Zia, gadis cantik paling populer di sekolah terpaksa harus menikah dengan Reynan, teman sekolahnya karena sebuah insiden.
Mereka harus terpaksa terpisah karena dendam masa lalu antar kedua keluarganya.
Lima tahun menghilang dan meninggalkan Reynand, Zia kembali bersama seorang anak lelaki yang sangat tampan.
Mereka bertemu kembali dan hampir bersama. Namun lagi-lagi sebuah kejadian terpaksa memisahkan mereka lagi.
Bagaimana akhirnya? Akankah mereka bersama atau justru takdir berkata lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Aniska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugup
Malam telah beranjak. Kerabat dan tamu undangan telah pulang. Menyisakan sepasang pengantin remaja ditemani bi Surti. Sisa acara pun telah dibereskan oleh beberapa pelayan suruhan orang tua Reynand.
Zia masih merasa canggung dengan hubungan barunya bersama Reynand.
Berbeda dengan Reynand yang nampak biasa saja. Ia malah lebih santai.
Reynand dan Zia memasuki kamar yang sediki didekorasi seperti kamar pengantin pada umumnya.
"Lo mau mandi duluan?", tanya Zia pada Reynand.
"Hem", hanya deheman yang keluar dari mulut Reynand.
Zia sedikit bingung dengan sikap Reynand yang menurutnya berbeda. Setelah Reynand memasuki kamar mandi dan terdengar gemericik air, Zia berniat menyiapkan keperluan Reynand.
Ia mengambil koper yang tadi sempat dibawa Reynand dan membukanya untuk mengambil baju ganti suaminya.
Zia mengambil sebuah kaos polos dan celana pendek karena tak ada baju tidur dalam koper itu.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Reynand dengan balutan bathrobe dengan rambut basah namun tak mengurangi tingkat ketampanannya.
Zia sejenak terhipnotis dengan penampilan suaminya. Ia sedikit melamun sambil menatap Reynand.
tuk
"Aaauuuuhh".
"Kenapa? Gue tampan ya? Hahaha", gelak Reynand melihat tingkah Zia.
"Ishh apaan sih", gerutu Zia sambil berlari ke kamar mandi. Ia tahu pasti saat ini wajahnya telah merah karena ucapan Reynand tadi.
"Bego bego, kenapa gue ngeliatin dia gitu...ihhh bodoh banget. Eh tapi kan emang Rey beneran kelihatan ganteng", gumamnya di depan cermin memandangi wajahnya sendiri yang sudah seperti tomat.
Sedangkan di dalam kamar, Reynand tengah mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Zia. Ia senyum-senyum sendiri mengingat sikap istrinya tadi.
"Lucu", gumamnya sambil tersenyum.
Sementara Zia yang di kamar mandi masih mondar mandir. Ia masih merasa malu jika keluar dan bertemu dengan Reynand.
Hingga setengah jam berlalu namum Zia masih belum keluar dari kamar mandi. Ia tak tahu harus berbuat apa jika sudah di kamar bersama suaminya.
Hampit satu jam Zia berada di dalam kamar mandi. Reynand yang merasa khawatir dengan istrinya lalu mengetuk pintu untuk memastika. keadaan Zia.
tok tok tok
"Zi, lo nggak apa-apa kan? Lama banget di dalam?", teriak Reynand.
"Eh emm iya bentar lagi gue keluar", jawab Zia menahan gugup.
"Ya udah jangan kelamaan, udah hampir sejam lo di sana. Ntar masuk angin loh", sahut Reynand memperingatkan.
"Iya iya", sahut Zia.
"Duh, kok deg degan gini sih", gumamnya lagi ketika akan memutar knop pintu.
Setelah keluar, ia melihat Reynand yang telah berbaring di atas ranjang.
Zia kemudian memakai lotion dan beberapa perawatan wajah miliknya. Menyisir rambut lalu bersiap tidur.
Namun kecanggungan sangat dirasakan oleh Zia. Ia masih bingung untuk beranjak ke atas kasur.
Diliriknya Reynand telah memejamkan mata. Ia mulai melangkah mendekati ranjang. Duduk di tepi yang berseberangan dengan Reynand.
Dirasa tak ada pergerakan pada kasur, membuat Reynand melirik sebentar ke arah Zia. Dilihat Zia yang masih tak bergerak. Duduk membelakanginya dengan tangan bertautan di pangkuan.
"Kenapa nggak naik? Udah sini tidur, gue nggak akan ngapa-ngapain lo kok", ucap Reynand sambil menepuk kasur sebelahnya.
"E ehh lo belum tidur?", tanya Zia kaget karena ia kira Reynand telah tidur.
"Tadinya iya, tapi kebangun karena lo lama banget di kamar mandi. Gue kira li kenapa napa", jawah Reynand, "gih tidur, udah malem nih. Nggak baik begadang", ajaknya lagi.
Tanpa menjawab Zia pun naik ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya membelakangi Reynand dengan jarak cukup jauh.
Reynand yang menyadari adanya pergerakan di atas kasur melirik sebentar ke sebelahnya. Senyum terkembang di bibirnya.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Zia saat ini. Jantungnya berdegup sangat kencang seperti orang yang tengah lari marathon saja.
Reynand pun sama. Ia juga merasakan debaran jantungnya. Namun Reynand lebih bisa bersikap santai. Tak seperti Zia yang terlihat sangat gugup.
Malam semakin larut namun mata Zia masih belum terpejam. Ia mendengar dengkuran halus dari suaminya. Itu artinya Reynand telah tidur.
