NovelToon NovelToon
Because Of You

Because Of You

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Chicklit
Popularitas:248k
Nilai: 4.9
Nama Author: Siska

Kehidupan Kania yang tenang tiba2 harus berubah saat situasi mengharuskannya berperan sebagai orang lain.

Mendapatkan cinta dari pria asing saat dia tidak menginginkannya.
Namun Kania harus melepas cinta itu saat dia benar2 bisa membuka hatinya.

Akankah Kania bertahan dengan peran barunya, ataukah dia harus kembali pada kehidupannya yang tenang sebelum dia bertemu dengan pria asing itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang sama

Saat Kania hendak mencari taksi di depan rumah sakit, kebetulan sekali pak Dedi dan Rian juga baru tiba.

Dan Kania tak bisa menolak saat adiknya memaksa untuk mengantarkan gadis itu.

"Oke, makasih banyak adikku yang gantengnya nggak ketulungan." seru Kania begitu ia turun dari sepeda motor Rian.

"Emangnya hari ini kakak nggak pergi ke toko?" tanya Rian sembari melepaskan helm dari kepala Kania.

"Sepulang kuliah nanti baru kakak kesana." jawab Kania.

Gadis itu mendekatkan wajahnya pada kaca spion, memastikan penampilannya cukup rapi sebelum menemui Kevin.

"Mau ketemu siapa di sini?" cecar Rian menarik tangan Kania untuk membantu sang kakak merapikan rambutnya.

"Klien bisnis lah." ucap Kania dengan jumawa.

"Sombongnyaaa..." seru Rian yang tak ayal membuat Kania tertawa.

"Udah gih sana kesekolah, kakak juga mau masuk dulu ke dalem, inget jangan ngebut-ngebut bawa motornya."

"Iya ini juga mau pergi." Rian sempat melirik ke dalam kafe, dan seperti biasa remaja itu menyematkan satu kecupan di kening sang kakak sebelum memacu sepeda motornya.

Kania masih memperhatikan punggung Rian sembari berdoa untuk keselamatan sang adik sepanjang waktu.

"Yang tadi itu siapa?" suara itu mengagetakan Kania hingga gadis itu terlonjak sembari memegangi dadanya.

"Maaf, aku ngagetin ya?" tanya Kevin sedikit  menyesal.

"Yang tadi itu bukan pacar kamu kan?" tanyanya lagi, sepertinya pria ini benar-benar di buat penasaran melihat kemesraan Kania dan Rian. Yang terlihat layaknya seperti sepasang kekasih bagi mereka yang tak mengenal keduanya sebagai adik dan kakak.

Dan jujur Kevin merasa cemburu, apalagi ketika ia sempat melihat Rian mencium kening Kania, rasanya ia ingin menghajar orang yang sudah berani menyentuh gadis pujaannya.

Namun Kevin sadar jika ia tak memiliki hak untuk berbuat sejauh itu, lagi pula sampai saat ini Kania masih belum menerima perasaannya.

"Maksud kak Kevin siapa? Rian?" tanya Kania sembari menahan tawa dengan menangkubkan kedua tangannya menutupi mulut.

"Jadi namanya Rian." ujar Kevin dengan wajah pasrah tak berdaya.

"Iya namanya Rian..." Kania sebisa mungkin menahan tawanya agar tak meledak, memperhatikan raut wajah Kevin yang tiba-tiba tak bersemangat seperti biasanya.

"Adikku..." lanjut Kania dengan senyum mengembang.

Saat itu juga Kevin menatap lekat Kania, entah apa yang ada dalam pikiran pria itu sekarang, namun tatapannya yang tak beralih sedikitpun mampu membuat Kania merasa salah tingkah.

"Ikut aku." seru Kevin sembari menarik tangan Kania untuk mengikutinya masuk ke dalam kafe.

Kania yang bingung hanya bisa pasrah saat langkah kecilnya cukup sulit mengimbangi langkah lebar Kevin.

Menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua di kafe itu, Kania tertunduk malu saat mereka harus berpapasan dengan beberapa orang.

