NovelToon NovelToon
Amara (Bukan Anak Terbuang)

Amara (Bukan Anak Terbuang)

Status: tamat
Genre:Persahabatan / Tamat
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: trias wardani

Kalau yang ingin cerita cinta-cintaan bukan di sini tempatnya. Ini hanyalah cerita gabut author yang entah kenapa bisa bikin kisah anak berusia 8 tahun.
Nggak suka boleh skip. Yang mau lanjut harap sediakan tisu karena cerita ini mengandung banyak bawang.

***

'Apakah aku nakal? Kenapa aku dibuang di sini? Apakah Ayah tidak inginkan aku lagi?'

Amara, seorang gadis berusia delapan tahun yang tengah dilanda sedih karena dititipkan di panti asuhan oleh ayahnya tanpa dia tahu kenapa. Di tengah kesedihannya, Belvara, seorang anak laki-laki selalu hadir untuk menghibur hati Amara yang sedang sedih.

Sampai pada akhirnya ....

"Tidak! Kalian bohong!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon trias wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Dua Orang Asing

Aku mengantuk. Semalam tidak bisa tidur karena memikirkan Letta dan juga Ayah, hingga sampai jam berbunyi di ruang tengah terdengar barulah aku bisa memejamkan mataku dengan perlahan.

Panggilan dari Kak Ani terdengar di luar kamar, aku yang masih sangat mengantuk akhirnya bangun dan mengambil handuk serta peralatan mandi. Ku lihat anak-anak yang lain sudah berlarian lebih dulu ke arah kamar mandi dan mengantri, sebagian lagi memilih untuk bermain sambil menunggu kamar mandi menjadi sepi.

“Kamu kenapa?” tanya Zian saat aku menguap lagi dan lagi, tidak terhitung sudah berapa banyak menghalangi mulutku.

“Aku ngantuk,” jawabku singkat.

Tugas hari ini yang diberikan Nona Jenny adalah mengarang sebuah cerita, aku sudah mengerjakannya dan menunggu giliranku untuk maju dan menceritakannya di depan kelas.

Perlahan mataku mengantuk, seseorang yang sedang berceriat di depan seakan tengah membacakan dongeng penghantar tidur buatku.

“Amara! Pssttt. Jangan tidur!” Vanesa menggoyangkan tanganku yang terlipat di depan dada dengan satu tangan yang lain menahan dagu.

Aku tersenyum malu. Vanesa tersenyum geli lalu kembali duduk menghadap ke arah depan.

Aku mengangkat tanganku ke atas.

“Ya, Amara?” Nona Jenny bertanya.

“Aku ingin izin ke toilet,” ucapku. Nona Jenny mengangguk dan mempersilakan aku untuk pergi ke luar.

Ah, rasanya enak sekali bisa membasuh wajahku. Lumayan sedikit segar dan tidak mengantuk lagi.

Aku jadi teringat dengan Kak Ani, tadi pagi tampak wajah Kak Ani tidak bersemangat sama sekali. Mungkin saja karena Letta sudah tidak bersama dengan kami.

Sampai jam istirahat sekolah akhirnya aku bisa bertahan dari rasa kantukku. 

Zian kemana, ya? 

Tadi aku lihat dia berlari keluar dari kelas waktu bel istirahat berbunyi. Mungkin dia pergi ke kamar mandi, karena sewaktu keluar tadi dia berlari sambil memegangi perutnya.

"Kamu mau ke kantin sekarang, Amara?" tanya Vanesa.

"Iya, tapi aku mau ke toilet dulu," jawabku. "Sebentar ya, kamu duluan aja!" 

Vanesa pun mengangguk, dia melambai dan pergi duluan ke luar.

Aku sendiri berjalan menuju toilet, sekalian memeriksa Zian, siapa tahu dia mendapat masalah di sana.

Ketika melewati sebuah perpustakaan, aku melihat Azka tengah membaca buku sendirian. Anak itu terlihat pucat ditambah dengan rambutnya yang pirang. Wajahnya juga halus dan sepertinya dia bukan anak yang sombong.

Eh? Kok dia melihat ke sini?

Aku palingkan wajahku dengan segera saat dia juga melihatku, lalu setengah berlari meninggalkan perpustakaan itu dengan malu.

Malu sendiri ketahuan tengah memperhatikan dia!

Zian keluar dari toilet laki-laki sambil memegang perutnya, wajahnya terlihat lega saat aku baru saja sampai di sana.

"Kamu kenapa? Sakit perut?" tanyaku.

"Iya," keluhnya. "Nggak tahu, padahal kemarin aku nggak makan yang pedas!" Kami berjalan meninggalkan toilet laki-laki itu.

"Kebanyakan makan es krim kamu kemarin!" ejekku mengingat hari kemarin betapa rakusnya dia memakan es krim banyak-banyak.

"Kamu juga sama 'kan?!" balas Zian.

Kami pun tertawa bersamaan.

