"Kau begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukaimu."
Sebuah kisah cinta antara gadis yang merupakan pengawal dan seorang pria pewaris tunggal generasi ketiga perusahaan terbesar di Asia, Edzardians Group.
Siapa sangka Selita akan tergila-gila dengan Alvaro Edzard yang dijulukinya sebagai iblis tampan yang juga ternyata merupakan pria angkuh, kasar dan arogan!
Apakah Alvaro yang dingin itu akan membalas cinta Selita? Ataukah dia memiliki gadis di masa lalunya yang akan menjadi penghalang bagi Selita untuk mendapatkan hati Alvaro?
Penasaran? Kuyyy mampir ✨
©Copyright by Stivani, April 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : Sekamar, berdua?
Mereka menempuh perjalanan selama empat jam, dan itu membuat badan Selita terasa pegal karena memutar kendali dengan waktu yang lama. Dia memandangi pria yang duduk di belakangya dengan tatapan nanar.
"Kok bisa Tuan tidur sepulas itu! Dia nggak kasihan apa kalau aku kecapean nyetir." Selita menggerutu karena kelelahan.
"Aku tidak tidur!"
Suara dari balik punggung Seli menyambar telinganya. Dia kelihatan gelagapan seperti kepergok melakukan sesuatu.
"Ehh....ehh Tuan sudah bangun?" seringai senyum paksa keluar dari wajahnya.
"Sekitar jarak enam puluh meter ada sebuah motel di sebelah kanan. Kita berhenti di situ," ucap Al masih memejamkan matanya.
"Baik Tuan."
Apa dia beneran tidak tidur? Apa dia memperhatikanku dari tadi! Kok dia tahu kalau lokasinya sudah dekat. Dia kan lagi memejamkan mata! Jangan-jangan suami masa depanku ini ada kekuatan supranatural! batin Seli.
Selita mulai lagi memikirkan hal-hal yang omong kosong. Imajinasinya terlalu tinggi sehingga seringkali dia membuat bosnya naik pitam.
Gadis itu menghentikan mobilnya tepat di depan bangunan yang cukup tinggi, berlatar abu-abu. Itu adalah sebuah motel yang di pesan Alvaro untuk menjadi tempat mereka menginap selama tiga hari.
Selita segera membukakan pintu untuk Al. Pria itu memandangi tempat yang akan ditinggali mereka selama beberapa hari. Selita menurunkan barang-barang mereka yang ada di bagasi mobil.
"Tuan, apa di sini tidak ada pelayan yang akan menjemput kita dan membawakan barang-barang ini." Seli terlihat kewalahan saat membawa ketiga koper mereka.
Al tidak menjawab pertanyaan Seli dan segera berjalan mendahului gadis itu yang dengan susah payah menarik ketiga benda di tangannya.
"Tuan,,, tunggu aku! Ampun dahh berat amat." Gadis itu berlari menyusul bosnya yang berjalan mendahuluinya.
Ketika memasuki bangunan itu, Al disambut oleh seorang wanita dari meja resepsionis.
"Selamat datang Pak! Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan senyuman.
Al menunjukan kode booking melalui ponselnya.
"Maaf Pak, kamarnya tinggal satu."
"Tapi saya memesan dua! Kalian pun telah mengkonfirmasinya, apa-apaan ini!" ketus Al mulai kesal.
"Iya Pak kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, ada beberapa kamar yang memang masih kosong, tetapi masih sementara di renovasi." Wanita itu menundukan kepalanya.
"Kalau begitu saya batalkan pemesanannya! saya akan mencari tempat lain untuk menginap," ucap Al.
Pria itu meninggalkan motel yang sudah usang itu. Dia memeriksa ponselnya untuk mencari tempat penginapan baru yang layak untuk mereka tempati. Selama beberapa menit dia mengotak-atik ponselnya namun tidak menemukan penginapan selain motel itu. Jaringannya pun tidak cukup bagus untuk membuka internet.
"Ahhh sial!" menendang sebuah kaleng di depan kakinya.
Selita memperhatikan bosnya yang terlihat jengkel,dia mendekatinya dan bertanya.
"Tuan, kenapa Tuan keluar lagi? Apa kita tidak jadi menginap di tempat ini."
Al menatapnya sejenak, Apa aku harus berbagi kamar dengan gadis kepo ini! Bisa-bisanya otakku meledak meladeni pertanyaan omong kosongnya nanti! batin Al.
Seperti biasa, Al tidak menjawab pertanyaan Seli dan segera kembali masuk ke dalam motel itu.
"Tuan kok aneh sekali ya. Ada apa ini?" mengejar bosnya.
"Selamat siang ada yang...." wanita itu menghentikan ucapannya ketika melihat pria yang tadi kembali datang.
"Saya akan mengambil kamar itu!" ketus Al.
"Baik pak!"
