(Baca Ulang, Sudah aku edit)
Harap Bijak karena beberapa episode mengandung adegan dua puluh satu plus. Thankyou 😘😘
***
Nasta Ayruma
Gadis itu sedang duduk bersimpuh diatas tempat tidurnya. Bahu nya bergetar hebat merasakan sakit yang menusuk dalam kerelung hatinya. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei yang terlihat mulai lusuh.
Tangis yang seharusnya terdengar keras, kini hanya tercekat didalam tenggorokan.
Tak mampu dia bagikan.
Langkah nya tidak bisa mundur. Tak ada pilihan dalam situasi yang sulit ini untuk mengatakan Tidak ataupun Menolak.
Dia tidak punya kuasa saat harus terpaksa menikah dengan laki-laki penguasa yang arogan itu.
Pandu Bragistandara.!
Nasta : Bagaimana bisa aku egois memilih masa depanku sedangkan ibu sedang membutuhkan bantuan ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AioraAghfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuai Umur Mereka
Sore ini, setelah Pandu membawa Nasta jalan-jalan di sebuah mall serta mengajak Nasta makan siang di restoran langganannya, dia menepati perkataannya dengan membawa gadis itu pergi kerumah sakit.
Nasta yang sudah merindukan sang ibu seketika berbinar, dan mengulas senyumnya yang sungguh menawan. "Terimakasih mas Pandu."
Pandu mengangguk, setelah turun dari taksi Pandu mengantar Nasta hanya sampai di lorong tempat Ibu Winda dirawat. Selanjutnya Pandu membiarkan sang istri masuk sendiri kedalam ruangan itu. "Aku tunggu di kantin ya, langsung kesana kalau sudah selesai."
"Kamu gak mau ikut masuk.? Gak papa nanti aku kenalin sebagai temen ku. Ibu pasti ngerti."
Pandu menggeleng, sembari mengusap rambut Nasta pelan. "Enggak, lebih baik kami tidak perlu bertemu dari pada membuat mu kembali menciptakan kebohongan baru."
Eh.
"Mas Pandu ih.." Nasta memukul lengan tangan Pandu tanpa perasaan. "Kalau ngomong itu mbok ya disaring. Seneng banget bikin aku mati kutu begini."
"Loh kan memang kenyataan, Nas?"
"Ya tapi kan mas...."
Nasta mengurungkan niat protesnya, ketika Pandu menyela ucapannya. "Sudah sana, buruan... katanya kangen sama ibu."
Sekarang disinilah Nasta berada. Didepan pintu ruang rawat sang ibu yang sebentar lagi akan dia buka.
"Ibu..." Setelah memastikan sang ibu tidak sedang beristirahat, Nasta kembali masuk dengan langkah ringan. "Nasta datang."
Gadis itu menaruh sekantong kresek buah, sebelum kemudian mencium kening malaikat tanpa sayapnya. "Bagaimana keadaan ibu? Ibu baik-baik saja kan?"
Winda mengangguk senang, kehadiran Nasta kembali dihadapannya membuat sudut hati wanita paruh baya itu lega. "Ibu baik-baik saja sayang. Justru sejak kemaren ibu mengkhawatirkan mu. Kamu juga baik-baik saja kan?"
"Nasta baik kok... Nih coba ibu lihat sendiri." Gadis itu berdiri, memutar tubuhnya dihadapin sang ibu. Demi membuat ibu nya tenang.
Nasta beralih menyapa ayahnya yang duduk di sofa, mencium tangan sang ayah sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. Disamping ayah ada Rista, asik membaca buku novel kesukaannya hingga mengabaikan kondisi sekitar.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan Nasta bu, kan yang sakit ibu.. Seharusnya kami yang mengkhawatirkan kondisi mu." Ucap sang ayah yang lebih membela Nasta. "Lagian ibu juga harus tenang. Biar cepet sembuh dan kembali sehat sedia kala."
Tak mau kalah, Rista ikut menimpali. "Bener tuh kata ayah. Rista dan mbak Nasta udah gede, bisa jaga diri. Jadi ibu gak perlu khawatir lagi."
Ditempat tidur, Winda hanya menggeleng lemah. Bagaimana bisa suami dan anak-anaknya kompak menyerang Winda yang lagi sakit begini?
Meski begitu, sudut hati Winda menghangat ketika melihat komunikasi yang terjalin begitu baik diantara mereka. Winda menyukai interaksi antara suami dan anaknya, yang dinilai sebagai bentuk tanda kedekatan mereka. "Kalian ini, nyerang ibu kok kroyokan gini. Satu lawan satu dong.."
Dan seketika, Nasta, Rista dan Ayah tersenyum simpul mendengar pembelaan dari sang ibu.
"Oh, iya. Ayah sudah makan?" Tanya Nasta pada sang ayah mengingat sejak kemaren ayah seorang diri menjaga ibu dirumah sakit. "Mumpung Nasta disini, ayah cari makan dulu aja yah."
"Eh bener juga." Sang ayah yang menjawab seakan ucapan Nasta ada benarnya. "Rista juga belum makan kan? Ayo kita makan dulu Ris.."
"Enggak ah. Ayah aja yang nyari makan dulu. Aku disini aja yah, nemenin mbak Nasta. Lagian sekarang perut ku masih kenyang. Tadi istirahat kedua aku beli bakso soalnya."
