NovelToon NovelToon
Ich Liebe Dich

Ich Liebe Dich

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:77.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Rani Giza

Kevin adalah pengembara yang tersesat di padang pasir. Sementara itu Sofi adalah gerimis yang turun dengan anggun ke bumi. Kevin tak pernah membayangkan akan dipertemukan dengan gadis itu. Dia juga tak pernah membayangkan akan jatuh cinta setengah gila pada si pemilik senyum indah tersebut. Tetapi takdir berkata lain. Persingunggan-persinggungan yang tak sengaja terjadi membuat dia terjerat semakin dalam akan keteduhan Sofi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Giza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Ini adalah hari di mana lomba pencak silat dilaksanakan dan Kevin bangun kesiangan. Semalam dia tak bisa langsung tertidur karena memikirkan Sofi. Ketika matanya terbuka dia mendapati jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul tujuh lebih. Untung lomba pencak silat itu dilaksanakan di jam sebelas. Namun tetap saja Kevin terlambat karena para peserta lomba dijadwalkan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan seputar lomba di jam tujuh tepat.

Setelah mandi, memakai seragam, mengemasi tas, serta memasukkan pakaian seragam silat ke dalamnya, Kevin segera berjalan cepat ke luar rumah. Mona dan Bik Tini belum pulang. Mereka pasti menginap di rumah sakit. Kevin memutuskan untuk membeli makanan di kantin sekolah saja untuk sarapan. Cowok itu lantas masuk ke mobil dan memacunya dengan kecepatan yang tidak wajar menuju ke sekolah.

Suasana di sekolah tampak tak biasa. Ada banyak wajah asing di sekolah Kevin. Mereka pasti peserta lomba yang datang dari sekolah lain.

Setelah memarkirkan mobil, Kevin segera berlari menuju aula, tempat diadakannya lomba. Di sana dia melihat murid sekolahnya sedang bertanding basket melawan sekolah lain. Ketika melihat beberapa guru yang menjadi panitia lomba, Kevin segera berjalan mendekti mereka untuk meminta maaf karena datang terlambat. Kevin hanya mendapatkan teguran karena keterlambatannya itu, selebihnya dia diberi arahan tentang lomba karena dia tidak sempat berkumpul dengan para peserta lomba yang lain.

Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian silat, Kevin menyempatkan mendatangi kelas Sofi. Dia berharap bisa bertemu dengan gadis itu. Namun dia tak menemui siapa-siapa di sana. Kelas itu tak berpenghuni. Tak ingin membuang waktu untuk bertemu Dion dan Ferro, Kevin lantas melangkahkan kakinya ke kantin. Di sana dia melihat dua sohibnya tengah menikmati makanan di salah satu meja di bagian sudut kantin. Setelah memesan makanan dia lantas berlari kecil mendekati dua temannya itu.

“Kenapa lo, Hawk, tuh tampang kusut banget gitu?” tanya Dion. Cowok itu menyentil rokoknya yang sudah habis terisap ke bawah meja lalu menginjaknya.

“Telat gue, semalem tidur kemaleman,” jawab Kevin sambil menyomot salah satu gelas berisi minuman yang ada di meja lalu menenggak isinya dengan rakus.

Ferro yang tadi sedang sibuk merapikan poni sambil bercermin seketika menurunkan cerminnya karena minumannya digasak Kevin. “Orang yang memberi itu lebih mulia dari yang meminta, Hawk. Lo udah minta, nggak izin lagi! Nggak ada mulia-mulianya,” gerutunya.

“Alah! Haus gue. Sekali-kali nggak apa-apa, lah,” bantah Kevin.

“Tahu tuh, si Polem. Dimintain gitu aja rempong banget lo kayak emak-emak,” bela Dion.

“Lagian si Hawk biasanya juga dateng-dateng minta dibagiin rokok, tumben banget sekarang yang dirampas minuman gue,” balas Ferro lagi, tak mau kalah.

Kevin bungkam menaggapi ucapan Ferro. Dia tak mungkin mengadu kepada dua sohibnya itu kalau Sofi melarangnya merokok. Dia khawatir dua temannya tersebut akan menghakimi Sofi sebagai pacar yang suka mengatur-atur kalau mereka tahu.

