Raina adalah seorang istri yang sholikha, baik hati, dan selalu patuh terhadap suami.
Tidak hanya itu saja dia adalah sosok wanita yang lemah lembut.
Pernikahan nya dengan Nurman Hadiwinata awalnya berjalan dengan hangat dan penuh kebahagiaan walaupun sudah 5 tahun mereka belum memiliki seorang anak.
Namun kebahagiaan itu hancur saat ibu mertua Raina yang bernama Miranda datang mengusik kehidupan mereka.
Akankah Raina mampu menghadapi semua dilema kehidupan dengan ikhlas ataukah dia akan berhenti sampai disitu saja
yuk ikuti kisahnya
dan jangan lupa kasih dukungan
like
komentar
favoritkan
vote ya
dukungan kalian sangat berarti buat author
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uma shidqiyya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
Miranda tampak sudah selesai berganti baju dan kini dia sudah siap pergi bersama Febi dan Ratmi.
"Yuk ah kita berangkat" ajak Miranda.
Dan mereka kini sudah melajukan mobilnya membelah jalanan yang saat itu sedikit padat. Tak lama mereka pun sudah memasuki mall terbesar di Jakarta.
"Sebaiknya kita cari makan dulu aja yah soalnya sudah lapar ini ya kan jeng" kata Miranda berkata pada Ratmi.
"Kebetulan sekali ya bu skrg juga sudah sangat siang dan waktunya makan siang" kata Ratmi menyetujui apa yang dikatakan Miranda.
"Ya sudah kalau mama mau nya begitu. Sekarang mama mau makan dimana?" tanya Febi.
"tempat biasanya aja sayang, kan steak di sana rasanya sangat nikmat lho beda dari tempat-tempat yang lainnya" jelas Miranda yang memang menyukai steak yang disajikan di restoran itu.
"boleh mam, aku setuju sekali. Makanan disitu memang tidak ada duanya.
Tapi kalau mama buka restoran pasti bisa mengalahkan restoran langganan kita mam" kata Febi antusias.
Kini merekapun memasuki restoran yang dimaksud dan kini pelayan sudah mendatangi mereka.
Setelah memesan beberapa menu yang mereka pilih kini mereka mengobrol dan sedikit membicarakan tentang rencana bisnis yang akan digeluti oleh Miranda dibantu Ratmi dan Febi.
"Aku harus segera memberitahu Nurman agar menyiapkan sejumlah uang untuk bisnisku ini. Gak sia-sia aku sebentar lagi punya menantu Febi. Jadi dia dan mamanya yang akan menjalankan bisnisku dan aku akan di rumah saja menikmati hasilnya" batin Miranda.
"Ma, kenapa senyum-senyum begitu. Ada yang membuat mama bahagia kah" tanya Febi yang tadi tak sengaja melihat seulas senyum tipis dibibir Miranda.
"Mama tadi membayangkan kamu sudah menjadi menantu mama dan kamu memiliki beberapa anak. Bahagianya hati mama, jadi mama akan tenang karena Nurman diberikan keturunan dan mama gak kesepian lagi" bohong Miranda.
Tapi sebenarnya juga Miranda menginginkan cucu dari Nurman juga sih biar ada penerusnya tetapi yang dia lamun kan tadi tidak seperti yang dia katakan jadi terpaksa Miranda menggunakan alasan itu agar Febi tidak mengetahuinya.
"Aku juga sudah tidak sabar tahu gak ma, dan aku juga ingin nantinya menjadi satu-satunya menantu kesayangan mama" kata Febi jujur.
"Kalau itu pastilah Febi sayang, kamu pasti akan menjadi satu-satunya menantu kesayangan mama" jawab Miranda bahagia.
Perbicangan itu terhenti saat pelayan restoran itu mengantarkan pesanan dan menatanya di atas meja.
"Silahkan menikmati hidangannya nyonya-nyonya sekalian" kata pelayan itu sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
Ratmi yang baru pertama kali memakan steak terlihat kebingungan bagaimana caranya memakannya.
Dia menoleh kearah Febi dan Miranda bergantian untuk memperhatikan bagaimana caranya memakan makanan yang sangat mahal itu.
Ratmi mulai meniru seperti apa yang dilakukan oleh Febi dan Miranda tapi tetap saja kaku dan itu terlihat oleh pandangan Febi.
"Ma jangan malu-maluin masak makan steak gitu aja gak bisa" bisik Febi.
"Emang aku gak pernah makan steak feb, kan kamu tahu sendiri mama tinggal dikampung" jawab Ratmi sedih.
"Kenapa bu Ratmi, febi" tanya Miranda.
