“Kamu bukan mandul, Jani... Dia aja yang nggak ngerti caranya bikin anak.”
Pandu berbisik di telinga Anjani—tepat setelah tubuhnya gemetar dalam pelukan pria yang benar-benar tahu letak gairah dan luka.
Anjani duakan dan dicerai di hari anniversary pernikahan. Ditampar kenyataan pahit: suaminya berselingkuh dengan mantan dan mertuanya menyalahkan rahimnya yang dianggap “kosong”.
Padahal yang kosong... bukan rahimnya, tapi hati suaminya.
Datanglah Pandu—teman suaminya, seorang dokter kandungan, dan lelaki yang diam-diam sudah jatuh cinta sejak lima tahun lalu.
Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan bisikan lembut, Pandu membuktikan semuanya,
Bahwa tubuh Anjani subur.
Bahwa luka Anjani bisa sembuh.
Dan bahwa cinta yang dalam bisa mengisi tempat yang selama ini tak pernah disentuh dengan benar.
Satu kali disentuh Pandu... dua garis merah muncul. Dan hidup Anjani tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANDU DAN BASTIAN BERTEMU DI KLUB!
Menenteng kantong belanja, menuju mobil. Pandu berkendara menuju klub malam milik temannya itu.
Tiba di sana, Pandu menghubungi Anjani. Ia mengatakan jika ia sudah sampai di klub.
“Halo ... Pak Dokter,” sapa Bram kepada Pandu.
“Bram, astaga, udah lama banget nggak ketemu. Apa kabar?” tanya Pandu.
“Baik, Dewa ... lu tambah keren aja sekarang nih, dokter kandungan. Bangga gue,” ujar Bram.
“Ah, biasa aja, Bram. Masih banyak yang lebih keren dari ini,” balas Pandu.
“Oke deh, kita duduk, yok,” ajak Bram.
Duduklah Pandu dan Bram di depan sebuah bar. Mereka berbincang ringan dan tertawa.
“So... now I'm opening a second cafe business, which in Australia I have handed over to my brother,” ucap Bram.
“Keren dong. Terus, gimana anak istri? Di Jakarta atau di Ausy?” tanya Pandu.
“Mereka bakal nyusul ke sini. Dan lu, dah ada anak?” tanya Bram.
“Damn, I just had sex for the first time y'all. I swear, it's fun. I'm sorry, why not earlier?” kata Pandu sambil tertawa.
“Hahaha ... jadi perjaka lu udah ilang?” tanya Bram sambil tergelak.
“Ilang. Gue kasih sama dia yang emang gue cinta aja. Habis itu, we got married. Gue nggak sabar lagi, mau nikah sama dia,” jawab Pandu.
“Undang gue dong,” pinta Bram.
“Gampang. Gue pasti ngundang lu, asal lu masih di sini,” ujar Pandu.
“Drink? Calm down, you won't get drunk,” tawar Bram.
“Hahaha ... oke, tapi sedikit aja, Bram. Gue udah dikasih pesan sama pacar gue,” jawab Pandu.
“Yang terima telepon kemarin, kan?” tanya Bram.
“Iya. Dia bilang gue nggak boleh mabuk,” kata Pandu.
“Hahaha ... tenang. Yang bikin mabuk, cuma kekuasaan di negeri ini. Alkohol sih, lewat, Dewa,” ujar Bram sambil tertawa.
“Hahaha!” tawa keduanya lepas.
Mereka menikmati musik dari disc jockey andal. Keduanya masih berbincang perihal bisnis sambil menikmati minuman.
“Bram, toilet sebelah mana? Maklum anak baru,” tanya Pandu.
“Hahaha ... tai lu. Di sana, kiri, balik lagi. Jangan lupa,” jawab Bram.
“Oke,” balas Pandu lalu berjalan santai menuju toilet. Tak sengaja ia melihat sosok pria yang terasa tak asing baginya.
“Kayak Bastian?” gumam Pandu.
Kemudian ia meneruskan langkah menuju toilet dan kembali lagi dengan rasa penasaran terhadap apa yang ia lihat. Tanpa ragu, nyatanya Bastian memang sedang duduk bersama beberapa teman dan satu orang wanita.
Pandu mendekati Bastian.
“Bas, apa kabar?” sapa Pandu.
Melihat Pandu berdiri di depan meja barnya, Bastian menghentikan obrolannya.
“Pandu?” tanyanya.
“Iya,” jawab Pandu.
“Oh ... so ... kamu udah lihat aku sama siapa di sini?” ucap Bastian sambil tersenyum.
“Sure, itu pribadi kamu. Aku nggak ikut campur,” jawab Pandu tenang.
“Itu yang aku suka dari kamu. Aku bosen, butuh hiburan,” ucap Bastian enteng.
“Ehm ... oke. Paham,” ujar Pandu.
“Sama siapa ke sini?” tanya Bastian.
“Sendiri,” jawab Pandu.
“Oke, Pandu. Sampai ketemu lagi,” ucap Bastian.
“Iya, tapi ... aku mau sampaikan sesuatu aja,” kata Pandu.
“Apa tuh?” tanya Bastian.
“Bug!” — “Bruk!”
Pukulan telak itu mendarat sempurna pada wajah Bastian hingga terjatuh. Teman-temannya segera menolong Bastian.
“Bangsat lu!” maki Bastian.
“Buang berlian cuma buat batu kali kayak gitu? You stupid, stupid men who dump good women for cheap women!” ucap Pandu penuh amarah.
“F*ck you! It's not your business. Kalo lu mau, lu ambil Anjani. Gue nggak butuh!” teriak Bastian dengan hidung berdarah.
“Sure. Dia sama gue. Dan oh iya ... Enough for us to prove, who will cry for regret and sorry. You are barren. I know it,” balas Pandu tajam.
•••
Emosi Bastian memuncak. Ia meraih sebuah botol kaca dan mengejar Pandu ke parkiran.
“Pandu!” teriaknya sambil mengacungkan botol.
“What? Oh ... kayak preman kampung lu! Ini pengusaha? Lulusan Oxford? Come on ... hahaha ...” ejek Pandu.
“Sialan!” seru Bastian. Ia membuang botol itu dan menyerang Pandu.
Mereka berkelahi hingga petugas keamanan memisahkan keduanya.
“Lu lihat nanti!” teriak Bastian.
Pandu hanya tersenyum dan kembali masuk ke dalam mobilnya.
“Tai!” ucap Pandu kesal sambil memukul kemudi. Ia menghubungi Anjani dan mengatakan akan segera tiba di rumah.
Tiba di rumah.
“Beib ... aku balik nih ...,” ucap Pandu.
“Mas ... tunggu!” seru Anjani sambil berlari memeluk calon suaminya itu.
“Mas kok bajunya kotor?” tanya Anjani.
“Masa sih?” balas Pandu.
“Iya, ini. Kenapa? Ini darah ya?” tanya Anjani panik.
“Mana? Bukan, Sayang,” elak Pandu.
“Tapi Mas ... kenapa? Ayo jujur, ini kenapa?” desak Anjani.
“Oh iya. Aku udah beliin sesuatu buat kamu di mobil,” kata Pandu mengalihkan perhatian.
“Mana, Mas?” tanya Anjani.
Pandu menyerahkan kunci mobilnya. Anjani membuka mobil dan melihat paper bag cantik itu.
“Sendal? Hahaha ... Mas!” seru Anjani sambil berlari memeluk Pandu.
“Makasih, Mas. Aku suka sendal ini ... ah ... makasih ya, Mas,” ucap Anjani sambil tersenyum dan terus memeluk Pandu.
“Sementara sendal jepit dulu, Sayang. Nanti kalau aku ada uang lebih, aku beliin sendal jepit lagi,” ujar Pandu sambil menahan tawa.
“Hahaha ... kamu ah. Aku udah seneng dikasih gini, Mas,” balas Anjani.
“Kalau ini?” tanya Pandu sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak cincin.
“Mas, ini apaan sih? Kamu kasih aku apa?” tanya Anjani dengan mata berbinar dan hendak menangis.
“Cuma kotak. Nggak ada isi kok,” ucap Pandu pura-pura.
“Ih, ngerjain aku ... ih kamu, Mas! Pergi dari rumah ini!” kata Anjani sambil menahan tawa.
“Enak aja. Rumah siapa nih?” tanya Pandu balik.
“Rumah kontrakan!” tegas Anjani.
“Ya udah, bener,” sahut Pandu.
Mereka berdua tertawa dan berpelukan. Malam itu, sambil menonton TV, Pandu meraih jemari Anjani yang tengah tertidur pulas. Ia memasukkan cincin itu ke jari manisnya tanpa Anjani sadari.
Pandu mencium kening dan pipinya, lalu ikut memejamkan mata.
Keesokan pagi, Anjani terbangun lebih dulu. Ia merasakan sesuatu di jemarinya.
“Cincin? Cincin ... Mas ... Mas, kamu kasih aku cincin? Ini bagus banget ...,” ucap Anjani sambil mengangkat tangannya ke udara, membiarkan cahaya matahari menyinari kilau cincin dari jendela kamar.
Anjani menangis dan tersenyum. Ia tak menyangka jika Pandu memperlakukannya dengan amat manis, memberikannya sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil di atasnya.
“Morning ...,” bisik Pandu yang baru saja bangun dan memeluk Anjani dari belakang.
“Mas ... aku bahagia banget. Makasih, Mas,” ucap Anjani.
“Maaf, ngerjain kamu semalem. Muat nggak?” tanya Pandu.
“Muat, Mas. Pas. Aku suka. Makasih sekali lagi,” jawab Anjani bahagia.
“Tapi itu imitasi. Mainan,” kata Pandu sambil bercanda.
“Kamu becanda lagi, kan, Mas?” tanya Anjani kesal.
“Hahaha ... iya, Sayang. Nggak kok, itu asli. Pakai ya, jangan dilepas. Sama kayak aku, yang nggak bakal lepasin kamu lagi, kayak dulu,” ucap Pandu.
“Aku juga nggak mau kamu lepasin aku, Mas. Janji?” pinta Anjani.
“Janji. Aku janji sama kamu,” jawab Pandu.
Keduanya berpelukan mesra dan hangat pagi itu, sambil memandangi langit biru yang cerah dari balik jendela kamar.
Sementara itu, Bastian tengah emosi dan meradang, mengingat Pandu yang memukul wajahnya.
“Sialan ... bajingan dia. Gue nggak bakal diem aja kayak gini,” ucapnya geram.
“Sayang, udah dong. Lagian dia nggak penting lagi buat kamu, kan? Sidang cerai kamu bakal digelar. Fokus aja ke sana. Aku juga mau tenang hidup sama kamu,” ujar Anggi menenangkan.
“Aku kesel, Sayang. Harga diri aku ilang gara-gara dokter brengsek itu!” kata Bastian penuh amarah.
dah kita hidup damai sejahtera aja lah
makanya gaes,kalau mau ngapa ngapain bawa kaca dulu dirumah yaaa
jadi pastiin orang ga bisa balikin omongan kita🤣🤣
mudah mudahan beneran tobat yaa
bukan kumat 🤣🤣
jangan dalem dalem liatnya,yg ini mau juga lagi. repot dah😔🤭🤣