Seorang wanita muda sengaja menyembunyikannya identitasnya, ia bernama YULIANA ALANA, ia ingin menyelidiki kematian orang tuanya menurutnya tidak wajar, ia ingin mengambil perusahaan papanya yang diambil Pamannya setelah kematian orang tuanya, segala rintangan ia hadapi saat ingin mengambil kembali perubahan orang tuanya
Setelah ia menyelidiki ia menemukan bukti yang mengarah pada kemungkinan bahwa kematian orang tuanya adalah ulah dari keluarga besar sang ayah.
Semua anggota keluarga besar mengakui kesalahannya dan menerima konsekuensi.
YULIANA ALANA mengambil kembali kendali atas perusahaan dan mengembalikan kehormatan keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Wisnu bolak balik keruangan Queen tapi Queen tidak datang selama dua hari, ia berkesimpulan kalau Queen sudah berhenti bekerja. Setelah ia pulang ke kontrakannya ia memberitahu kepada Fani kalau Queen sudah dua hari tidak masuk, mendengar kabar itu Fani senang.
"Akhirnya satu penghalang kita sudah pergi, tinggal Alvin bagaimana caranya kita melenyapkannya," kata Wisnu merasa sedang.
"Kamu jangan senang dulu, bisa jadi Dea tidak masuk karena ia sakit akibat tembakan di kakinya," kata Fani.
"Iya juga ya, aku kok tigak kepikiran kesana," ujar Wisnu.
"Kamu coba intai rumahnya!" kata Fani memberi ide.
"Iya, aku akan segera kesana," jawab Wisnu. lalu ia pergi.
**
Sedangkan Alvin sudah dari kemarin ingin pergi kerumah kosong melihat Queen, tapi Queen selalu beralasan ia tidak ada di tempat membuat Alvin tidak jadi datang kerumah kosong, karena Alvin merasa Queen menyembunyikan sesuatu darinya, ia ingin pergi hari ini kerumah kosong memastikan keadaan Queen.
Dari kejauhan Alvin melihat ada orang mengintai di jendela kamar rumah kosong, Alvin mematikan seperti motornya agar orang itu tidak tau ia melihatnya.
Sedangkan Wisnu seperti mendengar suara sepeda motor, ia menajamkan pendengarannya suara itu tidak ada lagi.
"Mungkin suara sepeda motor di jalan sebelah," gumam Wisnu, ia terus mengintai rumah kosong, namun ia tidak menemukan keberadaan Queen.
"Kemana dia apa dia sudah tidak tinggal di sini lagi," gumam Wisnu bicara sendiri.
Sementara itu Alvin juga saat ini sedang mengintai Wisnu, ia belum bisa melihat wajah Wisnu karena Wisnu membelakangi dirinya.
"Siapa dia sepertinya dia mengintai kakak Queen, apa dia musuh kakak Queen," gumam Alvin bertanya tanya.
Alvin terus melihat orang yang mengintai rumah Queen, sampai orang itu membalikan badannya Alvin terkejut melihat Wisnu yang mengintai rumah kosong.
"Mau apa dia mengintai rumah kosong, apa pak Wisnu sudah tau kalau kakak Queen tinggal di rumah ini," gumam Alvin.
Sedangkan Wisnu sudah lelah mengintai rumah kosong dari tadi namun ia tidak melihat Queen.
"Sudahlah Aku pulang saja," gumam Wisnu lalu pergi. Alvin terus melihat Wisnu sampai tidak terlihat.
"Dimana pak Wisnu memarkirkan mobilnya," kata Alvin bertanya-tanya karena Wisnu berjalan kaki.
Alvin masuk kerumah kosong ia memeriksa setiap ruangan namun tidak ada tanda tanda Queen ada di tempat itu.
Lalu Alvin kembali menghubungi Queen.
"Halo, ada apa lagi Vin?" tanya Queen setelah menerima sambungan telepon dari Alvin.
"Kakak ada di mana? Aku sudah di depan rumah kosong tapi kakak tidak ada," ujar Alvin.
"Kakak lagi di rumah teman," jawab Queen beralasan.
"Jangan bohong, kakak pasti sudah pindah, barang kakak tidak ada satupun disini," kata Alvin tidak percaya.
"Maafkan kakak Vin, kakak memang sudah pindah," jawab Queen akhirnya jujur.
"Kenapa kakak tidak cerita, apa kakak sudah tidak menganggap aku sebagai adik," kata Alvin protes.
"Bukan seperti itu Vin, kakak semalam buru buru pindah karena pak Wisnu sudah tau kakak tinggal di rumah itu," ujar Queen menjelaskan.
"Kok pak Wisnu bisa tau ya, tadi juga aku lihat dia mengintai rumah kosong ini," kata Alvin.
"Mungkin dia mengikuti kakak saat kakak pulang dari kantor," jawab Queen menduga-duga.
