Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikira menikahi Kakek Tua.
Pemandangan baru hari ini. Ketika semua siswa memarkir motor masing-masing, tapi terhenti ketika melihat seorang gadis dengan motor sport mewahnya.
Mereka saling colek, dan saling menebak siapa yang ada di atas motor dan mengenakan helm dengan rapat itu.
"Siapa sih? Baru ini di sekolah kita, pakai motor keren begitu?"
"Gayanya mirip seseorang yang Gue kenal." balas Seseorang diantara mereka.
Romi, salah seorang teman Ais dan Nisa. Ia menghampiri pengendara itu.
"Hay Romi," sapa Ais, membuka helmnya.
"Wih, Ais rupanya. Motor baru?" tanya Romi.
"Motor suami."
"Hah! Suami? Jangan ngaco, Ais. Kapan menikah?"
"Kemaren. Maaf ya, ngga ngundang. Mendadak soalnya." jawab Ais dengan santai. Ia pun bergegas pergi, meninggalkan teman-temannya yang lain dengan penuh tanya dalam benaknya.
Ais masuk ke kelas. Tak perduli pandangan semua teman padanya. Ia duduk dengan santai, menunggu Nisa dan memulai pelajarannya.
" Jadi bener, Loe udah nikah? Dapet motor begitu? Nikah sama siapa loe?" tanya Zia, menghampirinya.
"Cari tahu sendiri. Itu tantangan dari gue." jawab Ais dengan tenang, menatap keluar jendela dan memperhatikan semua orang yang berkerumun di motornya.
Braaakkk! Zia memukul meja, membuat perhatian Ais buyar.
"Heh, Loe kenapa?" sergah Ais, yang mulai kesal.
"Loe tinggal bilang nikah sama siapa aja, ribet banget." balas Zia, bernada keras.
"Apa urusannya sama Loe?"
Zia meraih Hpnya. Ia memamerkan foto Ais yang kemarin pulang bersama Pak Wil. Dan mereka menyangka, Pak Wil lah yang menjadi suaminya.
"Tua bangka. Mau-maunya Loe nikah sama yang model begini." ledek Maudi.
Ais pun tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan itu. Ia tak ingin lagi membahas, dan lebih memilih diam.
"Gue belum ada foto pernikahan. Minta sama Papi lah, besok." fikirnya.
Tak ada yang pernah dapat Ia banggakan selama hidupnya. Hanya kebobrokan sikap, dan kehancuran nilai akademis. Setidaknya, Ia menikah dan memiliki suami yang tampan. Hanya itu, sudah membuatnya sedikit bangga.
" Aissss!" pekik Nisa, yang berlari mendatanginya.
"Heh, kenapa lari-larian?"
"Itu, diluar motor Loe?"
"Motor Kak Lim, kenapa?"
"Keren..." ucap Nisa, mengacungkan Dua jempol pada sahabatnya itu.
Ais hanya tersenyum. Mereka pun menunggu gurunya untuk memulai pelajaran seperti biasa. Mereka tengah menikmati bulan-bulan terakhir di sekolahnya. Dan berusaha meninggalkan kesan manis disana.
***
"Tuan, rapat hari ini sudah siap."
"Baik, saya akan segera kesana. Mana Dimas?" tanya Lim, pada sang sekretaris.
"Dia? Mewakili Anda rapat di luar. Jadwal bertabrakan karena liburan kemarin." jelas Lara.
"Oke, selalu nantikan kabar dari dia. Bila perlu, kita rapat ganda secara virtual."
"Baik." jawab Lara, menundukkan kepalanya.
Mereka berjalan berdua memasuki ruang rapat. Dan disana, telah menunggu beberapa klien yang akan membicarakan masalah kontrak di perusahaan keduanya.
"Saya dengar, Tuan Lim menikahi gadis yang masih SMA?"
"Ya, kenapa?"
"Kenapa gadis SMA? Tak ada yang lain kah? Bukannya, serasa menjadi pedofil?"
"Setidaknya saya menikahi dia. Asal jangan, hanya merusaknya dan meninggalkan dalam waktu satu malam. Atau, memiliki istri tapi sering bermain di luar." lirik Lim padanya.
"Pandai menjawab rupanya."
"Harus pandai, apalagi berhadapan dengan sesepuhnya." jawab Lim, duduk dengan santai membaca semua berkas yang harus Ia periksa.
Sang klien hanya terdiam, tak berani lagi banyak bersuara. Lim berbeda dengan sang Papi yang begitu ramah, meski tak beda jauh dengan Lim yang sedikit arogan.
" Anaknya, lebih parah dari Ayahnya." fikirnya.
biar je...