"Permisi?"

Kami menoleh dan sedikit terkejut melihat Azka yang berada di belakang kami.

"Eh? Iya ada apa?" tanyaku lalu menghadap ke arahnya.

Azka tersenyum. "Tidak apa-apa," ucapnya, tapi dia terlihat ragu-ragu.

"Apa kalian mau ke kantin bersamaku?" tanyanya canggung.

Aku dan Zian saling pandang. 

"Kamu sendirian?" Aku melihat sekeliling. "Anak perempuan yang kemarin mendorong kamu itu ke mana?" tanyaku saat dia hanya datang sendirian saja.

Azka tertawa kecil. "Oh, Ester sedang tidak masuk sekolah hari ini, dia sakit!" katanya sambil memainkan bola matanya yang hitam, bergerak tak karuan. Pipinya bersemu sedikit.

Aku dan Zian pun kembali saling pandang dengan mulut membentuk huruf ‘o’ kecil.

"Oh, ya! Kita belum berkenalan," kataku sambil mengulurkan tangan. "Aku Amara dan dia temanku Zian!" tunjukku dengan sebelah tangan yang lain.

"Aku Azka, salam kenal, ya!" balas Azka menjabat tanganku.

"Aku sudah tahu! Kemarin Vanesa menceritakannya 'kan?!" celetuk Zian.

Aku sikut rusuk Zian karenanya. Anak itu meringis seraya mendelik protes padaku. Duh, Zian sedang membuka aibnya sendiri. Jadi ketahuan ‘kan kalau kita sering membicarakannya.

Azka tertawa melihatnya. 

Kuperhatikan dia. 

Dia memang mirip Bara, apa dia saudara kembarnya? Eh, mana mungkin juga. Bukannya biasanya jika kembar akan sekolah bersama? Kemana-mana selalu bersama?

"Baiklah, ayo kita pergi! Aku sudah kelaparan!" celetuk Zian, dia beralih ke belakang Azka kemudian mendorong kursi rodanya. Aku juga membantunya.

Azka terlihat senang.

"Baiklah, ayo! Aku juga lapar!" 

...***...

Pulang sekolah pun kami menghampiri Azka di kelasnya, dia melambai dengan gembira ketika melihat kami di pintu kelas. Kukira dia dibully, tapi ternyata semua teman sekelasnya melambai riang mengucapkan salam perpisahan pada Azka. Bahkan beberapa temannya membantu mendorong Azka ke depan pintu kelas.

"Apa kalian mau langsung pulang?" tanya Azka sambil dia menoleh ke arah Zian yang membantu mendorong kursi rodanya di belakang.

"Iya, kenapa? Kamu mau mengajak kami makan es krim seperti Kak Gery?" ceriwis Zian.

"Zian! Di dalam kepalamu cuma es krim!" omelku. "Kamu nggak kapok, perutmu itu sudah sakit, bukan?!"

Zian hanya memutar bola matanya dan mencebikkan bibirnya.

Azka menyimak percakapan kami. "Siapa itu Kak Gery?" tanyanya.

"Dia kakak baik hati," jawabku. "Aku pertama kali bertemu dengan Kak Gery saat aku hendak melarikan diri dari panti," kekehku. Sedikit geli jika mengingat pertemuan pertamaku dengan Kak Gery. Bahkan, sampai aku sangka jika dia itu perempuan.

Azka melebarkan matanya menatapku.

"Wah, kamu anak panti, ya?" tanyanya terlihat antusias.

Melihat itu, mendadak saja aku takut jika Azka merasa keberatan karena ternyata kami ini adalah anak panti dan dia tidak mau lagi berteman dengan kami.

"Iya, kenapa?" kataku menatapnya. "Kamu nggak mau berteman dengan kami lagi?" tanyaku sarkas.

Zian melotot seraya memukul bahuku dengan gemas.

Azka tertawa mendengarnya. "Bukan begitu!" sanggahnya. "Maaf, dari dulu aku ingin bermain ke panti, tapi mereka selalu melarangku!"

"Mereka?" beoku. "Mereka siapa?"

"Kakekku!" jawab Azka pelan.

"Kenapa?"

"Nggak tahu, katanya di sana ada orang jahat!" Azka mengangkat bahu.

Sontak saja aku dan Zian saling pandang. 

"Orang jahat apa maksudmu? Yang jahat sama kami cuma Cindy sama Lea!" ujarku.

Zian tertawa mendengarnya, tapi Azka tidak tertawa, dia terdiam. Aku melotot pada Zian memberi isyarat agar dia berhenti tertawa. 

"Kamu mau bermain? Kapan-kapan kami ajak kamu ke panti!" kata Zian.

Wajah Azka yang semula murung pun mendadak ceria. "Benarkah?!" tanyanya antusias.

"Tentu saja! Bunda Evie pasti senang!" timpalku.

"Cuma kalau kamu mau main, aku sarankan bawa banyak buku sama makanan!" celetuk Zian sambil melirik ke arahku.