“Hai semuanya! Aku join, ya!” tanpa diduga tiba-tiba saja Stela datang menghampiri mereka bertiga. Cewek itu tidak kapok meski Kevin sudah berkali-kali menolaknya secara terang-terangan.

Meski tak ada jawaban dari tiga cowok yang ditanyai, gadis berambut lurus panjang sepunggung itu tetap saja duduk.

“Kamu kok keliatan lesu gitu, sih, Vin, kenapa? Bukannya nanti kamu mau ikut lomba, ya?” tanya Stela ketika menyadari wajah letih Kevin.

“Nggak, kok, cuma kurang tidur aja,” jawab Kevin tanpa menolehkan kepalanya pada Stela. Cowok itu kemudian segera menikmati batagor yang baru saja diantar ke mejanya.

“Vin, kamu itu kenapa, sih? Kamu jangan bohong, deh, kamu pasti lagi banyak masalah, iya, kan?” tanya Stela pelan sambil mendekatkan tubuhnya pada Kevin. Tangan kananya dia letakkan di pundak Kevin, sementara tangan kirinya membelai wajah cowok itu lembut.

Kevin tak menggubris Stela dan terus memakan batagornya dengan lahap. Dia berharap bisa segera pergi setelah ini.

“Ehm! Ehm ... Ehm!” Dion yang merasa geli melihat ulah Stela berdehem keras dengan nada yang dibuat-buat.

Mendengar itu Ferro melirik Dion. Dion memberikan kode dengan mengedip-ngedipkan matanya. Setelah mengerti maksud Dion, cowok itu kemudian batuk keras dengan nada yang juga dibuat berlebihan. “Uhk ... Uhk! Uhk ... Uhk!”

Kevin nyaris tersedak karena menahan tawa akibat tingkah dua sohibnya itu. Setelah meminum minumannya hingga tersisa separuh gelas, cowok itu lantas berpamitan pada Stela. “Gue ke aula dulu, ya, Stel,” katanya sambil beranjak berdiri.

Tanpa menunggu jawaban Stela, Kevin segera berjalan menjauh. Stela bermaksud mengikuti langkah Kevin, tapi gagal karena Dion dan Ferro lebih dulu menyerobot. Mereka berdua merangkul Kevin dari belakang seolah sengaja menghindarkan cowok itu dari Stela.

Ketika sampai di aula, perlombaan silat sudah di mulai. Peserta pertama sedang tampil. Kevin adalah peserta kedua. Dia tampil setelah ini. Sambil menunggu dia merapatkan diri bersama gerombolan murid yang menonton pertandingan di sudut aula. Ketika namanya di panggil, dia segera berjalan ke tengah aula. Dia berusaha bertanding dengan konsentrasi penuh meski pikirannya sedang kacau. Dengan hati-hati dia melayangkan setiap pukulan dan jurusnya pada lawannya. Dia harus memenangkan lomba, karena ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menorehkan prestasi sebagai pelajar SMA. Setelah ini dia harus fokus ujian dan tak mungkin bisa mengikuti lomba silat lagi.

Awalnya Kevin sempat pesimis ketika nama pemenang lomba disebutkan. Dia tak yakin bisa menang karena menurutnya banyak peserta lain yang performanya lebih baik darinya. Namun akhirnya dia bisa tersenyum lega saat namanya disebut sebagai juara tiga lomba pencak silat. Cowok itu segera maju ketika dia dan dua juara lainnya diminta untuk mengucapkan beberapa patah kata.

Sambil membawa piagam serta piala di tangannya Kevin mulai bercuap-cuap di depan mikrofon setelah dua juara yang lain selesai menyuarakan pidatonya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena sudah baik sekali mau memberikan bakat terpendam ini kepada saya sejak bayi. Kedua saya mau berterimakasih sekaligus minta maaf kepada Mama saya yang merupakan korban pertama atas bakat saya ini. Ya, kata mama saya, dulu di dalem perut saya sudah suka silat. Nonjok dan nendang-nendang gitu.” Kalimat Kevin itu mengundang tawa beberapa murid dan guru yang sedang menyaksikan pidatonya. Tak terkecuali Dion dan Ferro.

