Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Gila
David datang di waktu yang tepat, sesaat sebelum telapak tangan Larisa mendarat di pipi calon istrinya, dia segera meraih pergelangan tangan wanita itu dan menahannya di udara.
"Sedang apa kamu di sini wanita gila?" Tanya David menatap tajam wajah Larisa lalu menghempaskan tangannya kasar.
"Yang sopan ya kamu sama calon Kaka ipar kamu ini. Gak ada sopan santunnya banget si." Ketus Larisa tersenyum menyeringai.
"Kaka ipar? Saya bahkan tidak Sudi memanggil kamu dengan sebutan Kaka. Cuih ... Wanita jahat seperti kamu tidak pantas di panggil Kaka." Ketus David penuh penekanan.
"Sial, ternyata mulut kamu bisa bicara kotor juga ya."
"Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum saya lapor polisi."
"Huuuh ... Atuuut ... Hahahaha ...! Aku gak takut dengan ancaman kamu, adik ipar. Sebelum aku di bawa ke kantor polisi, aku bakalan obrak-abrik acara kamu di luar biar pernikahan kamu itu kacau, mau?'' Ancam Larisa tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
"Hentikan, kak. Aku mohon jangan seperti ini, lebih baik Kaka pergi dari sini dengan tenang." Mohon Tere mengiba.
"Kamu dengar 'kan apa yang Kaka bisikan tadi? Kalau kamu menerima penawaran Kaka, Kaka akan biarkan kamu menikah dengan laki-laki sombong ini."
"Penawaran? Penawaran apa? Apa yang dia katakan sama kamu, sayang?'' tanya David menatap lekat wajah Tere sang calon istri.
"Nggak, dia gak bilang apa-apa ko. Kaka pergi dari sini sekarang juga, aku mohon."
"Kalian mau aku benar-benar keluar dari sini dan mengamuk di sana? Kalian tau 'kan aku sangat sanggup melakukan hal itu? Aku adalah wanita gila, begitu 'kan yang kalian bilang tadi?''
David yang sudah berada di puncak kekesalannya pun mencengkram erat pergelangan tangan Larisa lalu hendak menariknya keluar. Namun, tiba-tiba saja dia berteriak kencang lalu mendorong tubuh David dan mengobrak-abrik seisi kamar.
"Haaa ... Lepasin aku, brengsek.''
Buk ....
Prang ....
Larisa melempar benda apapun yang berada di dekatnya membuat David dan juga Tere merasa kewalahan. Teriakannya bahkan terdengar memekikkan telinga membuat David seketika menutup mulut wanita itu secara kasar.
"Hentikan, apa yang kamu lakukan?" David dengan setengah berbisik namun, penuh dengan penekanan.
Grek ....
Larisa mengigit telapak tangan David membuat pemuda itu seketika langsung melepaskan telapan tangannya.
"Argh ... Dasar gila." Teriak David kemudian.
"Ya, aku memang gila. Teresia ... Kalau kamu gak menerima tawaran Kaka, Kaka pastikan akan melakukan hal yang sama di luar. Kaka akan bilang kalau Kaka hamil sama calon suami kamu ini biar acara pernikahan kamu dibatalkan." Ancam Larisa penuh penekanan.
"Jangan, Kak. Aku mohon. Iya, aku akan terima tawaran Kaka." Jawab Tere akhirnya tidak punya pilihan lain lagi, dia tidak ingin pernikahannya batal gara-gara ulah sang Kaka.
"Sayang?" Lirih David menatap lekat wajah Tere dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Hahahaha ... Janji ya? Awas aja kalau kamu sampai bohong. Kaka bakal--''
"Cukup, kamu sudah dapat apa yang kamu inginkan. Sekarang saya minta kamu keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum saya--''
"Sebelum apa? Sebelum kamu lapor polisi? Hahahaha ... Dasar adik ipar tidak tahu diri, masa Kaka iparnya sendiri mau dilaporin polisi. It's oke, aku akan keluar sekarang juga tapi ingat, besok aku akan kembali lagi ke sini. Babay ... Semoga pernihakan kalian lancar." Ucap Larisa tersenyum penuh kemenangan lalu hendak pergi. Namun, tiba-tiba saja dia kembali menghentikan langkah kakinya lalu menatap wajah David kemudian.
