NovelToon NovelToon
I'M Not A Savior

I'M Not A Savior

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Kontras Takdir
Popularitas:62.2k
Nilai: 5
Nama Author: FantaRiyah

Dikhianati oleh adik angkatnya, di penghujung kematiannya sang ratu iblis menggunakan kekuatan terakhir untuk melakukan perpindahan jiwa.

Jiwa ratu iblis berkelana untuk mencari raga baru dan masuk ke dalam tubuh anak bungsu kaisar yang disebut aib karena lahir dari hubungan gelap kaisar bersama wanita penghibur.

Mengisi raga baru, ia bertekad untuk merebut kembali posisinya sebagai ratu iblis sekaligus membersihkan namanya sebagai aib keluarga kekaisaran. Tapi, apa yang harus dilakukannya ketika sebuah masalah muncul, dimana tubuh baru itu diberkahi oleh dewi penyembuhan yang kemudian dirinya digadang-gadang akan menjadi saintess menjanjikan bagi kekaisaran? Padahal kenyataannya ia adalah ratu iblis, sosok yang jauh dari kekuatan suci apalagi penyelamatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantaRiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22| Mimpi buruk

...Selamat Membaca...

“Akh!”

Seana menyentuh dada kiri yang berdenyut hebat, keringat membasahi piyama tidur lalu ia mendapati bahwa hari sudah larut malam.

Sudah sepekan sejak kabur dari akademi, mungkin dalam dua hari dia sudah harus kembali, tapi baru saja mimpi buruk menghampirinya.

Dia melihat langit Sanguira merah menyala, kabut abu menjadi hitam dan tebal. Monster-monster yang dibiarkan tidur bangkit, perbudakan seluruh ras di sepanjang jalan Diabolus, serta dirinya yang berdiri di puncak kastil Diabolus dengan senyum kemenangan, ketamakan serta kekejaman tak berujung.

“Mimpi buruk, tapi langit seolah menekankan bahwa itu bukan sekadar mimpi.”

Seana berdiri di balkon, menatap langit tanpa bintang. “Pendeta itu bisa melihat segalanya, kan? Haruskah aku menemuinya?”

Seana bergumam, perasaannya jadi tidak tenang. Tidak punya pilihan lain, ia segera memanggil Hell dan meninggalkan istana menuju Sanctia Pantodynamos, menemui Theo.

“Apa yang terjadi?”

Hidung Seana berkerut setelah berhasil menyelinap, menangkap aroma darah yang pekat dan mendapati Theo babak belur dan penuh darah di tempat terakhir kali mereka bertemu.

“Ada apa denganmu? tanya Seana.

Theo tidak bisa mengangkat mata lebih lebar, itu bengkak dan terasa perih. Dia mungkin akan mati jika tidak diobati segera karena luka dalam yang fatal, kalau saja pandai bertarung dan tidak hanya mengandalkan kekuatan dewa, mungkin ia tidak berakhir demikian.

Seana mengembuskan napas, menyalurkan kekuatan penyembuh pada Theo hingga lambat laun luka pria itu pulih. Tidak seperti Ronav, sepertinya luka Theo lebih mudah disembuhkan apalagi pendeta muda itu memiliki banyak keberuntungan.

Theo menatap Seana lekat, tidak berkomentar apapun namun sepertinya menyesali perbuatan sebelumnya.

“Bagaimana bisa kamu terluka?” tanya Seana.

Theo mengatupkan bibir rapat dan menatap arah lain.

“Orang itu pasti sangat membencimu," lanjut Seana.

Theo melirik sekilas sambil mengingat bagaimana Lucas tiba-tiba datang dan menghajarnya tanpa jeda. Pria itu memukulinya dengan keji. Jika memberitahu kebenarannya, Theo tidak yakin bisa selamat untuk kedua kali, ia bergidik hanya dengan membayangkan mata merah Lucas.

“Kamu menyelinap kemari, kan?” Theo akhirnya bersuara.

“Iya.”

Theo melirik Seana was-was, berpikir tidak mungkin gadis kecil itu datang menyembuhkannya lalu hendak menghajarnya, kan? Karena setelah mencari tahu, ia mendapati kabar aneh bahwa katanya putri bungsu kaisar pernah memenggal kepala kesatria.

“Apa yang mau kamu lakukan?”

“Kamu bisa melihat segalanya, kan?”

“Lalu?”

“Aku sudah menyelamatkanmu, jadi bantu aku dengan mata dewamu itu.”

Theo mengerutkan dahi tak senang. “Aku tidak mau membantu iblis.”

Seana mengembuskan napas. “Kamu lihat di atas itu?” Seana mengarahkan telunjuk ke langit.

