Mutasi kerja yang seharusnya menjadi babak baru yang lebih baik dalam hidup seorang dokter umum seperti Amber Zea Letisha ternyata ibarat mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak? Dia justru mengetahui kenyataan bahwa kepindahannya merupakan campur tangan dari mantan suaminya yang tidak lain adalah direktur utama dari Cakrawala Hospital, tempat kerjanya yang baru.
"Dimana anak kita, Amber?"
"Anak apa maksudmu?"
"Katakan yang sebenarnya, sebelum aku yang mengatakannya."
Mata Amber membola. Apakah Chris sudah tau kalau ternyata mereka punya anak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman baru.
Amber meninggalkan ruangan Chris sebelum jam sebelas. Membaca buku filsafat yang direkomendasikan Chris hanya lima bab saja sudah membuatnya mengantuk dan menjadi malas. Jadi, sebelum bokongnya sempat mengakar di sofa dan enggan untuk beranjak, ada baiknya dia segera pergi.
"Nanti makan siang di sini..." pesan Chris sebelum dia benar-benar keluar.
"Kalau ingat. Bye...!" jawab Amber santai. Kalau dia sedang bertugas memang jarang ingat makan. Apalagi jam makan siang yang Chris maksud adalah jam dua belas siang, alias satu jam lagi. Boro-boro dia akan ingat.
Chris geleng-geleng kepala melihat istri cantiknya itu melenggang keluar dari ruangannya.
Baru saja Amber keluar, Steffy masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Selamat siang, Pak..." sapanya manis. Di tangannya sudah ada beberapa map yang sepertinya akan disetor pada Chris.
"Siang," Chris menjawab tanpa menoleh.
"Ini tugas yang Bapak minta..."
"Finished?"
"Iya, Pak."
"Oke, letakkan saja."
Setelah meletakkan map-map tersebut, Steffy masih berdiri di tempatnya.
Chris melirik, "Anything else?"
"Bapak mau saya pesankan makan siang?" tawarnya memberanikan diri. Biasanya Chris tidak akan menolak. Steffy ingin tahu apa hari ini dia akan menolak.
"Boleh. Buatkan dua porsi. Satu lagi untuk istri saya."
Steffy jengah mendengar sebutan itu. Tapi dia tidak ada alasan untuk menolak permintaan bosnya itu.
"Baiklah, Pak. Akan segera saya pesankan."
"Istri saya tidak suka pedas dan dia alergi kacang. Tolong jauhkan dua hal itu dari makanannya."
"Noted, Pak..."
"Baik, kamu bisa keluar."
"Em... kerjaan saya, nggak mau di cek dulu, Pak?"
"Something wrong, Steff? Tidak biasanya kamu banyak bicara," Chris merasa Steffy terkesan ingin mengulur waktu di ruangannya dan dia tidak menyukainya.
"Ehmm... tidak ada, Pak. Saya permisi, Pak..." Steffy mau tidak mau undur diri dari hadapan Chris. Dia mengepalkan tangannya karena bos bule tampan itu tidak tertarik untuk melihatnya sedikit pun. Padahal sebelumnya Chris selalu melihat matanya tiap kali mereka berkomunikasi.
Wajah Steffy yang ditekuk membuat seseorang yang baru saja keluar dari lift terheran-heran.
"Kau kenapa, Non?" itu Albert, Manager Keuangan yang cukup rupawan. Dia termasuk salah satu fans garis kerasnya Steffy yang cantik dan seksi itu.
"Tidak kenapa-kenapa. Kau mau bertemu Pak Chris?"
"Iya. Mau mendiskukikan hasil rapat barusan. Kenapa wajahmu seperti kesal? Apa Presdir sedang dalam mood jelek?"
"Tidak juga. Masuklah sana..." Steffy duduk di kursinya dan mulai mengabaikan Albert. Dia bukannya tidak tahu kalau pria lajang yang berumur tiga puluh enam itu menyukainya. Tapi dia hanya melihat Chris, Chris dan Chris. Laki-laki sempurna yang dia dambakan bisa menjadi suaminya kelak.
Sepeninggal Albert, Steffy kembali menekuni pekerjaannya, walau sesekali masih tergoda untuk membayangkan jika dia dan Chris ada di atas ranjang bersama.
