🏆 JUARA FAVORIT PEMBACA LOMBA "PENGKHIANATAN" SEASON 2 🏆
Qiana dan Emir sudah menjalin hubungan selama 12 tahun dan rencana mereka akan menikah tahun depan. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendatangi pernikahan Zeline, sahabat baiknya. Ternyata yang menjadi mempelai laki-laki adalah Emir.
Dunia Qiana terasa hancur saat tahu kalau dirinya sedang hamil anak Emir. Sementara laki-laki itu tidak mau mengakuinya. Akibat kejadian itu sang ibu meninggal karena gagal jantung.
Di tengah keterpurukan itu datang penolong yang selalu memberikan penyemangat, yaitu Keenan seorang office boy. Pemuda ini sering membantu Qinan secara diam-diam. Apalagi saat Emir ingin kembali merebut hati Qiana dan Zeline ingin selalu berusaha menghancurkan kehidupannya.
Siapakah Keenan itu?
Apakah Qiana akan mendapatkan kebahagiaan setelah datang banyak cobaan yang menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kedatangan Emir Ke Apartemen
Bab 22
Qiana begitu menikmati masa-masa mengurus putranya, meski seorang diri dan kadang gantian kalau begadang dengan ayahnya. Dari hari ke hari wajah Shaka malah semakin mirip Emir, seakan tidak ada satu pun bagian dari laki-laki itu dibuang. Mungkin hanya warna kulitnya saja yang mirip sang ibu, kuning langsat mulus tanpa cacat.
"Kenapa wajah kamu malah mirip dia? Apa ini untuk menunjukan kepada dunia kalau kamu adalah anaknya? Padahal aku berharap kamu mirip dengan aku," ucap Qiana bermonolog sambil mengusap pipi Shaka dengan lembut.
Bayi itu tidur nyenyak setelah kenyang menyusu tadi. Jika menyusu Shaka akan sangat lama sampai benar-benar puas. Bila Qiana sengaja melepaskan karena merasa pegal dan perih, maka bayi itu akan menangis kencang. Padahal dia akan mengganti ke yang satu lagi.
Ketika Qiana sedang makan untuk mendapatkan energi dan memproduksi ASI, tiba-tiba saja bel pintu apartemennya berbunyi. Wanita itu merasa curiga dengan tamu yang datang di waktu pagi menjelang siang. Jarang ada orang yang bertamu di jam segini.
Qiana pun melihat lewat lubang kaca kecil di pintu. Mata dia membulat saat melihat ada Emir berdiri di sana. Tentu saja wanita itu tidak akan membukakan pintu untuk laki-laki itu.
'Mau apa dia ke sini? Jangan bilang kalau dia mau melihat Shaka!' Qiana bermonolog sambil jalan mondar-mandir dengan gelisah.
Bel terus di tekan berkali-kali dan ini membuat Qiana semakin takut. Tanpa sadar dia malah memanggil Keenan dan memberi tahu kalau Emir datang ke apartemen.
"Kamu jangan buka. Jaga Shaka baik-baik. Sekarang aku ke sana! Kamu tenang saja, aku akan menghubungi pihak keamanan apartemen," ucap Keenan dan itu membuat Qiana merasa tenang.
"Maaf, Ken. Lagi-lagi aku merepotkan kamu," kata Qiana dengan rasa tidak enak.
"Jangan minta maaf seperti itu. Aku ikhlas melakukan semua ini. Aku tidak mau sampai kamu dan Shaka kenapa-kenapa," lanjut Keenan dan terdengar suara mesin mobil yang baru menyala.
Qiana masuk ke dalam kamarnya dan tidur bersama Shaka. Wanita itu terus mengabaikan bunyi bel. Setelah berapa lama bunyi itu tidak terdengar lagi. Dia berharap kalau Emir sudah pergi.
Untuk memastikan Emir sudah tidak ada di depan pintu Qiana pun melihat lewat lubang kaca di pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Emir bersama beberapa orang.
"Tunggu. Sedang apa kalian?" tanya Keenan yang baru saja datang dengan napas memburu.
