"Karya ini merupakan karya jalur kreatif"
***
Tahun 2222 Masehi.
Kecanggihan teknologi telah mengubah kehidupan manusia bukan hanya satu atau dua, tapi secara keseluruhan. Tatanan kehidupan juga tidak lagi sama, karena manusia sudah ketergantungan akan teknologi - termasuk pendidikan.
Semua gedung sekolah telah lama tutup, tidak ada aktivitas untuk proses belajar mengajar. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang membutuhkan ilmu pengetahuan agar tidak bodoh?
"Kau punya uang? Beli pengetahuan! Karena di dunia ini, pengetahuan dapat diperjual-belikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pasca Bencana
Kehidupan telah berubah setelah bencana alam terjadi. Bencana alam kali ini telah menghilangkan sebagian besar penduduk kota, terutama mereka yang tidak memiliki akses keamanan untuk menghindari sesuatu yang terjadi - khususnya bencana alam.
Hanya orang-orang tertentu - kaya, yang pada akhirnya bisa bertahan. Itu pun karena kebetulan mereka sedang berada di rumah atau gedung yang memiliki sistem keamanan terbaik.
Pengurangan jumlah penduduk yang paling cepat tanpa disadari memang dengan bencana alam, tapi selain itu juga menghancurkan sebagian dari peradaban manusia - karena semuanya memang tidak bisa diselamatkan.
"Semua sudah tidak berguna," gumam Reo, melihat kehancuran kota.
Tiba-tiba Reo teringat dengan keberadaan Sean, yang sebelum kejadian bencana memang sudah tidak terlihat.
"Ke mana ya, kira-kira itu, Sean?" Reo bergumam sendiri.
"Dia tidak biasa pergi tanpa pamit, atau libur tanpa pemberitahuan. Bahkan, di saat hari libur saja dia tidak mau libur dan terus menempel di sampingku." Reo masih saja berpikir.
Helaan nafas berat dikeluarkan oleh Reo, apalagi rumahnya juga sudah tidak lagi sama seperti sebelum terjadi bencana alam.
Meskipun ia selamat, dengan beberapa barang penting yang diselamatkan, tapi sebagian rumah yang memang sudah cukup tua ini roboh akibat guncangan gempa bumi yang berskala besar.
Ponsel Reo juga mati sejak tadi, membuatnya tidak bisa mencari kabar atau memberikan kabar pada mereka yang mengenalnya.
"Ah ya, aku aktifkan saja Sistem Pengetahuan."
[Ding Ding]
[Anda selamat, Master?]
"Kau pikir aku mati, jadi kamu bisa liburan dan mencari Master lainnya?" Reo kesal dengan sapaan Sistem yang menurutnya menjengkelkan.
[Master tidak boleh marah. Sistem Pengetahuan hanya mendeteksi adanya bencana alam yang berupa gempa bumi.]
"Ya, dan gempa bumi ini sudah menghancurkan sebagian penduduk bumi."
[Lalu, sebagai pakar Master, apa yang akan Master lakukan?]
"Hm, aku tentunya akan menata ulang semua yang telah hancur." Reo mulai berpikir dengan rencana-rencananya.
[Master bisa mengunakan dana yang ada untuk keperluan tersebut. Jika ada yang kurang, Sistem Pengetahuan akan memberikan misi untuk bisa memberikan tambahan hadiah.]
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk segera bangkit dan membangkitkan kembali kehidupan manusia yang sekarang ini seperti sudah kiamat."
[Good good work, Master.]
[Ding Ding]
[Misi Menata ulang semua yang hancur.]
Memproses ...
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
Selesai
[Ding Ding]
Nama : Reo San Aron
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Muatan Chip Cemer : 1 PetaByte
Status misi : Menata ulang semua yang hancur
Status misi : Sedang berlangsung
Pesona : 20%
Kekuatan : level 3
Total hadiah : Rp 11.499.900.000,__
[Ding Ding]
***
Saru per satu batu bata dan genteng rumahnya yang hancur, mulai dibersihkan Reo sedang cepat. Dia tidak menggunakan tangan biasa, tapi Reo mengunakan alat berat yang kebetulan ada di belakang rumahnya. Meskipun dua tidak pernah mengoperasikan alat berat ini, tapi dia belajar dengan cepat karena memiliki kemampuan yang di atas rata-rata dengan kesempurnaan Chip Cemer yang dimilikinya.
Dari jalan, terdengar suara sirene ambulan dan polisi yang hilir mudik melakukan tugasnya.
"Aku akan memastikan bahwa ilmu pengetahuan tetap ada, tidak musnah. Dan untuk itu, aku tidak akan memasang Chip Cemer dengan cara mudah. Tapi secara manual, supaya anak-anak bisa lebih memilih untuk belajar secara formal daripada pemasangan Chip Cemer yang akan menyakiti tubuh mereka."
Rencana ini adalah rencana dadakan tapi dalam kurun waktu yang lama - jangka panjang, yang sebenarnya belum ada didaftar rencana Reo sebelum ini.
Dari beberapa daftar rencana yang akan dilakukan kemarin-kemarin, semuanya itu justru dilupakan Reo. Dia tidak ingin terlihat kehancuran ilmu pengetahuan, karena jika hanya dengan pemasangan Chip Cemer lalu orang itu mati, maka ilmunya juga akan ikut mati.
"Kalau seperti ini, sebaiknya harus mengaktifkan kembali sarana pendidikan."
Tangan Reo mengetuk-ngetuk kemudi alat berat. Ia sedang bekerja, tapi otaknya juga berpikir secara cepat.
Senyuman bulan sabit terbit di bibirnya Reo, menandakan bahwa dia mantap dengan rencananya kali ini. Ia akan membeli beberapa bangunan yang "selamat" meskipun kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja, lalu merenovasinya supaya bisa digunakan sebagai tempat belajar mengajar.
"Aku akan menjadi guru mereka, meskipun yang datang nantinya akan sedikit dan merasa aneh dengan cara belajarnya."
Ilmu pengetahuan memang tidak ada batasnya, dan perkembangan teknologi memang terus maju. Tapi jika tidak diimbangi dengan kesadaran manusianya untuk bisa belajar dan menguasainya tanpa perlu tergantung pada teknologi, maka keseimbangan akan terjaga.
Reo sadar jika Ilmu pengetahuan hampir saja punah saat laboratorium Chip Cemer hancur, karena tidak akan ada ilmu pengetahuan yang bisa dipasangkan pada otak manusia.
"Aku akan membuat perkembangan teknologi berbeda dengan pemikiran orang-orang sebelumnya."
Dengan caranya, Reo akan berusaha untuk menjalankan rencananya ini.