NovelToon NovelToon
AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 rumor mulai muncul

Ruang keluarga itu mendadak terasa lebih sunyi setelah pembicaraan mengenai akuisisi saham selesai.

Nadia masih berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dengar ketika ayah mertuanya kembali bersandar di sofa dan menatapnya dengan penuh perhatian.

"Nadia."

"Ya, Ayah?"

Pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Kalau bicara jujur sebagai partner di firma, bukan sebagai istri... bagaimana kinerja Adrian selama ini?"

Pertanyaan itu membuat Nadia membeku.

Untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa.

Pandangan matanya turun ke cangkir teh di atas meja.

Pikirannya dipenuhi berbagai jawaban yang saling bertabrakan.

Karena jika harus berkata jujur...

Kinerja Adrian memang tidak sebaik yang orang-orang kira.

Selama bertahun-tahun bekerja bersama, Nadia sering kali berada di belakang layar membantu banyak pekerjaan Adrian.

Memeriksa dokumen yang terlewat. Menyempurnakan strategi perkara.

Bahkan beberapa kali memperbaiki kesalahan yang nyaris merugikan klien.

Bukan karena Adrian bodoh.

Bukan pula karena ia tidak memiliki kemampuan.

Namun Adrian sering kali kurang teliti dan mudah terbawa emosi saat berada di bawah tekanan.

Hal yang sangat berbahaya dalam dunia hukum.

Sayangnya, nama besar keluarga Mahendra membuat banyak orang enggan membicarakan kekurangan itu secara terbuka.

Sementara Nadia selama ini terus menutupi celah-celah tersebut tanpa pernah mengeluh.

Keheningan Nadia rupanya cukup menjadi jawaban bagi ayah mertuanya.

Pria itu menghela napas panjang tatapannya berubah jauh.

Seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.

"Aku sudah menduganya."

Nadia langsung mengangkat wajah.

"Ayah..."

"Dulu aku menentang Adrian masuk dunia hukum bukan tanpa alasan."

Suara pria itu terdengar tenang.

Namun ada kekecewaan yang samar di baliknya.

"Aku mengenal anakku sendiri."

Nadia merasakan dadanya mengencang.

"Ayah tahu Adrian keras kepala."

Pria itu tersenyum tipis.

"Terlalu keras kepala."

"Lalu terlalu sering membuat keputusan berdasarkan perasaan."

Tatapannya beralih ke jendela besar di ruang keluarga.

"Aku tidak pernah meragukan kecerdasannya."

"Tapi untuk menjadi pengacara hebat, kecerdasan saja tidak cukup."

Ibu Mahendra yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

"Dari awal aku bilang, Adrian lebih cocok memimpin perusahaan."

Nadia menggigit bibir pelan.

Ia mulai tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini.

Apalagi ketika nama Adrian terus dibahas seolah pria itu tidak memiliki kemampuan apa pun.

"Ayah dan Ibu terlalu berlebihan."

Keduanya menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak datang, Nadia menyela pembicaraan mereka.

Sorot matanya tetap sopan.

Namun suaranya terdengar tegas.

"Adrian memang punya kekurangan."

"Tapi semua orang juga punya."

Ayah mertuanya memperhatikannya dengan saksama.

Nadia menarik napas sebelum melanjutkan.

"Dia bekerja keras."

"Mungkin hasilnya tidak selalu sempurna."

"Mungkin dia tidak secepat beberapa partner lain."

"Tapi dia tetap berusaha."

Kalimat itu keluar tulus dari hatinya.

Karena di balik semua kekurangan Adrian, Nadia tahu suaminya tidak pernah berhenti mencoba membuktikan dirinya sendiri.

Meski selalu hidup di bawah bayang-bayang keluarga Mahendra.

"Nadia."

Ayah mertuanya tersenyum kecil.

Senyum yang mengandung rasa iba sekaligus kagum.

"Kamu selalu membelanya."

