NovelToon NovelToon
Romeo Love Story

Romeo Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta setelah menikah / Cintapertama
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: ryuuka20

Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.

Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.

Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Perjanjian awal.

Romeo menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, wajahnya menunjukkan rasa terkejut bahwa Tina masih menyimpan jawaban tersebut. Ia membuka lipatan kertas dengan hati-hati dan mulai membacanya satu per satu.

1. Gue tau kita cuma dijodohin

2. Iya, gue tau lo bukan Romeo yang di film-film

3. What's? Maksudnya gimana? Gue harus ngapain?

4. Gue juga nggak punya siapa-siapa, selain anak-anak di panti asuhan

5. Gue cuma guru honorer

6. Gue akan ikut lo kemanapun lo pergi

Mata Romeo bergerak perlahan dari satu baris ke baris lainnya, matanya semakin terbuka lebar seiring dengan membaca setiap kalimat. Akhirnya, ia mengangkat pandangannya ke arah Tina dengan ekspresi yang tidak percaya. "Lo masih simpen ini?" suaranya terdengar lembut dan penuh kagum.

Tina tersenyum lembut, matanya terpancar kehangatan. "Iya, gue simpen. Karena buat gue, syarat-syarat lo dulu penting banget. Itu membantu gue ngerti apa yang lo mau dari hubungan ini, dan gue merasa perlu kasih lo jawaban biar lo tau gue juga siap ngejalanin ini bareng lo."

...****************...

Tina menatap kertas itu yang sudah ia robek dengan pandangan yang mendalam dan lega, kemudian mengangkat wajahnya ke arah Romeo. "Lo masih mikirin ini?" dia bertanya dengan nada lembut, namun ekspresi wajahnya menunjukkan rasa tidak percaya bahwa Romeo masih memikirkannya.

Romeo tersenyum tipis, sudut bibirnya hanya sedikit mengangkat. "Gue nulis itu waktu kita pertama kali dijodohin, buat kasih lo gambaran tentang hidup yang bakal lo jalani sama gue. Sekarang gue liatnya... apa ini masih berlaku? Lo masih terima kondisi gue yang kayak gini?"

Tina meletakkan kertas itu perlahan di atas meja, lalu menatap Romeo dengan pandangan yang lebih dalam lagi. "Rome, lo serius nanya kayak gitu? Lo beneran masih mikir kalau gue peduli soal semua ini?"

Romeo menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah malam yang gelap di luar teras. "Kadang gue ngerasa, Tin, kayak gue nggak cukup buat lo. Gue cuma cowok biasa. Gue nggak kaya, nggak romantis kayak di film-film. Gue cuma punya nenek dan rumah ini. Apa itu cukup buat lo?"

Tina tersenyum lembut, lalu meraih tangan Romeo dengan hati-hati dan menggenggamnya.

"Gue nggak pernah peduli soal itu, Reo. Dari awal gue tau kita dijodohin, tapi yang gue liat dari lo bukan harta atau status. Gue liat lo sebagai partner hidup gue. Gue nggak butuh Romeo yang ada di film-film. Gue cuma butuh lo—Romeo yang nyata, yang selalu ada buat gue, dan nenek kita."

Romeo terdiam, ekspresi wajahnya penuh dengan rasa haru setelah mendengar kata-kata Tina. Kegelisahannya yang selama ini mengganggunya perlahan mulai mencair. "Lo beneran nggak peduli sama semua itu?"

Tina mengangguk dengan mantap, tatapannya penuh keyakinan. "Gue nggak butuh yang lain. Selama lo ada buat gue, dan kita saling dukung, gue yakin kita bisa ngejalanin ini bareng. Kita tinggal di rumah ini, yaudah. Yang penting kita punya satu sama lain, Re."

Malam itu, Romeo merasa lebih lega dari sebelumnya. Tina tidak hanya menerima syarat-syarat yang dulu dia tulis dengan berat hati, tapi juga menerima Romeo apa adanya—bukan karena apa yang dia miliki, tapi karena siapa dia.

...****************...

Tina merapikan piring dan gelas di wastafel, gerakannya lambat dan teratur sambil menyeka tetesan air di meja dapur. Romeo mengikuti langkahnya, badannya bersandar di ujung meja dengan senyum jahil yang khas—telinganya yang sedikit menonjol jadi jelas di bawah cahaya lampu dapur.