Di ruang terbuka itu, Theo menyipit demi memperjelas penglihatan dan lambat laun wajahnya jadi pucat sambil memandangi Seana yang telah menyeringai.

“Jika kamu tidak mau membantu, nagaku akan sedikit bermain-main dengan Sanctia.”

“K-kamu gila, ya? Apa kamu tidak takut hukum langit?! Kamu pasti akan masuk ke neraka paling dalam!"

Seana geleng kepala. “Tidak. Soalnya kakekku raja neraka jadi walaupun dapat hukuman, aku akan diperlakukan dengan baik di neraka," kelakarnya.

...***...

Hidup nyaman di neraka karena ada orang dalam. Rasanya Theo masih tidak percaya, tapi ia sangat sayang pada Sanctia Pantodynamos serta penghuninya jadi tidak ada pilihan selain menuruti keinginan Seana. Kalau tahu akan berakhir demikian, ia tidak akan tergesa-gesa membuat masalah waktu itu dan sekarang ia benar-benar dalam masalah besar.

Naga yang Theo ketahui bernama Hell terbang dengan kecepatan penuh, membuatnya kedinginan, mual serta ketakutan.

“Sebenarnya kita mau kemana?!”

Theo berteriak, suaranya nyaris ditelan deru angin yang membuat giginya kering jika hanya sekadar buka mulut.

“Sanguira!" jawab Seana.

Ukh! Theo akhirnya bisa bernapas normal sambil memegang perut yang terasa bergelenyar, pandangannya sedikit kabur seiring kepala sedikit pening. Sepertinya ia butuh latihan fisik karena Seana tampak baik-baik saja.

“Itu adalah Sanguira, kita hanya bisa melihat dari jarak segini.”

Telunjuk Seana terarah pada area laut terselimut kabut, tempat itu terlihat kecil karena mereka berada sangat jauh. Benar saja, kabut itu bukan lagi kelabu melainkan agak hitam, perasaan Seana semakin tak nyaman.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Theo menarik napas agar lebih baik.

“Gunakan matamu untuk melihat dibalik kabut tebal itu, setidaknya aku harap kamu bisa menembus tiga gerbang.”

“Tiga gerbang?”

“Lakukan saja.”

Theo berdecak dan mulai memusatkan konsentrasi dengan mata terpejam. Setelah empat puluh detik berlalu, pria itu langsung melotot, matanya bersinar tajam ke emasan, sangat indah. Seana mengerutkan dahi karena kedua tangan Theo mengepal kuat di atas paha, wajahnya pun berubah pias.

“Ukh!”

Theo langsung menutup mata, keluar darah di sepasang sudut matanya. “Aku hanya bisa menembus dua gerbang aneh sebelum sebuah mata merah pekat muncul dan melawan penglihatan ku di gerbang ketiga.”

Seana mengernyitkan dahi. “Kembali sekarang, Hell,” perintah Seana.

Setelah kepergian Seana beberapa waktu lalu, seorang pria tinggi ramping dengan setelan formal mengudara dari kejauhan.

“Ada apa, Hans?” tanya Grisa.

Hans, penjaga gerbang ketiga sekaligus utama itu melirik Grisa. “Seseorang baru saja muncul dan berusaha melihat ke dalam Diabolus.”

“Dia bisa menembusnya?”

Hans geleng kepala. “Tidak, sepertinya kemampuannya belum tinggi. Hanya saja bahaya jika nanti dia semakin kuat dan menembus penjagaanku.”

“Jadi apa yang mau kamu lakukan?”

“Aku akan mencari dan membunuhnya.”

...***...

Dua hari kemudian, Seana telah bersiap untuk kembali ke akademi jadi sebelum itu menemui Lucas dan berkata agar mengawasi Theo lebih ketat.

“Kenapa aku harus melakukannya?”

Lucas mengerutkan dahi tak senang. Sejujurnya dia terkejut ketika lusa kemarin mendapati Theo dalam kondisi sehat, tanpa luka sama sekali padahal dia berharap pemuda itu mati tanpa sepengetahuan orang lain dan menjadi tengkorak di bagian Sanctia yang terabai.

“Kenapa dia tidak mati saja, sih, malam itu,” gerutu Lucas, nyaris berbisik namun Seana menangkapnya jelas.

“Gila, jadi pelakunya kamu?” Seana terbelalak sambil mengusap wajah kasar.

“Apa kakak suka lawan yang tangguh?”

“Tapi pendeta itu tidak tangguh sama sekali, dia lemah.”

“Dalam waktu dekat akan muncul orang kuat yang hendak membunuhnya.”

“Bukankah justru bagus? Dengan begitu rahasiamu tidak akan bocor.”

“Aku membutuhkannya, Kak! Matanya sangat berharga!”