Kevin membuka pintu berwarma coklat di sebuah ruangan dengan terburu-buru.

Dan kembali menutupnya rapat setelah memastikan Kania masih bersamanya.

Di dorongnya tubuh Kania hingga punggung  gadis itu membentur tembok. Dengan posisi kedua tangannya yang memerangkap, jelas Kania tak akan bisa kemana-mana selain beradu pandang dengan tatapan tajam Kevin.

Kevin mengusap wajah Kania dengan sebelah tangannya, meresapi setiap inci kulit gadis itu yang terasa begitu lembut.

Jemarinya bahkan terasa bergetar, hingga kini tatapannya terarah pada bibir Kania yang selama ini selalu mengganggu tidurnya.

Ia selalu membayangkan bagaimana merasai bibir merah alami gadis polos ini.

Dan kesempatan itu pun akhirnya datang, tanpa menunggu lama Kevin mulai menyatukan bibir mereka.

Memagutnya lembut, merasai bagaimana bibir Kania yang ternyata begitu memabukkan.

Nafasnya kian memburu saat gadis yang berada dalam rengkuhannya memberikan respon.

Dan ia semakin mengecupi Kania dengan membabi buta dan penuh gelora.

Akal sehatnya seakan melayang begitu kulit mereka bersentuhan seperti sekarang.

Kevin segera melesakkan lidahnya di dalam sana, membelit dan menyesapnya tanpa ampun.

Tangan pria itu mulai bergerilya, menyentuh pinggang ramping Kania yang terasa begitu pas dalam pelukannya.

Dengan bibir yang masih terpaut, Kevin menarik ke atas kaos berwarna biru laut yang Kania kenakan, hingga kini ia bisa merasakan tangannya menyentuh sesuatu di dalam sana yang masih terbungkus rapi.

Kevin menggeram saat hasrat yang selama ini di tahannya tak lagi bisa di ajak kompromi.

Dan kesadarannya benar-benar menghilang begitu telinganya menangkap suara desahan Kania.

"Aku mencintaimu Kania..." bisiknya tepat di telinga gadis itu, menyusuri leher jenjang dengan kulit putih bersih yang membuatnya semakin tak sabar untuk segera menerkamnya.

Kecupan bibirnya semakin turun, matanya berkilat penuh gairah begitu melihat suguhan indah di depan mata.

Tangannya segera mencari pengait yang berada di balik punggung Kania, membukanya dengan sekali hentakan dengan begitu mudah.

Kepalanya yang tadi sempat menunduk kembali mendongak, dan ia mendapati wajah Kania yang merona, dengan mata sayu namun  menggoda.

Ia tersenyum menyeringai, dan sesaat kemudian pria itu kembali menunduk untuk meraup bongkahan kenyal yang ada dalam genggaman.

Menyesap dan memilinnya bergantian, dan Kevin bisa merasakan cengkraman di bagian belakang kepalanya.

"K...kak."

Kevin semakin terbuai ketika gadis itu memanggilnya dengan suara yang terdengar begitu sensual.

"K..kak Ke..vin."

Di detik berikutnya ia memilih membungkam bibir Kania dengan nafas yang semakin menderu-deru.

Mencumbu gadis itu tanpa jeda, menyentuh apapun yang bisa ia sentuh hingga panggilan itu kembali mengganggunya.

"Kak..."

Ia menulikan telinga, berusaha tetap fokus pada aktifitas menyenangkan bersama gadis pujaannya.

"Kak Kevin..."

Kali ini lengannya terasa di guncang pelan, dan ia masih tak perduli, baginya menuntaskan apa yang telah ia mulai adalah bagian yang paling  penting saat ini.

Hingga guncangan di lengannya terasa semakin keras dan membuat ia menggeram kesal, memaksa dirinya yang sedang terbuai dengan mata terpejam harus rela di tarik paksa dalam kesadaran.

"Kak Kevin kenapa?"

Hal yang pertama ia lihat adalah wajah Kania yang memandangnya dengan terheran-heran.

"Kak...kak Kevin nggak kenapa-napa kan?"

