(Terinspirasi kisah nyata, dikemas dengan imajinasi penulis)
Anak yang tak pernah diharapkan kehadirannya. Kelahirannya dianggap kesalahan, membuatnya dibenci dan menderita sejak lahir. Hingga akhirnya ia bangkit melukai rasa sakit itu, dan bersinar menjadi bintang yang tak akan terlupakan. 🕊️✨
⚠️ Siapkan tisu, cerita ini penuh air mata! Jangan penasaran setengah jalan, yuk baca sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambil aku sekarang tuhan
Mengeluh, mungkin salah satu hal yang tidak disukai Allah. Tapi, apakah Hopipah tidak pernah merasakan sebuah pelukan hangat dan cinta keluarga, apa juga tidak diperbolehkan mengeluh sedikit saja?
Hopipah menyentuh perutnya yang terasa nyeri, karena perutnya benar-benar kosong tidak terisi apa pun sejak siang tadi.
“Ya Allah biarkan aku tidur sekarang. Aku hanya punya beberapa jam untuk tidur, atau ambil aku sekarang juga,” ucap Hopipah lirih, setelah itu ia memejamkan mata berusaha tidur.
Sudah beberapa jam ia tidak bisa tidur nyenyak, ia melihat jam di ponsel jadulnya sudah pukul 22.00 malam, dan suara perutnya berbunyi nyaring meminta makan. Ia begitu sakit perutnya mencoba menahan sekuat tenaga tapi tetap saja perutnya terus melilit. Dan pada akhirnya ia pun bangun dari tidurnya yang tidak nyaman itu. Dan mencoba berpikir bagaimana ia harus menahan laparnya yang sudah tak tertahankan lagi.
“Mungkin aku harus, terpaksa pergi ke dalam rumah pergi ke dapur,” ucapnya pada dirinya sendiri, namun ia berpikir sejenak teringat akan konsekuensinya, karena sedang dihukum, jika ia berani mengambil makanan ia akan kena pukul dan hajar kembali. Namun tiba-tiba perutnya tidak bisa diajak kompromi ia terus meronta-ronta ingin diisi.
“Baiklah tidak masalah aku akan terima akibatnya, yang penting aku makan,” ucap dirinya yang berusaha bangkit dengan tubuh yang lemas.
Tapi pandangannya tertuju pada sebuah belanjaan yang ada di pojokan, kebutuhan bahan untuk membuat donat yang ia beli tadi. Ia pun berpikir, “Apa sambil buat sekarang,” ia diam berpikir kembali dan ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, yaitu ke sebuah tungku kecil buatan sendiri dari kaleng bekas kue yang pernah ia buat dulu berada di sudut lain. Saat tetangganya membuat itu, ia coba membuatnya dan berhasil jadi. Ia pun berpikir kembali sembari mengusap perutnya.
Ia bersyukur, kamarnya yang begitu memprihatinkan berada di gudang belakang rumah tapi setidaknya ia punya tempat berteduh dan bersyukurnya kamarnya berasa memiliki dapur mini sederhana.
“Untungnya uang dari Papa aku belikan semua kebutuhan resep donat ku, cuma sayangnya ngga ada korek api aku lupa beli, mungkin aku ambil yang ada di dapur sambil cari makan sisa,” ia pun perlahan keluar dan menuju pintu dapur rumah utama.
Saat ia sudah masuk tiba di sana, ia berusaha tidak berisik bagi semua orang yang sudah pada tidur lelap. Ia melirik kanan kiri, semuanya aman dan sepi. Dan Alhamdulillahnya ia menemukan korek api di sisi penyimpanan piring, dan ia lihat di atas kompor ada panci berisi sayur sop dan mengambil sedikit nasi lalu mengambil sayur tersebut, ia nyalakan kompor dulu agar sedikit hangat sayurnya.
Sambil ia menunggu sayur hangat, ia mengisi botol kosong dari kran wastafel. Saat air itu cukup penuh Hopipah pun mematikan krannya dan mengecek sayurnya dan cukup panas, ia pun mematikan kompor dengan perlahan. Ia pun menuangkan sayur tersebut ke nasi yang ia ambil. Lalu ia pun segera memakannya takut ada seseorang yang bangun. Secepat kilat ia makan dan sesegera mungkin ia minum dan ia pun membereskan semuanya agar tak terlalu mencurigakan. Saat semuanya selesai ia pun mengendap kembali menuju pintu dapur untuk keluar. Saat ia memegang gagang pintu yang sudah sedikit terbuka.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang sepertinya menuju ke arah dapur. Hopipah cukup panik dan secepat kilat ia pun keluar tanpa berisik sedikit pun. Saat ia sudah di luar dan sudah tertutup rapat pintunya, ia bersandar di depan pintu itu dengan napas memburu.
Suara engos-engosan terdengar pelan.
“Hampir saja ketahuan,” ucapnya pelan yang cukup engos-engosan. Ia pun sesegera mungkin menuju gudang di mana tempat kamarnya berada sambil membawa sebotol air bersih.
Ia pun tiba di kamarnya dan secepat mungkin menutup pintu gudang tersebut. Ia pun menyimpan botol itu.
Ia pun siap memulai membuat resep donatnya untuk ia dagangkan kembali, hanya ini caranya untuk ia bisa memiliki uang tanpa harus terus meminta uang pada papanya yang entah itu akan terus di kasih atau tidak. Bakhan ia bisa sedikit mengumpulkan uang dan semoga suatu saat ia bisa kabur dari rumah ini atau bahkan pergi jauh.
