NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 22 — Sebuah Permintaan Maaf

Maura berjalan mondar-mandir di ruang tamu, menghitung langkahnya secara tak pasti sambil meremat tangannya sendiri. Sesaat, matanya melirik ke arah jam yang tergantung di atas dinding. Sesaat kemudian, memerhatikan pintu depan yang sampai pukul sepuluh malam pun, belum ada yang mengetuknya.

Hatinya gusar. Baru saja sore tadi Jeehan menceritakan kejadian yang dialaminya. Karena hal itu Maura cemas dan ingin sesegera mungkin memberitahu suaminya.

"Bu, aku gak sengaja nyenggol temanku sampai tangannya memerah. Ibunya datang ke sekolah minta aku untuk tanggung jawab untuk ganti rugi pengobatan tangannya yang luka karena aku. Dan Bu Lena minta Ibu untuk datang besok. Maafin Jeehan ya, Bu." Sore itu, Jeehan memberitahukan segalanya kepada Maura dengan mata berlinang.

Maura yang tak pernah mendengar keluhan Jee lantas memeluk putrinya dan mengusap pucuk kepalanya. "Masyaa Allah, Nak, kok bisa? Kamu ada yang luka juga gak? Coba sini ibu lihat!" katanya yang langsung memeriksa sekujur tubuh putrinya.

Jee menggeleng, mengusap air matanya lalu berkata, "Alhamdulillah Jee gak apa-apa kok, Bu. Maafin Jeehan ya Bu kalau malah ngerepotin Ibu."

"Ngerepotin apa, Nak? Jeehan kan gak sengaja, gak apa-apa, Sayang. Melakukan kesalahan itu wajar, selama Jee baik-baik aja dan tahu kalau Jee salah, ibu udah merasa lega. Gak ada istilah anak merepotkan ibunya, Nak, gak ada."

Maura makin erat memeluk putrinya, cukup sedih melihat anaknya menangis karena masalah kecil. Bagaimana jika Jee tahu masalah besar yang dihadapi orang tuanya? Maura tak bisa memikirkan akan sesedih apa Jeehan nanti.

Lagi-lagi, Maura melirik jam, sudah hampir pukul sebelas malam. "Ya Allah, kok tumben Mas Hasya belum pulang, biasanya gak begini. Apa mungkin ...." Pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri pikirannya, menghantam logika dengan praduga yang gak berdasar.

"Apa mungkin ... " lirihnya menggumam sendiri. Lalu, suara deru mobil seketika mematahkan curiga yang dianut Maura. Cepat-cepat ia menghampiri pintu dan membukanya, Sesosok pria dengan wajah lesu baru saja keluar dari mobil.

"Ada apa?" tanya Hasya begitu melihat wajah Maura yang cemas. "Kok belum tidur?" tanyanya lagi dengan bingung.

"Gak apa-apa, sini tas kamu Mas. Udah makan?"

Hasya menggeleng, pekerjaannya banyak dan ia bahkan tak sempat makan malam. Belum lagi pikirannya dipenuhi dengan keluhan Alisha tentang anaknya, membuat beban pikiran Hasya kian banyak.

"Aku hangatkan makanannya, ya? Mas mandi dan bersih-bersih dulu aja," kata Maura langsung beranjak ke dapur untuk menghangatkan masakan yang ia masak tadi sore.

Sedangkan Hasya berjalan naik untuk membersihkan diri. Tak lama, lima belas menit cukup baginya untuk membasuh diri dengan air hangat dan berganti pakaian.

"Silakan, Mas, setelah makan aku mau bicara ya, gak lama kok, cuma 5 menit," kata Maura setelah menghidangkan makan malam untuk suaminya. Hasya hanya mengangguk lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya.

Setelah selesai, Hasya menghampiri Maura yang sudah duduk di ruang tamu. "Mau bicara apa?" tanya Hasya tiba-tiba, membuat Maura sedikit terperanjat.

"Eh, duduk dulu, Mas." Maura menepuk-nepuk sofa agar Hasya bisa duduk di dekatnya. "Aku mau cerita, tapi kamu jangan marah ya, Mas."

Hasya mengernyit, "Apa? Ceritakan aja, Mas gak akan marah." Kemudian, Hasya membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman, ia berusaha memasang telinganya untuk mendengar keluhan sang istri. Ia harap keluhannya bukan soal perceraian mereka, karena sungguh Hasya tak ingin mendengar hal itu sekarang.

Maura diam sesaat, seolah memberi jeda meski sejenak untuk Hasya menikmati suasana yang tercipta. Pelan-pelan ia mengusap punggung tangan suaminya. Tangan yang selama ini menafkahinya, tangan yang selalu ia rindukan kehangatannya.

