Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula
Ini hari ketiga Dania kembali ke Vietnam setelah dinasnya di Indonesia. Lambat laun, kinerja Dania semakin baik. Ia dipercaya memegang beberapa proyek perusahaan besar.
Ting..
Bunyi surel baru dari email Dania. Dia melihat siapa pengirimnya.
From : Rio_Marketing
Subject : New Contract Karate Training Center [Deal]
Cc : Keagan89
Bcc : Dania_CW, Bruce Lee_CW, Roki_CW,…
Begitu mendapat surel baru, Keagan mengintruksikan rapat dadakan. Mai memanggil seluruh staff copywriter. Membicarakan kelanjutan proposal Karate Training Center yang merupakan dojo terbesar kedua se-asia. Dania juga alumni cabang Bandung tahun 2012 lalu ketika dia mencapai Dan 10.
“Ini proyek besar. Jadi saya akan menunjuk orang yang berpengalaman dan mengerti tentang karate.”
Dania dan lainnya menyimak dengan seksama. Masing-masing memegang profile singkat mengenai training center itu. Membaca sejarah dojo, pendiri awal, dan kepengurusan saat ini.
“Roki dan Dania saya tunjuk untuk follow up Karate Training Center. Sesuai dengan kualifikasi mereka berdua sudah mencapai Dan 10. Saya kira mereka jauh lebih paham mengenai karate daripada lainnya.”
Semuanya tampak menganggukkan kepalanya.
“Ada yang keberatan atau ingin mengajukan diri? Saya bisa mempertimbangkannya.”
“No, sir.”
“Saya rasa sudah tepat menunjuk mereka berdua.”
“Oke rapat selesai. Kerja bagus semuanya.”
🍃🍃
Dania termenung di kubikelnya. Dia telah menyelesaikan proposal kedua dan mengirimkannya ke surel Keagan. Setelah dinas ke Indonesia, Dania lebih bisa mengikuti ritme pekerjaannya. Mulai dari mengoreksi kekeliruan, Dania bisa lebih paham dengan pekerjaannya.
Roki menghampiri Dania.
“Coffe break?”
Dania menengadah. Melihat sosok Roki sudah menjuntai di samping kubikelnya.
“Of course.” Ucap Dania kemudian mengikuti Roki ke pantry.
Dania membuat segelas kopi, satu paket creamer, dan satu sendok teh gula. Menyesapnya pelan-pelan.
Sementara Roki mengambil apel dari kulkas dan mengupasnya. Meletakkan di piring kecil dan membawa kopi espresso yang telah dibuatnya tadi. Roki menyuguhkan apel pada Dania.
“Thanks.”
“You’re welcome. Bagaimana dinas?”
“Oh ya, kita belum sempat cerita mengenai itu ya. Well, banyak pengalaman yang aku dapat dari sana. Kalau ada kesempatan lagi, kamu harus mengajukan diri. Percaya deh.” Ucap Dania karena setelah kembalinya dia ke Vietnam, Dania langsung disibukkan dengan rutinitas divisinya. Tidak memberi jeda pada tugas mutlak itu.
Tidak lama kemudian Lee Nan menghampiri. Membuat greentea latte di gelas kopi mini bergambar karakter miliknya. Rambut plontos dengan kacamata bertengger di wajah karakternya. Lee Nan mengaduk greentea latte-nya kental tanpa sedikitpun gula di dalamnya.
“Gosip kok nggak ngajak?”
“Kita sharing. Buka gosip.” Papar Dania.
“Gimana cerita ketemu mantan?”
“Duh, bikin orang jadi badmood saja.”
“Oh ya sudah kalau gitu. Btw, mantan pacarku yang cuma tiga hari itu…”
“Lee Nan, kemari sebentar.” Keagan datang melongok dari pintu pantry. “Kalian berdua nanti siang langsung ke dojo,” perintah Keagan.
“Yes, sir.”
“Oke sir.”
Lee Nan kemudian melengos dan meninggalkan Roki dan Dania. Gagal lagi bercerita mengenai mantan tiga harinya. Roki dan Dania terkekeh. Melihat Lee Nan yang mulai bergumam sebal sambil mengikuti Keagan.
“Mending kita makan siang lebih awal saja.” Ajak Roki.
“Ayo. Dari pada nunggu nanti malah gak bisa makan siang.”
“Siapa tahu di dojo nanti butuh tenaga ekstra.” Ucap Roki dan Dania tertawa. Dia mengerti kemungkinan besar akan ada demostrasi ketika mengunjungi karate training center. Demonstrasi yang melibatkan mereka berdua tentunya.
🍃🍃
“Besar juga seleramu untuk badan sekecil itu.” Ucap Roki sambil menjejalkan nasi ke dalam mulutnya.
“Kamu orang kedua yang bilang nafsu makanku besar.” Ucap Dania menyendok Com Tam-nya. Makanan khas vietnam yang terbuat dari beras-beras patah dan dilengkapi berbagai macam potongan daging.
