"Namaku Rara..... Rara.... bukan Khanza. Jangan panggil aku dengan nama jelek itu!" kata Rara emosi ketika orang rumah memanggilnya dengan nama Khanza.
Dia sangat membenci nama itu. Bukan hanya nama itu, tapi juga orang yang telah memberinya nama itu, yaitu Sahreza Gracio kakak sepupunya.
Khanza Ghaniya adalah nama yang di berikan oleh Gracio sejak dia dalam kandungan ibunya. Sebenarnya Rara sangat suka dengan nama itu. Tapi karena kebenciannya pada Cio membuat dia tidak suka nama itu.
Cio pergi ke Eropa untuk melanjutkan studi di sana membuat mereka berpisah. Rara berjanji akan menunggu Cio kembali. Cio juga meminta Rara untuk menunggunya pulang. Meski jauh, hubungan cinta dan kasih sayang persaudaraan di antara mereka tetap terjalin.
Tapi seiring berjalannya waktu Gracio melupakannya. Hal itu membuat Rara benci Gracio dan mengganti namanya dengan Rai Rara.
12 tahun berlalu keduanya di pertemukan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Graciana Putri
Bali.
Sebuah hotel mewah lantai bawah. Sedang berlangsung sebuah acara pernikahan mewah dan meriah. Yang di hadiri oleh tamu kalangan atas serta para pejabat penting. Acara terus berlanjut. Para tamu terus berdatangan memberi ucapan selamat pada ke dua mempelai dan keluarga belah pihak. Setelah itu berbaur dengan tamu undangan lainnya pada tempat yang telah di sediakan. Acara terus berlangsung di iringi musik serta nyanyian suara merdu para biduan.
Seorang wanita cantik, anggun mempesona dengan pakaiannya yang mewah dan elegan melangkah gemulai menuju ke tempat ke dua mempelai yang sedang duduk bersanding bahagia di pelaminan.
Graciana Putri, adik kandung Sahreza Gracio. Putri dari Nesa Saputri Artawijaya dan almarhum Revandra Aditama. Siapa yang tidak mengenalnya? Semua akan langsung mengenali jika dia menyebut nama Daddynya Rafa Ravendro Artawijaya. Dan jika mengaku sebagai adik dari Ryu Deva Mayandra, maka orang-orang penting sampai kelas atas pun akan menghargai dan menghormatinya. Karena semua kalangan bisnis tanah air dan luar negeri mengenal kakak dan Daddynya. Hanya saja selama ini Cia menutupi status dirinya. Karena sifatnya yang cuek, apa adanya tanpa mau memakai nama besar Daddy dan kakaknya.
"Gracia....!" panggil mempelai wanita dengan suara agak tinggi.
Cia tersenyum manis melihat pada Widi, sahabatnya yang menjadi ratu malam pengantin malam ini. Keduanya bersahabat sejak dari SMA, kuliah dan hingga saat ini. Widi yang tahu tentang statusnya yang sebenarnya.
Keduanya langsung berpelukan senang begitu dekat. Suami Widi juga ikut menyalami Cia.
"Terimakasih ya sudah datang ke pernikahan ku." ucap Widi senang dengan kehadiran sahabat nya ini.
"Tentu saja aku pasti datang. Maaf aku telat. Soalnya aku baru nyampe sejam lalu. Dan kau tau kan? Aku harus menghias dan mendadani tubuhku....?" kata Cia tertawa kecil dengan matanya yang mendelik.
"Iya Nona Artawijaya, aku tahu. Telat juga gak apa-apa. Yang penting bagiku, kamu datang di hari bahagia ku. Aku senang banget. Karena bagiku kamulah tamu spesial dan istimewa malam ini." Widi kembali memeluk sesaat sahabatnya, lalu melepas. Sahabat baik dan rendah diri meski kaya raya.
Cia ikut tersenyum senang.
"Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga rumah tangga mu bahagia dan langgeng selamanya beb! Kau bahagia, aku lebih bahagia. Aku juga doakan semoga cepat dapat momongan." menyentuh perut Widi.
"Amin, Amin... makasih. Aku doakan hal sama juga untuk mu. Semoga cepat ngikutin aku naik pelaminan. Dapat cowok yang tulus nggak sama seperti kemarin itu. Jauh jauh deh dari pria bajingan busuk seperti itu." bisik Widi dengan wajah masam.
"Gak perlu mengungkitnya. Aku benci dan muak." kata Cia dengan kesal mengingat mantan pacarnya seorang bajingan.
