Shazia tidak pernah menyangka harus mengorbankan masa depannya demi mendapatkan identitas musuh lamanya. Padahal ia adalah seorang ratu mafia yang terkenal akan kekejamannya.
Shazia harus rela menikah dengan pria cacat yang tadinya ia pikir akan membantunya untuk mendapatkan identitas sang musuh. Tidak di sangka pria yang ia nikahi adalah musuh yang selama ini ia cari. Tidak main-main, Shazia bahkan harus bersikap konyol agar semua orang tidak mencurigainya dan mengetahui kalau dia adalah seorang ketua mafia.
Apakah Shazia akan menerima suaminya dan memaafkan kesalahan yang pernah terjadi? Atau Shazia akan balas dendam atas sakit hati yang pernah ia rasakan dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk
Malam semakin larut. Shazia sudah bertanya kepada semua orang yang sering mengunjungi club' tersebut. Tapi, tidak ada satu orangpun yang pernah melihat Nora muncul di sana. Walau terkesan aneh, tapi Shazia juga tidak mau memaksa.
Shazia duduk di salah satu kursi bar yang tersedia. Ia menuang minuman beralkohol ke dalam gelas kristal. Shazia sudah tidak sabar meneguk minuman itu karena memang sejak di rumah ia sudah membayangkan nikmatnya mabuk-mabukan.
"Hanya beberapa botol saja sebelum aku pulang," gumam Shazia di dalam hati.
Namun, ucapan tidak sama dengan kenyataan. Untuk kesekian kalinya, Shazia meneguk minuman keras yang tersusun rapi di hadapannya. Ia terlihat sangat bahagia malam itu. Seperti seekor burung yang baru saja mendapatkan kebebasan. Beberapa pengawal setia Shazia sempat geleng-geleng kepala. Namun, mereka bahagia bisa berbincang dengan Shazia lagi seperti itu.
"Bos, sudah jam 12 malam. Tadi anda ingin diingatkan agar pulang jam segini," bisik seorang wanita di dekat Shazia.
"Pulang?" tanya Shazia dengan tatapan yang tidak lagi jelas.
"Ya, Bos."
Tanpa di sadari, ternyata Logan juga ada di club' tersebut. Pria itu sengaja mengikuti Shazia sejak ia meninggalkan rumah. Logan sama sekali tidak curiga kalau ada banyak sekali pasukan The Felix di dekat Shazia. Mereka semua berpenampilan layaknya pengunjung dan mengajak Shazia berbicara seolah-olah baru kenal.
"Wanita kampung ini! Ternyata dia kuat juga minum. Kita lihat saja, apa dia masih kuat untuk bertingkah jika dia meminum obat ini." Logan memberikan obat ke dalam botol minuman yang akan di bawa seorang pelayan untuk Shazia. Kali ini Logan merasa menang karena sudah berhasil menjebak Shazia. Sudah lama ia dendam dan ingin memberi pelajaran kepada Shazia. Hanya saja waktunya tidak pernah pas.
Shazia marah ketika botol minumnya sudah habis. Ia memandang pelayan yang kini ada di hadapannya. "Mana minumanku? Beri aku beberapa botol lagi!"
Pasukan The Felix hanya bisa geleng-geleng kepala. Kebetulan sekali pria yang membawakan minuman untuk Shazia tiba di sana. Jadi, mereka bisa sedikit lega karena Shazia tidak harus marah-marah karena minumnya habis.
"Baiklah, ini yang terakhir. Aku harus pulang!" Shazia berdiri dari kursi yang ia duduki. Satu tangannya memegang meja agar keseimbangan tubuhnya tetap terjaga.
"Biar saya antar," ujar pasukan The Felix yang kini berpakaian layaknya pekerja club'. Shazia di bopong menuju ke mobil yang memang sudah menunggunya sejak sore.
Saat berjalan ke arah parkiran, tiba-tiba saja Logan muncul di sana. Pria itu tidak pernah menyangka kalau pelayan yang kini membawa Shazia adalah orang kepercayaan Shazia dari The Felix.
"Serahkan wanita ini kepada saya!" pinta Logan sambil berusaha menarik tangan Shazia.
"Siapa Anda?" tanya wanita itu tidak terima. Ia segera menarik Shazia agar kembali ada di dalam pelukannya. Kali ini Shazia benar-benar sudah mabuk berat. Bahkan obat yang sempat ia teguk juga mulai bereaksi.
Logan mengeluarkan sebuah pisau. Ia sengaja melakukan hal itu agar wanita yang membawa Shazia ketakutan dan segera melepaskan Shazia. "Lepaskan dia atau aku akan membunuhmu!"