Pria itu mengerjabkan matanya beberapa kali, meneliti penampilan Kania yang masih sangat rapi, padahal seingatnya ia sudah nyaris membuka semuanya, dan jelas-jelas sudah merasai apa yang ada di balik pakaian gadis itu.

"Kakak sakit?"

"Hah?" Ia hanya bisa terbengong-bengong begitu menyadari ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

"Mending kita bahas masalah kerjaannya besok aja, dari pada di paksain yang ada kondisi kakak malah makin parah." ujar Kania yang berpikir jika pria yang sejak tadi berdiri di depannya dengan pandangan kosong ini sedang dalam kondisi tidak sehat.

"Eh, ng..nggak gitu." Kevin buru-buru mencekal tangan Kania yang sepertinya hendak pergi.

Padahal gadis itu hanya ingin melihat apakah ada apotik atau toko obat di sekitar yang bisa ia datangi.

Dan saat itulah Kevin tersadar jika apa yang baru saja ia alami hanya ada dalam angan dan lamunannya semata.

Pria itu mendengus, padahal rasanya begitu nyata...pikirnya.

Dan kini ia harus menahan malu ketika mendapati wajah Kania yang justru sedang mencemaskannya.

"Kalo kakak mau aku bisa carikan obat, di ujung sana kayaknya ada apotik deh."

Dan memandang wajah polos Kania benar-benar membuatnya tak hanya merasakan malu, tapi juga rasa bersalah yang teramat karena sudah membawa gadis ini ke dalam lamunan nakalnya.

Andai saja Kania tau apa yang baru saja terjadi,  ia tak bisa membayangkan apakah gadis ini masih akan bersikap semanis ini lagi padanya.

"Aku cari obatnya dulu, habis itu aku balik lagi kesini."

Kevin segera menahan langkah Kania, "Jangan...nggak perlu, aku nggak kenapa-napa." ujarnya meringis "Beneran." tambahnya karena melihat pandangan tak percaya dari gadis itu.

*

*

*

Berada di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota membuat Kania kini sedang terperangah tak percaya.

Setelah urusannya dengan Kevin selesai, ia yang terus-terusan mendapatkan panggilan dari Tania segera pergi menuju alamat yang tertera di dalam ponselnya.

Meski ia masih di buat terheran-heran melihat sikap Kevin yang mendadak menjadi begitu  pendiam dan tak banyak bicara seperti biasanya.

Gadis itu menggeleng, mencoba menghilangkan bayangan wajah Kevin yang memenuhi isi kepala.

"Ceh, pantesan aja dia betah tinggal di sini." cibir Kania sambil berjalan menyusuri setiap ruangan.

Saat membuka sebuah pintu, Kania dapat melihat kamar tidur yang luasnya tiga kali lebih besar jika dibandingkan dengan kamar tidurnya di rumah.

Barang-barang mewah dengan brand ternama  tersusun rapi, lalu pandangannya beralih pada  lemari pakaian Tania, meneliti deretan pakaian yang menurutnya di dominasi oleh pakaian kurang bahan.

Tiba-tiba tubuhnya bergidik saat membayangkan jika ia harus memakai gaun-gaun sexy ini setiap hari.

"Ayah bisa kena serangan jantung kalo lihat aku pake baju model begini." ucapnya saat mengeluarkan sepotong gaun dari dalam lemari.

Setelah memilah cukup lama, pilihannya jatuh pada Dress dengan panjang selutut yang terlihat lebih sopan diantara sebegitu banyaknya pakaian milik Tania.

Lalu ia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu, berendam dalam buthup dengan banyak busa yang menutupi tubuhnya.

Kania berusaha serelax mungkin menikmati waktunya sebelum menghadapi situasi apa yang sedang menantinya.

Setelah merasa cukup, Kania kembali ke kamar dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya, memandangi wajahnya di cermin.

"Kamu pasti bisa Kania." ucapnya menyemangati diri sendiri.

Meskipun ia tidak selihai Tania dalam berias, setidaknya gadis itu sedang  berusaha sebaik mungkin untuk tampil cantik dan tidak mengecewakan.

