus Faiz senang karena Robby seperti masih punya simpati kepada Akbar. Tentu saja demikian. Darah akan selalu lebih kental dari air.

“Mas, jangan percaya. Bisa saja dia bohong. Kamu tidak lupa bagaimana memfitnahku, bukan? Dia anak yang bisa melakukan apa saja termasuk berbohong.” Kata Wanita itu. Wanita itu kini bergelayut manja di tangan Robby.

Gus Faiz terkejut setengah mati. Dia benar-benar tidak menyangka kalau wanita itu adalah simpanan Robby jika dilihat bagaimana cara wanita itu bergelayut manja pada Robby.

“Sudah kau pergilah. Katakan pada Akbar kalau trik murahannya tidak akan membuat saya menghampirinya.” kata Robby.

“Demi Allah saya tidak berbohong, Om. Akbar memang sedang koma dan membutuhkan banyak darah.” kata Gus Faiz.

“Jangan percaya, Mas..” kata wanita itu lagi.

Gus Faiz berlutut di hadapan Robby. “Tolong, Akbar, Om. Saya mohon, saya tidak mau kehilangan sahabat saya lagi untuk yang kedua kalinya.” kata Gus Faiz.

Air mata Gus Faiz mengalir. Dia buru-buru mengusapnya sendiri.

“Kau carilah ibunya. Saya benar-benar tidak mau berurusan apapun lagi dengannya. Carilah di kantor Penerbit Wijaya. Ibunya seorang editor di sana.” kata Robby.

“Saya mohon, Om. Tolong Akbar. Saat ini ia sangat membutuhkan ayah dan ibunya. Jangan sampai Om menyesal nantinya. Akbar berada di Rumah Sakit Sumber Bahagia, lantai 3, Kamar Mawar nomor 1.” kata Gus Faiz.

“Ayo kita masuk, Mas.” kata wanita itu lalu menggandeng Robby masuk, dan menutup gerbang.

Gus Faiz sangat kecewa pada Robby yang tidak punya simpati sama sekali pada Akbar, padahal Akbar terus menyayanginya dan selalu berharap Robby akan menyayanginya suatu saat nanti.

“Saya harus bertemu dengan Tante Yuni.” kata Gus Faiz.

Gus Faiz buru-buru memesan ojek online lagi, karena jalanan macet jadi dia tidak mau naik taksi.

“Bang, tolong cepat ya.” kata Gus Faiz.

“Baik, Pak.” kata pengemudi.

Kali ini Gus Faiz mendapatkan pengemudi yang sangat mengerti apa yang dia butuhkan. Tidak seperti pengemudi tadi yang tidak tulus dan membohongi Gus Faiz.

Satu jam berlalu, akhirnya Gus Faiz sampai di sebuah penerbitan yang di sebutkan oleh Robby. Setelah memberikan helm dan memberikan selembar uang berwarna merah. Gus Faiz berlari. Dia merasa waktunya tidka banyak.

“Mas, kembalinya!” seru pengemudi.

“Ambil saja.” seru Gus Faiz.

“Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Editor yang bernama Yuni.” kata Gus Faiz pada resepsionis.

“Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya resepsionis.

Wajahnya bersemu merah melihat wajah tampan Faiz.

“Belum, Mbak. Tapi tolong saya, Mbak. Anaknya masuk rumah sakit. Saya harus bertemu dengan Tante Yuni.” kata Gus Faiz.

“Tunggu sebentar ya, saya cek dulu ya.” kata resepsionis.

Gus Faiz mengangguk.

Resepsionis pun mengecek jadwal Yuni di computer.

“Mohon maaf, Pak. Untuk dua jam ke depan Bu Yuninya sedang rapat di lantai dua. Jadi..”

Belum sempat Resepsionis itu menyelesaikan kata-katanya, Gus Faiz langsung berlari menuju tangga dan langsung naik ke atas, mencari Yuni.

“Pak, Bapak tidak boleh masuk!” seru resepsionis.

Gus Faiz tidak mendengarkan seruan itu. Baginya bertemu dengan Yuni adalah prioritas yang harus dicapainya. Dia tak punya waktu untuk menunggu hingga dua jam ke depan. Akbar benar-benar membutuhkan donor.

Gus Faiz menemukan sebuah ruangan bertuliskan ‘Ruang Rapat’ dan buru-buru mengetuk dan membuka pintu ruangan dan masuk.

“Tante Yuni!” seru Gus Faiz.

Semua orang terkejut dan memusatkan pandangannya pada Gus Faiz yang dengan tidak sopan masuk ke ruangan rapat.

Gus Faiz mengedarkan pandangannya mencari sosok Yuni. Yuni yang sadar kalau Gus Faiz adalah teman Akbar langsung menghampiri Gus Faiz.

“Mohon maaf semua.” kata Yuni.

Yuni membawa Gus Faiz keluar ruangan.

“Pergi!” seru Yuni sambil mengacungkan tangannya ke arah tangga.

Raut wajah Yuni sangatlah menyeramkan. Dia benar-benar kesal karena Gus Faiz menerobos masuk dan memanggil namanya di ruang rapat yang sedang dihadiri para direktur. Suatu tindakan yang menurut Yuni sangatlah tidak beretika.

“Saya mohon, Tante dengarkan saya dulu.” kata Gus Faiz.

“Itu dia, Pak!” seru seorang resepsionis yang tadi bertemu Gus Faiz di bawah kepada petugas keamanan kantor.

Mendengar teriakan itu mau tak mau Gus Faiz dan Yuni pun menolehkan wajahnya ke sumber suara.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!