Sementara itu di lantai satu. Amber yang sedari tadi kehadirannya mencuri perhatian sejumlah karyawan, sedang melakukan patroli ke pasien-pasien yang berada dalam tanggungjawabnya. Seorang perawat pria yang bertugas sebagai pendampingnya mengikuti setiap langkah Amber, kemana pun Dokter cantik itu pergi.
"Selamat siang, Bu Ina," Amber menghampiri bangsal ke lima yang ia kunjungi siang ini. "Saya Dokter Amber, pengganti Dokter Henny kalau shift siang. Bagaimana perasaannya, Bu? Masih mual?" tanyanya ramah. Seperti biasa, senyuman khas seorang Dokter Amber selalu menjadi poin penting yang harus dia berikan pada pasien.
"Sudah tidak, Dok."
"Sarapannya pagi ini habis ya, Bu?" sekarang Amber memeriksa kondisi detak jantung si ibu dan juga kondisi perutnya dengan menggunakan stetoskop.
"Habis, Dok," jawab Ibu Ina lagi.
"Obatnya sudah diminun?"
"Sudah, Dok."
"Baiklah. Ini perut Ibu juga sudah tidak kembung lagi. Sampai sore nanti kita observasi lagi ya, Bu. Kalau sudah baikan, besok pagi sudah bisa pulang," jelas Amber dengan suara lembut dan senyum yang tidak pernah ketinggalan.
"Baik, Dokter. Terimakasih banyak. Ngomong-ngomong Dokter cantik sekali," diluar dugaan, Ibu Ina ternyata langsung menyukai Amber.
"Terimakasih, Bu. Ibu Ina juga sangat cantik. Apalagi kalau tidak membiasakan terlambat sarapan lagi," ujar Amber sambil menggenggam jemari Ibu Ina. Aslinya, Ibu Ina itu memang cantik. Amber tidak berdusta.
Ibu Ina tersenyum penuh arti. Wanita yang sudah berumur itu sudah cukup lama mendambakan seorang calon menantu ramah dan lembut seperti Amber.
"Saya suka masuk Rumah Sakit, asal Dokter yang merawat saya," ucap Ibu Ina jujur sambil tersenyum, membuat Ambar tertawa kecil dan semakin mempererat genggamannya.
"Sayangnya saya yang keberatan kalau Ibu Ina datang ke sini dengan status sebagai pasien saya. Tapi kalau Ibu datang untuk minum jus di kafe bawah bareng saya, saya akan dengan senang hati menyambut kedatangan Ibu setiap hari."
"Benaran?"
Amber mengangguk-angguk sambil menjulurkan jari kelingkingnya, seakan siap untuk mengikat janji.
"Tapi tidak saat jam kerja..." kata Amber lagi.
"Deal," senyum Ibu Ina begitu lebar. Sakitnya seperti sudah lenyap sekarang.
"Baiklah, karena kita sepertinya akan menjadi teman di kemudian hari, saya akan kasih nomor ponsel saya," Amber meraba sakunya, mengambil bolpoin dan meminta secarik kertas dari asistennya. Menuliskan nomor ponselnya, lalu menyodorkannya pada Ibu Ina.
"Ssstt... ini rahasia kita saja. Jangan sampai kececer, nanti Dokter cantik ini akan diteror para lelaki hidung belang," Amber berseloroh lagi. Kali ini Ibu Ina semakin jatuh hati padanya. Selain ramah, lembut, Dokter Amber juga humoris, nilainya.
"Amann..." Ibu Ina mengacungkan dua jarinya yang saling tertaut membentuk huruf 'O'. Berjanji nomor ponsel pribadi Dokter cantik itu aman berada di tangannya.
"Baiklah. Saya patroli lagi ya, Bu. Nanti sore sebelum berganti shift kita bertemu lagi..."
Setelah itu Amber pergi meninggalkan bangsal tersebut. Masih ada tiga pasien lagi yang harus didatanginya sebelum dia meladeni cacing-cacingnya yang mulai memberontak kelaparan.
*****
Amber selesai patroli segmen pertama. Dia melihat jam tangannya, pukul dua siang kurang sepuluh menit. Dia seketika teringat Brandon. Apa Chris sudah diperjalanan untuk menjemputnya? Dia langsung naik ke lantai delapan untuk memastikannya, karena dia meninggalkan ponselnya di dalam tas.
