Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar?
Di taman belakang sekolah.
Camilla menceritakan semuanya kepada kedua sahabatnya, kecuali tentang status mafianya. Tidak ada yang tau itu kecuali Mama Eva. Tapi bukannya Camilla yang meneteskan air mata, malah Helena dan Kezia yang menangis.
"Kalian ini! Gue tinggal selama tujuh tahun kok malah jadi cengeng gini sih!" Ketus Camilla kesal. Orang yang menangis baginya orang yang lemah, pantas untuk dibunuh. Tidak sadarkah Cam? Minggu lalu ia menangis kan saat berpapasan dengan James di koridor.
"Gue nggak nyangka si tukang bully itu bisa sejahat itu sama lo, Ley!" Kata Kezia sambil menyeka air matanya.
Camilla mengernyitkan dahinya, "Gue udah bilang berapa kali sih! Gue bukan Halley! Gue Camilla! Panggil Cam! Halley itu gadis lemah yang tidak bisa apa-apa saat menghadapi masalah dulu, gue bukan cewek lemah. Camilla bukan cewek lemah!!!" Kata Camilla penuh penekanan. Helena dan Kezia langsung memeluk Camilla.
Dua orang laki-laki yang tak sengaja melihatnya pun mendekati mereka. "Ada apaan nih?" Kata Arlan lalu duduk di depan Kezia yang kini sudah melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu, Beb?" Tanya Arlan sedikit panik pada Kezia, orang yang ia sukai sejak dulu.
"Apaan sih! Gue bukan bebeb lo!" Ketus Kezia yang sekarang sudah tak menangis lagi. Mereka berlima tertawa.
"Kak Arlan sama Kezia pacaran?" Tanya Camilla sambil mengernyitkan dahinya. Setau Camilla, Arlan tidak pernah dekat dengan cewek siapapun.
"Lagi pdkt, Cam. Hehe." Kata Arlan mengaku. Kezia mengernyitkan dahinya, menatap tajam Arlan. Mereka tertawa melihat Kezia yang seperti orang marah pada pacarnya yang selingkuh.
"Kalau Kak Alan? Pacaran sama Helena?" Camilla memperhatikan tangan Alan yang daritadi menggenggam tangan Helena.
"Iya lah! Emangnya Arlan yang bisanya cuma deket tanpa status!" Ejek Alan menertawakan kembarannya itu. Mendengar itu, Arlan berdecak kesal, sedangkan Kezia ikut tertawa.
"Ck! Kan nunggu waktu yang tepat!" Ketus Arlan sambil menggenggam tangan Kezia, "Ya kan, Beb?" Arlan tersenyum manis dan hendak mencium tangan Kezia. Tapi sebelum mengenai bibirnya, Kezia menarik kasar tangan Arlan. Mata Kezia melotot pada Arlan, membuat laki-laki dan lainnya itu tertawa.
"Daripada Camilla, jomblo akut!" Ejek Arlan pada adiknya itu. Kini semua menertawakan Camilla. Camilla yang ditertawakan itu pun berdecak kesal, ia langsung meninggalkan mereka.
"Tu kan! Marah si Camilla!" Ketus Kezia dan Helena pada si kembar.
"Nggak apa! Dia kalau marah sama kita nggak lama kok! Ngomong-ngomong kok kalian bisa sama Camilla? Kayaknya dekat banget tadi." Tanya Alan mengalihkan topik.
Kezia dan Helena menceritakan pada si kembar tentang semuanya. Arlan dan Alan mengangguk mengerti. "Dunia terlalu sempit."
***
Di kelas.
"Anak-anak. Kita kedatangan murid baru lagi, kali ini laki-laki." Kata Bu Mega lalu melirik ke laki-laki yang memakai seragam SMA ini, laki-laki itu pun segera masuk ke dalam kelas 11-A. Sebenarnya, niat laki-laki itu bukan untuk sekolah, tapi menyelidiki sebuah misi dan menyelesaikannya.
"Widihhh! Ganteng banget!!"
"OMG, di sekolah kita perasaan most wantednya makin banyak yaaa.."
"Ya Tuhan! Ganteng bangettt!"
"Jodoh gue ini!!"
"Ayo, perkenalkan namamu!" Pinta Bu Mega pada laki-laki itu.
"Jack. Jack Wolsen." Seketika suasana menjadi riuh setelah laki-laki itu memperkenalkan namanya.
"Eh itu kan anak konglomerat yang orangtuanya sudah meninggal kan!"
"Tuan Wolsen konglomerat yang sudah meninggal itu ya?"
"Itu anaknya Almarhum Tuan Wolsen?"
"Itu anak konglomerat yang keluarganya sudah meninggal itu ya? Kasian banget.."
Tidak dengan Camilla, gadis itu justru membulatkan matanya. Bukan karena dia anak Tuan Wolsen, tapi Camilla seperti kenal dengan suara laki-laki itu.
"Leader Red Dragon?" Batin Camilla was-was, apalagi ketika laki-laki itu duduk di samping kanan Camilla. Sebelum itu ia sempat tersenyum manis pada Camilla dengan tatapan tajam. Seolah mengatakan pada Camilla, "Tak lama lagi kau akan mati!"
Sedari tadi Camilla mengunci mulutnya untuk tidak berbicara. Takut kalau laki-laki itu akan mengenalinya. Camilla sangat yakin jika laki-laki di samping kanannya itu adalah leader Red Dragon yang paru-parunya kemarin ia tembak. Apalagi mendengar nama marga yang tadi disebutkan laki-laki itu.
"Baiklah, untuk pelajaran minggu depan. Kita akan kerja kelompok. Bahan-bahannya sudah ibu siapkan di ruang guru. Ehm... Justin, kau dan... dan Camilla pergi ke sana ya! Tolong ambilkan bahan-bahan di atas meja ibu. Nanti bagikan pada teman-temanmu. Untuk kelompoknya nanti bisa kalian pilih sendiri." Bu Mega menuliskan apa yang akan dilakukan saat kerja kelompok di papan tulis.
Justin dan Camilla saling bertatapan, sebelum akhirnya Justin memutuskan tatapan itu dan segera berdiri untuk keluar kelas. Camilla mengikuti langkah Justin.
Sampai di depan kelas, ada satu barang yang Justin bawa jatuh mengenai dahi Camilla. Sontak, Justin langsung menaruh barang-barangnya di atas lantai dan membantu Camilla.
"Sakit ya?" Justin terlihat sedikit panik. Ia mengusap dahi Camilla yang terlihat memar itu. Ia meletakkan rambut Camilla ke belakang telinga gadis itu, seperti dalam drakor.
"Kelilipan!" Kata Camilla sambil mengedip-ngedipkan matanya berulangkali, berharap debu di matanya segera keluar.
Justin pun segera menarik dagu Camilla dan meniup matanya. Camilla kembali mengedip-ngedipkan matanya, sudah terasa lebih baik. Kejadian itu pun disaksikan oleh teman-teman sekelas.
"OMG! Cocok banget!"
"Sama-sama most wanted emang jodoh!!"
"Ternyata lebih cocok sama dia daripada gue.."
"Udahlah ikhlasin aja buat dia.."
Banyak yang patah hati melihat mereka nampak mesra, seperti sepasang kekasih. Justin tadi nampak sangat menghawatirkan Camilla, padahal mereka hanya melihat Justin yang memunggungi mereka. Di hadapan Camilla, Justin berwajah datar.
Sementara, seseorang tersenyum sinis. Tidak ada yang melihat senyuman itu. "Itu pasti pacarnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa LIKE, KOMEN, FAVORIT, VOTE 🤩
---Rara Tania
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