"Maaf bu saya bingung caranya makan steak, makhlum lah saya kan orang kampung dan beruntung anak saya sukses dikota" jujur Ratmi.
"Tolong diajari lah Feb, kasihan mama kamu.
Ya dimakhlumi saja namanya juga tidak tahu" jawa Miranda tersenyum tapi dalam hati dia tertawa menertawakan calon besannya itu.
"Aku gak mau nanti Febi mengajak mamanya tinggal dirumah. Gimana reputasiku nanti" batin Miranda.
Begitulah kumpulan orang-orang yang tamak dan orang-orang yang penuh dengan kesombongan juga kelicikan pasti kumpulnya juga sama orang-orang seperti itu.
Tinggal waktu saja melihat kehancuran dari setiap keburukan mereka dibalas sama Allah.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan mendapatkan balasan.
Sungguh miris sekali melihat mereka yang terlihat baik tapi hanya sebuah topeng saja.
Mau tidak mau akhirnya Febi membantu mamanya dan beberapa kali mencoba akhirnya Ratmi sudah bisa makan steak itu.
"Nah mudah kan bu" kata Miranda.
"Iya bu besan ini mudah sekali. Dan makanan ini sangatlah enak bu besan. Tapi menurut aku lebih enak masakan bu besan kemarin dibandingkan dengan ini" kata Ratmi sengaja menyanjung Miranda.
"Benarkah jeng Ratmi, jadi masakan saya sangat enak begitu" tanya Miranda terlihat senang dan merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh calon besannya itu.
"Beneran bu besan, apalagi kalau masakan bu besan dijual dikampung saya sudah pasti pelanggannya banyak sekali.
Lha wong masakannya sangat enak tiada duanya" Ratmi terus mengeluarkan sanjungannya hingga Miranda merasa besar kepala.
"Wah bisa tuh kita juga buka dikampung jeng Ratmi selain di Jakarta ya kan Feb. Biar semakin besar dan berkembang usaha kuliner ini" kata Miranda yang akhirnya ingin juga membuka restoran dikampung Febi.
"Iya ma, kalau dikampung tidak perlu biaya yang sangat besar mam tinggal mama Miranda kerja sama aja sama mama Ratmi.
Kan mama Ratmi ada tanah dekat pinggir jalan kosong nanti bisa dijadikan lokasi untuk usaha" kata Febi.
Ratmi yang sedang makan jadi tersedak karena ucapan Febi yang bilang tanah itu akan dijadikan lahan usaha.
Dengan cepat Febi memberikan air minum kepada mamanya itu.
"Mama kenapa" tanya Febi.
"Mama gak apa-apa kok, mungkin karena bersemangatnya makan makanan ini jadi tersedak" jawab Ratmi bohong
"Si Febi keterlaluan masak tanah itu mau dijadikan tempat usaha sih" batin Ratmi yang seakan tidak rela dengan apa yang dibicarakan dengan Febi tadi.
"Makanya jeng kalau makan dinikmati pelan-pelan saja jangan terburu-buru" kata Miranda.
"Iya, maaf bu besan" kata Ratmi menyembunyikan kekesalannya pada Febi dan Miranda.
"Oh ya bu bagaimana apa bisa kita bekerjasama seperti yang dikatakan oleh Febi. Kan lumayan lho bu selain dapat biaya sewa laham bu Ratmi nanti juga yang akan mengelola restoran itu. Bisa double lho hasilnya bu Ratmi nanti.
Bagi hasil dari pengelolaan usaha dan hasil dari sewa lahan" kata Miranda.
"Betul tuh ma, pasti nanti tetangga-tetangga mama yang suka nyinyir itu akan bungkam deh. Febi yakin mereka akan malu dan meminta maaf sama mama" jawab Febi yang membuka kartu mamanya.
"Oh ya, emang ada tetangga jeng yang suka nyinyir ya?" tanya Miranda.
"Ada lah ma, namanya juga dikampung. Kalau kita kaya pasti semua heboh" jawab Febi.
"Kelihatannya seru banget ya" kata Miranda membayangkan orang-orang nyinyir yang kepanasan nantinya.
Dari tadi Ratmi hanya mendengarkan tapi pikiran Ratmi menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh Febi dan Miranda.
Ratmi sepertinya mulai tergiur dengan apa yang dikatakan oleh Febi dan Miranda.
"Wah kayaknya itu ide yang bagus deh. Aku akan pergunakan uang itu untuk beli mobil dan kebutuhan lainnya biar aku jadi kaya dan berkelas seperti bu besan" batin Ratmi.
semangat terus updatenya kak
gdeg sm mmhnya nurmn .. bner" ichh mrtua kek gtu mit amit .. jgn smpe lh ... ckup d dunia novel aj hee