Saat ia mulai meresepkan segala adonan donat ia merebus air terlebih dahulu di tungku buatannya dari air yang ia bawa tadi, untuk donatnya nanti. Untungnya dari terigu, gula, telur, mentega, ragi instan, garam, mentega, minyak goreng ia beli pas di supermarket tadi.
Dan di gudang dan tak jauh dari tempat tidurnya semua barang bekas dari dapur Karel dan paci bekas dan barang bekas lainnya ada di sana, tenang saja semuanya sudah ia bersihkan terlebih dahulu.
Saat air itu sudah mendidih dan memindahkan nya ke wadah, karena katelnya akan di pakai kembali untuk memanaskan minyak. Setelah sudah menggantikannya katel tersebut di simpan kembali di atas tungku kaleng buatannya itu dan menunggu minyaknya di panaskan.
Hopipah membuat donat karena semua sudah di satukan tinggal menuangkan air panas tersebut dengan perlahan. Ia mencampur adonan dengan hati-hati, memastikan bahwa semua bahan tercampur rata. Setelah adonan siap, ia membentuknya menjadi bentuk donat mini yang lucu dan menggemaskan.
Setelah donat selesai dibentuk, Hopipah memasukkannya ke dalam minyak panas untuk digoreng. Ia menunggu dengan sabar hingga donat berwarna keemasan dan matang sempurna. Ia buat 30 donat, sisa bahan-bahanya ia simpan dan untuk hari selanjutnya.
Setelah donat matang, Hopipah mengangkatnya dari minyak dan meniriskannya di atas kertas penyerap minyak. Ia membiarkannya dingin sejenak sebelum memberinya topping yang lezat.
Donat mini buatan Hopipah terlihat sangat lezat dan menggemaskan. Ia merasa bangga dengan hasilnya dan tidak sabar untuk menjualnya esok hari. Dengan donat mini ini, Hopipah berharap bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan mungkin suatu hari bisa mewujudkan impiannya untuk meninggalkan rumah ini.
"Wow, sudah pukul 00.00 malam," kata Hopipah sambil melihat jam. "Akhirnya semua pekerjaanku sudah selesai."
Ia merasa lega bahwa donat mini yang ia buat sudah siap untuk dijual esok hari. "Donat mini-ku sudah siap, 30 buah donat mini yang lezat," ucap Hopipah dengan senyum.
Setelah membersihkan dan merapihkan kembali tempatnya menyembunyikannya agar tidak ada yang tahu, dan semuanya beres tak akan ada yang tahu. Lalu Hopipah menyimpan donat mini ke dalam wadah yang rapi. "Semuanya sudah siap untuk besok, sekarang saatnya aku tidur," kata Hopipah sambil menguap.
Dengan rasa lelah yang mulai terasa, Hopipah akhirnya siap untuk beristirahat dan tidur. "Selamat tidur, Opi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat yang berbeda, pukul 00.21 dimana ada mobil mewah memasuki halaman luas yang menuju mansion yang megah dan mewah. Dan seorang pemuda yang sedang berusaha tidur, namun ia tidak bisa tidur. Karena mendengar mobil yang masuk ke mansion, dan pemuda tersebut bangun dan mengintip dari jendela kamarnya yang di lantai dua ujung. Pemuda itu adalah Keleo Margantara.
Dan saat ia lihat, dua orang keluar sepasang suami istri, yaitu kakak dan kakak iparnya baru pulang dari acara pesta. Keleo tinggal dengan kakak laki-lakinya karena orang tuanya tinggal di luar negeri.
“Haaaah...” suara desahan kecil tanda kelelahan, ia pun kembali membaringkan tubuhnya.
Di ruang tamu yang luas, ada seorang anak cantik usia 7 tahun menanti kedua orang tuanya masuk. Saat orang tuanya masuk ia pun berlari kecil.
“Papaa... Mamaa...” sambutannya ceria sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya.
“Hai, nak,” balas Keysar sambil mengusap kepala putrinya dengan sayang.
“Loh kok? Belum tidur? Kan besok sekolah,” tanya Gia pada sang anak dengan nada lembut.
“Aku nunggu hadiah dari Om Berlin yang dititipin ke Papa, bawa kan Pa?” jawab Keyna serta menanyakan yang diangguki oleh papanya pada gadis polos dengan senyum manisnya.
“Hadiah apa sih? Pa?” tanya sang istri penasaran.
“Brownis kesukaan Keyna,” jawab sang suami disertai senyum damainya.
“Ets, Mama ngga boleh tau, Mama kan sama Adepet pasti udah makan jadi jangan minta,” sahut Keyna yang melihat sang mama dengan menandakan tidak boleh. Adepet adalah sebutan untuk (Adek Perut). Karena memang Gia sedang mengandung 3 bulan.
Keysar pun memberi sebuah kantong kertas yang isinya makanan kesukaan Keyna, Keyna pun menerimanya dengan senang.
“Oohh, kayanya Mama udah tau, BluebrownVelleydia. Itu udah kebiasaan kakak,” jawab Gia, “Awas jangan makan banyak-banyak yah, cepet tidur besok sekolah,” sambungnya mengingatkan sang anak.
......................
tapi, gimana dengan keluarganya nanti kalo tahu Opi sudah sukses. apa mereka bakal tetap gangguin?