Cerya Putri berusia 17 tahun, dia gadis populer di sekolahnya itu, karena kecantikan yang ia miliki dia sering di kelilingi banyak pria yang mengidolakan nya. Karena itulah Daniel Felix guru tampan berusia 27 tahun itu menolak cinta murid yang memiliki nama panggilan Cery. Ia tidak menyukai Cery karena gadis itu juga masuk pada golongan siswi bodoh.
Namun karena kegigihan Cery yang sangat ingin mempunyai suami kaya raya agar bisa merubah nasib nya dan nasib kelurganya, Cery bertindak cukup di luar batas hingga membuat Daniel semakin membencinya.
Namun kesalah pahaman yang ia buat malah semakin mudah melancarkan aksinya untuk menikahi pria idaman nya itu.
Pernikahan pun terjadi, apakah Daniel akan tergoda dengan kegigihan Cery yang ingin memiliki Daniel seutuhnya, hingga gadis itu setiap hari berani merayunya dan mengajak nya bercinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCGS - Eps 22
Semalam Daniel membuat Cery kesal karena yang tadinya Cery kira gurunya itu akan mengajaknya bercinta, nyatanya pria itu benar-benar tidak melanjutkan permainan semalam dimana dirinya sudah tergulai lemas di atas ranjang namun tak kunjung di masuki.
Dengan alasan jika Daniel akan menyentuhnya kembali saat Cery sudah lulus sekolah, Daniel meminta Cery untuk pokus belajar karena beberapa hari lagi dia akan melaksanakan ujian nasional.
Cery berjalan keruang praktik dengan kepala menunduk sambil menndang-nendang angin, kepalanya benar-benar pusing karena selama tidak bisa tidur sama sekali karena Daniel tidak melnajutkan aktifitas itu.
“Cery cepat!” Teriak Nisa yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruang praktik, sembatra Cery tidak menanggapi sahabatnya itu.
Tiba-tiba lenganya tertarik begitu saja, Cery hampir menjerit namun Daniel langsung membekap mulut Cery, mereka berada di dalam ruangan kosong. Dengan tubuh Daniel yang kini menghimput tubuh Cery di tembok.
“Sayang, kenapa mengagetkanku?” Tanya Cery dengan wajah lemasnya, karena memang dirinya sangat lemas untuk menjalankan aktifitasnya hari ini.
“Kenapa kamu tidak semangat?” Tanya Daniel yang memang sejak tadi pagi memperhatikan Cery.
“Kamu nanya?” Tanya Cery balik dengan malas. “Ada apa? Aku harus masuk ruang praktek.” Ucap Cery tidak mau lebih lama lagi bersama pria yang hanya membuatnya resah itu.
“Semangatlah belajarnya, besok sabtu dan minggu aku yang akan langsung mengajarimu. Karena ujian sebentar lagi akan mulai.” Ucap Daniel sambil menyentuh rambut Cery yang tergurai.
“Iyaa…” Jawab Cery malas.
“Apa aku perlu kasih semangat dalam bentuk ciuman?” Tanya Daniel pelan, karena sejujurnya sejak awal melihatnya cemberut. Daniel tidak tahan ingin melahap habis bibir cemberut isterinya itu.
“Boleh.” Ucap Cery, seketika wajah malasnya menghilang, senyuman yang tidak bisa tertahan itu terlihat jelas jika Cery menginginkan ciuman semangat dari suaminya.
Wajah malu-malu Cery sangat terlihat menggemaskan di mata Daniel.
Cup.
Daniel mengecup bibir wanitanya singkat.
“Pergilah dan belajar yang semangat.” Ucap Daniel hendak menjauhkan tubuhnya dari tubuh isterinya.
Namun Cery langsung melingkarkan kedua lenganya di perut suaminya.
“Ada apa?”
“Lagi, cium lagi.” Pinta Cery dengan sedikit merengek manja.
Daniel tersenyum, entah mengapa dadanya berdegup sangat kencang. Hal kecil seperti ini saja bisa membuatnya tersenyum bahagia.
Cup.
“Lagi.”
Cup.
“Lagi… lagi…”
Cup… cup… cup…
Akhirnya Daniel bertubi-tubi mengecup wajah isterinya di setiap sudut, Cery tersenyum cerah seolah energinya sudah kembali dan rasa pusing di kepalanya menghilang begitu saja.
“Pergilah, aku akan menunggumu di parkiran saat pulang sekolah.” Ucap Daniel sambil mengacak-acak pelan puncak kepala wanitanya.
“Siap bos.” Jawab Cery dia langsung mengecup pipi Daniel dan berlari ke arah pintu.
Daniel yang di kecup tiba-tiba spontan langsung mengelus pipi yang di kecup sang isteri dengan bibir yang tersenyum.
Namun senyuman itu hilang seketika saat melihat pintu yang terbuka dan memperlihatkan sosok murid yang bernama Aron, pria yang menyukai isterinya.
“Aron sedang apa kamu di sini?” Tanya Cery.