"Zian, nggak boleh gitu!" tegurku.

Azka malah tertawa menanggapinya. "Nggak apa-apa, aku punya banyak buku dan mainan di rumah, nanti aku bawakan semua untuk kalian," ucapnya dengan mata berbinar-binar.

Aku kesal dengan Zian, tapi juga tak urung hal itu membuat aku senang. Aku suka buku, dan aku akan baca semua buku yang akan Azka bawakan nanti.

"Wah, benarkah?"

Zian memajukan bibirnya, "Nggak boleh dibawa, Azka! Nanti semuanya rusak sama Amara!" ejeknya padaku.

"Ih, kamu kok jahat gitu ngomongnya!" protesku.

Zian dan Azka pun tertawa.

Azka mengajak kami untuk sejenak belajar di ruang perpustakaan. Ternyata dia anak yang pintar, dia membantu kami mengerjakan PR.

"Kalau kalian ada kesulitan jangan ragu untuk bertanya,” katanya tersenyum lebar.

Zian mengangguk dengan semangat. "Tentu saja! Aku pasti akan sering bertanya nanti!" kekehnya.

"Kamu 'kan semuanya nggak ngerti, pasti nanti Azka kerepotan bantuin kamu ngerjain PR!" balasku mengejeknya.

"Ya nggak apa-apa, Azka kan pintar jadi kita bisa sekalian banyak belajar!" kelit Zian.

"Itu sih alasan kamu aja!" tunjukku tepat pada wajahnya.

Azka tertawa melihat pertengkaran kecil kami. Matanya menyipit dan berair menertawakan kekonyolan aku dan Zian. 

Akhirnya PR kami pun selesai. Waktu sudah sore saat kami keluar dari perpustakaan. Di luar sana, sudah ada mobil putih menunggu untuk menjemput Azka. Seorang pria dewasa berpakaian rapi dengan jas dan berdasi mengangkat Azka masuk ke dalam mobil. Dan juga menaikkan kursi rodanya. 

Azka melambai dari jendela mobil pada kami selagi mobil melaju menjauh.

"Enak sekali ya jadi Azka," ucap Zian pelan, menatap mobil itu bergerak menjauh. 

Aku meliriknya, "Belum tentu!" kataku.

"Kenapa?" tanyanya, mendelik protes padaku.

Aku mengangkat bahu. "Nggak tahu, pokoknya belum tentu jadi Azka itu enak!" tegasku.

Zian mendengus. "Kalau aku jadi anak orang kaya, aku ingin berbagi makanan setiap hari, dan mengunjungi kalian setiap minggunya!" serunya sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.

"Kalau aku sih, mau bikin istana boneka dan kamu jadi naganya!" ucapku.

Zian menatapku tak suka. "Heh, kok gitu?" protes Zian.

"Ya, nggak apa-apa namanya juga seandainya, 'kan?!" kekehku.

Kami tertawa, menertawakan mimpi kami berdua.

Sesampainya di panti, ada sebuah mobil bagus di halaman. Aku dan Zian hanya melihatnya sekilas dan terus masuk ke dalam. Ketika melewati ruangan Bunda Evie, di sana tampak ada dua orang pria dan wanita dewasa sedang berbicara dengan Bunda Evie.

"Ah, ya! Amara, Zian, kemari kalian!" panggil Bunda Evie.

Aku dan Zian yang berniat mengintip jadi kaget. Saling pandang sebentar, kemudian kami pun masuk. Tiba-tiba saja dadaku berdebar.

Tampaknya tamu itu adalah suami istri, mereka tersenyum melihat aku dan Zian. 

"Ada apa, Bunda?" tanyaku.

Bunda Evie tersenyum.

"Mau nggak jadi anak Om dan Tante ini?" tanya Bunda Evie

Eh?

"Apa?"

1
Tien Ensoe
ada bbrp hal yg blm dijelaskan
Tien Ensoe
kok tamat kak,gmna dngn bara dan ana yg mirip dengan nya
Tien Ensoe
akhirnya amara mau diadopsi,semoga orangtuanya angkatnya baik...
Tien Ensoe
kok blm up lg
Tien Ensoe
iya ,kamu hrs bahagia amara
rindi yesna wati
😋😊💖💓💓😻😉😉💞🥳🥳🤗😚😚😍💌🌷💕😁😁❣😽💟😘💗💗💝🥰🥰
Nurul Boed
sedihhh
Giyarni Sutrisno
bagus
rindi yesna wati
💞💘😘💌😉🌷💖💝🥰🤩
Naura Salsabila
bara yah thor. dia idah meninggal
Trias Wardani: 🤔. belum tau, apakah dia hanya teman khayalan atau gimana ini?😅
total 1 replies
☾⃟ℳoon - Moon 🌙
Karya baru,nyimak dulu ya kak, semangat
Trias Wardani: silakan kak, semoga menikmati cerita ini 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!