Menikah atau masuk penjara!
Sebuah pilihan sulit di berikan kepada Alana. Haruskah dia menikahi laki laki asing tanpa cinta?
Tapi jika dia tidak mau, penjara sudah menantinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irda Irwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Jangan samakan dengan Danya!
Dia dendam padaku, desis Mama Alana pelan.
"Mama bicara apa? " tanya Alana sambil mengangkat sebelah alisnya.
Dia sesayup mendengar mamanya mengucapkan sesuatu.
Mama Alana bimbang sejenak. Dia takut jika Alana tahu yang sebenarnya, anaknya itu akan membencinya.
Namun, akan lebih berbahaya lagi jika Alana tahu dari orang lain. Apalagi kalau orang itu adalah Adya Featherington.
"Begini, Al. Mama mau mengatakan sesuatu, " kata Mama Alana dengan raut muka serius.
"Waktunya sudah habis, " mendadak Adya muncul dari balik pintu yang tiba tiba terbuka.
Mama Alana terpaksa menelan lagi sejumlah kalimat yang hendak keluar dari mulutnya.
"Aku masih mau bicara dengan Mama, " tolak Alana.
"Kami baru saja bertemu, " kata Mama angkat bicara.
"Ayo, " kata Adya tanpa mengindahkan keberatan Alana dan Mamanya.
Dia menarik tangan Alana dengan keras sampai akhirnya Alana terpaksa berdiri dari atas sofa.
"Ma, aku pergi dulu. Nanti kita bicara lagi, " kata Alana sebelum dia melangkah ke laut dari kamar.
"Tidak bisakah aku punya waktu lebih banyak dengan anakku sendiri? " kecam Mama Alana.
"Sekarang aku adalah suaminya. Aku yang lebih berhak, " jawab Adya dingin.
Hah, dasar mantu lucknut, sumpah Mama Alana dalam hati.
"Aku tidak perduli meski anda mengutuk aku sekalipun, " seringai Adya .
"Aku ingin membuat masalah ini jelas, " kata Mama Alana.
"Persoalan ini adalah persoalan antara aku dan keluarga Featherington. Tidak ada hubungannya dengan Alana. Tolong lepaskan dia. Dia masih muda. Dia punya banyak cita cita. Dia bahkan sudah mendaftarkan diri untuk kuliah lagi. Dia punya masa depan yang cerah.... "
"Masa depan dia bahkan lebih cerah dengan menjadi istriku, " potong Adya.
"Anda bisa tidur di kamar ini. Aku akan tidur dengan istriku, " sambungnya sambil melangkah pergi.
Bocah kurang ajar! Mimpi apa aku punya mantu durhaka begini? batin Mama Alana menyumpah.
Dia hanya bisa menyumpah nyumpah dalam hati.
*****
Kamar Penthouse B
Begitu masuk ke kamar, Alana melihat Kim sudah duduk di atas sofa. Dari wajahnya yang masih terlihat segar, sepertinya dia belum terlalu lama menunggu.
Alana segera meminta Kim untuk membantunya membuka gaun penganten ini dengan secepat mungkin.
Kim mengiyakan dengan menahan senyum.
Dasar penganten baru, batinnya. Begitu terburu buru nya untuk mengganti gaun penganten dengan baju dinas malam.
"Kamu mau menggantinya dengan yang mana? " tanya Kim begitu dia selesai membantu Alana melepaskan gaun penganten nya.
Dia mengangkat beberapa gantungan baju yang masing masing sudah terisi dengan sebuah pakaian.
Alana mengernyitkan dahi melihat baju yang tergantung pada gantungan baju itu.
"Baju apa itu? " tunjuk nya bertanya.
"Ini namanya baju dinas malam pengantin baru, " jawab Kim dengan suara menggoda.
"Baju dinas malam penganten baru? " ulang Alana heran.
Dia menatap satu persatu baju yang tergantung di gantungan itu.
Bahannya tipis, setipis saringan terigu. Berbagai macam warna tapi transparan. Bagian depan membelah dada sementara bagian belakang terbuka sampai batas pinggang.
Model bajunya mengerikan! batinnya bergidik.
"Baju apa itu! Aku tidak mau pakai, " kata nya menolak.
"Penganten wanita bisanya memakainya baju ini untuk suaminya di malam pertama, " jawab Kim bersikukuh.
"Biarkan saja mereka, aku tidak mau, " tandas Alana sambil berjalan ke sudut kamar. Ke tempat kopernya berada.