“Ini ditambahi porsi ibunya.” Ucap dania meringis sambil konsentrasi menghabiskan dua porsi Com Tam-nya. “Tapi untungnya berapapun yang aku makan selalu menuju ke sini.” Imbuh Dania sambil menunjuk otaknya.
Roki tertawa dan melanjutkan makan. Rambut Roki sedikit panjang dan disisir kebelakang. Belahan poninya terlihat samar. Tapi ketika ia menunduk untuk menyendok makanan, poninya jatuh kedepan tanpa menutupi alisnya.
Rekanannya yang lain tidak se-stylish Roki. Dia memang punya seleranya sendiri. Pakaian kerjanya selalu bernuansa kasual santai. Memperlihatkan aura tegas tapi lembut dari wajahnya. Sementara caranya berbicaranya selalu to the point. Dania merasa nyaman dengan Roki. Seperti bertemu kakak yang selalu dia idam-idamkan. Dewasa, sabar, dan penyayang.
🍃🍃
“Ayo Dania.” Ajak Roki yang sudah siap untuk berangkat. Dia sudah mengenakan jaket dan memasang tas ranselnya. Mereka berjalan berdua menuju pelataran parkir.
Tidak sampai 45 menit perjalanan, Dania dan Roki sampai di dojo. Siang itu dojo terlihat ramai. Mulai dari anak-anak hingga dewasa sedang berlatih. Ada yang bersabuk putih hingga sabuk hitam.
Dania menemui ketua pengurus. Berbincang-bincang mengenai pembuatan company profile dari segi copywriter-nya. Roki mencatat beberapa poin yang diinginkan Pak Bao, ketua pengurus dojo.
Setelah memahami poin yang diinginkan Pak Bao, Dania dan Roki diajak untuk berkeliling dojo. Memperlihatkan seberapa luas tempat latihan. Ketika memasuki tempat latihan dari depan, beberapa murid sedang latihan teknik.
Menendang dan bertahan dari tendangan. Sementara sisi tengah sedang berlatih memukul dan bertahan dari pukulan kepala.
“Aiya!!!” teriak murid yang sedang berlatih secara bersamaan ketika satu rangkaian gerakan sudah selesai.
“Ini murid-murid yang baru mencapai Dan 10.” Ucap pak Bao menggiring Dania dan Roki untuk melihat latihan mereka. “Saya dengar dari Rio, kalau kalian berdua sudah mencapai Dan 10 ya?”
“Iya anh.” Ucap Roki menggunakan panggilan kakak laki-laki dalam bahasa Vietnam secara fasih. Padahal kebangsaan Roki adalah Jepang.
Sementara Dania hanya tersenyum malu-malu mengakui hal itu.
“Mau coba latihan dengan murid kami?” tanya Pak Bao. Wajahnya berseri-berseri.
“Yes please.” Ucap Roki tak kalah antusias. Dania lebih memilih menonton bersama-sama dengan murid lain. Mereka duduk melingkar sementara Roki dan lawan latihannya sudah berdiri di tengah. Roki sudah berganti karategi, pakaian khusus untuk seni bela diri karate.
Dia berdiri di tengah. Menjadi pusat perhatian seluruh murid. Ekspresinya penuh percaya diri. Roki menyisir rambutnya dengan jemarinya. Lalu bersama lawan latihannya melakukan hormat terlebih dahulu. Pertanda saling menghargai lawan ketika mulai berlatih.
10 menit berselang, belum ada tanda keduanya kalah. Poin seri. Keringat mulai mengucur dari pelipis Roki. Begitu juga lawan latihannya. Nafas mereka memburu. Namun tidak ada tanda untuk menyerah. Tiba-tiba smartphone Dania bergetar. Ia keluar dojo dan mengenakan sepatunya kembali.
“Sudah selesai di sana?” tanya Lee Nan dari ujung teleponnya dengan suara tenang.
“Masih diajak demonstrasi. Ada apa?”
“Jangan kaget ya. Sekarang kami semua di rumah sakit. Aku rasa sebaiknya kalian berdua menyusul.” Ucap Lee Nan.
DEG! Jantung Dania berdebar kencang. Ada apa ini? Apa Keagan kecelakaan?
Dania sudah tidak bisa berpikir lagi. Ia langsung kembali ke dojo. Tidak memasuki dojo karena Dania enggan melepaskan sepatunya. Menginterupsi demonstrasi Roki dan teman latihannya.
“Roki! Pak manager kecelakaan! Kita harus segera ke rumah sakit!” ucap Dania.
Roki langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin ketua pengurus untuk pamit karena hal mendesak. Ia berganti pakaian dan menyusul Dania yang menunggunya di luar dojo.
“It’s okay Dania. Saya yakin Pak Keagan baik-baik saja.” Ucap Roki menenangkan Dania dan menepuk bahunya.
Mereka bergegas ke alamat rumah sakit yang diberi oleh Lee Nan melalui pesan singkat.
🍃🍃
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