"Tuan ini ingin melihat Bu Qiana. Dia takut istrinya kenapa-kenapa karena bel sudah dibunyikan beberapa kali tidak ada respon dari dalam," kata salah seorang petugas.
Keenan mengerutkan kening lalu tertawa. Dia pun memberi tahu kalau Emir itu bukan suami Qiana. Pemuda itu juga memberi tahu identitas asli Emir yang merupakan menantu pemilik perusahaan PT. MAKMUR dan para petugas sangat terkejut.
"Tadi, dia bersikukuh mengaku suami Bu Qiana yang sedang bekerja di luar pulau," ujar si petugas.
"Iya, bahkan dia menunjukan banyak foto dirinya dengan Bu Qiana, saat tadi kami akan mengamankan dia sesuai laporan Anda tadi," lanjut petugas yang lain.
Emir dan Keenan saling beradu tatap. Kedua laki-laki itu seakan sedang mengibarkan bendera perang tanpa diketahui oleh orang lain. Baik Keenan maupun Emir sama-sama ingin menjadi orang yang selalu berada di samping Qiana.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang!" perintah Keenan kepada Emir.
"Tidak mau. Aku ingin menemui Shaka, putraku!" tolak Emir dengan tegas.
"Putra? Emangnya kamu yakin kalau Qiana mengandung anak dari benih kamu." Keenan menunjukan sikap arogan juga kepada Emir. Pemuda itu tidak mau menyerahkan Qiana dan Shaka kepada siapapun.
"Ya, aku adalah laki-laki yang menitipkan benih pada wanita yang aku cintai," balas Emir dengan tatapan nyalang.
Para petugas yang berdiri di sana kini merasa bingung. Mereka menyaksikan pertengkaran dua orang laki-laki yang sedang memperebutkan seorang wanita dan bayinya.
"Setelah apa yang kamu dan keluarga kamu lakukan kepada Qiana, sekarang datang dan bilang kalau Qiana adalah wanita yang kamu cintai? Dulu dirimu ini mengusir Qiana dan tidak mau mengakui janin yang sedang dia kandung. Sebaiknya kamu minta bayi saja kepada istrimu itu," tukas Keenan lalu memberi kode kepada petugas agar mengusir Emir.
Emir mencoba melawan, tetapi dia tidak mampu melawan tiga orang petugas keamanan itu. Akhirnya, dia pun digelandang ke ruang keamanan untuk dimintai keterangan karena sudah membuat keributan.
***
Qiana langsung memeluk Keenan begitu laki-laki itu masuk ke apartemen. Dia merasa sangat ketakutan dengan kedatangan Emir tadi. Takut kalau Shaka akan dibawa olehnya.
"Aku takut, Ken." Qiana memeluk laki-laki itu dengan tubuh bergetar.
"Sekarang kamu sudah aman. Aku tadi meminta petugas jangan sampai Emir dibiarkan masuk ke sini," kata Keenan yang membalas pelukan wanita itu.
"Belakangan ini aku sering bermimpi Shaka di ambil oleh mereka," aku Qiana dengan air mata berlinang.
"Apa? Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada aku? Kamu anggap aku apa? Bukannya kamu dulu sudah berjanji akan mengatakan semuanya kepada aku," tanya Keenan. Terlihat rasa kekecewaan dari wajah laki-laki itu.
"Maafkan aku, Ken. Aku kira itu hanya mimpi buruk saja dan tidak akan pernah terjadi. Aku tidak mau terlalu membebani dirimu dengan segala urusan aku ini. Pastinya kamu juga punya kesibukan sendiri. Aku tidak mau tergantung kepadamu, Ken. Bagaimanapun juga aku harus mandiri dalam segala hal," balas Qiana.
Keenan mengguar rambutnya dengan perasaan kesal. Lalu, pemuda itu melihat ke arah Qiana.
"Jawab dengan jujur, Qiana. Bagi kamu diriku ini apa? Bagaimana perasaan kamu kepadaku saat ini?" tanya Keenan dengan serius.
***
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Qiana? Apakah Emir akan menyerah untuk mendapatkan Shaka dan Qiana? Ikuti terus kisah mereka, ya!
knapa yg musuhin Qiana jd 2 gini?
Qiana, kuat ya...
tggu saja