Stevani Safira adalah putri seorang mandor bangunan. Ia harus rela meninggalkan kekasihya yang seorang dosen karena harus membayar kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh oknum yg tidak bertanggung jawab.
Para oknum itu menjebak Ayahnya seolah olah ayah gadis itu terlibat.
Bukti bukti yang didapat perusahan mengarah bahwa Ayahnya benar benar terlibat.
Kerugian senilai miliyaran harus dia bayar dengan pernikahan.
Big bos perusahan itu mengingikan Stevani menjadi budaknya seumur hidup berkedok pernikahan.Agar ayahnya tak dijebloskan ke penjara.
Stevani terpaksa berhenti dari kuliahnya, karena dia benar benar dipenjara oleh suaminya, mahasiswi tataboga ini terpaksa menghabiskan hari harinya di rumah big bos tersebut.
Willam Wijaya adalah nama big bos ayah Stevani.William pernah pengalami kegagalan dalam hubungan percintaanya,yang mengakibatkan perubahan sikap yg amat drastis.
Dia menjadi pribadi yang kasar arogan dan dingin.
Akankah Stevani mampu menjalani hari harinya ditengah tekanan.
Hinanan dan perlakuan kasar suaminya.
Simak kisahnya selanjutnya ga gaes.
Dalam Kasabaran Cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Willi Mulai Bucin
Vani memasak makanan untuk Willi didapur mini bar miliknya. Sebenernya Vani sangat lelah, dia hanya tak ingin mengecewakan Willi.
Aku harus bersikap bagaimana padamu Wil, Kau tau aku tak mampu menolakmu namun aku juga tak bisa lagi pasrah padamu kita sudah berbeda Willi.
Willi keluar kamar dan duduk manis didekat kekasih hatinya, Vani tidak menyadari kalau dari tadi Willi memperhatikan nya ketika berbalik dia pun terkejut.
"Astaga Will kebiasaan kamu mengejutkanku." Willi hanya tersenyum.
Vani membawa sepiring nasi goreng telur dan sosis.
"Hanya ada ini ga papa kan?".
"Heemmm apa aja Van kamu tau aku ga pernah nolak masakanmu." jawabnya.
"Mana ada terahir kau lempari aku piring." Vani melirik dan memanyunkan bibirnya.
"Maaf saat itu aku sedang kalut."
"Dilema ya mantan datang " Vani tersenyum menggoda Willi
"jangan tersenyum seperti itu Van, kamu menggodaku."
"Udah dimakan keburu dingin." jawab Vani.
Willi memakan makananya Vani membuatkan teh hijau untuk Willi dan mengambilkan segelas air putih juga.
Willi tersenyum, indah batin willi.
"Van apa kamu baik baik saja selama ini bagaimana kabar ayah dan adikmu."
Vani menunduk dia diam Vani menutup mukanya ketika membukanya dia meneteskan air mata.
"Kenapa Van?" tanya Willam.
"Ayah sudah meninggal Wil dan aku ga tau sekarang Doni kemana."
"Kok bisa aku ga pernah mengusik ayahmu dan adikmu aku serius Van."
"Aku ga menuduhmu Wil kata tetangga ayah sering mabok dan main judi mungkin beliau stres." jawab Vani sambil menghapus air matanya.
"Maafkan atas keegoisanku Van."
"Tak ada yg perlu disesali Wil semua sudah terjadi."
"Apakah kamu kesulitan ketika mengandung jagoanku."
"Tidak dia sangat baik."
"Apakah kamu bekerja Van."
"Tentu bagaimana aku hidup dan menghidupi putramu kalau aku ga kerja kamu aneh Wil."
"Maafkan aku Van bolehkah mulai sekarang aku yang bertanggung jawab terhadap kalian."
"Kamu boleh bertanggung jawab pada putramu, tapi tidak denganku."
"Kenapa?"
"Aku bukan istrimu Willi ih ga ngerti ngerti."
"Bagaimana kalau kita menikah lagi?" ajak Willi.
"Ga enak aja ntar kamu gituin aku lagi ga mau."