"Beneran Rista gak mau ngikut ayah?" Kali ini, Nasta bertanya meyakinkan. "Kalau nanti kelaparan mbak Nasta gak tanggung ya Ris."
"Beneran mbak..." Dari balik buku novelnya, Rista menjawab dengan mantap. "Biar ayah aja yang pergi cari makan. Ayah tuh yang belum makan."
"Yasudah kalau begitu." Sekarang Herman sudah berdiri dari sofa, akan segera beranjak menuju kantin guna mencari makan pengganjal perutnya. "Titip ibu ya Nas.."
"Siap yah, aman."
Berkurang satu penghuni, sekarang tinggal Ibu, Nasta dan Rista yang kembali anteng sibuk membaca novelnya.
Sementara disamping sang ibu, Nasta kembali membantu ibu mengupas buah yang tadi dia bawa. "Ibu sambil makan jeruk ya. Ini udah Nasta kupasin."
"Terimakasih sayang." Winda tersenyum. Seraya meraih buah jeruk yang Nasta ulurkan padanya.
Putri nya Nasta itu memang tampak jauh lebih dewasa. Jiwa keibuan dan pelindungnya sudah keluar meski dia baru saja lulus SMA.
Berbeda jauh dengan putri terakhirnya. Rista yang masih duduk dibangku smp cenderung lebih manja, dan masih ke kanak-kanakan. Namun Winda tak ambil pusing, Biarlah anak-anak nya tumbuh besar dan melewati fase kehidupan sesuai umur mereka.
Lagian Rista masih terlalu bocah kalau harus dipaksa menjadi dewasa.
Lihat saja sekarang. Disini terlihat dengan jelas, siapa yang lebih mengerti kondisi dan memahami keadaan sekitar. Nasta yang sibuk melayani kami, dan Rista yang sibuk dengan dunianya sendiri.
"Rista mau jeruk nggak?" Nasta bertanya dengan penuh perasaan kepada sang adik. Bagaimana pun, seorang kakak akan tetap memperhatikan adiknya. "Mbak Nasta kupasin mau?"
"Em, boleh deh." Lagi-lagi Rista menjawab tanpa melepas perhatiannya pada novel yang dia baca.
"Nih, makan."
"Terimakasih mbak Nasta."
Setelah memberikan jeruk pada sang adik, Nasta segera kembali duduk di kursi samping tempat tidur ibu. "Besok ibu berangkat ke Singapura kan?"
Winda tidak menjawab dengan kata. Wanita paruh baya itu hanya memberi anggukan kepala seraya merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik milik Nasta.
"Ibu baik-baik disana. Khawatir sama keadaan kami disini boleh. Tapi jangan berlebihan. Ibu harus menjaga kondisi supaya cepet sembuh. Nasta pasti akan jaga Rista dengan baik bu."
Winda kemudian tersenyum. Sikap dewasa Nasta memberi suatu kebanggaan tersendiri untuk nya. "Ibu percaya sama Nasta."
Seketika senyum Nasta mengembang sempurna.
"Sampaikan juga, rasa terimakasih ibu kepada boss mu. Kita benar-benar berhutang budi kepadanya Nas... Ibu sih berharap bisa ketemu beliau sebelum keberangkatan besok."
"Iya bu, nanti kalau ketemu Nasta sampaikan salam dan ucapan terimakasih ibu pada beliau." Kini, gadis cantik itu merapikan meja brankar sang ibu. Sembari membantu Winda kembali berbaring dengan nyaman diranjangnya. "Sekarang ibu istirahat ya.."
Bersamaan dengan itu, pintu ruang rawat terbuka. Herman telah kembali dari kantin membawa sebungkus makanan untuk mengganjal perutnya di malam hari.
"Nasta pulang gih, udah sore. Ajakin Rista pulang sekalian. Nanti keburu malam."
"Iya yah.." Memilih menurut, Nasta kembali berpamitan pada sang ibu. "Nasta pulang dulu yaa bu, besok Nasta antar sampai ke bandara."
Rista yang sudah merapikan barang-barangnya juga terlihat mendekat ke arah sang ibu. "Rista juga pamit dulu." Rista mencium kening ibunya. "Baik-baik disana ya bu. Cepet sembuh. Rista sayang ibu."
Dua putri kesayangan Winda sempat mencium tangannya bergantian, sebelum akhirnya meninggalkan Winda berdua hanya dengan suami nya saja.
"Bagaimana? Ibu sudah tenang belum setelah bertemu Nasta secara langsung."
Winda mengangguk, ketika tangan kokoh Herman mengusap-usap kepalanya tanda sayang. "Tapi gak tau kenapa rasanya masih ada yang mengganjal."
"Itu mungkin perasaan ibu saja." Herman menjawab dengan segera guna mengalihkan perhatian sang istri. "Sekarang kamu mending istirahat dulu. Jangan terlalu banyak pikiran."
Winda menurut dengan sadar. Dan mengulas senyum kepada sang suami sebelum akhirnya merebahkan diri dan berusaha menutup matanya.
buat mas ato kak Arya,ntar sama Rista aja ya,dia ga kalah cantik n baik ko ma nasta🤭
please..Jan lama² ya ndah resign nya🤭