Semua rasa yang ada telah pergi, yang tersisa hanya luka tak terlihat. Luka yang ia dapat di waktu yang sama dengan orang yang berbeda.
*
Apa yang telah terjadi akan sulit untuk dilupakan.
Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di masa depan termasuk dirinya.
*
Rasa sakit, bahagia, dan kecewa akan menuntun apa yang sudah menjadi takdirnya.
Begitu juga dengan kisah seorang wanita yang bernama "AISYAH NURAHMA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi yang cerah, secerah kebahagiaan yang terlihat pada keluarga kecil Aisyah. Rutinitas hari ini akan sama dengan yang sudah-sudah, namun ada satu hal yang berbeda untuk hari ini yaitu menjemput kedua orang tua Aisyah di Bandara. Aisyah membelikan tiket pesawat dengan waktu keberangkatan 10.30 siang, agar orang tuanya tidak kesesuhaan mengatur waktu keberangkatan mereka dari rumah. Aisyah juga sudah menyiapkan seorang pemandu yang akan menjeput, mengantar kedua orang tuanya sampai ke kota J.
Aisyah mengajak ke-tiga anaknya untuk segera menyelesaikan sarapan pagi mereka, karena sudah waktunya untuk berangkat. Aisyah mengantar ke-tiga anaknya terlebih dahulu, lalu dilanjutkan ke kantor. Pekerjaan Aisyah hari ini termasuk padat, namun Aisyah tetap akan meluangkan waktunya untuk menjemput anak-anak dan orang tuanya.
Sesampainya di kantor Aisyah langsung menuju ruangannya, memeriksa pekerjaan yang dia tinggalkan kemarin dan melanjutkan pekerjaan yang sudah menumpuk yang tidak bisa diwakilkan oleh sekretarisnya.
Tepat pukul 10.00 seharusnya Aisyah menjemput ke-tiga anaknya disekolah, karena sebentar lagi akan ada meeting Aisyah meminta sekretarisnya yang bernama Putri untuk menjemput ke-tiga anaknya di sekolah dan
membawa mereka ke kantor.
**
Sesampainya disekolah, Putri langsung menuju pos satpam dan memperkenalkan dirinya. Setelah itu, Putri menyakan keberadaan ke-tiga anak Aisyah kepada pak Dadang. Pak Dadang terlihat tidak percaya kepada wanita tersebut, membuat Putri harus menghubungi Aisyah.
Diruang meeting, handphone milik Aisyah berbunyi, Aisyah meminta izin untuk menerima panggilan tersebut. Setelah diperbolehkan Aisyah keluar dari ruangan dan menerima panggilan tersebut, Aisyah juga berbicara kepada pak Dadang agar memperbolehkan anak-anaknya dibawa oleh sekretarisnya,setelah itu Aisyah memutuskan panggilan tersebut. Aisyah kembali dan melanjutkan meeting yang sempat tertunda, sebelumnya Aisyah meminta maaf kepada semua staff karena membuat mereka menunggu.
Anak-anak yang pertama kali datang ke perusahaan milik baba Daniel yang menjadi tempat kerja ibu mereka selama beberapa bulan ini. Azzam, Azzim, dan Zakiya kagum saat melihat interior kantor tersebut, karena interior kantor yang ada di kota R sangat lah berbeda. Putri mengajak ke-tiga anak Aisyah untuk berkeliling. Aisyah yang sudah selesai meeting segera menghubungi Putri untuk membawa anak-anak keruangannya.
Aisyah menyapa Azzam, Azzim, dan Zakiya saat mereka masuk. Aisyah meminta ke-tiga anaknya untuk duduk sebentar karena masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan Aisyah.
**
11.55 Aisyah mengajak anak-anaknya untuk menjemput nenek, kakek mereka di Bandara karena pesawat yang ditumpangi oleh keduanya 20 menit lagi mendarat. Di perjalanan menuju bandara Zakiya meminta Aisyah untuk berhenti di supermarket terlebih dahulu karena Zakiya ingin jajan. Aisyah berhenti didepan supermarket dan membawa ke-tiganya masuk, agar mereka dapat memilih makanan apa yang ingin mereka inginkan.
Selesai dengan urusan anak-anak, Aisyah melanjutkan perjalan ke Bandara. Tidak lama menunggu, akhirnya ayah Bimo dan ibu Aminah terlihat berjalan menghampiri mereka bersama pemandunya. Aisyah mengucapkan terimakasi kepada pemandu tersebut dan segera membawa ayah Bimo dan ibu Aminah pulang.
Di mobil Zakiya menceritakan kegiatan sekolahnya setelah mereka kembali dari kota PP kepada nenek dan kakek, sedangkan Azzam dan Azzim sebagai pendengar yang baik saja. Ayah Bimo dan ibu Aminah sesekali menimpali uncapan cucu perempuannya itu. Zakiya berhenti bicara saat mobil yang dikemudikan oleh Aisyah memasuki halaman rumah.
Aisyah mengajak ayah Bimo dan ibu Aminah untuk masuk kedalam rumah, sedangkan anak-anak sudah lebih dahulu masuk. Ninik Asih membantu membawa barang bawaan orang tua Aisyah. Aisyah mengantar orang tuanya ke kamar yang sudah di bersihkan dan Aisyah meminta mereka untuk beristirahat terlebih dahulu.
Aisyah masuk kekamarnya dan membersihkan diri serta melaksanakan ibadah solat zuhur. Selesai dengan kegiatannya, Aisyah pergi ke kamar anak-anaknya. Aisyah melihat ke-tiga anak tertidur, Aisyah tidak ingin membangunkan anak-anaknya karena mereka terlihat kelelahan. Aisyah menuju kamar orang tuanya dan mengajak mereka untuk makan siang terlebih dahulu, setelahnya Aisyah menyuruh mereka untuk kembali beristirahat.