"Aku rasa ini cukup." ucapnya tersenyum saat melihat wajahnya sendiri di depan cermin.

Dan tanpa ia sadari, pintu kamar sudah terbuka dengan seorang pria berdiri menyandar pada bingkai pintu.

Pria itu tersenyum memandangi gadis yang sangat ia rindukan beberapa hari ini.

"Kangennya..." ucap Daniel begitu ia bisa memeluk Kania yang terlihat begitu terkejut.

Lidahnya mendadak menjadi kelu, gadis itu menatap pantulan Daniel yang sedang memeluknya dari belakang.

Ini bukan kali pertama mereka bertemu, lalu bayangan saat ciuman pertamanya di renggut paksa di dalam lift waktu itu pun melintas.

"Dia..." batin Kania dengan mata membelalak.

"Puas kamu bikin aku nggak bisa tidur beberapa hari ini." gerutu Daniel sembari mengecupi pipi Kania.

Membuat gadis itu mendadak panas dingin tanpa bisa berbuat apa-apa.

Daniel semakin mengeratkan pelukan, kali ini kecupannya semakin turun, dan leher jenjang Kania menjadi tujuannya.

"Jangan pernah lagi coba-coba kabur dari aku." Daniel merasakan tubuh Kania menggeliat, namun ia masih tak peduli.

Kerinduannya yang menggunung pada gadis ini membuatnya ingin mencumbu sang kekasih hingga puas.

Namun pria itu begitu terkejut saat Kania tiba-tiba berdiri hingga pelukannya pun terlepas.

"A..aku ha..haus, mau mi..num." ucap Kania mencoba mencari alasan meski terdengar begitu konyol.

Bagaimana bisa gadis itu merasa kehausan di  saat seharusnya ia menikmati cumbuan yang Daniel lakukan.

Daniel mengernyit heran, meski setelah itu ia tersenyum begitu melihat wajah menggemaskan sang kekasih yang nyaris tak pernah ia lihat sepanjang mereka menjalin kasih.

"Biar aku ambilkan." tawar Daniel dan segera  meraih tangan Kania yang hendak bergerak menjauh.

Pria itu masih sempat mengusap pelan pipi Kania sebelum berjalan keluar dengan senyum manis yang tersungging di wajah tampannya.

Begitu pintu kembali tertutup, Kania melangkah mundur dan menjatuhkan bokongnya di tepi tempat tidur.

Gadis itu tak menyangka jika pria mesum yang menciumnya tempo hari adalah kekasih Tania.

Dan parahnya lagi, kini ia harus kembali bertemu pria itu dalam keadaan seperti ini, dimana ia harus berperan menggantikan Tania sebagai kekasihnya.

"Waktu itu dia pasti mikir kalau aku ini Tania." ucapnya begitu menyadari situasi yang terjadi.

Namun suara pintu yang terbuka dan di susul dengan munculnya Daniel yang membawa segelas air putih di tangan kanannya telah membuyarkan lamunan Kania.

Dengan perasaan was-was gadis itu menatap Daniel yang menghampirinya, "Ini minumlah."

Meski sedikit canggung, Kania menerima gelas itu dari tangan Daniel, dan nafasnya kembali tercekat begitu melihat Daniel justru melipat kedua kaki untuk bersimpuh di depannya.

"Kenapa malah ngeliatin, tadi katanya haus." sindir Daniel, tangannya bergerak menuju surai rambut Kania dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.

Masih memasang senyum menawan yang membuat tenggorokan Kania terasa semakin kering.

Hingga gadis itu buru-buru meminum air putih dari gelas yang ada di tangannya sampai habis tak bersisa.

"Beneran haus rupanya." Daniel terkekeh, ia mengusap sudut bibir Kania yang basah.

Lalu keduanya terdiam, dengan Daniel yang masih betah menatap wajah gadis di hadapannya penuh kerinduan dan Kania yang semakin salah tingkah sampai harus mengubah posisi duduknya berkali-kali untuk mengusir rasa gugup dan juga takut yang mendera.

