Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.
Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Meski tengah mengalami musibah, Adnan tetap masuk kantor. Tatapannya semakin tajam memperhatikan gerak gerik orang yang dicurigai. Salah satunya Senja. Perempuan itu pernah terang-terang menunjukan perasaan padanya.
Sebelum masuk ruangan, Adnan tatap dua perempuan yang jadi asistennya. Sekilas tidak ada yang berubah. Mereka tetap fokus pada pekerjaan masing-masing.
Meski begitu Adnan tak ingin kecolongan sehingga dia kembali menggunakan jasa orang untuk mengawasi mereka berdua. Adnan juga sempat memanggil mereka untuk membahas data proyek yang bocor.
"Saya gak ngerti kenapa data itu bisa bocor. Senja, kamu yang mengerjakan kan?"
"Benar, Pak. Tapi saya tidak membocorkan data itu pada siapa pun?"
"Begitu? Tapi kenapa data yang dipakai lawan itu sama persis dengan data yang kamu kerjakan. Kamu sedang main-main dengan saya?"
Senja melirik Gisha yang juga tengah menunduk di hadapan Adnan.
"Apa yang mereka tawarkan? Uang, jabatan, atau tawaran jadi simpanan?"
Kepala yang sejak tadi menunduk kini tengadah menatap berani pada Adnan.
"Demi Allah saya tidak seperti yang bapak tuduhkan. Saya tidak menyimpan salinan atau apa pun setelah data itu saya berikan pada anda. Kemarin yang menemani bapak meeting bukan saya," ucapnya tak menerima sekaligus secara tidak langsung menuduh Gisha.
"Kamu menuduh saya?" Gisha ikut mengangkat kepala.
"Tidak. Saya hanya bilang, kemarin yang menemani Pak Adnan bukan saya dan orang terdekat beliau bukan hanya saya sama kamu kan." Senja menatap sengit.
"Tapi kamu melirik saya, itu sama saja dengan menuduh." Gisha menoleh pada Adnan, "kalau Pak Adnan ikut menuduh saya. Atas dasar apa saya melakukan kecurangan kepada anda yang selama ini sudah bersikap baik pada keluarga saya. Saya tahu bagaimana cara membalas budi, Pak."
Adnan tatap keduanya, kemudian membuang nafas kasar.
"Serigala itu pandai berkamuflase. Bersembunyi dibalik bulu domba yang menggemaskan," ujar Senja.
"Oke cukup! Saya memanggil kalian bukan untuk berdebat di hadapan saya. Saya hanya ingin tahu siapa yang membocorkan data itu. Kalau kalian tidak merasa ya sudah kembali ke tempat kerja kalian," putus Adnan.
Keluar dari ruangan Adnan, Gisha dan Senja saling lirik tajam.
"Saya akan pastikan pengkhianat itu bukan saya," ucap Senja.
"Oh ya? lalu siapa? saya. Kamu yang cintanya bertepuk sebelah tangan, Senja. Mungkin saja karena sakit hati lalu kamu berbuat curang. Jangan melemparkan kesalahan pada orang lain," tekan Gisha kemudian duduk di depan layar dan kembali bekerja.
Sejak perdebatan itu sampai jam kerja berakhir, mereka tak lagi saling menyapa. Makan siang yang biasanya keluar bareng kini memilih mengikuti ego masing-masing.
Adnan tak ingin ambil pusing dengan masalah mereka. Dia hanya perlu tahu seseorang itu siapa dan di mana mereka menyembunyikan Vano.
Saat pulang kerja tiba, Adnan langsung mengirim pesan pada dua orang yang menunggu di bawah.
"Mereka baru keluar, ikuti dari jarak aman. Jangan sampe mereka menyadarinya."
Dua orang itu mengangguk setelah membaca pesan kemudian menggunakan helm dan naik ke motor masing-masing.
Saat target melewatinya barulah mereka mengikuti
Setengah perjalanan tidak ada yang mencurigakan. Sampai pada persimpangan motor senja diserempet mobil dan membuat Senja jatuh.
"Pak, Senja di serempet mobil. Tapi sampai dia tiba di rumah, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan."