**
Malam harinya, setelah makan malam semua keluarga Aisyah berkumpul diruang tamu. Azzam, Azzim, dan Zakiya terlihat fokus dengan film yang mereka lihat. Aisyah dan kedua orangtuanya membahas acara yang akan dilakukan dua hari lagi. Ibu Aminah menanyakan tentang persiapan lamaran tersebut kepada Aisyah, Aisyah hanya mengatakan kepada ibu Aminah untuk tidak perlu memikirkan hal tersebut.
Di Rumah Leo
Mama Tia tampak sibuk mempersiapkan hantaran untuk dibawa ke rumah Aisyah saat lamaran nanti. Mama Tia dan papa Danu marah kepada Leo saat putra mereka itu memberitahukan tentang lamaran yang akan diadakan tiga hari lagi. "Bisa-bisanya Leomerencakan sesuatu tanpa berdiskusi dengan mereka" pikir keduanya.
Karena, Leo sudah mengatakan tiga hari lagi dia akan melamar Aisyah mau tidak mau mama harus segera menyiapkan segala sesuatunya. Mama Tia ingin memberikan yang terbaik untuk acara lamaran Leo dan Aisyah.
**
Waktu yang sangat ditunggu-tunggu Leo telah tiba. Leo beserta keluarganya sedang dalam perjalan menuju kerumah Aisyah. Leo tampak tersenyum bahagia karena sebentar lagi Aisyah akan menajadi miliknya.
Melihat anaknya tersenyum, mama Tia dan papa Danu ikut merasa bahagia. Karena putra mereka tidak akan melajang lagi, mysophobia yang dimiliki Leo membuat mereka takut. Takut jika Leo akan menjadi perjaka tua
yang tidak memiliki keluarga, kini ketakutan itu hilang sudah didalam hati mereka.
Di rumah Aisyah semua orang tengah sibuk. Intan dan Dewi duduk di kamar Aisyah sambil melihat wanita itu merias wajahnya. Mereka ingin membantu Aisyah, namun mereka dilarang oleh Aisyah.
Dewi dan Daniel sampai di Negara Indo kemarin dan mereka langsung kerumah Aisyah, sedangkan Intan baru pagi ini datang ke rumah Aisyah.
**
Mobil yang ditumpangi keluarga besar Leo memasuki halaman rumah Aisyah, ayah Bimo, ibu Aminah, dan Daniel menyambut mereka di pintu masuk. Ayah Bimo mengarahkan mereka keruangan tamu.
Mereka saling memperkenalkan diri satu sama lain, kini tibalah saatnya Aisyah dipanggil untuk berada di tengah-tengah mereka. Leo terpesona melihat penampilan Aisyah malam ini, sedangkan Aisyah hanya berjalan sambil menundukkan kepalanya karena malu.
Aisyah duduk di tengah-tengah orang tuanya, sedangkan Intan, Dewi, Daniel, beserta ke-tiga anak-anak aisyah duduk dibelakang Aisyah.
Tibalah saat nya Leo menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarganya. Aisyah tertunduk
dalam, tepukan pelan dibahu Aisyah yang dilakukan ke-tiga anaknya memberikan ketenangan bagi Aisyah.
“Assalamu’alaikum warahmatullah,” suara pertama Leo yang diterdengar oleh Aisyah. Deraian salam terdengar menjawab salam Leo. Leo melihat ke sekitarnya lalu menghembuskan pelan nafasnya.
“Bapak, Mak, Azzam, Azzim, Zakiya dan semuanya, saya Leonardi Osean. Putra satu-satunya bapak Danu Osean dan ibu Tia Osean. Sebelumnya saya mohon maaf, jika saya sudah melakukan lamaran mendadak kepada putri bapak.” ucap Leo kemudian menarik nafasnya pelan. Semua orang tersenyum mendengar ucapan Leo.
“Dan hari ini, kedatangan saya dan keluarga adalah untuk meminang putri Bapak dan Mak, Aisyah. Jadi, Pak, Mak, dan semuanya, bisakah kalian memberi izin kepada saya untuk membawa putri kalian membangun rumah tangga berasama saya, menjadi istri dan ibu untuk anak-anak saya?” ucap Leo pada akhirnya.
“Nak Leo, sebagai orang tua, bapak hanya mengikuti apa yang membuat putri babak bahagia. Jika dengan mu, Aisyah dan ke-tiga anaknya menemukan kebahagian maka bapak tidak akan mempermasalahkannya” jawab Ayah Bimo.
Leo kembali bertanya, setelah mendengar jawaban ayah Bimo.
“Aisyah Nurahma, apa kamu bersedia membangun rumah tangga bersama saya, melengkapi separuh agama saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya kini mau pun nanti?”
Suasana hening, yang terdengar hanyalah suara Leo.
“Bissmillahirahmanirrahiim, seperti yang sebelumnya Aisyah katakan kepada tuan bahwa Aisyah menerima lamaran dari tuan Leo.”
Banyak ucapan syukur memenuhi rumah Aisyah.
dia bisa hapus data diri supaya ga terlacak sebelum berangkat ke luar negeri.
sekarang ketemu dan Leo juga mau tanggung jawab tapi Aisyah abaikan Leo
jadi geram maunya apa sih
Leo juga mau bertanggung jawab
tapi suka sih sama laki yang alergi sama perempuan jadi ga suka celup disembarang tempat