Seatap dengan mertua? Siapa takut!
Begitu pikir Lana ketika Galih–calon suaminya–mengutarakan syarat itu untuk menikah.
Tapi, siapa sangka kehidupannya setelah itu berubah drastis. Ibu mertuanya yang ajaib membuatnya makan hati hampir setiap hari.
Belum lagi ketika ipar mulai turut menggerogoti.
Bisakah Lana berdamai dengan sang mertua dan iparnya? Atau rumah tangganya akan hancur berkat campur tangan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Kedengkian Ipar
“Mas, kayaknya Galih sama Lana ini banyak duit, ya. Lihat, kita pinjem sepuluh juta aja Galih langsung kasih dengan gampangnya, kan? Wah, jangan-jangan mereka itu dapat uang bulanan dari Ibu kali, ya, Mas?”
Dalam perjalanan pulang ke Malang, Ely berbicara pada Gilang yang asyik menyetir kemudi mobil sewaan mereka. Ya, Gilang dan Ely memang belum punya mobil sendiri. Alat transportasi mereka sehari-hari adalah dua motor matic. Satu untuk Gilang bekerja dan satu lagi untuk Ely bepergian seperti antar jemput Fifi ke sekolah ataupun berbelanja.
Ely ini ibu rumah tangga biasa yang sudah tidak bekerja semenjak Fifi lahir. Namun, kebiasaannya hidup boros seperti semasa masih berpenghasilan sendiri tak dapat ia berhentikan sehingga keluarga mereka jadi seringkali mengalami masalah keuangan. Ibarat pasak selalu lebih tinggi daripada tiang. Jangankan bisa menyisihkan uang untuk tabungan, gaji Gilang selalu saja habis di tangan Ely untuk memenuhi semua kebutuhan serta keinginannya yang terkadang di luar batas kewajaran.
Gilang yang malang dan memang sikapnya tak begitu tegas karena seolah tergilas oleh kuasa Ely itu pun tak kuasa menahan istrinya sehingga mau tak mau mereka jadi terlibat pinjaman online yang tak pernah ada habisnya.
“Mas,denger nggak sih aku ngomong?” Ely sebal karena Gilang tak merespon ucapannya.
Padalah, Gilang sedang berpikir akan kemungkinan tersebut. Lantas, pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sepertinya sih nggak, Dek. Ibu nggak pernah ngasih uang secara cuma-cuma kepada siapa pun dalam hidupnya,” jawab Gilang akhirnya.
“Tapi kan Galih itu anak kesayangannya?”
“Bukan, justru aku yang anak kesayangan Ibu. Aku yang beberapa kali diberi uang oleh Ibu. Mungkin karena dia tahu pekerjaanku di sini tidak begitu bagus penghasilannya kalau dibanding dengan Galih,” jawab Gilang menjelaskan.
“Memangnya gaji Galih ini besar, ya?” Ely jadi penasaran karena ia lumayan terkejtut ketika Gilang bilang ssudah dipinjami oleh Galihuang untuk angsuran bulan ini. Dengan sangat cepat sekali tanpa membujuk ini- itu.
“iya lumayan kan gaji di Surabaya memang. Lalu si Lana kan juga baru-baru ini aja berhenti kerja. Jadi tabungan mereka masih banyak pastinya. Mereka itu jarang ke mall disbanding kita. Jarang piknik juga karena dilarang sama Ibu kan.Pati Ibu selalu cerewet soal pengeluaran apa pun. Makanya Galih dan Lana di rumah jadi banyak sekali tabungan.” Gilang mengutarakan teorinya.
“Ah, begitu ya? Bener juga sih, Mas. Kan mereka juga nggak bayar kontrakan kayak kita, nggak bayar mobil rentalan juga kalau mau berkunjung ke ibu gini, nggak perlu keluar duit banyak buat beli oleh-oleh kayak kita gini kan?” Ely mulai membela diri akan kondisi keuangan keluarganya sendiri.
Sembari berkata begitu, sepertinya Ely lupa bahwa Lana juga tadi memberikan angpao kecil berisi uang yang tidak sedikit untuk Fifi. Memang Lana jarang membawakan oleh-oleh untuk kakak iparnya itu, tetapi ia tak pernah lupa menyelipkan angpao di tangan kecil Fifi yang kemudian sudah dapat dipastikan akan jatuh ke tangan Ely.
Itu semua karena Galih yang selalu bilang pada Lana untuk memberi uang saja. Sebab, kalau makanan, mereka tidak tahu selera Mbak Ely itu yang seperti apa. Sementara dulu saat berkunjung ke Malang saat tasyakuran masuk rumah kontrakan mereka yang baru, Galih yang masih single pernah sengaja membawakan penganan khas Surabaya yang oleh Mbak Ely katanya dihujat dan dicibir sebab tidak ada yang suka.