"Semoga dia dapat karmanya." sumpah Widi.
"Jangan ucap yang buruk buruk. Ini hari bahagiamu, Lo pengantin baru. Harus ngeluarin kata yang baik baik. Biar kebaikan terus tercurah pada rumah tangga mu!"
"Oke Non.....Aamiin! Terus kau kesini sama siapa?"
"Sendiri, aku naik pesawat pribadi Daddy!"
"Terus apa udah ada yang baru?" Widi tersenyum menggoda.
"Aku belum memikirkannya. Aku masih trauma dan harus belajar dari kemarin. Aku masih ingin sendiri dulu." kata Cia tak bersemangat.
"Udah, jangan lemah gitu. Aku yakin kau bakalan dapet pria tampan dan baik. Percaya deh sama gua, karena lo orang baik Ca...!"
"Entahlah Wid, aku belum memikirkan hal itu."
"Tapi menurut gue, kau harus segera cari yang baru. Nanti si bajingan itu berpikir lo belum bisa move on darinya."
"Cih...najis deh gue ingat dia lagi. Gue malah lupa tampang busuknya itu. Gue udah buang jauh dari hati dan hidup gua. Gua malah menyesal kenapa harus bisa kenal dan berhubungan sama keledai rendah itu." umpat Cia geram.
"Udah..... gak perlu nyalahin diri sendiri. Bajingan itu memang gak pantas untuk mu. Pokoknya lo harus tunjukkan pada kedirinya kalau lo kuat, happy. Dan Lo harus secepatnya membuka hati lagi pada yang lain."
"Gua akan coba Wid. Ya udah...gua ke bawah dulu ada tamu yang datang di belakang gue!"
"Oke bebh, nikmati makanannya ya. Tapi sebelumnya kita Selfi dulu."
"Boleh, biar ada kenangan pada pernikahan lo."
Cia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa gambar Selfi mereka.
Lalu dia segera turun karena ada beberapa tamu di belakangnya. Cia melangkah mencari tempat duduk sendiri. Pelayan datang membawakan minuman dan meletakkan di depannya. Dia menolak ketika di suguhkan makanan.
Musik terus mengalun, tamu undangan semakin banyak. Ada yang berdansa bersama pengantin. Ada juga yang hanya duduk berkelompok. Cia bingung mau melakukan apa, dia mengambil ponsel untuk menghubungi Nesa dan juga Ara. Dia ingin mengatakan telah sampai di bali dengan selamat agar tidak membuat ke dua wanita itu khawatir. Apalagi setelah insiden buruk yang hampir membuat kesuciannya di renggut oleh mantan pacarnya. Nesa dan Ara melarang untuk pergi, tapi keduanya mengalah setelah tahu yang menikah adalah Widi sahabat dekat Cia. Sebelum pergi mereka mewanti-wanti dirinya untuk berhati-hati dan jaga diri sebaiknya.
Cia kesini menggunakan jet pribadi Daddynya karena penerbangan yang mendadak.
Cia beranjak dari tempat duduknya. Untuk karena suara Nesa kurang kedengaran dengan adanya musik.
Tubuhnya tampak sengaja menabrak sosok di depannya karena hanya fokus melihat pada ponselnya.
"Maaf....saya tidak sengaja." ucap Cia merasa bersalah. Dia mengangkat kepala melihat siapa yang di tabrak.
Wajahnya berubah tegang setelah melihat siapa orang di depannya. Seorang pria dengan senyuman manis. Di apit oleh dua wanita berpenampilan seksi yang mengapit ke dua lengannya.
Cia sangat benci dengan pria ini. Boby, mantan pacarnya yang dua minggu lalu di putuskan karena kedapatan selingkuh kesekian kali. Dan karena tidak terima ia putuskan, bajingan ini sakit hati lalu merencanakan jebakan kotor padanya. Bajingan ini menyekapnya setelah sebelumnya menjebaknya dengan obat perangsang dan hampir merenggut kesuciannya. Dirinya hampir saja di perkosa jika tidak di selamatkan oleh seseorang.
Cia tidak mau berurusan lagi dengan pria busuk dan bejad ini. Cia segera melangkah hendak menjauh. Tapi lengannya di tahan oleh Boby.
Boby tersenyum menyeringai padanya.
"Halo sayang. Apa kau tidak ingin menyapaku?"
"Cih....!" umpat Cia. Dia menepis tangan Boby kasar dari lengannya. Lalu kembali melangkah tapi Boby kembali menahannya.
"Lepas....aku tidak punya urusan denganmu!" sentak Cia emosi.