"Gituin apa maksud kamu."
"Ya kalo butuh kamu panggil kalau ga ya kamu tinggal lempar, ga mau aku."
Willi tersenyum.
"Apa aku sejahat itu Van?"
"Kenyataan Willi."
"Maafkan aku Vani."
"Dari tadi kamu minta maaf malulu Wil sekarang udan malem kamu pulang aja aku mau bobo besok aku kerja." Vani beranjak dari kursinya.
"Ga aku mau nginep."
"Taulah Wil suka suka kamu aja cuci sendiri piringnya."
Vani berlalu meninggalkan Willi dan masuk kekamarnya, dia menyelimuti tubuhnya Willi masuk dan ikutan berbaring disamping nya.
Willi memeluk Vani dari belakang dan menyembunyikan wajahnya ditengkuk Vani.
Vani tak mau menolak, biarkan saja batinya , asal dia ga macam macam coba aja dia kalo berani akan ku patahkan tanganya batin Vani.
Kasur Vani memang tak senyaman miliknya, tapi aroma tubuh Vani mampu membuatnya tenang.
Willi terlelap tanpa bangun malam, bahkan suara rengeken Devan pun tak membangun kanya, jam tiga dini hari Devan meminta asi, Vani melirik Willi, dasar tukang tidur batin Vani, dia teringat ketika Willi memintanya memeluknya, Willi sampai bangun jam 9 pagi.
Jika kamu ga bangun aku tak akan membangunkanmu, hahaha pasti lucu kalo daddy mu bangun ga lihat kita.
Benar saja ketika Vani sudah berangkat kerja dan membawa Devan, Willi masih terlelap.
Willi tersadar ketika Eric menelfonya.
"Heemmm apaan sih ganggu aja."
"Bos apa ga salah bos belum bangun."ucap Eric.
"Emang ini jam berapa? " tanya Willam
"Jam 11 siang bos."
"Apaaaaaa...."
Willi mematikan telponya, Wili melihat disekelilingnya dia tak melihat Vani dan Devan.dia hanya mencium bau harum khas baby, ini pasti bau Devan batin Willi.
Willi mematikan ac kamar Vani dan beranjak keluar.
"Sepi kemana dia?" Willi melangkah ke meja makan disana ada secarik kertas.
"Aku kerja kalau mau makan makan aja.."
Hah gitu doang.
Willi menghubungi Eric untuk membawakan kopernya, dia ingin lebih lama tinggal dirumah Vani.
Willi menyuruh anak buahnya untuk merobak ulang perabotan rumah Vani, dia menggantinya dengan yg lebih bagus mahal pastinya.
Willi juga sudah mengisi lemari Devan dan Vani dengan baju baju yg mahal pula.
Eric hanya geleng geleng kalo udah cinta bucin baget, Astaga bos bos.
"Eric."
"Siap bos."
"Lo balik aja ke kantor pusat urus semua untuk gue kabarin kalau ada apa apa tinggalkan peralatan kerja gue di kamar sebelah pasang ac sekalian." pintanya.
"Siap bos selamat kena jurus Nona nanti bos, kabarnya nona jago beladiri."
Eric tertawa pelan.
"Lo serius."
"Kapan sih bos gue pernah bohong?"
"Ah, itu urusan nanti mobil jangan lupa, gue ga mau anak gue panas panasan.."
"Siap bos."
"Habis ini antarkan aku ketempat kerja Vani."
"Siap bos."
"Lo tau dimana?"
"Sudah bos."
"Oke antar gue kesana sekarang?"
Ya begitulah Willi kalo sudah bucin.
***
Ditoko kue..
Ahirnya semua pesanan kue sudah selesai dan Vani bersyukur Devan ga nakal tadi pagi sampai siang Lauren membawanya jalan jalan.
Vani kembali ke meja kasir terlihat Devan memainkan mainan baru yang dibelikan Lauren tadi siang.
ting..
Terlihat dua orang memakai jas masuk ke dalam toko dan duduk dikafe.
Eric mendekati Vani.
