Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : P e n c u r i
Zianca memutuskan pulang menggunakan taksi online, ia rela mengeluarkan uang lebih untuk bisa tiba dirumah lebih awal.
Sepanjang jalan perasaan Zianca kacau balau, hingga ia tak menyadari banyak panggilan masuk dari orang tuanya bahkan teman-temannya di ponsel tersebut.
Baru saja tiba di rumah, hal buruk lainnya telah menanti.
Sebuah map berisi file persiapan beasiswa keluar negeri milik Zianca terbang tepat mengenai pipi kanannya. Hal mengejutkan itu tak terelakkan oleh Zianca.
Zianca memegang pipinya yang terasa perih, matanya teralihkan dengan lembaran berkas miliknya berserakan di bawah kakinya.
"Kamu darimana aja hah?!" Hardik ibunya murka.
"Aku pergi makan sama Fina dan Puput, Ma.." jawab Zianca dengan bibir bergetar.
"Tuh.. kamu liat Pa !! Belum lulus aja kerjanya udah keliaran kesana kemari.. apalagi kalau dia mau keluar negeri? Mau jadi apa dia disana??!" Omel ibunya panjang lebar.
"Udahlah Ma.. dia itu udah besar, dia juga bisa mandiri.. kita harus bisa dukung keputusan anak-anak kita.. buktinya kamu bisa dukung dan lepas Mikha hidup mandiri jauh dari kita.. dia juga sering gagal berkali-kali tapi kamu bisa tuh terima dan dukung dia.. kenapa nggak bisa dengan Zianca? Apa bedanya dia dengan Mikha? Mereka sama-sama anak kita ! Jadi kita harus perlakukan mereka adil !!" Timpal Ayahnya dengan tegas.
Air mata Zianca tak terasa menetes di pipinya. Ia menatap lembaran-lembaran kertas miliknya di atas lantai itu dengan perasaan campur aduk.
"Karena dia anak yang paling aku benci !" Gumam ibunya dengan nada sinis.
Deg !!
Tiba-tiba Zianca merasa sangat sesak di dadanya, ia merasa sangat kesakitan di dadanya. Air matanya mengalir deras, ia tertunduk haru, ia terisak dalam diam.
"Cukup winda !!" Bentak ayahnya menghentikan pertengkaran mulut itu.
"Zianca.. cepat kamu masuk ke kamar sana.." perintah ayahnya tegas.
"Gara-gara anak sialan ini.. kamu jadi sering marahin aku, Pa !!" Timpal ibunya sinis segera pergi masuk ke kamarnya dan membanting keras pintu kamarnya.
Ayahnya tampak menghela nafas keras, segera bangkit dari duduknya dan menyusul istrinya Winda ke dalam kamar.
Disana Zianca dapat mendengar samar-samar mereka saling adu mulut bahkan terdengar sesekali suara barang-barang yang di banting.
Zianca yang sudah menangis sejak tadi segera bersimpuh memungut semua lembaran kertas miliknya kembali menyusunnya masuk ke dalam map.
Ia segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintu kamarnya. Lalu membanting tubuhnya ke atas kasur dengan perasaan campur aduk.
"Mengapa hidupku seberat ini Tuhan !!" Jeritnya membatin.
Zianca memeluk erat gulingnya, melepas isak tangisnya dalam pelukan guling itu.
"Aku bakal buktikan ke mereka kalau aku bisa hidup tanpa mereka !! Aku akan berhasil tanpa bantuan mereka apapun yang terjadi !!" Tekad Zianca membatin.
***
Keesokan paginya, Zianca mendapati dirinya tertidur masih mengenakan pakaian sekolah. Tadi malam ia langsung tertidur setelah menangis semalaman tanpa mengganti pakaiannya.
Pagi ini tidak ada kegiatan khusus di sekolahnya, karena ia telah menyelesaikan ujian akhirnya, ia merasa sangat lemas, penyakit langganannya yaitu migrain kembali menyerang di pagi yang melelahkan batin itu.
Ia berusaha meraih laci di samping tempat tidurnya, mengambil sebutir obat sakit kepalanya, lalu meneguk segelas air putih di atas meja. Ia melirik jam dindingnya, menunjukkan pukul 6.30 pagi.
Ia mencari ponselnya kesana kemari, dan ternyata ponsel itu masih di dalam tas nya. Ia mendapati ponselnya telah mati karena kehabisan baterai. Zianca segera mengecas ponselnya, lalu menaruhnya di atas meja belajar. Ia memutuskan untuk mencuci muka dan menyikat gigi sebelum akhirnya kembali baring di atas tempat tidurnya.
Tentu saja, ia tidak akan berangkat sekolah hari ini. Ia ingin melewati satu hari inu di rumah saja, tanpa di ganggu dengan banyak pertanyaan dari para sahabatnya.
Sekembalinya dari kamar mandi Zianca kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia lagi-lagi mengabaikan ponselnya. Efek obat sakit kepalanya memberikan efek ngantuk padanya. Ia kembali terlelap hingga akhirnya kembali terbangun pukul 10.45.