Wanita itu tahu misi yang kini sedang di jalani Shazia. Ia juga tidak mau membuat rencana Shazia gagal karena kesalahan kecilnya malam ini.
"Baiklah," ujar wanita itu. Namun, saat Shazia belum sempat di peluk oleh Logan, tiba-tiba seorang pria memukul pundak Logan dan membuat pria itu tidak sadarkan diri. Wanita itu tersenyum kepada pria yang baru saja memukul Logan.
"Sepertinya kita harus mengantarkan Bos Shazia pulang. Dalam keadaan seperti ini, Bos Shazia tidak bisa melindungi dirinya sendiri," ujar pria itu sambil menatap wajah Shazia yang sudah memerah.
"Ya, kau benar. Urus supir yang ada di mobil," ujar wanita itu sebelum melanjutkan langkah kakinya.
***
Shazia telah tiba di depan rumah David. Dengan menggunakan mobil yang semula di bawah supir David, tentu saja memudahkan mereka masuk ke dalam. Wanita itu turun dari mobil dan meminta beberapa pelayan untuk membawa Shazia ke kamar. Bibirnya tersenyum bahagia ketika melihat Shazia berada di rumah David dengan selamat.
"Maafkan saya, Bos. Saya hanya bisa mengantarkan anda sampai di depan sini," gumam wanita itu sebelum masuk ke dalam mobil.
Dua pelayan yang membawa Shazia sedikit kesulitan membawa tubuh Shazia yang mabuk. Di tambah lagi Shazia bertingkah seolah tidak mau di bantu. Wanita itu ingin jalan sendiri menuju ke kamar tidurnya dan David.
"Menyingkirlah! Jangan sentuh aku!" racau Shazia sambil berjalan sempoyongan menuju lift. Ia masuk ke dalam lift masih di dampingi dua pelayan wanita di sampingnya.
"Bisa-bisanya dia mabuk seperti ini. Apa dia tidak sadar kalau dia harus menjaga nama baik Tuan David?" bisik salah satu pelayan.
"Aku sudah bilang untuk berhenti mengurus hidup Nona Shazia. Tuan Logan dan Tuan Albert saja kalah jika berdebat dengannya. Apa lagi kita yang hanya pelayan lemah," jawab rekan pelayan tersebut. Mereka membawa Shazia menuju ke kamar ketika pintu lift telah terbuka.
David yang masih membuka mata segera menutup matanya ketika pintu terbuka secara tiba-tiba. Sebenarnya ia sudah sangat penasaran ingin melihat wajah Shazia saat ini. Tapi, ia tidak mau ada yang tahu kalau sejak tadi ia belum tidur.
"Hati-hatilah, Tuan David sudah tidur," ucap salah satu pelayan. Mereka membantu Shazia melepas sepatunya sebelum meletakkannya di atas tempat tidur. Dua pelayan itu segera pergi ketika sudah selesai melaksanakan tugasnya.
David segera membuka matanya ketika pintu kembali di tutup. Pria itu mengeryitkan dahi melihat penampilan Shazia yang berantakan. Di tambah lagi bau alkohol dari mulut Shazia bisa tercium dengan jelas.
"Suamiku, kau belum tidur?" Shazia memandang wajah David dan tersenyum. David tahu kalau istrinya sedang mabuk dan tidak akan mungkin ingat apa yang terjadi malam ini. Walau begitu David tetap tidak mau menggerakkan tubuhnya.
Shazia merasa aneh dengan tubuhnya. Panas dan debaran jantungnya berdebar tidak karuan. Wanita itu duduk di atas ranjang dan membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia juga menambah suhu AC agar suhu di kamar itu terasa sangat dingin.
"Tubuhku kenapa panas sekali," racau Shazia lagi. Ia memandang wajah David dan tersenyum penuh arti. "Kenapa malam ini kau sangat tampan." Shazia mulai merangkak mendekati David. Tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam saja telah berhasil menggoda David.
"Apa yang mau ia lakukan? Dan apa yang harus aku lakukan?" gumam David kebingungan. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan situasi sulit seperti ini.
"Suamiku, apa kau tidak kepanasan?" Shazia mulai membuka kancing piyama David. Setelah semua kancing terbuka, Shazia mengusap lembut dada David dengan penuh godaan. "Kenapa tubuhku sangat panas?"
Shazia mendekati wajahnya di dekat wajah David. Senyum manis mengembang sebelum ia mendaratkan bibirnya di bibir David. "Aku membutuhkanmu!"