Dia mengetuk pintu ruangan Chris sebanyak tiga kali. Suara berat pria itu mengizinkan dia masuk. Namun belum sempat seluruh tubuhnya masuk sempurna ke dalam ruangan, Chris sudah menggiringnya lagi keluar. Tas Amber sudah ada di tangannya.
"Kau lama sekali?? Kau lupa kita harus jemput Brandon?" ujar Chris sambil menyodorkan tas wanita itu.
"Ini masih jam kerjaku. Kau saja yang jemput, boleh?" mohon Amber. Dia memang profesional sekali kalau sudah menyangkut pekerjaan.
"Aku akan suruh Steffy mengubah jam kerjamu. Kau bahkan melewatkan makan siangmu!"
Amber memutar bola matanya saat Chris menariknya ke arah meja Steffy.
"Steff, tolong ubah jadwalnya. Jadikan dia shift pagi jam sembilan hingga jam dua belas, lalu jam tiga hingga jam tujuh sore. Paham?"
Steffy cukup terkejut. Dia lagi-lagi kesal melihat Chris sangat peduli pada istrinya. Sabar, Steff, katanya dalam hati.
"Baik, Pak."
"Saya pulang, jadwalnya sudah ada di meja saya."
"Baik, Pak."
Setelah itu Chris menarik Amber lagi, memasuki lift. Dada Steffy makin panas melihat cara Chris menarik istrinya itu.
"Kau membuat dia semakin membenciku, you know ?"
"Siapa? Steffy?"
"Kau pura-pura bodoh ya?" Amber mencibir. Chris terlihat sok suci sekarang.
"Aku tidak pernah peduli pada karyawan di luar urusan pekerjaan."
"Pantas saja kau tidak punya teman. Aku saja yang baru sehari di sini sudah mendapat delapan teman baru."
"Mereka pasienmu, bukan temanmu."
"Huftt. Kau memang ansos."
"Tapi jangan biasakan memberikan nomor pribadi pada pasien. Itu sebenarnya dilarang."
Mata Amber membesar, "Matamu memang banyak sekali. By the way ini kenapa nggak lepas heh?" Amber menyadari sejak tadi pegangan Chris belum lepas dari dirinya.
Bukannya melepas pergelangan tangan Amber, pria itu malah menautkan jemarinya tanpa meminta persetujuan Amber.
"Kau!" mata Amber membesar. "Kau bisa merusak image yang sudah kubangun dari tadi," Amber melepaskan tautan jemari mereka.
"Memangnya image yang bagaimana, hm?" tanya Chris kesal karena jemarinya sekarang kosong.
"Dokter Amber yang ramah dan berbaur ke semua orang. Mereka juga sudah bisa melihatku sebagai Dokter Amber saja dan melupakan kalau aku adalah istri Sang Direktur. Kalau mereka melihat kita seperti tadi, mereka akan insecure lagi. Tapi overall yang ingin kutunjukkan adalah profesionalitas kita. Selama di lingkungan Rumah Sakit jangan terlalu mengumbar seperti tadi, get it?"
Chris berdehem. Sebenarnya dia geli saat Amber memerintahnya. Rasanya benar-benar kembali ke masa-masa pernikahan mereka dulu. Chris menikmatinya.
"Baiklah, Nyonya Chris..." jawabnya sambil melempar senyum manis pada wanita itu. Namun Amber malah bergidik mendengar sebutan 'Nyonya Chris' itu.
*****
Jangan lupa like, comment dan vote-nya ya readers... love you 🥰🥰
kalo untuk pacaran mgkn oke hanya mengandalkan cinta.
tp untuk hidup bersama ga hanya butuh cinta walaupun sebenernya cinta itu luas dan mencakup banyak hal.
komitmen + komunikasi + saling terbuka + berbagi kasih + menekan ego
yg punya itu semua aja masih ttp bida lewatin ujian. tp asalkan bs berusaha mengimbangi, ujian bs terlewati 🤤
romantis, suami setia, bertanggungjawab pd keluarga, family man, tegas tp bijak dalam waktu bersamaan, ga kolot aaaahhh chris 🤤
tau2 idungku ikut perih