Berawal dari kesalahfahaman, ketika Iel tertangkap basah menyembunyikan seorang pria dalam kontrakannya. Padahal, Iel hanya menolong Jack yang sedang terluka tembak yang cukup parah. Jack yang bersikeras tak mau dibawa ke Rumah sakit, akhirnya dibawa oleh Iel kekontrakan kecilnya, dan dirawat sendiri dengan alat seadanya.
"Menikah, atau kami bawa ke kantor polisi dengan tuduhan perzinahan?"
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Iel dan Jack menuruti permintaan mereka, dengan menikah secara rahasia dan tersembunyi dari publik. Itu semua dilakukan demi keamanan dan kenyamanan masing-masing.
Tapi siapa sangka, Pria yang Ia nikahi itu adalah seorang konglomerat yang memiliki sebuah hotel mewah dan kekayaan berlimpah. Sehingga, meski hanya istri rahasia tapi Iel masih diperlakukan bak ratu diistana milik. Jack itu.
Tak hanya memiliki banyak harta. Jack juga memilika begitu banyak musuh yang sangat jahat. Diantaranya Dawn, yang tak lain adalah mantan sahabat Jack, yang juga Kakak dari kekasih Jack yang telah meninggal dunia.
Dawn begitu marah dan dendam pada Jack, karena telah memakai jantung Sang adik untuk dirinya tetap hidup. Begitu egois, baginya kala itu.
Karena hubungan yang harus tetap dijaga kerahasiaannya, pada suatu ketika Iel bertemu Dawn. Mereka cocok, dan menjadi sahabat, bahkan Dawn menganggap Iel sebagai pengganti Deandra, dan mengangkatnya sebagai adik.
Perjalanan hubungan mereka begitu mulus dan tak diketahui satu sama lain. Hingga Naya, sahabat mereka. Ia diam-diam memberi tahu Dawn, tentang hubungan Iel dan Jack.
Bagaimana respon Dawn mengetahui itu semua?
Bagaimana hubungan mereka, ketika tahu bahwa mereka saat ini harus melindungi wanita yang sama. Iel sebagai istri Jack, dan juga sebagai adik angkat Dawn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mereka duduk bertiga disofa, mengobrol dengan begitu akrabnya dan menikmati acara yang ada. Hingga sesuatu mengganggu pandangan I'el dan membuatnya menatap Grace dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari sesuatu yang dipakai Grace, hingga membuat I'el menyusuri semua pakaian Grace bahkan ke tengkuk lehernya. Suasana hati I'el pun berubah kacau.
"Erick... Kamu bajingan." ucap I'el, dengan wajah emosi, namun masih dapat Ia tahan.
"Apa maksud kamu, El? Kenapa bicara kasar seprti itu?" tanya Erick.
I'el langsung menjambak rambut Grace, dan menarik ikat rambutnya.
"Auuuwh, sakit El...." lirih Grace.
"Ini... Ikat rambutku, yang sering kamu bawa, dan kamu ikatkan ke aku."
"Cuma ikat rambut, kenapa sampai gitu?" omel tanu Erick. Sedangkan Grace, hanya diam dan mengusap kepalanya yang sakit.
"Cuma ikat rambut, bisa pinjam. Bagaimana dengan shampo yang ku berikan padamu? Itu khusus ku pesankan hanya untukmu. Apa kamu mau bilang dia numpang mandi disini, hah?"
Iel kembali menjambak rambut Grace, dan menciumi rambut yang basah itu.
"Aku memberikan-nya, karena itu wangi perempuan." Erick kembali memberi alasan terbaiknya. Meski Ia tahu, jika Iel tidak sebodoh itu untuk Ia tipu.
"Ikat rambut pinjam, shampo diberikan. Lalu bagaimana dengan seragam kalian? Apa iya, kamu memberikan treningmu untuknya, dan kamu memakai sweternya? Masuk akalkah? Tidak Erick." emosi Iel mulai terpancing dengan semua kenyataan itu.
Teriakan, bentakan, dan semua amarahnya yang meledak, Ia luapkan seketika. Membuat para tetangga Erick terpancing untuk datang.
" Hey, kau gila, Iel. Jangan pancing keributan disini." hardik Erick
Iel tak perduli, Ia terus mengamuk, dan bahkan memukul Erick sepuas hatinya, meski harus dijadikan tontonan banyak orang. Bahkan ada yang merekamnya.
"Iel...! Ini sudah termasuk kekerasan. Pergi, atau akan ku laporkan kau kepolisi!" ancam Grace, dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Iel hanya kembali menatap mereka berdua. Tapi, tatapan jijik yang tersisa. Iel kembali memakai tas sandangnya, kemudian pergi tanpa sepatah katapun.
Dengan hati yang begitu perih, bak teriris sembilu, Iel menangis didalam mobil mewah itu. Ia terisak tanpa jeda, mengingat semua hal yang Ia temui barusan. Sakit hati, jijik dan marah bercampur aduk menjadi satu saat ini.
"Huaaaa... Ternyata, menangis dalam mobil mewah pun percuma." teriaknya. Lalu Iel memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi, menuju sebuah taman yang sepi tak berpenghuni. Iel meneruskan tangisan-nya disana.
"Kak Amy, maafkan aku karena tak mendengar kata-katamu mengenai Erick. Tuan, maafkan aku, yang seolah tak menghormati pernikahan kita. Maaf, aku memang bodoh." tangis Iel kembali banjir membasahi seluruh wajahnya. Begitu deras, sederas air sungai yang ada dikampungnya.
"AAAAAARRRGGGGGHHH!! Erick brengsek! Aku benci kamu!" teriak Iel, sejadi-jadinya. Berusaha melampiaskan kesakitan dalam hatinya hingga sedikit lega.
"Woooy, berisik....! Ganggu orang istirahat aja. Ngga ada kerjaan lain, apa?" teriak seorang Pria, keluar dari semak-semak disudut taman.
Ia keluar, memakai jaket kulit lusuhnya, lalu menghampiri Iel dengan tatapan anehnya.
"A-Anda siapa?" tanya Iel, pada laki-laki bertubuh tinggi, berambut coklat, dan berkulit putih itu.
"Untuk apa malah menanyakan namaku? Justru, harusnya aku yang bertanya padamu. Untuk apa malam-malam begini, duduk ditaman sendirian?"
"Aku... Aku hanya..." Iel gagap, lalu dengan spontan laki-laki itu menggeranyangi kepala Iel.
"Hey! Apa-apan kau, lancang." tegur Iel, lalu menyingkirkan tangan itu dari kepalanya.
"Hanya penasaran, kau ini manusia atau hantu." candanya, lalu mengulurkan tangan pada Iel. "Aku Dawn... Kamu siapa?"
"Aku Zielova, panggil saja, Iel."
Perkenalan itu berlanjut dengan sebuah obrolan santai dan berakhir dengan sebuah curhatan. Iel begitu senang mendapat teman baru, yang bisa langsung akrab dengan-nya. Apalagi, Dawn seolah menempatkan dirinya sebagai seorang Kakak. Membauat Iel semakin nyaman dengan-nya.
majikan dan pekerjanya" . aku pikir di Indonesia sangat split menemukan keluarga seperti ini. beda dg di eropa, majikan aja di panggil namanya tanpa embel2 🤣