Cinta pada pandangan pertama? Sepertinya sudah biasa ya. Tapi bagaimana kalau sampe deja vu setelahnya? 😯😊
SINOPSIS
Nindy dan Hasan dipertemukan di sebuah event Paskibra. Dari pertemuan pertama mereka, Hasan sangat terkesima pada Nindy. Demikian juga dengan Nindy, dia penasaran siapa Hasan, yang bisa memandangnya sedemikian intensnya.
Dari kejadian itu juga yang membuat Nindy sampai mengalami mimpi selama 3 minggu berturut-turut secara berkelanjutan, yang membuat dia insomnia dan sempat mengalami gangguan belajar. Semua mimpinya tentang Hasan, lengkap seperti alur cerita, dan seperti kejadian nyata.
Ketika mereka bertemu kembali, Nindy seperti mengalami deja vu ketika bersama dengan Hasan. Dan ketika diingat-ingat, ternyata kejadian itu semua ada di dalam mimpinya.
Penasaran gak kira-kira bagaimana jalan cerita mereka? Apakah hubungan mereka berdua akan berakhir bahagia? Ataukah hanya sekadar bertemu, menjadi teman, dan berakhir disitu saja?
Simak terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intertwine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awas, Bisa Jadi Karma Lho!!
Proses pemotongan rambutku berjalan cukup lama, karena rambutku panjang.
Setelah semua hal memuakkan itu dilaksanakan (selama proses itu aku memejamkan mata untuk mengurangi rasa kecewaku), aku membuka mata dan mendapati orang lain duduk di tempat dudukku, dan tengah memakai seragam Paskabku.
Ketika aku menoleh untuk memeriksa bagian samping rambutku, dia pun juga ikut menoleh.
Aku berubah 180 derajat. Aku kaget. Aku gak siap keluar. Aku menoleh ke arah Desi yang juga sudah melewati proses itu. Dan dia berkata.
“Waw, bagus Mbak, aku suka. Rasanya enteng. Kalo kayak gini kan aku jadi gak kepanasan lagi kalo latihan.” Dia berkata cerah sambil memeriksa rambutnya.
Mbak kapsalon itu hanya tertawa simpul. Desi menoleh ke arahku dan berkata.
“Subhanallah Nindy!! Kamu cantik banget. Kamu cocok banget potongan gini, Nin. Tunggu sampai Nenek kamu tau kamu potongan baru gini, pasti gak bakal protes.”
Aku hanya menarik nafas berat.
Aku gak peduli cocok atau enggak, yang jelas aku kecewa.
Kecewa usahaku selama 2 tahun lebih untuk memanjangkan rambutku, kini sudah terpotong dan terpuruk tak berdaya di lantai.
Aku tak bisa memikirkan bagaimana pendapat Mama dan Nenek tentang potongan sialan ini.
“Yuk keluar, udah giliran temen-temen yang lain.” Ajak Desi.
Dan aku pun melangkah keluar.
Mamaku berpendapat jika cewek haruslah berambut panjang, karena bisa menambah tingkat kefeminiman.
Aku sebenarnya gak terlalu ambil pusing mau rambut panjang atau pendek, karena aku sendiri tak terlalu memperdulikan style, yang terpenting aku nyaman.
Namun karena tata aturan keluarga, dan Nenek yang masih mempunyai pemikiran kuno jika cewek harus berambut panjang minimal 30 cm, maka aku pun memanjangkan rambutku.
Dan dengan aturan baru di Paskab yaitu lepas jilbab dan berpotongan pendek seperti ini, aku langsung sedih karena bisa membayangkan kemarahan Nenek nantinya.
Aku keluar bilik dengan perasaan berat dan merasa sedikit ‘terbuka’.
Setibanya di luar bilik, aku menuju teman-teman yang lain. Namun ternyata Hasan masih menunggu di tempat tadi aku tinggalkan, tetap juga bersama Ridan.
