Bukan pernikahan seperti yang diinginkan Mayang pada saat ia menerima lamaran Erwin, mantan teman sekolahnya. Mayang tidak mengira setelah sekian tahun tidak bertemu tiba-tiba Erwin melamarnya.
Erwin bukan pria yang suka bermain mata dengan perempuan tetapi dengan jelas ia menegaskan bahwa ia menginginkan Mayang sebagai istrinya.
Mayang tidak pernah mengira bahwa Erwin akan melamarnya dan menjanjikan pernikahan yang sesunguhnya setelah Mayang mengalami kejadian yang membuatnya tidak percaya bahwa dirinya layak untuk dicintai.
Siapa dia dan mengapa Erwin melamarnya adalah pertanyaan besar yang ada di kepalanya hingga dia tahu alasan sebenarnya.
Erwin memerlukan seorang istri agar posisinya aman sebagai penerus keluarga Hadinata karena kakeknya mengancam akan mengambil kedudukannya bila dia tidak segera menikah sementara kekasihnya sendiri lebih memilih tinggal di luar negeri.
Atas desakan dan juga keadaan yang membuat Mayang tidak bisa menolah, akhirnya mereka menikah. Tetapi ada yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arti kesetiaan
Sepanjang jalan menuju apartement Erwin yang tidak diketahui dimana alamatnya, Mayang lebih memilih menyandarkan punggungnya.
Erwin mengira Mayang tidur, ternyata…Mayang hanya menatap keluar melalui jendela dalam diam seolah dia tidak memerlukan siapa pun untuk mengusiknya.
“Apa yang ada di dalam pikiranmu saat ini, Yang. Kalau saja aku menyapa dan kembali mendekatimu saat pertama aku melihatmu setelah perpisahan kita dulu, aku yakin saat ini kau tidak akan mengalami semua ini,” bisik Erwin dalam hati.
Hatinya begitu terluka menyadari wanita yang dulu pernah dekat dengannya walaupun hanya sesaat sudah mengalami banyak sekali tekanan dan semuanya itu disebabkan oleh keluarganya sendiri.
Erwin adalah anak bungsu yang hidup dengan dipenuhi kasih sayang yang diberikan oleh keluarganya sehingga tidak masuk akal baginya seorang kakak kembar bisa memperlakukan adiknya dengan begitu buruk.
Pertanyaan bagaimana orang tua-nya mendidik Meli sebagai kakak menjadi perhatian Erwin, tetapi dia tidak mungkin bertanya pada Mayang saat ini.
“Apa pun yang kau pikirkan, jangan biarkan pikiran buruk mempengaruhimu. Kau adalah wanita yang cerdas dan aku yakin kau pasti mampu mengatasi semuanya,” kata Erwin saat Mayang mulai menatap ke depan kembali.
“Terima kasih atas perhatianmu. Percayalah aku masih Mayang yang bisa berpikir jernih,” jawab Mayang.
Hampir 2 tahun Mayang menopang hidup Meli tanpa pernah menerima pengakuan dari kakak maupun ibunya. Semua kebutuhan Meli harus dia yang mengusahakannya tetapi begitu Meli mendapatkan uang dari hasil pemotretannya…dengan bangga Meli akan memamerkan di depan mukanya dan mulai menyindir kalau penghasilan yang Mayang terima tidak ada apa-apanya dibandingkan yang dia miliki. Tidak ada niat sama sekali untuk mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh Mayang.
“Win…bagaimana kalau nanti yang menyewa datang dan mengetahui kalau aku sudah menjual rumahnya padamu. Apakah dia tidak akan mengajukan gugatan padamu? Maksudku mengajukan gugatan padaku. Aku yakin Meli pasti akan mengatakan kalau dia adalah aku waktu dia menerima pembayaran,” tanya Mayang mengutarakan kemungkinan yang akan terjadi.
“Apakah kalian mempunyai tanda tangan yang sama?” tanya Erwin sambil lalu.
