Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra part 1
"Jangan lari, Sayang!"
Tia terengah-engah mengejar putranya. Dion, bocah laki-laki berusia tiga tahun itu berlari sangat kencang menghindari kejaran ibunya. Jika ada lomba lari anak usia tiga tahun, Dion pasti menang.
Untuk anak seusianya, Dion terlalu cepat saat bermain kejar-kejaran. Sang Ibu kewalahan setiap kali anak itu mengajaknya bermain di taman. Ia tidak sanggup berlari lagi dan memilih duduk berselonjor di trotoar taman.
"Aduh! Sakit sekali pinggangku. Sudah dihajar bapaknya semalam, dikerjai anak di pagi hari. Ya Tuhan, jangan sampai tulang-tulang di tubuhku ini patah," gerutu Tia.
Sebuah tangan mengulurkan sebotol minuman padanya. Tia menengadah dan tersenyum. Erwin membelikan sari jeruk untuk istrinya yang terlihat sangat kelelahan.
"Capek?"
"Jangan ditanya. Anak kamu itu kuat sekali larinya. Dia tidak merasa lelah sama sekali. Lihat! Sekarang malah naik pohon seperti itu," jawab Tia lalu menenggak minuman berperisa jeruk itu sampai habis setengah botol.
"Aku tidak melahirkan," celetuk Erwin.
"Maksudnya? Kamu tidak mengakui Dion sebagai anakmu, begitu?" tanya Tia dengan kesal. Ia bangun dan menjejakkan kaki dengan keras ke tanah. Entah karena emosinya yang sedang tidak stabil atau karena ia sedang kelelahan? Akhir-akhir ini, Tia sedikit sulit diajak bergurau.
Semua ucapan Erwin selalu ditanggapi serius oleh Tia. Beberapa hari yang lalu, mereka juga bertengkar karena Erwin menggodanya. Laki-laki itu memuji gadis SMA yang lewat di depan rumahnya.
Tia cemburu dan marah besar. Ia bahkan tidak mengijinkan suaminya tidur di kamar selama seminggu. Setelah mereka berbaikan dua hari yang lalu, Erwin kembali membuat istrinya marah.
"Jangan ngambek dong, Sayang. Aku cuma bercanda. Kenapa kamu menganggap serius?"
"Kamu pikir hal itu pantas untuk dijadikan bahan candaan, Mas? Bagiku tidak," jawabnya sambil berlari menghampiri Dion.
Sebuah mobil berjalan zig-zag mengarah lurus ke arah Tia. Erwin yang awalnya berdiri menatap sang Istri, berlari sambil meneriakkan nama wanita itu. "Tia! Awas!"
Brum!
BRUKK!
Benturan keras terdengar memekakkan telinga. Erwin berhenti berlari, tertegun memandang mobil yang telah berhenti dengan kondisi hancur. Napasnya memburu, kedua mata bening dan tegas itu berkaca-kaca.
Kenangan masa kecilnya saat kehilangan sang Ibu, membuat kedua kakinya terasa lemas bagai tak bertulang. Ia terjatuh berlutut dengan pandangan tak beralih dari mobil. Air mata mengalir tanpa tangisan.
Semua pengunjung taman mengelilingi mobil itu. Mereka terlihat bergidik ngeri melihat kondisi tubuh korban kecelakaan. Bahkan, salah seorang wanita sampai muntah-muntah.
"Ya ampun, kasihan sekali wanita itu," ucap salah seorang wanita yang menggendong bayi berusia kurang lebih enam bulan.
"Iya. Kasihan sekali," timpal yang lainnya.
Wanita itu mendekap anaknya erat-erat. Merelakan nyawanya untuk melindungi sang buah hati. Semakin lama, napasnya semakin menipis, dan akhirnya ia mengembuskan napas yang tersisa. Anak kecil itu menangis meraung, tapi tidak ada yang berani membantunya.
"Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun," ucap para pengunjung.
Erwin berdiri secepat kilat, berlari ke arah kerumunan. Menerobos orang-orang yang berdiri mengelilingi tempat kejadian. Matanya melebar melihat wanita yang tergeletak bersimbah darah.
"Dia bukan Tia." Erwin mengedarkan pandangan dan mendapati sang istri berdiri di belakang kerumunan sambil menggendong Dion. Satu tangannya menutupi mata anak kecil itu agar tidak melihat mayat korban kecelakaan.
"Mas Erwin!"
Erwin segera menghampiri anak dan istrinya. Mengucap syukur berkali-kali. "Alhamdulillah. Aku sangat takut tadi. Kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"
"Aku baik-baik saja, Mas. Mobil itu hanya lewat di belakangku. Tapi … kasihan sekali wanita itu." Tia menatap iba pada anak kecil yang menangis di samping mayat wanita itu. "Bolehkah kalau kita ambil anak itu?"
Erwin dan Tia memandangi para petugas ambulans yang baru saja tiba. Salah seorang warga menelepon mobil ambulans sesaat setelah kejadian. Mereka ingin mengadopsi anak itu, tetapi harus melewati prosedur hukum.
Anak kecil itu dibawa ke rumah sakit bersama mayat sang Ibu. Petugas kepolisian menyelidiki asal-usul wanita itu dan mendapati kenyataan bahwa wanita itu yatim piatu. Ia sudah menjanda karena ditinggal mati oleh suaminya.
*BERSAMBUNG*
Jangan lupa dukung author dengan like novel ini sebelum membaca ya reader terima kasih
Selamat membaca, love u.