"Jangan kasar begitu dong sayang. Biar bagaimanapun aku adalah bekas pacarmu, yang kau sayangi dan cintai. Lembut lah sedikit!"
"Cih, manusia sampah. Bajingan tengik! Lepas.... Jangan mengganggu ku! Kita sudah berakhir." Cia menarik tangannya kuat, tapi Boby semakin kuat memegang hingga lengan Cia sakit. Boby menarik lengannya, hingga tubuh Cia menempel padanya."Sudah ku katakan aku tidak mau putus dengan mu." katanya penuh penekanan.
Cia kembali mengumpatnya.
Boby mendekat kan wajahnya di depan wajah Cia. Menghirup aroma wangi tubuh Cia. Matanya nakal melihat tubuh indah Cia dengan nafsu. Cia menarik tubuhnya, tapi Boby menahan kuat.
"Tubuhmu wangi baby. Kau juga semakin cantik dan seksi. Kau semakin menarik. Aku suka. Apa sebaiknya kita lanjutkan urusan yang tertunda kemarin?" bisik Boby dengan senyuman seringai. Tatapan mata nakal, licik.
Cia tersenyum sinis. Dia benar-benar muak dan benci pria ini. Cia mengangkat tangan kanannya dan cepat menampar wajah Boby dengan kuat.
Pegangan Boby lepas. Dia menyentuh bibirnya yang terasa sakit. Bibirnya pecah mengeluarkan darah.
Cia tersenyum sinis lalu melangkah meninggalkannya. Baru beberapa langkah Cia meninggalkannya, lengannya kembali di tarik kuat oleh Boby.
"Lepas bajingan." sentak Cia keras.
"Menurut lah Baby. Lihat orang orang melihat pada kita. Sebaiknya ikuti aku. Kalau tidak____" Boby menekan sesuatu pada pinggangnya.
Cia terkejut setelah melihatnya. Pisau belati.
"Ikuti aku dengan tenang, kalau tidak benda ini akan merobek gaun dan tubuhmu." ancam Boby menatap tajam dengan licik.
Cia mulai takut. Tubuhnya gemetar. Dia teringat Rafa dan Cio. Dia sangat butuh ke dua pria itu. Tapi dia tidak bisa bergerak menghubungi kakak dan Daddynya untuk meminta bantuan.
Ya tuhan tolong aku. Lepaskan aku dari bajingan tengik ini! Ucap Cia dalam hati. Berharap ada yang melihat apa yang di lakukan Boby padanya. Tapi semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Tak menaruh curiga sedikitpun. Karena mereka mengira keduanya pasangan kekasih yang lagi berdekatan dan mau berdansa seperti yang lainnya.
Cia tidak mau menyerah. Lebih baik dia melawan sekarang dari pada mengikuti ancaman Boby. Tidak mungkin pria ini menyerangnya di tempat umum dan di tengah kerumunan tamu undangan.
Cia menenangkan diri, mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Lalu dengan gerakan cepat, dia menendang milik Boby dengan lututnya.
Boby meringis sakit seraya memegang pribadinya. Kesempatan itu di gunakan Cia melepaskan diri. Dia segera melangkah cepat.
Boby mendengus geram. Dia memberi isyarat pada dua temannya menghadang jalan Cia.
Cia berputar arah, tapi kedua pria itu kembali menghalangi. Boby segera berjalan mendekat ke arahnya dengan pisau yang di sembunyikan di balik jas.
Nafas Cia memburu cepat, takut dan kembali gemetar. Dia bingung mau kemana dan hendak melakukan apa.
Boby mendapatkan dirinya.
"Sudah ku bilang menurut. Kau akan rasakan balasan atas perbuatan mu!" Boby menatap sinis.
Keduanya tarik menarik di dekat kolam.
Cia menggigit tangan Boby. Lalu berbalik dan melangkah dengan cepat untuk melarikan diri. Tapi Naas bagi Cia, baru beberapa langkah berjalan, sepatunya terpeleset. Hilang keseimbangan tubuhnya. Dia jatuh di kolam. Begitu yang sedang di bayangkan saat tubuhnya jatuh ke arah kolam.
Saat tubuhnya miring ke arah kolam, sebuah tangan kekar menangkap tangannya dengan cepat terus di tarik. Dia di selamatkan oleh seorang tamu pria yang baru masuk dan hendak menuju ke arah pelaminan.
Kedua mata Cia terpejam, bibirnya gemetar, juga tangan dan kakinya.
"Nona...anda baik baik saja?" terdengar suara di depan wajahnya.