Ia mengusap wajahnya, berusaha bangkit, migrainnya terasa sedikit berkurang. Zianca bangkit dari tidurnya dan segera menuju meja belajar, ia menyalakan ponselnya, dan tak butuh waktu lama ia mendapati banyak sekali pesan singkat dari teman-temannya. Bahkan ada banyak notifikasi panggilan tak terjawab dari mereka, bahkan panggilan tak terjawab dari ibu dan ayahnya tadi malam masih ada disana.
Zianca membuka aplikasi chat miliknya. Chat grup nya hingga memiliki 45 pesan dari Fina dan Puput.
"Zi.. lo dimana?"
"Zi.. lo udah pulang kan?"
"Lo udah sampe?"
"Ehh kenapa hp lo nggak aktif sih?"
"Zi sumpah ini nggak lucu.."
"Please kabarin kita kalau ada apa-apa.."
"Lo baik-baik aja kan?"
"Lo di apain sama Aaron?"
"Kalian berdua sebenarnya kenapa sih? Aaron bolak balik nanyain lo karena ponsel lo nggak aktif.."
"Sumpah ya ! Lo bikin kita khawatir !!"
"Zi.. lo udah tidur?"
"Besok lo harus cerita sama kita.. jangan di pendam sendiri ya.."
"Zi.. lo sekolah kan? Mau gue jemput nggak?"
"Zi.. lo sakit? Bokap lo tadi kesini antar surat izin sakit lo.."
"Lo sakit apa? Kepala lo sakit lagi ya? Lekas sehat ya.. pulang sekolah kita singgah ke rumah lo ya.."
"Zi.. Aaron nyariin lo nih.. tapi tenang udah kitq abaikan aja kok.."
"Dia khawatir banget sama lo.. dia mau minta maaf katanya dia udah bikin kesalahan super fatal sama lo.. emg ada apa sih?"
"Asli kita kepo banget.."
Masih banyak lagi isi chat mereka yang di lewatkan Zianca. Intinya mereka amat sangat ingin tau dengan keadaan Zianca.
Zianca lalu tertegun mengingat perjara Aaron yang kemarin tiba-tiba menciumnya di tempat umum.
Itu ciuman pertamanya, tapi ia tidak menyangka itu justru terjadi dengan kesan tidak baik. Lalu ia teringat bahwa ayahnya datang ke sekolah untuk meminta izin dirinya. Zianca teringat jika tadi malam ia mengunci pintu kamarnya, itu sebabnya ia yakin jika ayahnya sudah mengerti bahwa Zianca butuh istirahat untuk hari ini.
Zianca menghela nafas panjang. Ia mengusap kasar wajah cantik sempurnanya dengan kesal. Ia bahkan teringat lagi setiap ujaran-ujaran kebencian yang selalu di lontarkan ibunya sejak dulu hingga tadi malam.
Zianca kemudian meraih ponselnya, ia mencoba mengirim pesan pada gurunya untuk menanyakan perihal beasiswanya.
Tak lama ia mendapat balasan berisi rincian biaya yang harus ia siapkan untuk mengurus semua berkas kuliahnya. Ternyata itu menghabiskan 7,2 juta rupiah. Namun Zianca tidak keberatan karena ia punya tabungan lebih dari itu.
Kemudian Zianca beranjak dari duduknya menuju lemari pakaiannya. Ia mengambil celengannya beserta amplop uang miliknya.
Zianca menghitung semua uang miliknya, namun ia kembali tertegun. Uang tabungan miliknya kini hanya tinggal 1,5 juta rupiah.
Ia membongkar lemari pakaian miliknya, namun tak menemukan sisa uang miliknya disana. Ia mulai panik. Ia berusaha mengingat-ingat kemana duitnya pergi. Ia lalu membongkar semua laci di kamarnya, hingga kamar itu benar-benar berantakan. Ia semakin kalut. Ia kehilangan banyak uang. Jika di total, ia kehilangan kurang lebih 6 juta rupiah.
Zianca terus berusaha mengingat-ingat hingga akhirnya Zianca teringat akan tingkah kakaknya Mikha beberapa waktu lalu.
"Kak Mikha bertingkah aneh saat itu.. dan amplop ini terasa sangat tipis saat aku menyimpannyq di lemari.." gumam Zianca membatin.
"Apa dia mengambil uangku lagi?" Batinnya lagi.
Sebelumnya Mikha juga yang mencuri uang tabungan miliknya, namun lagi-lagi ibunya menyelamatkan Mikha.
Zianca meraih ponselnya, mencoba menghubungi kakaknya Mikha. Namun panggilan itu ternyata di tolak berulang kali oleh Mikha.
Tanpa berpikir panjang Zianca segera mengganti pakaiannya, mengenakan sweater dan sepatu, ia segera bergegas pergi untuk menemui Mikha di kantornya. Zianca memesan ojek online sebelum akhirnya pergi.
Setibanya di kantor Mikha, Zianca kembali menghubungi Mikha lg, namun lagi-lagi panggilan itu di tolak oleh Mikha.
Zianca pun dengan berani segera masuk ke dalam.
...----------------...
Dukung aku selalu 🥰😘
Kaka gak ada akhlak