“Tidak. Ada ciri khas yang aku lakukan setiap kali aku membuat tanda tangan pada dokumen resmi,” jawab Mayang.
“Ciri khas? Apa?”
“Cap jempol. Bagi orang lain mungkin kuno atau ketinggalan jaman, tetapi untukku, hal tersebut harus aku lakukan.”
Suara tawa Erwin begitu dalam hingga membuat Mayang heran, “Ooh itu…semula aku mengira kalau kau tidak bisa tanda tangan makanya pake cap jempol. Ada kejadian khusus yang membuatmu melakukannya?” selidik Erwin sambil melirik Mayang kembali.
“Hemmm. Dia pernah membuatku harus mendapatkan tuduhan telah menjual rumah keluarga kami. Untunglah saat Meli melakukannya aku belum memiliki buku tabungan jadi tidak mungkin bagiku untuk menyimpan uang penjualan tersebut sementara di jual beli tersebut pembayaran akan ditransfer ke rekening.”
“Dan Meli yang memiliki rekeningnya,” tanya Erwin memastikan.
“Kau pikir Meli akan menyerahkan uangnya padaku?” tanya Mayang.
Pertanyaan yang diberikan Mayang menjadi bukti bahwa Meli adalah wanita yang licik dan berusaha memanfaatkan wajah mereka yang mirip dengan cara yang merugikan orang lain.
“Aku masih berpikir kenapa Meli harus melakukan perbuatan yang bagiku sangat berani dan tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang mendasari perbuatannya,” tanya Erwin.
Dia sengaja mengajak Mayang terus bicara agar Mayang tidak kembali termenung dengan pikiran yang membuat Erwin tidak tenang.
“Dia marah karena tidak menemukan buku tabungan maupun surat rumah. Meli bermaksud menggadaikan rumah tersebut karena dia memerlukan modal yang sangat besar,” jawab Mayang pelan.
“Lalu dia menyewakan pada orang lain sementara dia sama sekali tidak memiliki hak tersebut? Harus aku katakan bahwa Meli adalah wanita yang tidak mempunyai otak. Bagaimana dia bisa berpikir akan membuka usaha kalau dia sendiri tidak bisa dipercaya dan suka memanfaatkan orang,” ujar Erwin ketus.
“Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku katakan tentang Meli, tetapi yang aku perlu tahu saat ini adalah apakah kau serius membawaku ke apartementmu?”
Pertanyaan Mayang seolah menjadi bukti bahwa sejak tadi dia sama sekali tidak memperhatikan dan mendengar perkataan Erwin yang mengusulkan agar dia tinggal di apartementanya.
“Tentu saja aku serius apalagi kau sudah menyetujuinya,” sahut Erwin.
Seandainya keadaan mereka dalam keadaan normal, Erwin pasti sudah tertawa geli. Namun, keadaan mereka sekarang memang jauh dari kata normal.
“Hah? Kau serius aku sudah setuju? Bukankah aku mengatakan akan mencari penginapan atau hotel yang aman hanya untuk beberapa hari ini saja. Benarkan aku mengatakan kalau setuju bermalam di apartemenmu?”
“Ini sudah malam, lagi pula kalau kau malam-malam cari penginapan apa yang akan dikatakan orang?” sahut Erwin.
Mayang diam tetapi Erwin kini justru mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah makan lalu memarkir mobilnya tanpa bertanya lebih dulu pada Mayang.
“Bagaimana kalau kita makan dulu,” kata Erwin setelah dia mematikan mesin mobil.
“Ini sudah malam dan aku tidak terbiasa makan pada malam hari. Kalau kau lapar, aku persilahkan kau masuk sementara aku akan menunggu di sini,” jawab Mayang.
“Baiklah. Aku akan turun sebentar,” jawab Erwin seolah dia sudah terbiasa menghadapi wanita yang lebih memilih menunggu di mobil daripada bersama-sama menemaninya.
