NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kali Pertama

Arif coba memahami tentang Vania, mencerna setiap kata terucap dari bibirnya. Walau sulit, namun ia menyadari bagaimana perempuan yang memiliki tutur kata lembut itu, dan tak lagi berusaha mempertanyakan apa pun.

Panggilan dari kantor memaksa Arif pergi lebih dulu, ada pertemuan yang memang harus didatanginya saat makan siang. Daffa pun tak jauh berbeda dengan Arif yang coba memahami Vania, namun satu pun ia tak mampu untuk benar-benar memahami tentang perempuan sudah dipilihkan untuk mengisi perjalanan hidupnya.

Melanjutkan pekerjaan dan menciptakan keheningan, Daffa tak mempertanyakan apa pun pada Vania selepas kepergian Arif. Sampai di pukul dua siang ia harus meninggalkan kantor, menemui klien bersama sekretarisnya. Tentu saja, setelah dirinya mengantar Vania ke panti seperti pinta diucapkan.

Vania tidak ingin pergi meninggalkan panti begitu saja, dia harus berpamitan pada seluruh keluarga besarnya lebih dulu. Setidaknya, ia harus mengatakan pada bu Rina, jika ingin memberikan kesempatan pada pernikahannya bersama Daffa dan ingin meminta restu sekali lagi.

...***...

Jarum jam terus maju mengelilingi setiap angka melingkar yang ada, terik mentari pun telah berganti teduh. Daffa baru keluar dari restoran tempat janji dibuat dengan dua orang sekaligus, bersama sekretarisnya ia berjalan seraya memberikan beberapa berkas ada di tangan.

“Kirim semua salinannya ke rumah saya besok pagi, dan undur semua janji untuk besok. Saya harus mengurus sesuatu yang sangat penting!” kata Daffa.

“Semuanya, Pak?” tanya sang sekretaris, mendapat lirikan tajam dari bosnya. “Ma-maksud saya, apa meeting dengan karyawan juga?” Livia membenahi ucapan.

“Se-mu-a! Paham?!” mengeja Daffa menekankan setiap kata. “Udah, saya mau pulang dulu!” tambahnya, berjalan ke arah pintu mobil sudah dibukakan oleh sopir.

Daffa sudah bersiap di balik kemudi, hendak menuju panti. Memasang seat belt terlebih dahulu, dia terkejut ketika hendak menyalakan mesin mobil. Livia sudah duduk, turut memasangkan seat belt juga.

“Mau ngapain?” tegur Daffa.

“Pulang, Pak.” Livia menjawab tanpa dosa.

“Oh, Tuhan! Aku beneran kena kutukan hari ini!” keluh Daffa seraya membuang napas panjang. “Kamu gak liat ada mobil di depan? Kamu naik di sana, minta pak Tomo anter pulang! Ngapain naik mobil saya? Emangnya kamu istri saya?!” tunjuk Daffa pada mobil sedan di depannya.

“Ah, hehehe. Saya pikir pulang sama-sama, Pak.” Livia menggaruk kepala. “Kalau saya istrinya pak Daffa, ngapain saya kerja ya, Pak? Hehehe.” Menambahkan.

Daffa membuang napas panjang, memijat tengkuk dan memejamkan mata, lalu membasahi bibir dan menatap Livia agar cepat keluar dari kendaraan pribadinya. Cepat perempuan itu turun, mencium akan datangnya badai jika dirinya tak bergegas, wajah bosnya sudah menunjukkan kekesalan teramat.

“Banting sekalian!” teriak Daffa memprotes, pintu ditutup kencang olehnya yang berlari untuk pindah kendaraan dan langsung masuk ke dalam. “Aduh, Tuhan. Ini hari apa sih sebenernya?” gumamnya.

Meletakkan kedua telapak tangan di balik tengkuk, menundukkan kepala dan sedikit menekan, sekedar membuat otot pada pinggang terasa lelahnya tertarik. Daffa menyalakan mesin dan melaju meninggalkan lokasi, di mana sopir tak berani mendahului, meski Livia telah meminta dalam kecemasan.

Perempuan itu terus menoleh ke belakang, mencari tahu apakah bosnya mengejar atau tidak. Teringat sekali seperti apa bosnya, yang tak akan pernah melepaskan dengan mudah sebelum urat-urat pada lehernya ditunjukkan, bersama suara teriakan memecahkan telinga.

Merasa lega tatkala mata mendapati kepergian bosnya, Livia mengelus dada. Sementara Daffa, lelaki itu tak melalui jalan biasa, yang pasti akan sangat macet dalam jam pulang kerja. Memilih jalan pintas menuju panti asuhan, sejenak lelaki itu meraih ponsel untuk mengabarkan pada istrinya. Tapi, cepat mengurungkan sebelum nomor ditekan olehnya.

Di waktu yang tak jauh berbeda, Vania tengah mengajari semua anak panti mengerjakan PR. Bu Rina menghampiri, menyampaikan jika ada seseorang yang ingin bertemu.

“Ardi, kamu bisa bantuin adik-adik buat kerjain bentar?” tanya Vania pada seorang anak yang telah menduduki bangku SMA.

“Iya, Mba.” Ardi mengangguk.

Vania mengulas senyum, lalu berpamitan pada lainnya dan pergi bersama kepala panti yang tak mengatakan siapa yang datang. Hendak mempertanyakan pada bu Rina, namun wanita itu sudah lebih dulu pergi ke dalam, dan meminta Vania segera menemui seseorang yang telah menantikannya di teras.

“Selamat sore,” tegur Vania begitu tiba, menoleh dua orang sengaja datang sore itu menemui dirinya. "Pa-pa?" terbata suara, tatkala mengenali wajah yang menatap dengan ulasan senyum terpasang.

"Nia," kata pria itu, berdiri dan mengulurkan kedua tangan.

Vania tersenyum sangat lebar, binar bahagia terpancar. Berjalan mendekat dan menjatuhkan diri dalam dekapan pria yang memang telah dikenali oleh kedua matanya, Vania merasa sangat bahagia ketika ayahnya bersedia datang. "Kenapa papa enggak pernah datang temui Nia?" tanyanya sendu.

"Maafin papa, Nak. Papa baru berani buat nemuin kamu sekarang," sahut Johan. Melepaskan tubuh putrinya, lelaki itu memegang kedua sisi wajah dan memberikan kecupan hangat pada kening Vania.

"Papa malu buat ketemu sama kamu, Nak. Tapi, papa selalu awasi kamu dari jauh."

"Pa, semua udah berlalu dan gak harus kita ungkit lagi, kan? Semua yang papa lakuin, juga demi kebaikan Nia sendiri. Justru, Nia sangat berterimakasih, karena udah dikirim kesini, dan kenal semua yang ada di sini."

Johan tak mampu berkata, dia memeluk kembali putrinya. Apa yang harus dikatakan olehnya, ketika anak yang pernah ditinggalkan ketika baru berusia satu hati itu, justru berucap terima kasih dan bukan mengajukan tanya tentang alasan di balik tindakan, atau meluapkan amarah. Johan sudah mengawasi Vania, semua diketahui oleh ibu panti, yang pada akhirnya mengungkapkan semua tanpa bisa menanggung sekali lagi.

Vania memang terkejut, saat mengetahui fakta tentang dirinya yang masih memiliki orang tua, dan mereka pula yang dengan sengaja meninggalkan tanpa pernah memberi kabar, memberikan kasih sayang dalam pertumbuhan, dan sekedar memberikan pelukan ketika sangat dibutuhkan. Namun, sedikit saja tak ada rasa marah dalam hatinya, coba memahami sikap dari kedua orang tuanya yang juga dikisahkan oleh Bu Rina.

Johan mengajak putrinya duduk, memegang kedua tangannya. Semua tentang Vania telah sampai di telinga, begitu pun dengan kehancuran rumah tangganya. Untuk hal itulah, pria yang selalu menutupi identitas aslinya itu, langsung mendatangi Vania tanpa lagi membiarkan ketakutan menguasai dirinya.

"Papa mau kamu tinggal sama papa sekarang, Nak." Ucapnya tanpa ada pemanis terlebih dahulu, sebagai pembuka kata. "Tolong kasih kesempatan papa untuk menebus semuanya. Papa mau kamu ikut ke rumah, dan tinggal sama-sama mulai hari ini. Kamu juga boleh membawa satu anak dari panti, kalau emang mau." Sambungnya tulus.

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!