Harus menyalahkan siapa keadaan Zahira saat ini yang divonis tidak akan pernah bisa melahirkan seorang anak bagi suami tercinta.
Apa yang akan dilakukan Zahira setelah mendapatkan vonis tersebut? Apa juga yang akan dilakukan suaminya serta mertuanya yang ikut tinggal bersama Zahira?.
"Zahira si wanita mandul"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Zahira hanya..." ucapan Zahira menggantung begitu saja di udara karena Mama mertua langsung memotong perkataannya.
"Kamu jangan mudah percaya pada Zahira! Mana ada istri yang dimadu baik pada madunya? Apalagi madunya sedang hamil, pasti Zahira memiliki niat tidak baik padamu dan bayimu." Tuduh Mama mertua yang tidak bisa dibantah Zahira. Karena hasilnya akan tetap sama, tidak akan percaya pada niat baiknya.
Papa hanya menggelengkan kepalanya berulang kali, namun tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Zahira. Papa hanya selalu berdoa semoga saja Zahira bisa sabar menghadapi sikap dan perkataan Mama mertuanya yang sangat pedas.
Mama membantu mengusap punggung Alisha lalu meminta pekerja membawakan air minum hangat.
"Mana ngerti Zahira hal ginian, orang tidak bisa hamil."
Lagi-lagi Mama mengatakan hal yang sangat menyakitkan, namun lagi-lagi Zahira hanya diam tidak membalasnya.
Lantas Mama membawa Alisha ke kamar dan menemaninya di sana, sedangkan Papa kembali ke lantai bawah.
Di lantai bawah Papa mengajak bicara Mas Bilal yang baru saja tiba di rumah.
"Sesekali coba temani Alisha ke dokter atau ajak wanita itu bicara."
"Bilal tidak ingin menyakiti hati Zahira, Pa. Zahira sudah terlalu banyak menderita."
"Alisha juga tersakiti karena kamu tidak adil. Di sini Papa tidak membela atau memihak siapapun. Tapi memang kamu harus adil sebagai seorang suami yang memiliki dua istri."
Jauh di dalam lubuk hati Mas Bilal, sebagai orang yang normal dan begitu menginginkan adanya seorang anak. Ingin Mas Bilal merasakan berdekatan dengan calon bayinya yang akhir-akhir ini menganggu tidurnya. Tangan mungil menyentuh pipi dalam mimpinya terasa begitu nyata. Namun itu semua tidak dapat Mas Bilal lakukan karena hati Zahira harus Mas Bilal jaga dengan baik.
"Akan Bilal usahakan. Sekarang Bilal harus ke atas."
"Iya. Mungkin masih ada Mama di kamar Alisha."
"Iya, Pa."
Mas Bilal segera ke atas dan tidak mendapati Zahira di dalam kamar. Mas Bilal segera mandi dan berpakaian santai. Hape Zahira ada di atas meja rias, berarti istrinya itu masih ada di lantai tersebut.
Mas Bilal yang baru keluar kamar langsung di panggil Mama yang juga baru keluar dari kamar Alisha.
"Bilal kemari!."
"Ada apa, Ma?."
"Ayo kita bicara di dalam!" Mama menarik tangan Mas Bilal hingga masuk ke dalam kamar Alisha.
Sementara orang yang dicari Mas Billa sedang berada di belakang, baru saja Zahira menjemur pakaian yang dicucinya. Di sana juga ada Taufik dan Niken yang menemani sambil membawa PR masing-masing.
Ketiganya duduk santai di bangku yang ada di samping tempat penjemuran.
"PR aku belum selesai, Ibu Zahira" rengek Niken sambil terus menutup buka buku tulisnya.
Taufik membuka buku Niken lalu tersenyum "Ini sih gampang, Niken."
"Tapi, aku mau sama Ibu Zahira mengerjakan PR nya. Bolehkan Ibu Zahira?."
Zahira mengangguk, "Tentu boleh Niken."
Dengan sabar dan sangat telaten Zahira menemaninya bahkan sesekali mengajari Niken. Pemandangan itu membuat Taufik terdiam, mengamati wanita baik yang memang sangat baik hati dan begitu tulus menyayanginya dan Niken.
"Mama tidak pernah menemani kami belajar seperti ini" ucap Taufik sambil melamun. Zahira dan Niken menatap ke arah Taufik.
"Dulu pun tidak pernah, Mama sibuk bekerja dan Papa kami tidak pernah tahu dimana." Ucapnya lagi kini menatap Zahira.