Nadia terdiam.

Ia tidak menyangkal, Karena memang benar.

Selama ini, tidak peduli seberapa banyak masalah yang Adrian buat.

Tidak peduli seberapa berat beban yang harus ia tanggung.

Nadia selalu berada di sisi suaminya.

Selalu menjadi orang pertama yang membela Adrian ketika orang lain meragukannya.

Bahkan ketika Adrian sendiri tidak menyadari semua yang telah ia lakukan.

Ayah mertuanya menghela napas pelan.

"Justru karena itulah aku menghormatimu."

Nadia sedikit terkejut mendengar kalimat itu.

Pria tersebut menatapnya dalam-dalam.

"Kalau bukan karena kamu..."

"Aku tidak yakin Adrian bisa bertahan sejauh ini di dunia hukum."

Ruangan kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Nadia tidak tahu apakah dirinya harus merasa bangga... atau justru sedih mendengar kenyataan tersebut. Karena jauh di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya.

Jika selama ini ia selalu menjadi penopang bagi Adrian...

Lalu siapa yang akan menopangnya ketika dirinya mulai lelah?

Nadia masih terdiam setelah mendengar pujian ayah mertuanya ketika suara ibu Mahendra kembali terdengar, memecah suasana yang sempat tenang.

"Tapi memang kalian pasangan yang terlihat sempurna dari luar."

Nada suaranya terdengar ringan, namun Nadia sudah cukup lama mengenal wanita itu untuk mengetahui bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat tersebut.

Ibu Mahendra mengambil cangkir tehnya lalu tersenyum tipis.

"Adrian juga sepertinya sangat memanjakanmu."

Nadia mengernyit pelan.

"Maksud Ibu?"

"Teman-temanku sering melihat kalian."

Wanita itu tersenyum seolah sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan.

"Kupikir aku tidak perlu khawatir lagi."

Nadia semakin bingung.

Ayah mertuanya yang duduk di sebelah tampak tidak terlalu memperhatikan, sementara ibu Mahendra melanjutkan ucapannya.

"Katanya Adrian sering membelikanmu barang-barang mewah."

Tubuh Nadia langsung menegang.

"Apa?"

"Barang branded. Tas. Perhiasan. Hal-hal seperti itu."

Untuk sesaat Nadia benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Barang branded?

Perhiasan?

Bahkan selama lima tahun menikah, Adrian hampir tidak pernah membelikannya hadiah mahal.

Bukan karena Nadia menuntut kemewahan.

Namun beberapa kali ia pernah bercanda meminta tas yang disukainya atau jam tangan yang ia incar.

Dan setiap kali itu pula Adrian selalu berkata nanti.

Atau lain kali.

Yang pada akhirnya tidak pernah terwujud.

Karena itu mendengar kalimat tersebut terasa begitu asing baginya.

Namun Nadia segera menurunkan pandangannya, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang muncul di wajahnya.

"Teman-teman Ibu bahkan pernah melihat kalian berdua di Bukit Langit minggu lalu."

Ibu Mahendra tersenyum tipis.

"Katanya Adrian sangat perhatian."

Napas Nadia seolah tertahan.

Bukit Langit.

Ia mengenal tempat itu.

Salah satu destinasi wisata terkenal yang cukup jauh dari Jakarta.

Dan yang lebih penting...

Minggu lalu ia sama sekali tidak pergi ke sana.

Ia bahkan menghabiskan akhir pekan di kantor menyelesaikan berkas perkara yang mendekati tenggat waktu.

Jantung Nadia mulai berdetak lebih cepat.

Namun wajahnya tetap berusaha tenang.

Setenang mungkin.

"Adrian memegang tanganmu sepanjang jalan, katanya."

Wanita itu terkekeh kecil.

"Kurasa aku salah menilai anakku."

Nadia merasakan jemarinya perlahan mendingin.

Ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Karena orang yang dilihat teman-teman ibu mertuanya jelas bukan dirinya.

Namun jika bukan dirinya...

Lalu siapa?

Pikirannya langsung teringat pada berbagai kejanggalan beberapa bulan terakhir.

Dan sekarang...

Cerita tentang seorang wanita yang dikira dirinya.

Wanita yang pergi bersama Adrian ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi.

Tidak menunjukkan luka yang perlahan mulai terbentuk di dalam dirinya.

Ibu Mahendra yang tidak mengetahui gejolak dalam hati menantunya hanya melanjutkan pembicaraan.

"Setidaknya sekarang aku tahu Adrian memperlakukan istrinya dengan baik."

Tatapannya menyapu Nadia dari atas ke bawah.

"Kamu benar-benar hidup seperti nyonya besar."

Kalimat itu terasa seperti sindiran yang dibungkus pujian.

"Nggak perlu memikirkan apa pun."

"Karier bagus."

"Suami kaya."

"Dibelikan barang-barang mahal."

Wanita itu tersenyum tipis.

"Kalau dipikir-pikir, hidupmu cukup beruntung."

Nadia menatap meja di depannya.

Pandangannya mulai kabur sesaat.

Bukan karena air mata.

Melainkan karena ia berusaha keras mempertahankan ekspresi tenang di wajahnya.

Karena hanya dirinya yang tahu kenyataan sebenarnya.

Bahwa tas mahal yang dibicarakan itu tidak pernah ia miliki.

Perhiasan yang disebut-sebut tidak pernah ia terima.

Dan pria yang katanya menggenggam tangannya di Bukit Langit... bahkan sudah berbulan-bulan jarang menggenggam tangannya sendiri.

Sementara jauh di dalam hatinya, sebuah pertanyaan mulai tumbuh dengan jelas.

Jika wanita itu bukan dirinya...

Lalu siapa perempuan yang selama ini menerima semua perhatian yang tidak lagi diberikan Adrian kepadanya?

1
Mundri Astuti
emang ...ga ngotak si klo mo berkhianat, kan semuanya kena imbasnya, tu perempuan pilihan kamu
Mundri Astuti
ulah Bianca lagi ke nya, klo Iyya bener" ni org, masih aja ga da kapok"nya, oi ni tuh semua juga krn kamu
Mundri Astuti
si Adrian yg diingetnya calon anaknya yg sama Bianca, yg sama Nadia ga sama sekali, padahal sama" darah dagingnya juga, coba anak yg dikandung Bianca meninggal kira" gimana tu org yak🤔
Mundri Astuti
diiihhh bisa bisanya ngomong gitu, habis menghancurkan semuanya...karmanya yg kejam thor buat tu duo dajjal
Mundri Astuti
bagusnya pasangan duo laknat ini masuk bui, dan dpt sangsi sosial, selama ini Nadia yg kena getahnya padahal mereka yg berbuat
Mundri Astuti
woahhhh pasangan duo laknat ternyata...sama" mencapai ambisinya sendiri
Mundri Astuti
semoga lekas terungkap, dan karma tu duo dajjal
Mundri Astuti
hati" Anna, kamu dah bicara terbuka, semestinya di simpan dulu sendiri sambil cari bukti..klo dah begini bakalan panik pelakunya dan mencoba menghilangkan brg bukti
Mundri Astuti
Adrian romannya yg nyelakain ayahnya sendiri...fix double kill ni mah karmanya thor
Mundri Astuti
mudah"an Nadia jadi sama Revano yg lebih segalanya, biar tau rasa si Adrian ...beuhhh Nadia tuh lebih berharga dari selingkuhannya
Mundri Astuti
Thor kasih Adrian dan selingkuhannya karna yg double kill, masih ga ada penyesalan dan ga ngerasa bersalah banget dia, padahal dia tau Nadia juga mengandung anaknya, dan posisinya sendiri krn pengkhianatan ya...

coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!