Perlahan Cia membuka mata. Dia kaget melihat wajah seorang pria di depannya. Sangat dekat dengan wajahnya. Pria itu memeluk pinggangnya. Satu tangan lagi di punggungnya.
Memakai jas formal. Wajahnya? Tampan, membuat mata Cia semakin terbuka.
Cia belum langsung menjawab karena masih kaget dan juga takut dengan apa yang menimpanya. Keduanya masih bertatapan.
Ternyata dia tidak jatuh ke kolam karena pria ini cepat menangkap tubuhnya.
Ah syukurlah....! Kalau jatuh, entah bagaimana malunya aku menjadi bahan tertawaan tamu undangan? gumamnya senang.
"Anda tidak apa-apa?" tanya pria itu. Dia melihat tangan Cia yang gemetar.
"A-aku baik baik saja." Cia Segera menarik dirinya setelah menyadari keadaan. Pria itu juga melepas pelukannya.
Sementara Boby dan kedua temannya segera pergi meninggalkan tempat itu begitu melihat siapa yang menolong Cia. Dia tidak mau berurusan dengan pengusaha besar berkuasa itu.
"Terima kasih atas pertolongan Anda. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Sekali lagi terimakasih. Permisi!" ucap Cia. Lalu melangkah menuju pintu keluar dengan lemah. Dia meninggalkan gedung ini secepatnya sebelum ada hal buruk lagi terjadi. Dalam langkahnya dia mengirim pesan pada Widi untuk pulang dengan alasan menghindari Boby yang hadir di tempat ini.
"Tuan Edgar." sapa beberapa tamu pada pria yang menolong Cia. Pria itu masih menatap kepergian Cia. Wajahnya terhias sedikit senyum menatap kepergian wanita itu. Untuk kedua kalinya dia kembali bertemu Cia secara tidak sengaja. Pertemuan pertama dua minggu lalu, saat dia menolong Cia dari pemerkosaan. Tapi sayangnya Cia tidak mengenalnya? Dan tadi juga Cia tetap masih tidak mengenalnya.
"Tuan Edgar...!" panggilan berulang membuat pria yang bernama Edgar itu segera melihat pada pemanggilnya. Beberapa tamu yang merupakan relasi bisnisnya. Mereka saling menyapa. Sebagian tamu undangan ikut menyalaminya. Edgar segera menuju ke arah pengantin dan memberi ucapan selamat. Dia memeluk Widi dengan binar bahagia. Mencium kening adiknya serta memberi ucapan doa baik pada keduanya. Widi adalah adiknya. Tapi dia tahu kalau adiknya itu bersahabat dengan Cia.
Setelah memberi ucapan dan doa, megambil foto dengan pengantin, Edgar segera bergabung bersama tamu undangan. Terlibat pembicaraan serius seputar pekerjaan dan bisnis. Tapi sebagian pikiran Edgar tertuju pada Cia. Dia teringat terus pada Cia. Edgar seperti orang tidak waras, senyum senyum sendiri membayangkan gadis itu. Yang belum di ketahui namanya.
Siapa gadis manis itu? Sepertinya hatiku tertarik padanya, Gumamnya.
Sementara Cia segera menuju bandara. Dia langsung menuju Appron pesawat di mana terparkir jet pribadi Daddynya. Dia tidak mau lama lama berada di kota ini. Dia ingin segera pulang ke Jakarta. Untuk kejadian buruk yang terjadi malam ini, dia akan menyimpannya sendiri tak ingin memberi tahu pada siapa pun karena tidak ingin membuat orang orang cemas. Yang penting dia selamat dan dirinya baik baik saja. Untung ada pria itu sebagai penolongnya.
Tapi siapa dia? Cia tampak memikirkan sesuatu. Dia merasa seperti pernah bertemu pria itu. Tapi di mana? Cia lupa.
Beberapa detik kemudian, matanya membulat mengingat sesuatu.
"Apa dia orangnya? Sepertinya memang dia!" Cia teringat dengan aroma wangi parfum pria itu. Sama seperti wangi parfum orang yang menyelamatkan dirinya dua minggu lalu saat hampir di perkosa Boby.
Cia yakin pria itu orang yang sama. Cia dapat merasakan hal itu.
"Ah....lagi lagi dia menolongku. Sayangnya aku tidak mengenalnya!" batin Cia. Pesawat terus terbang tinggi ke udara. Membawa dirinya untuk pulang ke kotanya.
Bersambung.
semoga sehat& semuanya baik-baik saja author nya
Aamiin