Setelah di PHK dari perusahaan tempatnya mencari nafkah, berbagai masalah datang bertubi-tubi. Mulai dari sikap ibu mertuanya yang memperlihatkan sifat aslinya. Banyak menuntut dan meminta uang sementara Icank sudah di PHK.
Berbagai tuntutan dari ibu mertua membuat Icank hampir putus asa, belum lagi istrinya Syafa yang justru diojok-ojok supaya meninggalkan Icank yang kini pengangguran, membuat Icank dilanda nelangsa yang tidak terkira. Berbagai pekerjaan sudah dia jajal, menjadi pencari rongsok, kuli bangunan, juga kuli panggul di pasar. Namun semua itu tidak cukup membahagiakan ibu mertuanya yang pada dasarnya menilai segala sesuatu dengan uang.
Di tengah keputusasaannya, Icank memutuskan nekad kembali ke kampung halamannya.
Dengan ijin sang istri Dita, akhirnya Icank pulang dengan niat menjadi petani di kampung.
Saat menggali tanah untuk lahan palawija, tiba-tiba Icank menemukan sebongkah benda yang bersinar terang bagaikan emas. Sebetulnya apa yang Icank temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Bersatu Kembali
Setelah Syafa tenang, dengan persetujuan Ichank, akhirnya Syafa menceritakan kejadian yang menimpanya bersama selama ini. Syafa tidak mau kedua orang tua Ichank salah paham jika dia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, agar tidak ada fitnah dikemudian hari.
Meskipun awalnya Syafa ragu, karena setelah ia menceritakan semua, bakal ada pro dan kontra dari kedua orang tua Ichank. Namun tekad Syafa sudah bulat, dia tidak mau ada salah paham dari orang tua Ichank, meskipun pada akhirnya sikap orang tua Ichank pada ibunya Syafa tidak akan merasa simpatik lagi.
"Sudahlah, alangkah lebih baik Neng Syafa sekarang beristirahat dulu, sepertinya Neng Syafa lelah dan ngantuk," ujar Bu Irna sangat perhatian.
Ichank bangkit dan membawa Syafa ke kamarnya yang selama ini hanya dihuni olehnya sendiri. Namun kini kamar itu akan hangat lagi, karena kehadiran Syafa sang istri yang selama ini selalu dia rindukan.
Seperginya Ichank dan Syafa ke kamar, Bu Irna dan Pak Halim saling lempar tatap. Mereka sejenak satu sama lain tertegun dan diam.
"Haaaaahh." Pak Halim menarik nafasnya dalam dan panjang.
"Bapak tidak sangka nasib anak dan menantu kita seperti itu saat di rumah besan kita. Dan mirisnya, ternyata menantu kita selama ini justru dipaksa oleh Bu Diah untuk bercerai dengan anak kita. Jahat dan tega banget besan perempuan kita, Bu. Dan sekarang besan laki-laki kita entah ke mana, Pak Kayan tidak berkutik sama sekali sampai dia diusir dari rumah oleh Bu Diah," tutur Pak Halim dengan mata menerawang jauh.
"Dan ternyata anak kita dan Neng Syafa masih berjodoh. Mereka dipertemukan lagi setelah setahun berpisah," timbrung Bu Irna lega.
Di Kamar Ichank
Menaiki sebuah lift menuju lantai tiga, di sana kamar mewah dan luas milik Ichank. Harum aroma maskulin tercium saat pertama kali masuk di muka pintu. Syafa melihat seisi kamar dengan decakan kagum yang tidak berhenti. Dia baru pertama sekali memasuki kamar semewah ini. Berbagai pajangan dan hiasan bunga hidup yang mahal dan langka terpajang di sudut kamar.
Bahkan ketika membuka pintu balkon, di sana Syafa menjumpai pemandangan yang tidak kalah indahnya dibanding di dalam kamar. Decakan kagum masih terus terdengar dari bibirnya. Dia tidak percaya dengan semua kemewahan ini, bagai mimpi.
Ichank membiarkan Syafa menikmati semuanya sampai dia merasa puas dan lega. Setelah merasa puas menatap pemandangan di bawah balkon, berupa taman bunga yang terhampar luas dari ujung utara ke selatan.
"Rumah besar dan taman bunga yang indah dan luas ini, milik siapa? Apakah Bang Ichank tinggal di tempat milik orang?" heran Syafa masih belum percaya dan belum mendapatkan jawaban.
"Masuklah," ujar Ichank seraya menangkap pinggang Syafa dari belakang. Syafa terkejut, debaran jantungnya seketika berdebar tidak karuan. Perlakuan Ichank masih sama kayak dulu, sikapnya yang selalu perhatian sampai saat ini masih dirasakan sama.
"Abang sudah lama menantikan perjumpaan kita. Abang merasa kehilangan nafas dan hidup saat berpisah dengan Adek, terlebih ketika surat cerai itu datang, abang seakan hilang semangat hidup," tutur Ichank menceritakan keadaannya ketika berpisah dengan Syafa kemudian menerima akta cerai.