"Bisa jadi, kapan kakak masuk kantor?" tanya Alvin.
"Besok kakak sudah bisa masuk," jawab Queen.
"Ya sudah kalau begitu, sampai jumpa besok," kata Alvin lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Anak ini belum di jawab sudah di matikan, kebiasaan," kata Queen bicara sendiri.
Sementara itu Fani langsung mencecar berbagai pertanyaan setelah Wisnu sampai di kontrakan.
"Bagaimana apa kamu lihat dia?" tanya Queen.
"Tidak, mungkin dia sudah pindah karena ia tau aku sudah mengetahui tempat tinggalnya," Jawab Wisnu dengan lesu.
"Sial! Sepertinya dia lebih cerdik dibandingkan dirimu," kata Fani dengan nada kesal.
Wisnu tidak lagi menjawab ia sibuk memikirkan siapa sebenarnya Dea.
**
Esoknya Queen sudah masuk kantor, kakinya sudah lumayan membaik walau lukanya belum kering tapi tidak lagi separah kemarin.
Wisnu geram melihat Queen sudah masuk kantor.
"Betul kata Fani, ternyata ia belum keluar dari kantor, awas saja dirimu Dea," kata Wisnu dalam hati.
"Dea kamu keruangan saya," kata Wijaya setelah melihat Queen sudah masuk kantor.
"Iya Pak," jawab Queen.
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Queen.
"Kemarin kamu sempat cerita kalau ada yang mencurigakan data keuangan perusahaan, coba kamu ambil datanya aku mau lihat," kata Wijaya.
"Tunggu sebentar Pak," jawab Queen. Lalu Queen keluar dari ruangan pak Wijaya. Selang beberapa saat ia kembali membawa data keuangan perusahaan.
"Ini Pak," ujar Queen menyerahkan data keuangan perusahaan kepada Wijaya. Lalu Wijaya menerimanya.
"Ya sudah kamu kembali lanjut kerja!" ujar Wijaya.
"Baik, Pak," jawab Queen. lalu ia keluar dari ruangan direktur.
Wijaya memeriksa data keuangan dengan teliti, ia baru tau kalau selama ini ada yang bermain di perusahaannya.
"Sial, aku kecolongan bisa bisanya aku tidak tau kalau selama ini ada yang korupsi di kantor ini, aku harus memangil Wisnu ia pasti ikut andil karena semua ada tanda tangannya di setiap pengeluaran, tapi tunggu dulu, selama ini yang memeriksa keuangan kantor kan Fani, apa Fani bekerja sama dengan Wisnu ya?" kata Wijaya dalam hati.
Lalu Wijaya memanggil Putra keruangannya.
"Ada apa bapak memanggil saya," kata Putra setelah ia masuk keruangan Wijaya.
"Kamu awasi Wisnu selama di kantor, laporkan setiap gerak geriknya selama di kantor!" kata Wijaya.
"Baik, Pak," jawab Putra. Lalu ia pergi dari ruangan Wijaya.
Sedangkan Wijaya menghubungi anak buahnya.
"Halo,Bos," jawab anak buahnya.
"Nanti sore kamu buntuti karyawan saya yang bernama Wisnu kemana ia pergi setelah pulang dari kantor, nanti aku kirim fotonya!" kata Wijaya.
"Baik, Bos," jawab anak buahnya. Lalu Wijaya mematikan sambungan teleponnya.
**
Sorenya anak buahnya Wijaya sudah menunggu Wisnu di depan kantor Grand Alana. Mereka memperhatikan semua karyawan siapa saja yang pulang.
Tidak berapa lama yang mereka tunggu keluar, mereka dengan sigap membuntuti kemana Wisnu pulang, Wisnu tidak sengaja melihat ada yang mengikuti dirinya, ia tau betul kalau mereka itu anak buah Wijaya, Wisnu terpaksa membekukan mobilnya ke rumah temanya karena ia tidak mau kalau Wijaya sampai tau dimana ia tinggal.
"Tumben kamu datang ke sini?" tanya Rendi temanya.
"Aku di ikuti orang tidak di kenal, mungkin mereka penjahat yang ingin tau dimana rumahku karena itu aku ke sini," jawab Wisnu.
"Gila kamu, jangan sampai aku kena imbas permasalahan kalian," kata Rendi.
"Iya, kamu tenang saja," jawab Wisnu, lalu ia mengintai orang yang membuntuti dirinya.
Sementara itu anak buah Wijaya saat ini menghubungi Wijaya, ia memberitahu lokasi rumah Wisnu dan memberikan foto rumah Rendi kepada Wijaya.
"Kerja bagu," kata Wijaya merasa puas.
nikmatilah api yg km nyalakan ke Fani, bs merembet kemana mana
sngt menghibur🙏🤗
Ending yg bahagia.. 👍👍☺️
semangat terus berkarya k Yun.. ✊🤗