"Itu betul." Sahut Niken membenarkan.
"Apalagi ada adik bayi sekarang, Mama sepertinya lebih sayang dan perhatian pada adik bayi ketimbang pada kami."
"Iya, Mama juga enggak sayang Niken."
Zahira yang sejak tadi mendengar cerita Taufik dan Niken hanya mampu menarik nafas lalu membuangnya perlahan.
"Pasti Mama juga sangat sayang pada kalian." Zahira mengusap pucuk kepala Taufik lalu berpindah pada Niken yang memasang wajah sendu.
"Aku dan Niken juga sering dengar Mama suka menangis sambil cerita sama adik bayi di dalam perut Mama. Pada aku dan Niken tidak, Mama selalu bilang jangan sampai bayi Papa Bilal kenapa-napa."
Deg
Apa ini salahnya Zahira juga karena membiarkan Alisha tidak nyaman dengan posisinya di rumah ini?. Sampai-sampai Alisha harus mengabaikan dua orang anak lainnya demi anak Mas Bilal.
"Papa kami selalu dikatai jahat, kasar, keras dan tidak menyayangi kami. Berbeda dengan Papa Bilal yang sangat menginginkan adik bayi." Lanjut Zahira.
Entah Zahira harus percaya atau hanya menganggap angin lalu apa yang dikatakan Taufik dan Niken tentang Alisha. Sebab Zahira sendiri tidak tahu Alisha itu seperti apa.
Sedangkan Mas Bilal yang berada di dalam kamar Alisha sangat tidak berkutik di depan Mama nya. Di tambah ketika melihat kedua kaki Alisha memang membengkak. Lalu Mas Bilal diminta sang Mama untuk mengoleskan minyak urut plus minyak kayu putih pada permukaan kaki Alisha. Serta mengurutnya pelan-pelan saja.
"Alisha istri kamu juga Bilal! Ini cuma kaki yang kamu pegang. Kalau mau pegang yang lain itu juga halal buat kamu. Kamu nya aja sok-sokan jual mahal. Di kasih dua yang halal hanya satu yang kamu gunakan."
Dengan tangan yang sudah berada di kaki Alisha, tatapan Mas Bilal tetap pada sang Mama yang terus saja bicara tanpa berhenti. Tentang Alisha yang harus mendapatkan nafkah bukan cuma hanya lahir saja, melainkan nafkah batin juga.
Alisha menunduk malu sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. Walau sebenarnya Alisha sangat ingin mendapatkan semua hak dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
Mas Bilal tidak ingin memberikan harapan apapun pada Alisha, Mas Bilal hanya menginginkan bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim Alisha. Egois, memang biarlah seperti itu. Tapi Mas Bilal lebih tidak ingin egois dengan menyakiti Zahira.
"Kamu dengan Mama 'kan Bilal?."
"Dengar, Ma."
"Mulai sekarang, kamu tidur di sini biar anak-anak tidak sama Zahira."
"Ma..."
"Anak-anak tidak akan keberatan karena tahu Papa dan Papa nya juga harus bersama."
Zahira hanya tersenyum pada Taufik dan Niken saat mereka sama-sama mendengar percakapan Mas Bilal dan Mama nya. Zahira segera membawa kedua anak itu ke dalam kamar.
"Ibu..." panggil Taufik saat Zahira selesai shalat.
"Apa?." Sekilas Zahira melihat Niken yang sudah tidur pulas di atas tempat tidurnya. Lalu kembali fokus pada Taufik.
"Ada aku dan Niken yang akan selalu menemani Ibu." Taufik duduk di samping Zahira. Meminta Zahira mengelus kepalanya. Wanita itu pun melakukannya.
"Terima kasih, Taufik."
"Maafkan kami yang udah ngambil Ayah Bilal."
"Tidak, Taufik. Ini bukan salah siapa-siapa."
"Tidur di sana, temani Niken." Taufik mengangguk lalu segera naik ke atas tempat tidur.
Malam semakin larut, saat ini sudah pukul 01.00 malam. Kedua mata Zahira belum juga bisa terpejam, membayangkan Mas Bilal berada dalam pelukan wanita lain yang juga menjadi istrinya.
Malam tergelisah dalam hidup Zahira, ketika harus benar-benar membagi raga sang suami dengan istrinya Mas Bilal yang lain.
Mas Bilal punya anak sekaligus 3