"Sore pak mau pesan ap....a" sapa Vani.
Eric tersenyum.
"Dua kopi latte dan cake yang itu." Eric menunjuk asal. Diva yg berada disebelah Vani menyenggol lengan nya.
"Van." tegus Diva.
"Heemm.."
"Maaf pak sebentar, kami antar ke meja mana?" tanya Vani pada Eric, Eric yakin Vani pasti gemas padanya.
"Disitu." tunjuknya.
"Meja Tiga Div, baik pak, semua sekian." jawab Vani.
"Bisa apakai ini." Eric memberikan kartu dan senyum senyum pada Vani.Ingin rasanya Vani melemparinya sesuatu.
"Apakah itu anakmu?" tanya Eric.
Vani tidak menjawab hanya melototi Eric.
"Iya iya sori." Eli membawa Devan ke ruangan Lauren.
Vani memberikan kartu Eric kembali.
Diva pun mengantarkan pesanan mereka, Diva kembali dengan muka sumringah, seperti habis dapet arisan.
"Van sumpah itu pelanggan yang barusan persis kayak oppa oppa korea Ya Allah mimpi apa semalem." Vani hanya tersenum Eli mendengarnya.
"Mana Div?" tanya Eli.
"Itu meja nomer tiga."
"Subhanallah, indah banget ciptaanmu ya Allah." Eli melihatnya sampai melongo.
Vani masih saja diam.
"Eh tunggu kok mirip banget sama Devan." ucap Eli spontan
"Masak sih El." Diva melihatnya lagi.
"Ya lo perhatikan aja."
"Van.."
"Heemmm."
"Lo kenal cowok keren itu?" tanya Eli penasaran.
"Yang mana?"
"Meja 3"
"Ohh."
"Kok oh doang si Van kenal kagak?" tanya Diva
"Katanya mau lihat bapaknya Deva la itu." ucap Vani enteng.
"Serius Van, omo. "
"Heemmm."
"Pantesan lo ga bisa move on la mantan lo aja kece badai Van, kelihatan tajir mimpi apa Van lo bisa peluk peluk doi." ocahan Eli sedikit membuat Vani geli.
"Bisa diem ga dia ngliatin kesini." ucap Vani.
"Bener Van astaga jantungan aku Van." ucap Eli memegang dadanya..
"Doi kemari." Diva tertegun sangking shocknya.
"Van pulang jam berapa?" tanya Willi.
"Jam 5."
"Bareng ya."
"Ga aku bawa motor."
"Gampang itu."
"Mana handphone. "
Vani menyerahkan handphone nya, Willi mengetikan nomer ponselnya.
"Kalau udah off kabari ya, mana Devan?" tanya nya.
"Ada lagi nonton dikamarnya." jawab Vani ketus, Eric ingin ketawa melihat tingkah mereka berdua.
"Sama siapa dikamar?"
"Sama bos aku."
"Ya udah kabari kalau udah mau pulang aku jalan dulu." Vani tak menjawab.
Willi dan Eric pun pergi.
"Ya Allah Van, sumpah sekarang aku percaya Van dia sangat sempurna terparipurna." ucap Diva.
"Makanya kalau dibilangin percaya biasanya ngetawain." ucap Vani agak sedikit jengkel.
"Van lo mau balikan lagi sama doi."
"Ga tau Div aku baru ketemu semalem." jawab Vani.
"Dimana Van?"
"Dia kerumah aku."
"Serius Van."
"Heemmm." Vani menangis.
"Van kenapa kamu nangis?"
"Aku ga bisa menahan perasaan ku Div ingin rasanya aku benci dia tapi ga bisa jiwa budaku bangkit kalau deket dia."
"Husssttt yang sabar Van kita semua tau kok kalau kamu sayang sama mantan mu kelihatanya mantanmu juga baik."
"Dia emang baik Div tapi kalau ga cinta sama aku gimana, masak aku harus hidup sama orang yang ga cinta sama aku."
Diva dan Eli saling menatap Vani, kini mereka paham apa yang sahabat mereka khawatirkan.
***Bersambung***