“Aku mencarimu, pelajaran akan di mulai.” Ucap Daniel namun matanya menatap tajam pada sosok pria yang berdiri agak jauh dari mereka.
Ya Daniel dan Aron saling melempari tatapan tajam.
“Oh ayok kita ke kelas.” Ucap Cery mengajak teman sekelasnya itu pergi, dan melirik ke arah Daniel sekilas.
Daniel memang terlihat datar, namun kedua lenganya sudah mengepal erat.
Tiba-tiba saja perasaan aneh menyelimuti dirinya, namun Daniel bergegas pergi dan meninggalkan tempat itu.
————
Siang itu, saat Cery bergegas keluar dari kelasnya, Aron tiba-tiba saja menahanya. Cery pun berbalik menatap temanya itu, namun wajahnya langsung tersenyum saat melihat benda lucu yang Aron pegang.
“Ini untukmu.” Ucap Aron sambil menyodorkan boneka beruang berwarna putih dengan ujuran yang lumayan besar.
“Cantiknya, tapi kenapa untuk ku? Kamu gak kasih sama cewe mu, Aron?” Tanya Cery sambil mengekus-ngelus bulu halus boneka itu.
“Aku gak punya cewe.” Jawab Aron.
“Loh bukanya kamu bilang kalo ada cewe yang kamu suka.” Tanya Cery ia langsung menatap Aron karena sejak tadi ia terus memandangi boneka itu. “Jangan bilang kalau kamu juga menyukaiku?” Tanya Cery penuh curiga.
Aron terdiam, memang selama ini Cery lah wanita yang ia cintai. Namun Cery selalu menganggapnya sebagai teman, hingga membuat Aron tidak pernah mengungkapkan isi hatinya lagi.
“Ambil ini aku gak mau, sejak awal kamu tau kan kalau aku suka Pak Daniel.” Ucap Cery sambil berjalan meninggalakn Aron. Tapi Aron tidak mau tinggal diam, dia berjalan mengikuti Cery.
“Cer dengarkan aku dulu,” ucap Daniel meraih lengan Cery. “Aku tau kalau aku tidak ada di hatimu, tapi setidak nya dengarkan isi hatiku walau kenyataanya kamu gak akan nerima aku.” Ucap Aron membuat Cery berhenti melangkah dan kembali menatapnya.
“Kapanpun kamu berpaling dari Pak Daniel, aku akan selalu menunggumu.” Ucap Daniel jujur. “Setidaknya ambil lah ini jika kamu masih menganggapku teman.” Ucap Daniel dia lalu mengembalikan boneka itu pada Cery dan memberi satu buah buket bunga merah.
“Oke aku ambil, tapi asal kamu tau jika aku tidak akan pernah berpaling darinya.” Ucap Cery lalu mengambil semua barang pemberian Cery dan meninggalkan Aron begitu saja.
Aron menyunggingkan sebelah binirnya saat melihat wanita itu pergi meninggalakn dirinya.
Cery tidak mau memperpanjang masalah itu, karena Aron tetap teman di matanya dan tidak mau merusak pertemananya hanya karena maslah seperti ini.
Dia juga bergegas ke parkiran takut jika suaminya sudah menunggunya lama, Daniel parkir di tempat sepi jadi tidak ada yang melihat saat Cery masuk kedalam mobilnya.
“Apa itu?” Tanya Daniel dengan wajah tidak suka, karena Cery memeluk benda putih berbulu dengan satu tanganya yang memegang buket bunga.
“Hanya pemberian fansku syaang, ayo kita pulang.” Ucap Cery sambil memakai sabuk pengaman.
Daniel pun melajutkan mobilnya dengan rasa kesal dan tidak suka, dadanya terasa sangat nyeri melihat Cery tersenyum hanya karena boneka itu.
Daniel menghentikan mobilnya di depan minimarket.
“Kenapa kita berhenti?” Tanya Cery.
“Tolong belikan aku permen, dan belilah ice cream untuk mu.” Ucap Daniel ia memberikan donpetnya pada Isterinya itu.
Cery mengulum senyum, ini pertama kali ia menyentuh dompet suaminya, walaupun donpet itu sering tergeletak di kamarnya dia tidak pernah sekali pun berani menyentuhnya.
“Oke bos.” Ucap Cery ia segera keluar karena saking senangnya hanya dengan di beri kepercayaan untuk membawa dompet suaminya.
Sementara di dalam mobil, Daniel kini sedang menatap tajam sosok boneka imut yang sedang duduk di kursi dengan buket bunga di sebelahnya.
Daniel meremas mawar merah itu dengan kesal, “hah, aku bahkan bisa membelikanya seribu bunga untuk isteriku. Kamu tersenyum hanya karena 9 tangkai bunga maear ini.” Pekiknya kesal.
Setelah puas meremas bunga itu, dia lalu mengambil boneka yang sejak tadi di peluk isterinya. “Berani-beraninya kau sampai membuat istriku tersenyum!” Pekiknya sambil meremas wajah boneka beruang itu.