"Janji setelah ini kamu nggak bakal pernah lagi ninggalin aku tanpa kabar." lirih Daniel sembari menautkan genggaman mereka, menatap Kania yang menunduk tanpa berani menatap matanya, mungkin gadis ini masih merasa bersalah, pikir Daniel.

"Hari ini aku bakal nepatin janjiku buat kenalin kamu ke orangtuaku, kamu pasti seneng kan?" tanya Daniel yang tak mendapatkan respon apa-apa dari Kania.

Membuat pria itu mengernyit heran melihat sikap gadis di hadapannya yang terkesan sedikit berbeda.

"Sayang...." tegur Daniel.

"Bukannya ini momen yang kamu tunggu-tunggu? tapi kenapa sekarang kamu jadi nggak antusias gini." lanjut Daniel yang semakin dibuat bingung oleh reaksi Kania yang nampak biasa saja, justru terkesan tak tertarik sama sekali dengan pembicaraan mereka.

"Bu..bukannya gitu, a..aku cuma takut orang tua kamu nggak bisa nerima aku." kata Kania pada akhirnya.

Daniel tersenyum lega, setidaknya kini ia tau apa alasan yang membuat sang kekasih bersikap tak seperti biasanya.

Mungkin Tania sedang gugup membayangkan pertemuannya nanti dengan kedua orangtuanya, dan itu merupakan sesuatu yang wajar menurut Daniel.

Pria itu mendekatkan wajahnya pada Kania, lalu mendaratkan satu kecupan di kening gadis itu.

"Nggak ada yang perlu kamu takutkan selama ada aku, kita bakal hadapi semuanya sama-sama." ucap Daniel dengan jarak wajah mereka yang begitu dekat.

"Semua bakal baik-baik aja, percaya sama aku." lanjutnya, dan di detik berikutnya ia telah menyatukan bibir keduanya.

Dengan mata yang terpejam Daniel menyesap bibir Kania dengan penuh kerinduan, memagutnya dengan gerakan perlahan meski sedikit menuntut karena tak jua mendapatkan respon seperti biasanya.

Pria itu tak menyadari jika gadis yang sedang ia cumbu bukanlah gadis yang selama ini ia pacari, tetapi gadis lain yang berwajah sama dengan kekasihnya.

Gadis bernama Kania yang saat ini sedang terpaku dengan perasaan campur aduk yang tak mampu untuk di jabarkan ketika Daniel tak memberinya kesempatan untuk menghindari sentuhannya.

1
Sarita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sarita
lagian ga mau berterus terang sama danil.. rasain luh
Erna Wati
kok gk up..udh mw 2th
Sarita
gempur terus sampe gempir 🤣🤣🤣🤣
Sarita
habis di cumbu kevin terus di cumbu suaminya. emang td ga ada bekas cumbuan kevin kan td dia juga main di dada tania?
Umie Irbie
kereeeeeeen ceritanya
Ibu Salma
seru...
Rin's
yuukkk haammilll yukkkk
Rin's
ko' yo pinterr menn iso menciptakan obat perangsang harrranngg
Rin's
alhamdulillah
Rin's
si Tania pantang menyerah utk merebut Daniel dg menghalalkan sgl cara,,Daniel'e cok ra peka
Rin's
gmn dg nasib Tania,,ditempatkan di luar negeri saja lahh thorr,,spy mangkin byk pengalaman nya utk jadi model,,lho tohh q bukan reader yg kejjammm
Rin's
hhoorreee,,akhirrnnyyaaa,,,gggoooollll
Rin's
Daniel tuh yg tulus ikhlas dg Kania,,jgn cuma hak dowank yg dimintaa,,tp tanggung jwb perasaan nothingg,,tak hempaskannn lhoo kammuu
Rin's
tapii maaff,,mengapa q msh team Kania Daniel
Rin's
kenapa cepett bangett ketemunyyaaa
Rin's
iinnii bawangg nya seterongg amaatt yyaakk
Rin's
ndilalah Daniel gak inget Jeremy
Rin's
nek saiki Kania hamil,,apik manehhh jahhh
Rin's
Kania sdh mengorbankan segala nya,,termasuk cinta nya,,tp cinta sejati nya ada pada Daniel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!