Zia membolak balikkan badannya. Miring kanan miring kiri bahkan telentang. Namun tak ada satu posisi pun yang berhasil membuatnya tertidur.
Deg
Sebuah tangan tiba-tiba memelukdan sebuah tangan lain mengusap puncak kepalanya.
"Kenapa belum tidur hem", suara serak Reynand yang semakin menambah debaran dalam dada Zia.
Zia tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.
Nyaman itulah yang ia rasakan saat berada dalam dekapan suaminya.
Zia perlahan menutup matanya. Mengajaknya menuju ke alam mimpi.
Dua remaja yang kini telah resmi menjadi sepasang suami istri itu pun tidur dengan saling berpelukan.
......*********......
Di sebuah negara yang memiliki perbedaan waktu kurang lebih 4 jam, seorang wanita tengah mempersiapkan sarapan untuk suaminya.
Hari ini mereka akan mengadakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya.
Mereka adalah mami Viola dan papi Samuel.
Semenjak tinggal di Australia, mami Viola belum sama sekali pergi ke negara tetangga seperti yang sering ia lakukan dulu saat masih menetap di Indonesia. Ia lebih sering menemani suaminya datang ke acara bisnis. Seperti yang saat ini akan ia lakukan.
Saat sarapan berlangsung, mami Viola lebih banyak diam dan melamun.
"Mami kenapa sih kok nglamun terus? Masih mikirin Zia?", tanya papi Samuel.
"Iya pi, pasti saat ini Zia sangat membutuhkan kita. Dia masih sangat muda pi, masih terlalu muda bahkan untuk menjadi seorang istri. Tapi ini malah ia akan segera menjadi seorang ibu. Pasti sangat berat hari-hari yang ia jalani", ucap mami Viola sedikit menatap suaminya.
"Papi juga berpikir seperti itu mi, tapi kita nggak boleh gegabah. Feriska sangat berbahaya. Dia bisa saja mencelakai Zia kalau tahu Zia anak kita", sahut papi Samuel mencoba meredam kekhawatiran istrinya.
"Tapi kenapa perasaan mami sangat tidak enak pi. Seperti akan pergi jauh dan nggak bisa jagain Zia pi. Mami sangat takut, takut kalau Feriska benar-benar nekat", ucap mami Viola lagi dengan raut wajah khawatir.
"Udahlah mi nggak usah terlalu dipikirin. Mungkin mami merasa seperti itu hanya karena rasa bersalah pada Zia aja. Kita nggak bisa berada di sampingnya saat dia butuh seperti ini. Satu lagi, Zia sudah ada Reynand. Papi yakin pasti dia akan melindunginya", jawab papi Samuel kembali menenangkan istrinya.
"Iya pi, seenggaknya Zia udah ada yang jaga. Ada hikmahnya juga dibalik kejadian ini" ,ucap mami Viola mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Acara sarapan pun berlanjut. Begitu selesai, mereka bergegas menuju tempat acara. Kedua orang tua Zia itu tak mau terlambat karena acara ini sangat penting.
Papi Samuel mengendarai mobilnya sedang mami Viola duduk di sampingnya.
Karena tempat acara yang cukup jauh, membutuhkan waktu cukup lama dalam perjalanan kali ini.
Di sebuah persimpangan jalan ketika lampu lalu lintas menyala merah, mobil yang dikendarai papi Samuel berhenti. Tepat di samping kirinya juga berhenti sebuah mobil.
Mami Viola menoleh sekejap ke arah mobil itu. Ia terkejut dengan pengemudi di dalamnya. Saat ingin memastikan lagi, mobil itu berjalan ke arah yang berbeda karena lampu hijau telah menyala.
Tak berselang lama, mobil papi Samuel pun melaju. Mami Viola memberanikan diri untuk berbicara denga suaminya mengenai apa yang ia lihat.
"Pi, sepertinya mami nggak asing sama orang yang ada di dalam mobil yang berhenti tepat di samping kita tadi", ucapnya pelan sambil berpikir.
"Emang siapa mi? Rekan kerja?", tanya papi Samuel masih fokus mengemudi.
"Bukan pi, dia kayak mirip sama Feriska", ucap mami Viola lagi.
"Nggak mungkin lah mi, Jodi bilang kan Feriska ke Amerika", ucap papi Samuel tak membenarkan ucapan istrinya.
"Tapi beneran pi, itu mirip banget. Meskipun udah lama nggak ketemu tapi mami masih hafal sama wajahnya", sanggah mami dari Zia itu.
"Mami yakin? Mami udah lihat bener-bener apa cuma sekilas?", tanya papi Samuel lagi memastikan.
"Ya cuma sekilas sih pi, orang mobilnya keburu jalan tadi", ucapnya lagi.
"Udah nggak usah parno gitu, lagian belum pasti juga kan kalau itu Feriska. Bisa aja cuma mirip", sahut papi Samuel menenangkan.
"Iya juga sih pi", cicit mami Viola mengalah.
Percakapan pun berakhir. Mami Viola memilih diam karena ia juga tak punya cukup bukti jika wanita di mobil itu adalah Feriska.
Lagi pula, beberapa orang mengatakan jika Feriska pergi ke Amerika bukan Australia.
Meskipun bisa jadi itu hanyalah sebuah alibi.
...Maaf ya guys karena telat dan belum bisa crazy up, soalnya ini beberapa hari jaringan buruk banget. Tapi aku akan usahain terus biar bisa up. Mohon dukungannya ya, kasih like komen atau vote juga hadiahnya ya😘makasih...
2 likes mendarat dariSAHABAT TAK KASAT MATA😍