"Jeehan melukai seorang siswa, dan ibunya siswa tersebut, meminta tanggung jawab berupa kompensasi uang untuk biaya berobat putrinya. Besok aku diminta untuk datang," kata Maura pelan, sebisa mungkin ia lembutkan nada bicaranya, semata tak ingin membuat Hasya marah.

"Apa? Bagaimana bisa?" tanyanya datar. Bahkan untuk bertanya bagaimana keadaan Jeehan pun tidak. Hal itu, membuat Maura kian sedih.

"Jeehan kurang hati-hati jalannya," jawab Maura pelan sambil tertunduk menahan sesak di dada.

"Hmm begitu, ya sudah kamu datang saja besok dan urus semuanya," kata Hasya singkat lalu berdiri hendak pergi namun urung sebab tangannya dicekal Maura. "Apa lagi?" tanya Hasya.

"Aku butuh uang untuk bayar kompensasinya, Mas."

"Astaga, Maura, pakailah dulu uangmu. Kamu tahu kan ini tanggal berapa? Mas belum terima gaji, uang tabungan pun habis untuk—"

"Untuk beli rumah baru, kan?" potong Maura cepat. "Rumah baru untuk kekasihmu itu, aku benar kan?" tanya Maura, nada suaranya pelan tapi sarat akan luka dan kekecewaan. Sedangkan Hasya nampak tercengang.

"Kok kamu bisa tahu?" Hasya justru bertanya bingung. Sepertinya, ia sudah menyembunyikan kwitansi pembelian rumah itu dengan sangat rapi, bagaimana bisa Maura tahu?

Maura menghapus air matanya yang mendadak jatuh, lalu merogoh saku baju tidurnya, kwitansi yang dimaksud Hasya adalah kwitansi yang tak sengaja ia temukan waktu itu, ia sudah menyiapkannya karena berniat untuk menanyakan kebenarannya malam ini.

"Ini, bukti pembelian rumah yang membuat uang tabungan kamu habis, Mas." Maura mengembalikan kwitansi itu pada Hasya. "Membeli rumah baru untuk kekasihmu kamu mampu, tapi untuk membantu anakmu sendiri kamu tak mampu? Aku kasihan padamu, Mas," kata Maura lalu beranjak dari sana dengan derai air mata.

Hasya menatap nanar kwitansi itu lalu menggenggamnya erat. Antara cinta dan tanggung jawab, yang mana kiranya harus ia pilih?

•••

Keesokan paginya, Maura bangun pagi-pagi sekali, meski matanya sembab dan hatinya sedikit kecewa, ia tetap melakukan tugasnya dengan baik. Menyiapkan sarapan dan perlengkapan, seperti hari biasanya.

Jeehan sendiri sudah rapi dan siap berangkat sekolah. "Ibu," panggil Jeehan pelan, lebih tepatnya sedikit takut.

Maura menoleh, "Ya, Jee? Ayo sarapan dulu, Nak," sahut Maura lembut lalu menarik Jee untuk duduk di kursi, seperti biasa, ia menyiapkan sarapan beserta susu sebagai pelengkap sarapan Jee.

"Gak usah khawatir ya Sayang, hari ini ibu pasti ke sekolahmu, tapi ibu ada urusan dulu sebentar, gapapa kan Sayang?" katanya seolah tahu apa yang tengah dipikirkan anaknya itu.

"Iya, Bu, nanti Jee bilang sama Bu Lena, ya."

Maura tersenyum, sesekali melirik ke lantai dua, melihat apakah sang suami sudah siap atau belum. "Lanjut sarapannya, ya, Nak. Ibu lihat ayah dulu ke atas." Jee mengangguk.

"Cari apa, Mas?" tanya Maura begitu mendapati Hasya belum selesai berpakaian.

"Mas cari dasi, kok gak ada ya?" tanyanya bingung, padahal sudah lima belas menit ia mencari, namun barang yang ia cari tak kunjung ketemu.

"Oh, dasi ... sebentar aku carikan," katanya lalu mulai mencari-cari dasi yang dimaksud Hasya. "Yang ini bukan?" tanyanya memastikan, Hasya mengangguk.

"Ini, silakan pakai, Mas."

"Maura," panggil Hasya saat Maura sudah mencapai pintu.

"Ada lagi yang kamu butuhkan, Mas?"

Hasya menggeleng, namun bisa Maura lihat, pria yang selalu ia hormati itu, mengambil langkah mendekat. "Maaf, maafkan Mas, ya."

Maura tersenyum, menunduk, lalu kembali menatap. Hasya dengan sorot mata penuh luka. "Aku bisa memaafkan kamu, Mas, tapi luka yang kamu berikan padaku hari ini, sulit bagiku untuk menghilangkannya di kemudian hari."

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!