"Maafin Syafa, ya, Bang. Selama ini Emak juga telah membuat Abang dan hubungan rumah tangga kita hampir hancur," ucap Syafa seraya membalikkan badan, kemudian menangis memeluk Ichank dengan tangis yang bergetar.
"Sudah. Mari kita masuk, abang akan ceritakan semua kejadian yang menimpa Abang selama ini, samapi Abang bisa memiliki ini semua," ujar Ichank seraya menarik lengan Syafa masuk ke dalam kamarnya.
"Wawww, benarkah ini kamar Abang? Rumah ini?" Rasa kagum sekaligus tidak percaya masih menyelimuti hati Syafa. Bagaimana tidak, dalam waktu yang terbilang sekejap mata, Ichank mampu memiliki kemewahan yang bergelimang seperti yang kini dilihatnya.
"Ayo abang ceritakan semua," janjinya seraya mengajaknya ke sofa. Dengan jujur, akhirnya Ichank menceritakan semuanya. Dari awal penemuannya sampai bisa mendirikan rumah dan perusahaan serta toko emas yang sudah menyebar di seluruh wilayah tanah air.
"Jadi toko Mas Ichank itu, toko mas milik Abang?" tanya Syafa meyakinkan. Ichank mengangguk dengan yakin.
"Lihatlah, abang akan mengganti semua emas yang pernah abang pinjam dulu ke Adek." Ichank berdiri dan berjalan menuju ke sebuah lemari besi, di sana dia meraih sebuah kotak perhiasan yang sengaja dia persiapkan sejak lama untuk Syafa. Karena dengan keyakinan besarnya, Syafa masih mencintainya dan akan kembali dipertemukan dengannya. Dan doa Ichank itu akhirnya terjawab sudah, hari ini saat akan meeting, pertemuan yang tidak disangkanya akhirnya terwujud sudah.
"Ini, perhiasan untuk Adek. Bukalah dan pakai sesuka Adek," ujar Ichank seraya memberikan sebuah kotak perhiasan di hadapan Syafa.
Syafa terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia menatap dengan tatapan haru.
"Bang Ichank yang selalu dihina Emak, kini menjelma sebagai orang kaya yang banyak emasnya. Harta di mana-mana. Jika Emak tahu, aku yakin Emak akan bertekuk lutut dan memuji Bang Ichank. Lalu, ke mana Emak sekarang setelah aku dijual pada Juragan Juned?" tanyanya dalam hati dengan mimik wajah yang masih terpana tidak percaya.
"Pakailah."
Karena asik melamun, Syafa sampai tidak sadar Ichank sudah memakaikan kalung di lehernya, juga cincin di jari manisnya.
"Cantiknya istri abang." Ichank lagi-lagi memuji Syafa yang kini tengah berbunga-bunga hatinya atas perlakuan romantis Ichank. Syafa tersenyum malu-malu. Sekali lagi dia hanya bisa terharu, lalu memeluk Ichank tanda terimakasih dan bahagia.
Haripun berganti, setelah seminggu berlalu, Syafa kini menjalankan hari-hari dan aktifitasnya dengan normal. Namun kini, dia sudah diberikan kepercayaan oleh Ichank, memantau perusahaan garmennya di daerah Bogor dan menerima laporan keuangan selama perusahaan ini berjalan. Tapi Ichank tidak berani memberi tugas di luar kota Bogor, sebab keberadaan Syafa bisa jadi ketahuan Juned dan orang-orangnya.
"Sayang, Adek tidak boleh terlalu cape. Adek sekarang hanya boleh ke pabrik seminggu sekali. Abang rasanya ingin segera memiliki buah hati. Untuk itu jaga selalu kesehatan Adek," peringat Ichank seraya menarik lengan Syafa mengajaknya pulang.
Syafa tersenyum paham dengan apa yang dirasakan suaminya. Selama ini, dia memang menunda kehamilan karena faktor tuntutan pekerjaan, dan juga faktor larangan Bu Diah yang sempat melarang Syafa hamil dulu karena melihat Ichank yang hanya pegawai pabrik.
"Sekarang tidak ada yang larang lagi Adek untuk mengandung, karena abang yang memintanya," ujar Ichank seraya melabuhkan kecupan kasih sayang pada Syafa sang istri.
Di tempat lain, setelah kepulangannya dari Bangka Belitung, tiba-tiba Bu Diah mendapat teror dari pihak Juragan Juned yang menanyakan Syafa yang kini menghilang entah ke mana.
esmosi gua/CoolGuy//Facepalm/
sulit membayangkan
betah amat ngumpul sermh sm mertua bejad/CoolGuy/
sehebat ato sekuat apa bujukan mertua utk tinggal serumah kl sdh bekeluarga usahakan pisah, ngontrak pun jadi mau mkn pake garam tak masalah/CoolGuy/