Dia melihat sebuah koper berwarna royal blue, yang berukuran besar, berbahan serat karbon dan kulit buaya. Koper yang sangat mahal!
Koper ini bukan milik nya!
Dia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari kopernya. Namun dia tidak menemukannya.
"Kamu cari apa? " tanya Kim ingin tahu.
"Koper, " jawab Alana pendek.
"Bukankah itu koper? " ujar Kim seraya menunjuk koper berwarna royal blue itu.
"Itu bukan punya ku, " jawab Alana.
Siapa yang mau mengambil koper ku? Koper itu hanya berisi pakaian, batinnya bingung.
Dia menengadah ke atas plafon. Dia tidak menemukan kamera CCTV di sana.
Sudah di ambil rupanya, gumamnya pelan.
Sekarang dia tidak tahu siapa yang mengambil koper itu.
"Apakah koper berwarna coklat berbahan kulit sintetis? " tanya Kim.
Alana mengangguk cepat.
"Koper itu sudah di buang, " kata Kim.
"Di buang? Siapa yang membuangnya? Koper itu isinya semua baju baju ku! " teriak Alana nyaris histeris.
Semua baju di dalam koper itu adalah baju yang baru saja dia beli. Dia menghabiskan
sekitar 10 ribu poundsterling untuk membelinya!
10 ribu poundsterling nilainya hampir 200 juta rupiah.
"Tenang, " kata Kim menenangkan.
"Aku di minta Pak Adya untuk mempersiapkan semua kebutuhan kamu untuk bulan madu. Aku sudah melihat isi koper itu. Dan menurut ku, semua bajunya tidak cocok untuk di pakai penganten baru, " jelasnya.
"Apa? " teriak Alana tertahan. "Semua baju di dalam koper itu baru aku beli. Bahkan ada yang belum di pakai, " tambahnya menahan marah.
Dia memang sengaja membeli banyak baju baru, untuk berjaga jaga siapa tahu ketemu ibu tiri dan anaknya itu.
Sayangnya dia tidak ketemu dan malah bajunya di buang begitu saja.
"Hehehe.... jangan marah begitu, " senyum Kim santai.
"Koper itu sekarang berada di rumah Pak Adya. Aku sengaja membawanya ke sana supaya kamu tidak memakainya di malam penganten. Aku paham penganten baru biasanya malu malu, " lanjutnya menenangkan Alana.
Bukannya aku malu malu, tapi aku tak sudi memakai baju itu di depan Pak Adya, omel. Alana dalam hati.
******
Ballroom hotel
Setelah keluar dari kamar Penthouse A yang sekarang di huni Mama Alana, Adya kembali ke ballroom untuk menyapa kolega bisnisnya.
"Istri lo cantik juga, " kata Farsad Farleigh, salah seorang kolega dan juga sahabatnya.
"Gue ga nyangka lo bisa juga move on dari Danya, " dia menambahkan sambil menepuk bahu Adya.
"Jangan samakan dengan Danya, " tukas Adya sembari menepis tangan Farsad.
Dia benci diingatkan dengan nama itu. Nama itu membuat dia harus mencari pelarian dengan banyak perempuan . Namun tetap saja dia tidak bisa melupakannya. Sampai saat ini!
******
Kamar penthouse B
Alana menggulung tubuhnya dengan selimut se erat mungkin. Dia juga mematikan lampu. Dia berharap jika Adya masuk dan melihat lampu telah di matikan, laki laki itu tidak akan menganggu nya.
Krek, pintu di buka dari luar, di sertai langkah kaki masuk ke dalam kamar.
Alana semakin mempererat selimutnya. Jantungnya berdetak kencang tanpa bisa dia kontrol. Tubuhnya gemetar dalam selimut.
Tiba tiba kamar yang gelap menjadi terang menderang. Adya menyalakan lampu.
Alana mengatupkan mata. Dia memilih untuk pura pura tidur.
Hah, Adya mendengus.
"Bangun! " sentaknya sambil menarik selimut yang membungkus tubuh Alana.
"Jangan! " teriak Alana sambil membuka mata. Dia mempertahankan selimut itu dengan sekuat tenaga.
Adya tak memperdulikan teriakan Alana. Dia terus menarik selimut itu meski Alana bersikeras melawan.
Tapi tentu saja, tenaga Alana tidak sebanding dengan tenaga Adya.
Tanpa menunggu waktu lama, selimut itu terlepas dari tubuh Alana.
****
Lanjut bab 22 genks🥰