“Kemudian saya mau berterima kasih kepada Bapak Tono selaku pelatih saya. Dua sahabat saya Dion dan Ferro yang selalu menjadi penyemangat saya. Tak lupa pada semua penjual makanan di kantin. Karena makanan yang mereka jual saya jadi nggak kelaparan lagi kalau latihan silat. Terakhir, untuk Bik Tini, asisten rumah tangga di keluarga saya yang selalu mencuci dan menyetrika seragam silat saya. Kalau tidak ada dia bisa dipastikan seragam silat saya pasti akan kucel dan baunya juga akan ...,” Kevin menahan kalimatnya. Dia memperagakan mengendus seragam silatnya, “ugh, apek!” lanjutnya sambil memencet ujung hidungnya.

Gemuruh tawa bercampur dengan seruan ,”Hu,” keras terdengar memenuhi aula akibat tingkah Kevin.

Setelah mengucapkan salam penutup, Kevin meninggalkan podium dan langsung menghampiri kedua temannya. Mereka memberi selamat dengan merangkul dan menepuk-nepuk pundak Kevin.

“Kita harus ngerayain kemenangan lo, Hawk,” kata Dion sambil terus merangkul Kevin ketika berjalan keluar aula.

“Iya, Hawk, kita harus parti pokoknya,” tambah Ferro.

Party itu berarti menghabiskan waktu bersama makanan, rokok, dan minuman beralkohol. Kevin tak mungkin melanggar janjinya pada Sofi. Maka sebisa mungkin dia berusaha menolak. “Jangan, lah. Nggak usah. Orang cuma menang gini aja,” katanya, menunjukkan kesan merendah supaya penolakannya tidak terlalu mencolok.

“Nggak bisa. Kali ini gue sama Ferro deh yang patungan buat beli semua. Ya, nggak, Ro,” bantah Dion.

Ferro mengangguk setuju.

Ketika itu Sofi sedang mengamati mereka bertiga dari kejauhan. Dia menahan diri untuk tidak mendekat.

1
Indah Nihayati
bagus thorr
Wati_esha
Akhirnya mencair juga hubungan Mona - Sofi.
Wati_esha
Satu per satu benang kusut terurai. Masih ada harapan bagi Kwvin - Sofi.
Ruby - Willy ke laut.
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Fawas Aficieanna
semangat thor
Wati_esha
Ruby ... memang menjebak Kevin. Untung Kevin minta tes DNA padanya setelah bayinya lahir. 😊
Wati_esha
Sofi .. akankah ia menemui Kevin untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang sudah ia ketahui?
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Nah ... ternyata mrmang begitulah, Sofi dan Willy menjalin suatu hubungan mutualisme dari kaca mata mereka berdua.
Wati_esha
Jika memang tak dapat membuktikan bahwa Kevin tak bersalah, maka jalan satu-satunya ya, Kevin nikahi Ruby tapi jangan menyentuhnya sama sekali hingga lahir anaknya lalu tes DNA.
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Belum ada tim sukses ya, yang ingin mencari tahu kebenaran cerita Ruby? Sayangnya Kevin tak sadarkan diri.
Laily Ilmiyatus
kapan ketahuannya kalo ruby gk hamil anaknya kevin?
Wati_esha
Terima kasih update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
Wati_esha
Jadi ada unsur kesengajaan pada kecelakaan Mona.
Wati_esha
Kevin ... terluka karena berkelahi dengan Leo? Anak gembong narkotika itu.
Eka Suryati
mengapa sepi like, komen dan vote ya, padahal sepertinya cukup bagus
Gizza Ranny: kurang paham juga sama selera penghuni noveltoon, Kak. Aku gak tau juga gimana caranya author lain bisa dapet views berjuta-juta. 😂
total 1 replies
Eka Suryati
absen
Eka Suryati
mulai membaca
Gizza Ranny: wow, makasih. 🙏
total 1 replies
Wati_esha
Terima kasib update nya.
Next, ditunggu kelanjutannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!