Tanpa bertanya wanita itu langsung menghadap monitornya dan segera mengkonfirmasi kembali pemesanan kamar.
Al menatap Seli dan menjentikan jemarinya, pertanda gadis itu segera mendekat. Dengan nafas yang ngos-ngosan, Selita bergegas mendekati Al.
"Ada apa Tuan?" tanya Seli.
"Kamar di motel ini hanya sisa satu, dan aku akan berbagi kamar denganmu. Jangan berpikir yang tidak-tidak dan jangan bertanya!"
"Loh kenapa Tuan?" Gadis itu tidak sadar kalau dia melontarkan pertanyaan.
"Sudahku bilang jangan bertanya! Mulai saat ini kau tidak diijinkan berbicara denganku. Kecuali dalam situasi darurat!" ucap Al dengan sinis.
Selita menganggukan kepalanya pelan, dia tidak paham dengan bosnya yang suka melakukan seenaknya. Dia seolah mengunci bibirnya rapat dengan tangannya dan membuang kunci yang tidak kelihatan itu.
Wanita yang berdiri di meja resepsionis itu memberikan sebuah kunci dan kertas kecil kepada Al. Al berjalan menuju lift, sesampainya di lift sebuah tulisan menghalanginya untuk masuk.
"Sedang dalam perbaikan"
Al menghela nafas panjang, dan melangkahkan kakinya menuju tangga darurat. Sementara di belakangnya diikuti seorang gadis yang membawa barang-barang mereka. Selita menyeka keringat yang bercucuran didahinya, dia terlihat sangat kelelahan membawa ketiga koper yang berat itu, apa lagi akan menaiki beberapa anak tangga.
Al melihat kunci kamar yang bertuliskan angka 331. Tandanya kamar mereka ada di lantai tiga. Beberapa anak tangga telah dilalui mereka, dan tibalah mereka di lantai dua.
"Tuan, apa kamarnya masih jauh?" ucap Seli dengan nafas yang tidak beraturan.
Gadis itu bernafas tidak karuan, detak jantungnya berdebar kencang karena menempuh anak tangga yang cukup banyak dengan membawa benda berat.
"Satu lantai lagi," ucap Al tanpa menoleh ke arah Selita.
Apa Tuan tidak merasa kasihan denganku? Setidaknya bantu aku untuk membawa koper-koper ini! Salahku sih yang membawa banyak barang!
Tibalah mereka di lantai tiga. Seli menghentikan langkahnya dan beristirahat sejenak ketika menaiki anak tangga yang paling terakhir. Al sedang mencari angka yang sesuai dengan kunci itu, beberapa saat kemudian dia menemukan kamar mereka.
"Ngapain kau bengong di situ! Ayo masuk."
Selita tak kuasa menahan lelahnya. Dia hanya menganggukan kepala dengan lemas dan segera membawa barang-barang itu ke kamar. Al menatap seluruh ruangan itu dengan mengernyitkan dahinya.
Hanya ada satu ranjang, fasilitasnya pun seadanya. Hanya terdapat satu sofa, AC, lemari pakaian minimalis televisi kecil, kamar mandi kecil dan telepon. Tapi cukuplah untuk di tempati dua orang.
"Penginapan macam apa ini! Sangat kumuh dan usang," menepis pakaiannya yang terkena debu.
Selita segera memasuki kamar itu, dia meletakkan ketiga koper itu di depan lemari. Matanya berbinar ketika melihat sebuah kasur yang seolah memanggil namanya untuk rebahan. Seringai senyum menghiasi wajah Seli, dia pun segera membaringkan tubuhnya di atas kasur yang lumayan empuk itu.
"Arghhh nyamannya!" ucap Seli.
Gadis itu seperti hilang kesadaran saat tubuhnya tengkurap di ranjang, dia lupa bahwa dia bersama-sama dengan bos dinginnya. Al pun menyaksikan tingkah konyol Seli, dan hanya menggelengkan kepala seolah pasrah dengan keadaan jika dia harus berbagi udara di ruangan kecil itu bersama gadis kepo.
Selang beberapa menit kemudian Seli menyadari bahwa dia tidak sendiririan di ruangan itu.
Tuan Al! mampuslah aku!
Seli melonjak dengan kaget dan segera beranjak dari rebahannya. Dia mendapati sosok pria yang berdiri kaku sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Maaf Tuan, aku terlalu kelelahan sampai aku lupa kalau aku bersama Tuan." Seli menundukan kepalanya, malu.
"Ranjang itu tempat tidurku! menjauhlah dari sana!"
"Terus aku tidur di mana Tuan?"
"Di situ," menunjuk sofa dengan ujung matanya.
Tuan jahat banget, hikss. Masa perempuan disuruh tidur di sofa? Yang benar saja. Gerutu batin Seli.
Bersambung...
Hay readerssss 💕💕
Berikan cinta kalian untuk penulis 🌹