Lucas mendecih sambil membuang pandangan. “Apa matanya begitu memikatmu?”

“Ya, ampun, dia sangat kekanak-kanakan.” Seana mengeluh.

“Bukan begitu. Kakak juga tahu, kan, kalau matanya bisa melihat apapun. Aku membutuhkan kemampuannya itu.”

Lucas mendengus, mengalah dan menuruti Seana namun ada hal yang ia minta sebagai syarat.

Kaisar ditemani beberapa anggota keluarga berdiri untuk melepas kepergian Seana ke akademi dan Lucas menggendongnya masuk ke dalam kereta kuda. Semua bersikap biasa aja, tapi saat Seana mendaratkan ciuman singkat di pipi kanan Lucas, semuanya melotot dengan celah besar di antara bibir.

“Syaratnya mudah sekali,” Seana membatin.

Lucas hanya minta sebuah ciuman di pipi sebelum dia masuk kereta kuda, pikiran manusia memang sulit ditebak itulah pikir Seana namun, ketika dia melihat kaisar dan saudara lain jauh di belakang Lucas, mereka memasang wajah terkejut dan murung.

Apa yang terjadi? Seana bertanya-tanya.

Sementara itu, di waktu bersamaan tepatnya di Istana Ikhstar Diabolus.

Para pilar penjaga Diabolus tidak pernah menduga bahwa Algrus menghancurkan rencana sendiri dengan membangunkan kembali Femina. Mereka semua bersujud dan minta maaf karena telah melakukan kesalahan besar hanya agar Femina bisa bersikap lebih tegas pada ras lain.

Casara diam sejenak, sinar matanya berkilat ketika memperhatikan satu persatu iblis-iblis terkuat di hadapannya. “Kamu pasti pimpinannya.”

Lucane mengerutkan dahi ketika Casara menatapnya tajam, tatapan asing bagi Lucane.

‘Apa yang terjadi?’Algrus mendapat tatapan seolah mempertanyakan hal itu kemudian ia maju dan memberitahu bahwa penyegelan tidak mampu membuat Femina tidur lebih lama karena wanita itu kekuatannya sangat besar dan sebagai efek samping, Femina kehilangan banyak memori.

“Benar, Master.” Lucane menjawab pertanyaan Casara sebelumnya.

Casara mengulum senyum. “Kalau begitu pimpin anggotamu untuk membantai bangsa peri di Naturelis, bawa pimpinannya hidup-hidup di hadapanku.”

“Apa?” Mata Briana bergetar, suaranya nyaris tidak keluar.

Bangsa peri adalah ras yang sangat disukai masternya, jika mereka menyentuh manusia atau bangsa lain dengan sedikit kasar maka master tidak begitu mempermasalahkannya tapi jika itu bangsa peri maka ... mereka akan dihukum karena katanya hanya bangsa peri yang begitu memperhatikan alam. Mengusik kehidupan para peri baik berarti menyakiti alam, begitulah katanya.

“Kenapa? Apa itu begitu sulit?” Casara menunjukkan ketidaksenangan pada Briana.

“T-tentu tidak, Master.” Briana segera tunduk.

“Master?” Casara bergumam, sorot matanya tidak tertarik sebelum akhirnya ia kembali buka suara dengan senyum angkuh. “Panggil aku Yang Mulia, aku tidak senang dipanggil, Master.”

...BERSAMBUNG .....

1
MmhRuhyan Ruhyana
Semangat ya thor..
지성한
author ini gk ada lanjutannya kah? padahal bagus dan seru thor.
`Shara 💫
neneknya imuttt 💗
Murni Gulo
apakah ini nggak ada kelanjutannya Thor?
Murni Gulo
apakah ini nggak ada kelanjutannya thor
Danella Juanitha
sangat beruntung jika kita memiliki orang dalam apa lagi jika itu adalah KAKEK BUYUT 😂😂😂
Iswati
bikin ketawa ngakak coyyy🤣🤣🤣🤣
Farniyanti Farni
sangat bagusss 🤩🤩
hiro😼
Author kemana si? Udh 2024 masih ga up, padahal udh nunggu bgt
Nani Kurniasih
lah ini author kemana gak update update
rain
Luar biasa
rain
Biasa
Ifarim
SEMNGATT LANJUTTT🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Ifarim
Ihhhh luu yg manupulasi lucaneee
Ifarim
busettt sonoll aneh bnget😭
Sartika Wati
lanjutt thor double up
panty sari
Thor lanjut dong
Black Moon
Thor, lama ga ada kabar? sehat, kan?
Udah 2 Minggu lebih ga up, lagi sibuk kah?
Aliyah Rengat
kapan lanjut Thor
Salma Cheng
mampir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!