Lilis tumbuh besar bersama kawan kawannya. Tanpa keluarga, tanpa kasih sayang orang tua. Hanya beberapa teman yang selalu ada. Termasuk seorang remaja bernama Kak Nur. Yang selalu ada dan menjadi pelindungnya, walaupun takdir membuat mereka terpisah.
Lilis behasil meraih mimpi menjadi seorang kowad. Dirinya ternyata berbakat memegang senjata. Dalam kariernya dia mengenal cinta. Juga patah oleh cinta itu sendiri.
Kenapa Lilis patah? Lalu mampukah ia bangkit kembali meraih bahagia? Apakah Lilis kembali bertemu Nur lagi?
Bagi yang sudah membaca novel saya, mungkin anda sudah mengenal tokoh ini. Dalam novel ini akan ada orang yang ada kira jahat, ternyata tidak sejahat itu. Dan orang yang anda kira baik, ternyata tidak sebaik itu. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan tokoh, tempat, dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon utiyem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku hanya mencintaimu
Ternyata Yono dan Lita membelikan banyak oleh2 untuk teman teman Lilis dan Herman di barak. Lilis sampai tidak enak hati.
"Gak repot, cuma makanan. Nanti dibagi sama teman barak perempuan. Satu buat kamu, satu buat Herman," kata Lita. Menyiapkan dua kardus besar. Langsung diterima Herman dan memasukkannya dalam bagasi mobil. Orang tuanya berniat membakar secara tak terlihat. Pria itu makin murung.
Sepanjang perjalanan pulang Herman tetap beku. Mukanya ditekuk maksimal. Lilis sampai bingung sendiri dengan perubahan sikap Herman.
"Kakak sakit? Kakak capek? Mau aku gantiin nyetir?" tawar Lilis pada Herman. Pria itu melirik sebentar gadis di sampingnya. Kemudian menggeleng.
"Aku… hanya sedikit lelah. Tidak apa," kata Herman memaksakan senyumnya. Berkali Lilis menawarkan gantian nyetir. Akan tetapi Herman terus menolak. Akhirnya Lilis mengisi perjalanan itu dengan menyanyi. Dengan gitar Herman yang dibawa dari rumahnya. Suara Lilis yang enak membuat Herman merasa lebih baik.
Mereka tiba di asrama saat sudah siang. Sudah lewat jam makan siang malah.
"Aku kembali ya," pamit Herman saat menurunkan Lilis di baraknya. Gadis itu mengangguk. Mungkin maksudnya kembali ke rumah dekat asrama. Pikir Lilis. Padahal Herman ke kota asalnya untuk perjodohan. Herman mengusap pipi Lilis pria itu seakan tidak mau meninggalkan cinta pertamanya demi menghadiri perjodohan orang tuanya. Lilis menangkap tangan Herman di pipinya. Mencium telapak tangan pria itu.
"Mungkin….. aku harus membiasakan diri mulai dari sekarang. Mencium telapak tangan Kakak," kata Lilis bahagia. Herman tersenyum. Kemudian melambai pada Lilis masuk mobil. Demi agar Lilis tidak melihat tumpahan air matanya.
Tere berebut dengan Sri karena oleh oleh dari Lita.
"Astaga!! Itu banyak Kak," kata Lilis tidak percaya. Dua seniornya mirip anak anak.
"Aku suka yang ini…. Pokoknya yang ini,"
"Ini punyaku….," Tidak ada yang dengar perkataan Lilis. Biarlah, mereka mengeluarkan sisi kekanakan dan manja. Hal yang hilang dari para tentara wanita saat mereka mengikuti pendidikan pertama ketentaraan.
***
Herman memakai kemeja Hitam slim fit. Memperlihatkan sedikit lekuk otot lengannya yang kekar. Baju yang disiapkan Lita. Sebenarnya Herman mau pakai singlet saja. Agar ilfil keluarga calon besannya. Akan tetapi pria itu juga akan mempermalukan nama besar ayahnya. Hah, Herman masih mencari cara agar batal perjodohan ini tanpa memalukan semua orang.
Sidiq tercengang tidak percaya kalau mereka akan makan malam dengan calon kakak ipar yang lain.
"Ini gimana konsepnya Bu? Mas Herman mau dua istri?" kata Sidiq sambil garuk garuk kepala. Duduk di jok belakang bersama Herman yang beku. Terlihat gurat kesedihan di matanya.
"Bukan, ini calon kakak iparmu yang sesungguhnya. Yang kemarin cuma cinta pertama. Dimana mana cinta pertama itu tidak akan berhasil," kata Lita.
"Ayah dan ibu juga hasil perjodohan. Buktinya awet sampai sekarang. Cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Yang penting restu orang tua. Berbakti itu tidak membantah. Jadi apa kalian kalau tak ada Ayah," tambah Yono di samping istrinya. Sidiq melirik masnya. Tatapan Herman yang kosong dan nanar. Sejujurnya dia merasa kasihan. Akan tetapi Sidiq mengerti jelas kalau Jenderal Yono tidak pernah mau dibantah.