Akhirnya Erwin menyalakan mesin mobilnya kembali karena Mayang tetap berada di mobil lalu dia turun dan masuk ke rumah makan yang cukup besar dan namanya cukup di kenal.
Mayang yang ditinggalkan di mobil Mayang mulai mencari penginapan terdekat dengan tempatnya berada saat ini.
Suara keluhan terdengar dari mulut Mayang tanpa dia sadari begitu melihat tidak ada penginapan terdekat yang bisa membuatnya mendapatkan tempat untuk istirahat malam ini.
“Tidak mungkin aku tinggal di apartemen Erwin walaupun hanya untuk malam ini. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang tentang Erwin yang membawa wanita tinggal bersamanya? Meli…semuanya ini terjadi karena ulahmu.”
Suara ketukan kaca jendela sebagai tanda yang diberikan Erwin sebelum lelaki itu masuk ke dalam mobil membuat Mayang menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar.
“Apa yang kau beli?” tanya Mayang memperhatikan bungkusan plastic yang dibawa Erwin.
Mayang melihat bukan hanya tas makan dari restoran yang barusan dimasuki Erwin tetapi juga ada kantong pelastik dari salah satu mini market yang ada di depan rumah makan tersebut.
“Aku membeli minuman. Ini minumlah!” katanya dengan memberikan sebotol minuman vitamin C pada Mayang yang menerimanya dengan senang hati.
Erwin memperhatikan Mayang dengan tatapan aneh. Cara Mayang yang minum langsung dari botol membuatnya tertarik.
Selama ini setiap orang selalu mengira kalau dia adalah lelaki playboy yang tidak bisa setia pada 1 wanita, padahal dia bukan lelaki seperti itu. Semua itu dia lakukan untuk menyembunyikan hubungannya dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai model produk dan kini sudah alih profesi sebagai model majalah dan kalender.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa cinta dan setianya Erwin hanya pada satu wanita dan wanita itu adalah wanita yang menolak dia ajak menikah karena masih terlena dengan kemewahan palsu yang diberikan dunia padanya.
Sejak mengajukan tawaran pada Mayang untuk menjadi istrinya, Erwin sama sekali tidak ada hati pada Mayang. Yang dia lakukan hanya karena kebutuhan saja karena itu dia berharap Mayang bisa melakukan hal yang sama padanya.
Namun, Erwin menjadi ragu dengan perasaan yang dia miliki setelah bersama dengan Mayang seharian ini. Dia melihat Mayang sebagai wanita yang tegar, tidak histeris ketika kakak kembarnya melakukan sesuatu yang tidak adil.
Dalam benak Erwin, dia mulai mengatur dan menyusun kalimat agar Mayang tidak terbebani dengan tawaran yang akan dia berikan. Keputusannya untuk menjadikan Mayang sebagai istrinya sudah bulat sehingga dia bertekad untuk melamarnya secara resmi. Tidak peduli walau nanti dirinya kembali di anggap gila atau lupa ingatan.
“Istirahatlah. Aku akan mengemudi dengan tenang jadi kau tidak perlu khawatir kalau aku ngebut,” jawab Erwin terharu.
Kepasrahan Mayang dan kepercayaan yang diberikan Mayang padanya membuat Erwin tidak berdaya bila nanti dia membuat Mayang kecewa.
Mobil yang dikemudikan Erwin akhirnya memasuki gedung apartemen yang terkenal dengan kemewahan dan juga system keamanannya sesuai dengan harga yang harus dibayar oleh pemilik atau penyewa-nya.
“Mayang begitu lelah dan aku tidak ragu lagi kejadian hari ini sudah menguras emosinya dengan sangat dalam. Semoga dia tidak akan mengalami lagi penderitaan seperti ini yang disebabkan oleh keluarganya sendiri,” ungkap Erwin begitu melihat Mayang tertidur.