"Lo mau bantuin apa mau ganggu?" Tina menyelinapkan pandangan ke arahnya, bibirnya sedikit mengangkat dalam senyum tipis yang sudah akrab Romeo kenal.

Romeo langsung mengambil handuk kain dari gagang pintu lemari, mengusap tangannya padanya sebelum mulai mengeringkan piring yang tertata rapi di rak. "Gue mau bantuin dong." Tangan mereka hampir bersentuhan saat mereka berdua meraih piring keramik putih yang sama. Mereka bekerja berdampingan dalam keheningan yang hanya dipecah suara aliran air dan gesekan kain pada piring.

Kedua mata mereka tidak perlu berkata banyak—keduanya sadar sudah lama sekali tidak ada momen seperti ini, saat mereka bisa hanya ada bersama tanpa pikiran pekerjaan atau masalah yang mengganggu. Gerakan mereka berpadu dengan lancar, seperti mengingat kembali ritme hari-hari awal mereka yang lebih ringan dan penuh canda.

Setelah semua peralatan makan teratur rapi dan kompor dimatikan, Romeo menarik tangan Tina dengan lembut—jari-jari nya menyelip di antara jarinya. Ia membawanya perlahan ke ruang tamu, lalu mendudukkan dia dengan hati-hati di pangkuannya yang luas.

Lengan nya melingkari pinggang Tina dengan erat, menekan tubuhnya ke dada yang hangat. Tina tertawa pelan, wajahnya bersandar di bahu Romeo sambil jari-jarinya menggaruk bagian belakang tangan suaminya.

"Romeo, jangan deh." Suaranya lembut seperti bisikan angin, matanya melirik ke arah pintu dengan pipi yang sedikit kemerahan. "Nanti ada yang liat."

Romeo mencium bagian atas kepala Tina dengan lembut, senyum jahilnya makin lebar. "Gak ada yang bakal liat. Nenek lagi di rumah sakit sama temen-temennya yang nemenin, kan? Mereka bakal pulang larut malam."

Tina menghela napas panjang, bahunya mengendur saat rasa tegang yang selama ini menempel mulai sirna. Mereka memang pulang lebih awal karena sudah ada yang menjaga nenek di rumah sakit—setelah beberapa hari penuh dengan lari-lari ke rumah sakit dan pikiran yang penuh kekhawatiran, kedekatan seperti ini membuat hati mereka kembali tenang.

Namun suasana hangat itu tiba-tiba terputus saat suara bel rumah berbunyi keras dan jelas, membuat mereka berdua terkejut.

Mata mereka saling bertemu dengan ekspresi bingung. Romeo perlahan meletakkan Tina di kursi, lalu berjalan cepat ke pintu. Ia membukanya dan menemukan teman nenek mereka berdiri di luar, wajahnya penuh senyum hangat. Wanita itu membawa tas kecil di tangan kanannya, seolah sudah siap berbicara lama.

"Nenek kalian besok sudah boleh pulang." Suaranya hangat dan jelas, membuat cahaya mata mereka langsung menyala.

Tina berdiri dengan cepat dari kursinya, tangan nya menutup mulut sebentar sebelum senyum lebar meraih wajahnya. Romeo menghela napas lega, tangan nya mengulur ke pundak Tina untuk menenangkannya.

Mereka tahu besok akan ada banyak hal yang harus disiapkan—memasak makanan yang lembut, membersihkan kamar nenek, dan siap menemani setiap kebutuhannya. Tapi setidaknya nenek akan kembali ke rumah, dan mereka bisa merasakan bahwa kehidupan mulai perlahan kembali ke jalurnya yang biasa.

...****************...

"Reo, ngapain? Ayo tidur," suara lembut Tina terdengar dari balik selimut putih yang menutupi tubuhnya. Matanya setengah terpejam karena kantuk, namun ia tetap menoleh ke arah Romeo yang masih duduk diam di tepi ranjang, wajahnya tertutup bayangan dari lampu malam yang menyala lemah.

Romeo hanya tersenyum tipis, sudut bibirnya hanya sedikit mengangkat tanpa mengeluarkan suara apa pun. Ia melangkah mendekat ke arah ranjang, lalu tanpa pemberitahuan sebelumnya, menarik Tina perlahan ke dalam pelukannya. Dekapannya erat dan kuat, seolah ia sedang menjaga sesuatu yang bisa hilang kapan saja.