Pertemuan keluarga berlangsung lancar. Gadis itu cukup manis di mata Herman. Dia tidak tega menyampaikan kalau dirinya sudah melamar orang lain. Gadis itu juga seorang tentara wanita.
"Angkatan tahun berapa?" tanya Herman terpaksa. Demi menghindari tatapan maut dari sang ayah, karena Herman terlalu beku.
"Tahun xxxx, Mas," jawab gadis itu lembut. Herman menunduk. Itu tahun angkatan yang sama dengan Lilis. Gadis itu satu leting dengan Lilis. Ah, Lilis….. Herman bimbang sendiri.
***
Pagi hari tiba. Lilis terkejut ternyata Herman meminta tambahan cuti. Apa dia sakit? Lilis berinisiatif menghubungi Herman usai apel pagi. Akan tetapi panggilannya selalu tidak terjawab. Gadis itu semakin khawatir.
"Kak Edy, tau gak kenapa komandan tidak berangkat?" tanya Lilis pada sobat terdekat Herman di sini. Edy justru terbengong.
"Lha, aku baru mau nanya kamu Lis, kemarin bukannya kalian cuti bersama?" tanya Edy balik. Lilis pun meminta alamat rumah pribadi Herman.
Akan tetapi karena kesibukan yang luar biasa padat, Lilis baru sempat mengunjungi rumah Herman malam hari. Rumah mungil itu sepi. Bahkan mobil Herman tidak nampak.
"Permisi…. Selamat malam. Kak Herman, Kak," ucap Lilis. Setelah berkali kali memencet bel dan tidak ada respon. Suaranya kali ini juga tidak direspon. Lilis bingung sendiri. Herman tidak ada, atau terjadi sesuatu? Seharian pria itu tidak membalas pesan pesan Lilis. Saat itu terlihat sorot lampu mobil mendekat. Lilis mengangkat tangannya demi sedikit meredupkan mata dari sorot itu.
Ternyata sorot lampu mobil Herman. Pria itu turun dan berlari mendekati Lilis. Langsung merengkuh Lilis dalam pelukannya. Erat sekali Herman memeluk kekasih hatinya. Juga menciumi rambut dan leher Lilis.
"Kak Herman dari mana?" tanya Lilis heran. Pria itu justru akan menyambar bibir Lilis yang bersuara. Lilis berkelit. Mereka ada di tempat umum. Lebih tepatnya jalan di depan rumah pribadi Herman.
"Apaan sih. Kaya udah lama gak ketemu aja," kata Lilis sambil melepas pelukan. Dia melihat setitik air mata Herman.
"Kakak kenapa?" tanya Lilis panik. Seorang tentara jarang meneteskan air mata.
"Tidak…. Aku…. Hanya kangen kamu," kata Herman. Mengajak Lilis masuk ke rumah pribadinya, tapi gadis itu menolak dengan alasan sudah malam. Juga…. Sangat tidak etis untuk mereka. Sepasang kekasih berada dalam rumah berdua malam malam.
"Mungkin kita tidak ngapa ngapain, tapi aku males dibicarakan ngapa ngapain. Lain kali balas pesanku. Jangan bikin aku khawatir. Kemana saja kau ini? Kenapa ambil cuti tambahan?" kata Lilis sangat panjang lebar untuk versinya. Herman tersenyum. Ini pertama kalinya Lilis mengomel untuknya.
"Hei, mau kusuruh push up kau? Ditanya malah senyam senyom. Aku butuh suara. Bukan senyumanmu!" kata Lilis sok galak. Sok jadi Herman kalau marah sebagai perwira. Pria itu gemas dan mengacak acak rambut lurus milik Lilis.
"Kau tidak mau masuk, tapi membuatku gemas. Itu menyiksa," kata Herman tersenyum lebar. Senyum tulus pertamanya dari kemarin. Lilis lega melihat senyum Herman yang biasanya.
"Aku pulang, Kak Tere bisa menguliti hidup hidup kalau terlalu lama disini," kata Lilis menuju motornya. Herman melambaikan tangannya. Lilis menstarter motornya. Saat sudah melaju sedikit Herman memanggilnya dengan suara keras.
"Lilis!" Gadis itu mematikan motornya. Terkejut dengan suara keras Herman. Menoleh pada pemilik suara lagi.
"Aku mencintaimu. AKU HANYA MENCINTAIMU," kata Herman sangat menegaskan kalimat terakhirnya. Lilis tersipu malu. Sekilas dia melihat tira tirai yang tersibak dari beberapa rumah tetangga Herman. Mereka sedang diawasi cctv terbaik di negeri ini.
"Aku tahu, selamat malam," kata Lilis kemudian cepat berlalu dengan motornya.
maklum y thoor masih terbiasa bca yg happy ending.
Nah, ws thor... aku promosikan lagi tuh