"Tentang mobil itu?" Adnan bertanya karena bisa saja Senja menyadari dirinya diawasi kemudian membuat akal-akalan.
"Saya sempat memfoto nomor kendaraan, Pak."
Berdiri di dekat kaca dan menatap langit yang dihiasi keindahan kuningnya senja, Adnan pejamkan mata. Teriring doa untuk putranya yang sekarang entah ada di mana.
Nak, semoga kamu kuat. Semoga mereka memperlakukan kamu dengan baik. Papa janji tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja. Kita akan kembali berkumpul dalam keadaan kamu selamat.
Di tempat lain, Luna kedatangan Aas bersama suami. Aziz turut serta saat semalam diberi kabar oleh saudaranya.
"Maaf saya baru mengatahui hal ini semalam, Luna," ujar pria itu.
"Tidak apa-apa, Mas. Naumi sehat?"
"Alhamdulillah baik, semalam juga dia menanyakan Vano dan ingin ikut ke sini. Tapi karena keadaan sedang seperti ini kalau dibawa takutnya merepotkan. Kabar terkahir dari polisi bagaimana?"
"Mereka susah sekali dilacak. Sepertinya ini memang sudah direncakan sedemikian rupa. Tapi polisi masih berusaha," ujar suami Aas. "Kabar dari Adnan gimana, Lun?"
"Semalam saat kami pulang, orang bayaran Adnan bilang kalau mereka menemukan mobil yang digunakan para penculik itu di belakang terminal. Anehnya cctv mereka tak terekam cctv."
Di tempat mobil itu di temukan, orang-orang Adnan juga polisi tengah mencari petunjuk dan memetakan kemungkinan Vano dibawa.
"Kemarin sore itu saya sempat melihat beberapa orang dari mobil ini keluar. Mereka menggunakan pakaian serba hitam, wajahnya juga ditutupi hoodie, Pak," ujar salah seorang warga yang ditanyai petugas polisi. "Mereka jalan ke arah sana terus masuk ke mobil putih."
"Kaf, cari petunjuk di sana," titah komandan mereka.
Mereka menyisir jalanan itu hingga akhirnya menemukan cctv yang terpasang di salah satu rumah warga.
"Kami dari kepolisian izin melihat cctv hari kemarin, Pak." Salah satu polisi meminta izin pada pemilik rumah.
"Boleh, boleh."
Setelah diizinkan mereka kemudian membuka file yang menyimpan otomatis hasil rekam setiap jam. Dari sana akhirnya mereka mendapatkan nomor kendaraan mobil itu.
Kemudian mereka menghubungi Ditlantas untuk melacak nomor kendaraan tersebut. Sampai akhirnya mereka menemukan bahwa mobil itu bergerak ke arah Banten.
Adnan yang mendapat kabar itu langsung meraih kunci mobil untuk menyusul.
***
"Om katanya aku bertemu ayahku," ucap Vano pada pria berambut panjang yang ditugaskan menjaganya.
"Iya, ayahmu di surga kan? Jadi kamu akan menyusulnya. Sabar ya anak ganteng." Tatapan bengis itu membuat Vano kembali menunduk takut.
Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka dan perempuan itu datang lagi. Berjalan sedikit pincang ke arah Vano yang masih menunduk takut.
"Ah Josh kamu membuatmu ketakutan."
"Anak itu rewel dan banyak tanya, Bos," ujar pria bernama Josh itu.
"Sabar dong dia akan menjadi tambang emas kita. Rawat dia dengan baik sementara aku menyiapkan pelelangan." Perempuan itu mengusap rambut Vano kemudian mengangkat wajah Vano hingga menatapnya.
Vano mengamati wajah yang rasanya tidak asing. Rasa takutnya sedikit memudar.
"Tante, aku pulang. Kasian ibu di rumah pasti sedang nungguin aku."
"Belum waktunya pulang, kan ayah belum datang. Tunggu sebentar lagi ya. Sekarang Vano mandi dan ganti baju dengan ini."
"Ambil! Vano gak enak kan dari kemarin belum mandi?"
Anak itu mengangguk dan beranjak ke kamar mandi.
"Kenapa dengan kaki anda, Bos?" tanya Josh karena perempuan itu meringis.
"