Tina sedikit terkejut, matanya terbuka lebar kini, namun ia tetap diam dan membiarkan dirinya dikelilingi oleh tubuh suaminya. Ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda malam ini—kehangatan dari pelukan Romeo terasa lebih dalam dari biasanya, seolah ada beban besar yang tersembunyi dan hanya bisa diutarakan melalui sentuhan.

"Reo? Ada apa sih?" Tanya Tina dengan suara yang tetap lembut tapi kini penuh rasa penasaran. Matanya menatap wajah Romeo yang tertutup rapat, mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya.

Romeo hanya menggelengkan kepala perlahan, bibirnya tetap menutup rapat tanpa ingin berkata apa-apa. Namun tangannya semakin erat memeluk pinggang Tina, menjepit tubuhnya lebih dekat ke dada yang berdebar. Di balik sikap manja yang ia tunjukkan, tersembunyi rasa takut yang sulit diungkapkan—rasa takut kehilangan dan keraguan apakah perasaannya akan pernah diterima dengan sepenuh hati.

"Gak ada apa-apa, cuma... pengen." Jawab Romeo akhirnya setelah beberapa saat terdiam, suaranya pelan tapi penuh dengan emosi yang membuat suaranya sedikit getar.

Tina menghela napas panjang, napasnya menghangatkan leher Romeo yang bersandar di bahunya. Meski masih merasa bingung dengan sikap mendadak suaminya, ia tetap membalas pelukan dengan erat, melilitkan tangan di belakang leher Romeo. "Kenapa sih tiba-tiba manja gini? Biasanya enggak kayak gini."

Romeo tertawa kecil, namun tawa tersebut terasa getir dan penuh dengan rasa haru. Ia menggeser wajahnya agar bisa bersandar di atas kepala Tina, menghirup aroma sampo yang ia suka. "Gak apa-apa, Na. Kadang cuma pengen deket aja, biar kita selalu ingat... bahwa kita masih ada di sini, sama-sama."

Tina menatap Romeo dengan pandangan yang penuh perhatian, merasakan bahwa ada makna lebih dalam di balik pelukan malam ini. Ia tidak tahu persis apa yang terjadi atau apa yang membuat Romeo seperti ini, tapi ia bisa merasakan bahwa suaminya sedang membutuhkan kenyamanan lebih dari biasanya.

Meski masih bingung, Tina membiarkan pelukan itu berlangsung lama, karena mungkin malam ini, kata-kata bukanlah yang mereka butuhkan—yang paling penting adalah kehadiran satu sama lain yang bisa memberikan ketenangan.

...****************...

...****************...

Kalian mau join ch gak? Boleh banget ya info updatenya ada di ch ini, semua AU dan semua novel ada di ch nya.. Hehe

yang mau mau aja sih ya

1
Ria Irawati
itu salah satunya.. jangan genit, jangan lupa diri.🤭
pojok_kulon
Masalah kayak gitu sebenarnya menjadi cepat teratasi kalau saling terbuka dan jujur...
pojok_kulon
Semangat Romeo
pojok_kulon
Doa istri akan diijabah i sama Allah
pojok_kulon
Hmmmm perhatian banget sih Tina
pojok_kulon
Benar itu Romeo kamu harus semangat, perusahaan bukan cuma satu
Ria Irawati
etdah bukan main si Tina 🤣
pojok_kulon
Betul Reo..biarkan bobrok saja
pojok_kulon
Keluar saja lah Reo.. Perusahaan bukan cuma satu. Perusahan yang sudah nggak sehat gitu ngapain dipertahankan
Ria Irawati
bagus Romeo langsung to the point. cemburu? jelas pasti ada lah rasa cemburu itu. tapi kalo pasangan jujur cemburu tidak di liputi dengan rasa sakit hati.
Ria Irawati
bagus nih Romeo punya temen gk memandang sebelah mata.
pojok_kulon
orang gila Jovan pling itu
only siskaa
gamauuu plisssss kalo gw Uda tantrumm dluan
pojok_kulon
itu urusan kamu..memang apa urusannya sama Romeo
pojok_kulon
Dasar otak cuma isinya perbuatan jahat
pojok_kulon
Panas ya
Ria Irawati
dateng² numpang makan. enak bener dah😂
pojok_kulon
enaknya punya saudara yang bisa diajak sharing
pojok_kulon
Janji ya
Suo
Perasaan aku gak enak pls semoga ga ada masalah lagi😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!