Aku keluar berjalan bersama dengan Desi dan Hasan memandangku, terus memandangku seakan Gelegarr 2011 kembali terjadi.
Pandangannya menyimpan makna, dan seakan ada yang ingin disampaikan dari pandangan itu.
Namun dia hanya memandangku terus sampai aku mendekat ke arahnya.
Masih dengan pandangan lesu, aku duduk di sampingnya. Pandangannya mengikutiku.
“Sudah??” Tanyanya.
Matanya masih tersenyum ke arahku.
“Belum.” Jawabku.
“Apanya yang belum? Mau lebih pendek lagi?” Katanya.
“Belum selesai sampai Nenek memarahiku.” Jawabku putus asa.
Dan tanpa disangka, dia memegang tanganku sambil berkata.
“Tenang, aku akan bantu bilang ke Nenek nanti.” Katanya sambil berusaha menenangkanku.
Aku tau Ridan dan Desi berpandangan sambil cengar-cengir.
Aku tak tau kenapa ada perasaan ini. Aku memandangnya balik.
Dengan potongan barunya yang semakin cocok di wajahnya, tak ayal aku merasa semakin nyaman bersamanya.
Namun jika aku melihat lagi ke dalam matanya, aku masih takut jika ini salah satu akal-akalannya saja untuk menertawaiku lagi.
Aku hampir tak mengerti jalan pikiran orang satu ini. Ada kalanya aku sangat jengkel, namun ada kalanya aku takluk seperti ini.
Namun, aku harus membatasi pandanganku. Aku tak ingin mengalami jatuh untuk kedua kalinya.
Aku alihkan pandanganku dan aku ambil tanganku.
Senyum di matanya menghilang...
*****
Setibanya di rumah, Mas Okta kaget bukan kepalang karena aku melepas jilbabku.
Hampir saja dia mau mendampratku habis-habisan, ketika Nenek juga keluar dari rumah.
Aku tak sanggup mengatasi semua ini, aku duduk saja langsung di kursi teras.
Hasan turun dari motornya dan menyalami tangan Mas Okta dan Nenek. Lalu dia berkata.
“Saya ingin bicara dulu sama Nenek dan Mas Okta. Boleh?” Dia mengeluarkan jurus jitunya lagi, yaitu senyum.
Dan tanpa disangka-sangka, Nenek mempersilahkannya duduk. Hasan pun menjelaskan tentang keadaan di Paskab sekarang yang sudah harus berpotongan pendek.
Mudah saja baginya untuk berkata seperti itu, seakan dia berbicara untuk membela adiknya sendiri di hadapan orang tuanya atas tindak kelakuan nakal sang adik.
Maka akhir pembicaraan itu diputuskan bahwa Nenek dan Mas Okta mengikhlaskan aku lepas jilbab sementara dan membiarkan berpotongan pendek.
Aku menarik nafas lega dan semakin heran dengan orang satu ini.
Untuk apa dia melakukan semua itu? Dia bisa saja menertawaiku dengan membiarkan Nenek dan Mas Okta memarahiku. Tapi itu tidak dilakukannya.
Sepanjang sisa malam, tidak ada komplain resmi dari Nenek ataupun Mas Okta tentang potongan baruku, malah Mas Okta sempat berpendapat kurang ajar.
“Kalo kamu makin cantik gini ya jelas aja Hasan makin kecantol.” Godanya nakal ketika di kamarku.
“Eh, gak usah macem-macem ya. Aku gak bakal ada apa-apa sama dia.” Kataku sewot.
“Lho, ati-ati kalo ngomong, Dek. Bisa jadi karma lho.”
Dan aku seketika teringat mimpiku yang itu. Mimpi tentang Hasan yang seperti alur cerita.
Ketika aku mengingat-ingat kembali mimpiku, aku baru sadar, kalau dia sudah memegang tanganku tadi siang, dan hal itu juga ada di mimpiku.
Aku semakin merasa terhantui. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat.
Gak mungkin. Ini semua gak mungkin!!