“Makanya dong, kamu cobalah meniru sedikit kehidupan Ibu gitu. Jangan boros-boros. Makan seadanya, menu sederhana ikan dan sambal saja aku terima kok, asalkan kita bisa hemat jadi bisa nyicil utang sedikit demi sedikti, Dek,” nasihat Gilang akhirnya. Ia memberanikan diri mengutarakan apa yang sesungguhnya sudah sering diutarakannya kepada sang istri. Tapi seperti biasa, Ely hanya menjawab akan mengusahakannya.
Namun, yang terjadi tidak adaperubahan dalam gaya hidup mereka. Ely tetap sering belanja menu-menu mahal di supermarket hingga membelikan Fifi baju-baju yang mahal di brand mall tanpa peduli kalau uang untuk disisihkan demi bayar cicilan terkadang ikut terpakai. Dan di tanggal yang ditentukan, kembali mereka kesulitan membayar. Astaga!
“Gimana nih, Mas? Kita belum bisda bayar utang ke Galih. Bilang aja uang masih terpakai untuk keperluan lain. Dia kan banyak uang. Siapa tahu kalau lihat kita susah gini dia akan kasih transferan lagi,” harap Ely keterlaluan.
“Hust! Malu lah kalau sampai pinjem lagi. Apalagi minta. Nggak ah!” Gilang berkeras tak mau menuruti saran sang istri.
Akhirnya Galih memilih untuk berhutang di koperasi pabrik tempatnya bekerja. Tapi sayangnya, pinjamannya tidak di acc sebab memang di pabrik itu, pinjam uang harus hanya untuk membangun rumah ataun kepentingan yang mendesak saja. Alasan Gilang untuk membayar hutang tidak termasuk di dalamnya.
“Astaga! Ribet amat sih. Padahal kita pinjam juga bakal bayar potong gaji, kan?”
“Sekarang diperketat, Dek. Gak segampang itu karyawan minjem uang. Apalagi Mas kan nggak ikut tabungan koperasinya. Jadi diutamakan yang anggota aja.” Gilang mengeluh kemudian terpaksa menelepon Galih untuk minta jeda.
“Maafya, Galih. Uang kamu belum bisakubayar. Kamu nggak sedang butuh uang itu, kan? Ini gajiku habis untuk bayar cicilan bulan ini.” Gilang berkata panjang dengan harapan Galih tak sempat menyelanya.
Terdengar helaan panjang napas Galih di seberang. Pria itu tak enak hati kalau harus memberatkan kakaknya itu. Tapi, kalau ingat perlakuan buruk dan kata-kata menyakitkan dari Ely, Galih jadi tak terima juga.
“Yang itu Mas bayar kalau udah ada uang aja. Yang penting lunasin dulu utang yang ke pinjol itu. Dan ingat untuk jangan pernah lagi utang ke fasilitas pinjaman seperti itu, Mas. Pinjamnya emang sangat mudah. Dipermudah tanpa syarat apa pun malah. Tapi bayarnya yang jelas sangat susah. Karena sudah bercampur dengan riba yang menghilangkan berkah. Dan bunganya ya besar kan, bikin makin berat. Lagipula dosanya Ya Allah berkali lipat ngerinya, Mas.” Galih bernasihat kepada sang kakak.
Gilang terdiam menekuri kalimat adiknya. Ia menyadari bahwa yang dikatakan adiknya adalah benar. Tapi menghadapi kemauan keras istrinya ia tak mampu.
“Mbak Ely juga diajarin hemat lah Ma dikit-dikit. Mungkin adabaiknya kalau Mbak Ely itu menginap barang seminggu di rumah sama Ibu. Biar aku dan Lana yang ganti menginap di rumah Lana sana. Jadi Mbak Ely bisa diajarin Ibu hidup hemat dan irit itu yang bagaimana,” saran Galih kemudian.
Ia tahu betul kakaknya dulu bukan tipe boros dan loyal. Kalau sampai sekarang kakaknya itu terlibat pinjol itu jelas sekali karena terpaksa untuk menuruti keinginan istrinya yang tidak tahu diri itu.
“Apa? Meminta Mbakmu menginap seminggu sama Ibu?” Gilang terpana mendengar saran Galih. Itu sama saja dengan meminta Ely masuk jurang saja layaknya. Istrinya itu jelas tak akan mau.
walaupun baca novel yang satu ini banyak gemesnya liat tingkah laku Bu Tutik, tapi berakhir bahagia..
jadinya lega banget gitu😁
tetap semangat berkarya ya thor..
semangat ngerampungin semua novel yg belum tamat.. 💪🏻