"Aku kira pernikahan seorang Presdir akan dilaksanakan di hotel berbintang lima, layaknya pernihakan seorang Pangeran, tapi nyatanya hanya diadakan di rumah secara sederhana pula. Hadeuh ... Katanya horang kaya ...'' Celetuk Larisa lalu benar-benar keluar dari dalam kamar.
Bruk ....
Tere terduduk lemas tepat di tepi ranjang, matanya seketika memerah lengkap dengan buliran air mata yang siap untuk berjatuhan. Baru saja dia merasakan hidup tenang bersama keluarga barunya, dan merasakan bahagianya hidup tanpa tekanan dari sang Kaka, tiba-tiba saja Larisa kembali dan meminta untuk tinggal bersama. Sungguh hal yang sangat menyakitkan bagi seorang Teresia.
"Kamu baik-baik saja? Kesepakatan apa yang kamu buat dengan wanita gila itu?" Tanya David, duduk tepat di samping calon istrinya.
Baru saja Tere hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja Louis dan si kembar masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Astaga, kenapa masih di sini? Penghulu sudah datang dan menunggu kamu di luar, Dav." Ucap Louis sang ayah.
"Iya, Dad. Maaf tadi saya--''
"Udah-udah, jelasinnya nanti aja. Sekarang kita keluar dan acara akan segera di mulai." Sela Louis dan langsung di jawab dengan anggukan oleh David sang putra.
❤️❤️
"Saya terima nikah dan kawinnya Teresia Anindya Putri dengan Mas kawin tersebut di bayar TUNAI ..."
"Sah?"
"Saaaaah ...."
David mengucapakan ijab qobul tanpa hambatan sedikitpun. Hanya dengan satu tarikan napas saja hubungan sepasang kekasih itu kini telah sah diikat oleh tali pernikahan.
Rasa syukur pun di panjatkan oleh semua yang ada di sana. Tidak terkecuali sang pengantin perempuan Teresia Anindya Putri yang tidak kuasa menahan rasa harunya kini.
Akhirnya, dia telah resmi dipersunting oleh laki-laki bernama David. Dia benar-benar menjadi Cinderella dan akan hidup dengan bergelimang harta mulai sekarang. Meskipun, dia baru saja di buat kesal dengan tingkah Kaka tirinya, tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan yang saat ini sedang dia rasakan.
Hal yang sama nampak dirasakan oleh Arista Aditama sang ibu. Dia nampak tidak bisa mahan rasa harunya melihat putra kesayangannya menikah dengan gadis bernama Teresia.
"Akhirnya kamu telah sah menjadi seorang suami sekarang." Gumam Arista dan suaranya dapat di dengar oleh Louis sang suami.
"Kamu senang? Putra kita akhirnya telah mengakhiri masa lajangnya?" Tanya Louis meraih pergelangan tangan istrinya lalu menggegam erat jemari-nya.
"Tentu saja aku senang, Mas. David bahkan bisa ngucapin ijab qobul dengan lancar, gak kayak kamu waktu itu sampai harus dua kali segala."
"Ish ... Itu karena Mas Louismu ini gugup waktu itu. Eu ... Sayang ... Nanti malam anu ya? Ngeliat putra kita seperti ini jadi pengen ngulang saat-saat kita jadi pengantin baru kayak dulu.''
"Ish ... Yang pengantin baru itu putra kita? Kenapa jadi kamu yang pengen si?" Arista terkekeh menatap wajah suaminya.
"Hehehehe ... Si piton pengen dimanjakan juga sama kamu."
"Astaga ....''
Arista menggelengkan kepalanya merasa geli mendengar perkataan suaminya padahal usianya sudah tidak muda lagi seperti dulu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Promosi lagi ya, Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya.