NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sakit

Sirene ambulans memecah malam. Para petugas medis dengan cekatan membawa Maha ke ruang gawat darurat. Monitor jantung berbunyi dengan irama yang tak beraturan. Dokter menginstruksikan perawat untuk menyiapkan defibrillator.

"Tetep di sini!" Seorang suster menahan Miza yang ingin berlari masuk ke ruangan.

Dokter segera bertindak. “Pasang monitor EKG! Siapkan defibrillator!”

Monitor jantung berbunyi dengan nada panjang. Garis lurus.

“Henti jantung ventrikel. Tekanan darah hilang. Charge 200 joule!”

Perawat menempelkan paddle defibrillator di dada Maha yang kecil.

“Clear!”

Hentakan listrik mengguncang tubuhnya, tapi monitor tetap menunjukkan garis datar.

“Masih asistol! Berikan epinefrin, 1 miligram IV.”

Seorang perawat menyuntikkan epinefrin melalui infus. Jantung yang lemah membutuhkan dorongan untuk berdetak kembali, tetapi detik-detik berlalu tanpa perubahan.

“Charge ulang ke 300 joule. Siap?”

“Clear!”

Tubuh Maha terguncang lagi. Monitor tetap sunyi. Suara dokter terdengar lebih tegas, meski wajahnya menyimpan keletihan. “Lanjutkan CPR. Jangan berhenti.”

Tangan seorang perawat menekan dada Maha dengan ritme teratur — 30 kompresi, diselingi dua napas buatan — tapi harapan kian menipis. Keringat menetes di dahi semua yang berjuang, sementara waktu terus berjalan.

Setelah lima siklus resusitasi, dokter menatap monitor satu kali terakhir. Suara mesin masih melengking dengan nada panjang. Tidak ada tanda kehidupan.

“Waktu kematian, 22:47.”

Rasanya seperti dunia runtuh. Tangan Miza gemetar, bibirnya bergetar memanggil satu nama yang kini tak lagi menjawab.

Decitan mobil menyadarkan lamunan Miza. Hampir saja ia menabrak seseorang yang tengah menyebrang.

"Abang kenapa sih? Hampir aja nabrak orang!" omel Arinta

"Maaf," satu kata meluncur dari bibir pucat Miza.

"Abang mau pulang kan? Tapi anter Arinta ke fotokopi deket sekolah ya? Mau langsung kerkom."

"Kerja kelompok?"

"Iya."

"Katanya sore? Ini masih siang loh."

Arinta gelagapan, tipuannya masih bisa terbaca ternyata.

"Ya... Kan briefing dulu sama yang punya tokonya, jadi nanti pas Diah sama Wiwin dateng tinggal mulai wawancara."

"Oke. Abang tungguin sampe pulang."

Mampus! Arinta merutuk dalam hati.

"Emang abang nggak ada kegiatan sama sekali hari ini?"

"Kegiatan abang yang ngikutin kamu."

Benar juga. Dari tadi Miza seolah jadi supir pribadi Arinta yang mengantarkan kesana kemari sesuai instruksi.

"Ih, mumpung libur. Kenapa nggak nengokin mobil Arinta aja di bengkel, udah berapa lama tuh abang bilang nggak ada waktu buat ngambil mobil."

Miza berdecak.

"Ngeles mulu kayak bajaj. Udah ah, orang abang maunya nemenin kamu."

Arinta berdecih sebal.

"Emang boleh seprotektif itu?"

"Boleh lah. Kenapa nggak? Abang udah cukup lalai jaga Maha, Rio sama Ria. Abang nggak boleh sampe lalai jaga kamu juga."

"Mulai mulai."

"Nggak sama abang sama dengan nggak boleh kemana-mana."

Arinta tidak menyangka niatnya untuk kabur waktu itu berakibat sefatal ini, walaupun berakhir gagal.

***

Tami duduk di samping tempat tidur kembarannya, Tama. Tubuh saudaranya terbungkus perban dari kepala hingga leher. Alat bantu pernapasan terpasang di wajahnya, mengeluarkan bunyi ritmis yang menyayat hati. Mata kembarannya itu tertutup rapat, seolah terjebak di antara mimpi buruk dan kenyataan yang terlalu kejam.

Ruangan itu dipenuhi sunyi yang penuh sesak. Beberapa anak lain, korban kebakaran semalam, terbaring di atas tempat tidur berjejer. Luka bakar memenuhi tubuh kecil mereka—beberapa menangis pelan, yang lain hanya memandang kosong ke langit-langit. Bau antiseptik bercampur dengan aroma luka dan udara yang terlalu dingin untuk rasa sakit sebesar ini.

Tami menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Namun, hatinya terus bergolak. Dia ingin menangis, tetapi air matanya sudah kering sejak malam itu. Tangannya meremas selimut di pangkuannya, memendam rasa bersalah yang seperti duri di dadanya.

Kenapa bukan gua aja? Kenapa gua ngga bisa ngelakuin apa-apa?

Dari sudut ruangan, terdengar suara kecil yang memecah keheningan.

"Mas... Mas Tama udah bangun, belum?"

Tami menoleh. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri dengan kaki gemetar di pinggir tempat tidurnya sendiri. Kepalanya diperban, dan lengannya terbungkus kain kasa. Dia adalah Dio, salah satu anak paling kecil di panti itu, tapi bukan yang paling muda, bisa dibilang stunting.

"Belum, Dio," jawab Tami lembut. Ia mencoba tersenyum.

Dio mendekat, menyeret langkah kecil yang masih lemah. "Itu... sakit banget, ya?"

Tami menunduk, menatap wajah kembarannya yang pucat. "Iya, dia sakit. Tapi dia anak yang kuat. Nanti dia pasti bangun."

Dio mengangguk pelan, tetapi matanya yang besar tetap dipenuhi kesedihan. Ia duduk di lantai, memeluk lututnya. Tami memandang bocah itu dengan rasa iba yang dalam. Luka di tubuh Dio mungkin bisa sembuh, tetapi luka di hatinya—luka karena kehilangan rasa aman dan rumah—akan tetap ada.

Setelah beberapa saat dalam diam, Dio berbisik, "Dio takut..."

Tami menatapnya, suaranya terjebak di tenggorokan. "Takut apa, Dio?"

"Bakarannya... Api... Dio takut kayak gitu lagi."

Kalimat itu menghantam dada Tami seperti palu godam. Ia berlutut di depan Dio, menyamakan tinggi mereka. Matanya menatap lurus ke dalam mata bocah itu, penuh ketulusan dan kehangatan yang rapuh.

"Api emang menakutkan," kata Tami. "Dan mas tau rasanya ngeliat sesuatu yang kita sayang terbakar abis. Tapi tau nggak? Api itu nggak selalu jahat loh."

Dio mengerutkan kening, "maksud Mas?"

Tami tersenyum kecil, meski hatinya masih terasa berat. "Api juga bisa ngasih kita kehangatan. Api diperapian bisa ngusir dingin, nyala lilin bisa bantu kita ngeliat dalam gelap. Kadang, sesuatu yang menakutkan bisa punya sisi baik kalau kita tau cara ngadepinnya."

"Tapi... api itu ambil rumah kita," gumam Dio. "Dan bikin kita sakit."

Tami mengangguk, mengakui kenyataan itu tanpa mencoba membantah. "Iya, Dio. Tapi kamu tahu apa yang lebih kuat dari api?"

Dio menggeleng pelan, matanya penuh ingin tahu.

"Keberanian," kata Tami mantap. "Keberanian buat terus hidup walau kita terluka. Keberanian buat saling jaga walau kita takut. Kamu berani, Dio. Kamu selamat karena kamu berani."

Bocah itu terdiam, mencerna kata-kata yang mungkin terlalu besar untuk umurnya. Namun, sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak. Matanya yang redup mulai memancarkan sedikit cahaya.

"Mas Tami juga berani?" tanya Dio, suaranya setengah ragu.

Tami terdiam sesaat, lalu mengangguk. "Mas berani."

Dio tersenyum kecil, senyum yang lemah tapi juga memancarkan kekuatan untuk yang melihat. Ia menyandarkan kepalanya ke lutut Tami, mencari kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh seseorang yang mengerti rasa sakit yang sama. Tami membiarkan bocah itu bersandar padanya, merasakan kehangatan yang samar tetapi nyata di tengah dinginnya rumah sakit.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Di luar, matahari mulai turun ke barat, cahayanya mengintip dari celah tirai dan menciptakan bayangan panjang di lantai putih.

"Mas Tami," suara Dio memecah sunyi lagi, kali ini lebih pelan.

"Iya?"

"Kalau Mas Tama bangun... aku boleh main sama dia lagi, kan?"

Tami menelan ludah, matanya terasa panas. Ia mengangguk. "Boleh dong. Dia pasti seneng bisa main sama kamu lagi."

"Aku juga seneng," gumam Dio, suaranya mulai melemah. "Mas Tama orang baik..."

Tami mengusap kepala bocah itu dengan lembut, membiarkan air mata yang selama ini tertahan akhirnya jatuh. Di tengah rasa sakit yang menyesakkan, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu ada. Keberanian yang tumbuh dari luka-luka yang tak terlihat.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!